
Pagi hari, suasana terasa segar lagi menyegarkan. Lastri dan aku masih terkapar di kasur dan sprei yang kusut akibat perang dunia percintaan tadi malam.
Lampu masih belum menyala, lilin sudah habis, dan matahari mulai sumringah pertanda pergantian hari kerja menjadi hari libur.
Pikiranku mulai merencanakan sesuatu yang asyik.
"Dek, kita kesiangan. Wudhu yuk! Kita doain hasil tempur semalam".
Lastri masih nyaman dengan wajah penuh ilernya. Mungkin pikirnya, magnet terkuat saat ini ada di kasur.
"Dek, bangun dek!".
"Iya mas, coba tolong nyalain lampu aku mau liat muka mas".
Klik.
"Loh mas, kolornya mana? Kok bisa-bisanya ga malu gitu".
"Gini loh dek, aku tu suami siaga. Jadi, kalau ada sinyal ronde selanjutnya, ya ku laksanakan dengan segera, hehe".
"Ih mas, kok gitu ngomongnya. Aku kan mau beres-beres rumah loh mas", celoteh Lastri sedikit cemberut.
"Yah dek, mestinya kamu ngerti lah. Aku tuh maunya dimengerti sama kamu".
"Ya udah, sini mana mikrofonnya", kata Lastri dengan sembarang.
"Apanya?", kataku pura-pura tidak tahu.
"Dih, tak cokot ya!".
Dengan sedikit bercanda, aku berlari-lari kecil menuju dapur surgaku yang sederhana ini. Lastri mengejar tanpa sehelai benang. Ia tak memiliki pengaman yang kokoh sehingga ia sedikit terkejut ketika aku mengejutkannya dari balik pintu dapur.
"Duar!".
"Geewhilikins!", Lastri melotot kesetanan.
__ADS_1
"Wadudududuh, dek! Kamu kok kagetnya kayak bule!", kataku sambil tertawa terbahak-bahak.
"Astaghfirullah, mas! Cepetan pake celana! 'Lonceng'-mu kelihatan menawan tuh!", sahut Lastri seraya tersenyum mesum.
"Gini loh dek, tadi di kamar ada yang mau minta mikrofon ga aku kasih. Kalo disini mungkin bisa".
"Mana ada! Cepetan pake celana! Aku udah ga nafsu! Aku laper mau makan sotong", Lastri menggerutu laksana kumbang kehilangan macan.
Pagi itu, kami sarapan dengan tanpa pengaman aurat karena semua terkunci rapat. Air kamar mandi pun sudah tidak meluber. Kain tergantung penghalang jendela juga masih terbentang. Alhasil, kesyahduan rumah tangga kami masih begitu-begitu saja, berlanjut sampai esok hari tiba.
"Loh dek, kita ini belum sholat subuh loh!".
"Astaghfirullah, berdosa banget! Kamu sih mas, semalam mainnya kasar!".
"Loh kok nyalahin aku? Kamu kenapa bisa punya dua aset menggunung seperti itu?".
"Dih, disalahin malah bales nanya", jawab Lastri sewot.
Perbincangan hangat berlangsung seru sampai kami menghabiskan sarapan di hari yang cerah bersama matahari yang tersenyum lebar pertanda bahagia akan tiba.
"Kemana?".
"Ke Jonggol, mau?".
"Waduh mas, kejauhan! Kita selesaikan di kamar mandi aja ya, gimana?", kata Lastri dengan senyuman menggoda menuju singgasana iblis di kamar mandi.
"Oh iya ya, masih belum mandi besar", kataku.
Kami berdua berjalan menuju bak mandi yang terisi setengah penuh. Kemudian, aku menyalakan mesin pompa air dengan mengucap nama Allah Ta'ala. Air pun mengalir deras sederas cintaku padamu, dek Lastri.
Acara mandi besar telah usai dan sholat yang tertinggal pun sudah tak lagi menjadi perihal susah. Pada akhir salam, doa-doa kami lantunkan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar segera diberi karunia terindah bernama buah hati, bukan buah anu-anu yang kami miliki sendiri.
____
"Dek, mas rencananya mau ikutan Maxim deh. Soalnya uang belanja kita masih kurang kan?".
__ADS_1
"Iya mas, tapi aku ya kasihan sama mas kalau panas kepanasan, hujan kehujanan", kata Lastri memelas.
"Gini loh dek, mas rencananya mau ke rumah teman di Simpang Kades. Katanya dia punya mobil tapi ga bermanfaat karena kebanyakan parkir di garasi. Alhasil, maunya dia didaftarkan ke Maxim saja tapi ga mau dia yang nyetir", jelasku kepada Lastri, sang istri tercinta.
"Tar dulu, temannya mas cowok apa cewek?".
"Eh, emmmm. Anu dek, hehe, cewek".
Lastri melotot sambil mencubit lemak jahat di perutku. Ia mengomel karena bisa-bisanya aku kenal dengan wanita lain. Sedangkan, saat ini yang harus difikirkan hanyalah perihal hidup yang harus dihidupkan.
"Gini loh dek, mas kan kalo 'weekend' ga ngapa-ngapain, mending mas jalan-jalan keliling kota sambil mencari tambahan untuk uang makan. Kan lumayan, kan kan kan?".
"Oh ya udah, intinya aku ikut ya!".
"Loh kok gitu sih", aku jadi terbingung-bingung memikirkan rencana selanjutnya.
"Dek, aku tak ambil kredit mobil aja ya? Mana tau hitungannya pas dengan pengeluaran kita. Soalnya kan, kalau kita mengandalkan gaji aja nggak cukup loh dek".
"Nggak mas, aku intinya mau duit, bukan gaji".
"Loh, kok gitu?".
"Yah mas, kok ga ngerti sih", kata Lastri
"Gini mas, gaji itu hanya titipan, duit juga titipan, semua hanyalah titipan. Allah Ta'ala yang menentukan semuanya itu titipan. Nah, kalau kita mau dititipin duit, duit itu mau ditaruh dimana mas?".
Dirman bingung. Sejenak, ia berjalan meninggalkan Lastri di dapur.
"Dek, aku lagi bingung perihal duit. Tolong bikinin kopi ya, tak tunggu di teras".
"Oh ya udah deh kalau gitu. Mas mau kopi apa? Torabika susu? Atau Torabika-ro aku?".
"Eh eh, ga jadi dek, susu aja!", sahutku gelagapan sambil menutup pintu rapat-rapat.
Adegan selanjutnya mohon maaf, wajib disensor.
__ADS_1