
"La, kamu warnai rambut jadi hitam aja sih! Aku kadang jadi tambah-tambah kalau kamu merah gitu", kata Dirman sambil membelai rambut Lola.
"Mas, aku begini supaya kamu tahu kalau aku ga ada duanya. Istrimu itu loh, masak gitu-gitu aja sejak SMA", tukas Lola sambil memainkan jemarinya di dada bidang Dirman Suparman, pemuda bejo yang tak kunjung henti bercinta.
"Istriku yang mana dek? Istriku ya kamu", jawab Dirman pura-pura tidak tahu.
"Ih, kesel!".
Dirman tidak menggubris perkataan Lola setelahnya. Ia hanya memikirkan nasibnya yang terombang-ambing akibat cinta buta. Ia tidak dapat mencegah datangnya badai. Dirman hanya memikirkan pekerjaannya yang belum selesai.
Sesaat setelah dia bergumul mesra di matras gudang, Dirman kembali berdiri menghadap jendela yang berdebu. Ia mengintip untuk mendapatkan gambaran tentang keadaan di luar, gelap.
Malam itu, Dirman tidak pulang ke rumah. Ia tidak sanggup menahan kenyataan yang pahit. Lastri pulang ke kampungnya menghadap bapaknya di Dukuh Roban. Lastri mengadukan semua kenyataan yang sebenarnya bapaknya juga sudah tahu. Ini karena saat itu, pernikahan Lastri dan Dirman dihadiri oleh banyak tamu asing yang mereka sendiri tidak kenal. Lantas, setelah selesai acara, bapak Lastri atau mertua Dirman diberi tahu bahwa Dirman adalah seorang yang dipilih untuk meneruskan dan mewariskan posisi penting dalam beberapa keluarga. Tetapi, saat ini Dirman hanya fokus untuk memenuhi semua kebutuhan Lastri dengan dukungan Lola, anak bos perusahaan sawit di Kalimantan.
"Dek La, bantuin aku ngadep bapak ya besok. Kita sama-sama ambil libur supaya bisa jalan-jalan dan jalanin ini bareng-bareng".
"Apa sih mas? Ngomong kok njelimet gitu", bantah Lola.
"Anu dek, aku butuh untuk beli tiket sama sangu untuk di sana, hehe".
"Ya udah, besok aku telpon si bule edan, okeh?".
"Kok dia dek?", tanya Dirman bingung.
"Ya aku harus ajak semua istrimu supaya bapak ngerti mas".
"Lah, bapak sudah ngerti. Untuk apa dikasih lagi dek?".
"Ya mestinya gini mas, keluarga mbak Lastri belum ngerti keadaan kita. Aku bakal kasih kesempatan kok untuk mereka supaya ada jaminan kalau sebenernya kita tu sudah sesuai tuntunan kanjeng Nabi S.A.W.", tukas Lola.
"Lah iya, tapi dek".
__ADS_1
"Tapi apa? Pakaianku seksi?".
"Iya, aku malu kamu bawa penampilanmu dan yang lain ke keluarga Lastri. Mereka masih ada keturunan ulama loh dek", jawab Dirman.
"Ya sudah, besok aku pakai yang rapih ya. Mas, aku ga mau bandingin diri sama yang lain. Mas juga jangan banding-bandingin aku sama istri-istrimu mas, sakit mas itu mas".
"Iya dek sakit, tapi enak kan? Hehe".
Lola terdiam pertanda mengerti apa maksud Dirman.
"Mas mau lagi?".
Dirman mengangguk setuju.
Candaan dua sejoli di gudang kantor saat itu masih saja berlanjut hingga mereka tertidur bersama debu-debu yang menempel di dinding.
____
Waktu berlalu, ayam jantan berkokok membangunkan semua makhluk di subuh yang tak bernyawa. Dirman bergegas membersihkan tubuh dan sekelilingnya. Ia mencolek pipi Lola.
"Apa sih mas? Hoaaaammmm. Aku mau mandi sekarang".
"Ya sudah, ayok!".
Dirman bersama Lola berjalan menuju toilet gudang. Mereka masih bau badan, hasil persekutuan duniawi mereka tadi malam.
(Adegan mandi disensor)
"Mas, ga ada handuk pake baju kamu aja ya!".
"Iya pakai aja, aku ada seragam di loker kantormu kan".
__ADS_1
"Iya eh, aku pakai yang itu aja deh mas. Mau tak cuci aja yang ini sudah apek", kata Lola.
"Kamu ini, maunya yang bagus aja!", jawab Dirman sambil mencubit kerikil di dada.
Hari masih gelap, Dirman bergegas menuju mushola yang banyak kera di dekatnya. Kalau malam, mungkin Dirman tidak berani untuk ibadah di situ. Ia hanya memikirkan bagaimana ibadahnya bisa khusyuk di tengah lampu yang berkedip dan berisiknya kera-kera liar di sekitar gudang.
"Mas Dirman, tunggu! Aku takut mas!".
"Lah? Dek, takut apa? Ga ada apa-apa kan?", tanya Dirman yang sebenarnya juga agak merinding.
"Anu mas, kata pak lek yang jaga malam, disini tu banyak monster. Tapi ya, ku lihat cuma monyet gimana mas? Aku takut".
"Kamu takut sama yang kelihatan atau sama yang ga kelihatan?", tanya Dirman berusaha berani.
"Takut sama dua-duanya mas".
"Loh, Allah S.W.T. kelihatan apa nggak? Rasulullah S.A.W. kelihatan apa nggak?".
"Dua-duanya kelihatan sih mas, tapi di Al-Qur'an", kata Lola.
"Eh, tumben bener! Siapa yang ngajarin kamu dek?".
Lola tersenyum. Mereka berjalan menuju tempat wudhu. Tak terasa, waktu sudah mendekati pukul 6 pagi. Pasangan itu masih saja sibuk berdzikir menunggu datangnya syuruq.
"Mas, mbak Lastri gimana ya mas?".
"Sudah, tenang aja dulu. Kita doa sama-sama ya. Semoga Allah kasih hidayah, Aamiin".
Teng-teng-teng.
Jam dinding gaya lama berdentang keras sekali. Pasangan itu menunaikan ibadah Sunnah mereka sebelum beranjak ke kantor untuk menukar libur mereka dengan hari itu. Perencanaan mereka sudah matang.
__ADS_1
Setelah itu, Lola dan Dirman menelpon grup istri ceriwis yang keberadaannya terpencar. Lola dan Dirman akan menunggu di bandara untuk pertemuan yang istimewa.
Z