
"Dek, tadi malam ada hajatan kok ga bilang-bilang?", tanyaku kepada Lastri.
"Ya Allah masku, mestinya bilang dulu kalau mau nonton. Ya aku kan ga siap mas", jawab Lastri.
"Kok ga nyambung sih dek? Masmu ini loh nanyain tadi malam ada hajatan orang nikah kok ga bilang dulu. Mas kan mau hadir, dek!".
"Oalah, kirain mas ngajakin 'Netflix and Chill'. Kan biasanya kodenya gitu mas. Eh sekarang malah jadi mode seriusan nih ya?".
"Ya ampun dek, siang hari gini loh. Aku isin loh dek kamu ajakin terus".
"Ya kali aja mas kuat kayak Pak Lurah Ali yang dekat perusahaanmu itu mas".
"Mana sanggup dek! Semua ada prosesnya. Akan tetapi, hasilnya kita sama-sama nikmatin ya! Biar adil, hehe".
"Apa sih mas, ngawur!".
"Hehehe, maksudnya, kalau aja usaha kita ada hasilnya, sudah seyogyanya kita bersyukur dek".
"Ya bersyukur terus aja mas, berproses aja terus, sampe mas lupa sama aku!", Lastri agak ketus menjawab.
____
Kami hari ini berniat ke dokter kandungan untuk mengecek keberadaan buah hati kami yang sudah lama dirindukan. Walhasil, perjalanan di atas motor hari ini terasa sungguh melelahkan karena masih menahan ego untuk meminta maaf duluan.
"Dek, aku jaluk sepuro yo. Tak kek'i duit lah ben iso tuku bedak", kataku sambil memelas.
"Dih mas, opo sih. Sampeyan sing dadi imam kok jaluk sepuro karo makmum. Lak aku salah yo mesti salah mas, mestine aku sing nyepuro".
"Lah? Ora kebalik toh dek?".
Lastri mencubit lemak jahat di pinggangku (lagi dan lagi). Ia tersenyum malu sambil menutupi wajahnya di bahuku.
"Loh, mas! Mas! Mas! Setop gih! Iki raiku njeplak mas neng klambimu!".
"Ya Alloh dek! Wuahahahahaha".
"Dek, ga jadi aja ya cek kandungan. Isin aku ketemu dokternya. Tar aku tambah diketawain lagi", protes ku kepada Lastri, istri tercinta.
"Ya udah deh, gini aja. Kita ke 3 sec°nds aja ya, tak beliin kelambi anyar".
"Emoh dek, dilap aja deh. Tar mampir ke masjid sebrang aja, aku juga mau 'update wudhu', udah batal dek, hehe".
__ADS_1
"Loh kenapa? Mas buang angin?".
"Nggak dek, tadi ngedip, hehehehe".
"Loh loh loh, emang liat apa, hah?", Lastri naik darah.
"Hehehehe, ada Janda dek tadi. Kayanya ga sengaja buka lapak".
"Oalah, gitu ya. Lapaknya ga ditutup aja atau gimana gitu?".
"Jangan dek, kasian ga punya suami".
"Ya Alloh berdosa banget!", Lastri melanjutkan operasi senyap sambil terus mengencangkan cubitan di lemak jahat yang tertimbun di perutku.
"Mas, jangan jelalatan lagi ya! Kita masih di jalan nih, takut ketemu hal", sahut Lastri.
"Iya dek, makanya aku lapor ke kamu tadi. Kan kalo udah laporan berarti sah minta maafnya".
"Lah iya, tapi mas ga adil karena ngelihat yang bukan haq".
"Loh, kan rejeki dek, masak ditolak? Kan ga sengaja dek, hehe".
"Adudu, adudu, sakit!", perutku dicubit Lastri lagi.
____
Dalam perjalanan yang damai dan suka cita, pepohonan bergoyang bersahabat. Angin sejuk di siang menjelang sore hari ini menyejukkan perjalanan kami ke dokter kandungan, dr. Diva Magnolia, Sp.OG.
Setibanya di parkiran, tukang parkir berwajah seram tidak terlihat di posnya.
"Dek, sepertinya kita sama-sama aman".
"Maksudnya gimana mas?", tanya Lastri.
"Tempo hari ada bapak-bapak serem disini. Alhamdulillah, hari ini ga kelihatan".
Prit, prit, prit!
"Loh? Mas, itu siapa?"
"Oalah dek! Jan...".
__ADS_1
"Hush! Ngucap mas!", Lastri mengingatkan.
"Astaghfirullah, iya dek, iya", kataku.
"Ya udah, yuk masuk!".
(Background music)
"Selamat pagi pak, berjumpa lagi bersama kami di Klinik Jabal Kahf. Hari ini terasa sungguh luar biasa cerah. Harap maklum ya pak, bu, lampu-lampu di ruangan ini baru diganti".
Berikut dengan penjelasan, mbak-mbak resepsionis di balik meja membeberkan beberapa layanan gratis yang ditanggung BPJS dan beberapa asuransi swasta lainnya.
"Mbak, disini ada yang gratis ya?", tanyaku.
"Ada mas, duduk dulu ya mas, nanti kita bantu jelaskan".
(Duh Gusti, manisnya senyuman itu.)
"Mas! Mulai lagi ya! Kumat lagi! Kumat lagi! Hm?".
(Aduh sayang! Ketahuan lagi! Hiks!)
"Ya udah dek, sini cubit aja pipi deh daripada perut, sakit!", celetukku kepada Lastri, istriku termanis.
"Assalamu'alaikum!"
Wanginya tercium dan teringat dalam kenangan masa lalu. Lola! Aduh gawat!
"Mas, kenapa?", Lastri keheranan.
"Gapapa dek, aku mau masuk surga dulu. Eh eh, maksudku, mau ke toilet dulu dek".
"Ya udah sana cepetan sih!", Lastri tersenyum singkat walau hanya sedetik.
Aku buru-buru ke toilet. Saat itu tidak ada yang ku buang, pipis nggak, pup nggak.
"Huft, safe!".
(Ya ampun, kenapa Lola kesini! Kemarin aku ajak kesini kan hasilnya negatif.)
Keringat mengucur deras bersama angin yang terhisap dari kipas "exhaust" di dalam toilet.
__ADS_1
Huft.