Menjemput Waktu

Menjemput Waktu
Lola dan Ambisi Soekarno


__ADS_3


Pagi itu, tidak biasanya Lola berdandan ala pemain bola. Ia mengenakan Jersey M.City untuk dilapisi cardigan yang senada. Lekuk tubuh miliknya menggambarkan keserasian dengan senyuman menggoda Dirman, staf lapangan yang tidak biasa di kantor.


"Pagi La! Coba senyumnya bagi dikit dong, aku kesengsem, hehe", kata Dirman.


"Gombalanmu mas! Aku yo gini buat diri sendiri kok bukan pamer".


"Ya bukan masalah pamer La, coba tolong jangan terlalu manis deh, takutnya aku makin suka", imbuh Dirman.


Lola dan Dirman memang sudah lama menyimpan rasa. Apalagi, hari-hari Dirman dihabiskan dengan bekerja di perkebunan kelapa sawit sebagai mandor.


Satu-satunya wanita yang ia temui hanya Lola. Wajar jika banyak yang mau padanya.


Lola menyiapkan banyak material di gudang untuk dimuat di bak belakang mobil Triton milik bos. Dirman membantunya dengan sesekali mencolek dan menggoda Lola.


"La, tar sore abis kerja kita kemana yuk!", celetuk Dirman.


"Emang mau kemana mas?".


"Ada rumah pohon buatan anak buahku di kebun. Cukup tinggi loh La! Mau coba liat? Aku ada fotonya La!"


"Oh ya coba mana liat?", jawab Lola penasaran.


"Ini loh, coba kamu suka spot yang mana? Nanti aku kirim ke WhatsApp-mu".


Wangi semerbak parfum Lola menambah gairah seksual Dirman yang semalam bergumul dengan istrinya. Ia mulai membanding-bandingkan Lola dengan lekuk indah tubuh Lastri.


Dirman mulai suka dengan kemulusan kulit putih Lola layaknya 'Snow White' habis luluran.


Tanpa disadari, seekor burung yang hinggap di sarang yang lebat mulai bangun. Ia berontak ingin segera keluar karena gerah dengan himpitan masa lalu yang kelam. Hanya Lola yang tidak menyadari itu.


"Mas kenapa? Kok mukanya gitu?", tanya Lola.

__ADS_1


"Eh? Nganu La, semalem aku kayanya kurang tidur karena harus dinas malam".


"Loh? Emang semalam ada kerjaan? Kan kantor tutup".


"Eh? Welah-dalah, bukan La, bukan apa-apa, hehe".


Lola menatapku dengan diam sejenak, lalu tanpa ragu ia tersenyum.


"Aku tau mas bohong! Mas Dirman masih butuh itu kan?", tanya Lola.


"Eh? Apa La?".


"Himpitan masa lalu yang harus dimuntahkan sama-sama?", jawab Lola sambil berkedip ke arah ku.


Ia menatap ruang gudang yang kosong dan sepi peminat. Tempat itu banyak debunya, tidak sehat. Akan tetapi, untuk dua sejoli yang sudah lama merindukan sosok persatuan duniawi, sebuah tempat bukanlah perkara yang penting. Mereka tidak memikirkan rencana bagaimana, yang terpenting adalah sesuatu tersebut tetap mengalir bersama waktu dan cinta.


"Mas, sini ikut aku!", Lola menarik jemari kasar Dirman.


Lokasi gudang yang kurang terawat tidak difikirkan Lola dan Dirman. Semua celah terkunci, menambah kesan privasi mereka berdua di pagi hari yang cerah menawan.


"Diam mas! Aku yang pegang kendali sekarang! Duduk!", gertak Lola.


"Loh La, kok kayak adegan sadis nih?".


"Hehe, sesekali mas".


Pergumulan berlanjut dengan pertukaran informasi genetik dari cairan saliva. Dirman sangat bersemangat akan hal itu hingga ia merasakan sensasi yang berbeda.


"La, ga jadi ke rumah pohon?".


"Ngapain sih mas? Aku butuh sekarang!", jawab Lola.


Sesaat kemudian, seluruh pakaian Dirman sudah ditanggalkan. Hanya Lola yang masih asyik dengan setelan kusutnya.

__ADS_1


"Mas, berdiri lagi!", perintah Lola.


"Loh? Tadi nyuruh duduk, ini berdiri lagi. Gimana sih?".


"Bawel!", kata Lola sambil mencubit kerikil kembar di dada Dirman.


Tanpa ragu, Lola mengambil gambar dengan hapenya sambil menikmati lolipop ukuran jumbo milik Dirman. Si jantan hanya tersenyum kegirangan.


"Mas, kayanya aku udah deh".


"Maksudnya gimana La? Mau pakai baju lagi?", tanya Dirman.


"Ssst! Diem dulu!".


Didorongnya Dirman di matras busa. Agak santai, Lola mendekati Dirman dengan sedikit meratakan lidah kucingnya di sepanjang perjalanan menuju tiang Monas.


"Mas Dirman, ganteng!", kata Lola sambil memasukkan senjata tumpul ke sarungnya.


____


Perjalanan menuju puncak asmara berlangsung selama dua jam. Dua sejoli yang menghempaskan semangat di pagi hari tampak letih karena menyimpan kenangan di gudang berdebu.


Keduanya mencari tisu atau kain untuk mengelap sisa-sisa perjuangan. Tampak banyak sekali kesatria yang berguguran di atas matras. Baunya sangat menyengat khas pandan wangi.


Lola agak sedikit kurang puas karena tidak dihujani dengan semprotan selang Sanyo. Ia hanya tersenyum.


"La, tar aku duluan ya yang keluar. Kamu tunggu disini aja, aku cariin air untuk bilas", kata Dirman.


"Iya buruan mas, aku udah ga tahan".


"Loh? Ronde kedua toh?", tanya Dirman.


"Ampun mas, aku ga kuat!", keluh Lola.

__ADS_1


Dirman bergegas menutup pintu. Semua adegan tanpa sensor tersebut tersimpan jauh di gudang berdebu, tempat barang-barang berharga milik perusahaan disimpan (termasuk jutaan calon masa depan pemberontak yang mendesak keluar bareng).


__ADS_2