
"Sayang, kemari" ucap seorang gadis cantik dengan wajah berbangsa timur. Lelaki yang sedang duduk dibangku taman yang sepi itu termenung sejenak menatap gadis cantik itu.
"Bi, Bagaimana bisa kamu ada disni?" Pertanyaan terlontarkan kelu dari bibirnya.
"Ah sayang kamu tidak senang kah?" gadis itu berjalan menghampirinya lalu bergelayut manja diatas pangkuannya.
Lelaki itu hanya mengikuti arus petunjuk yang gadis ini berikan hingga berakhir sebuah kecupan lembut yang membuat jantungnya berdegub kencang. Saat hendak ******* tiba tiba serangan tak terduga dari belakang kepalanya membuat ia harus bangun menghentikan mimpi indah bersama sang pujaan hati.
Buk
Sebuah buku tebal menghantam dengan cukup keras, sehingga membuat sang empu terperanjat dan mengeluarkan kata sompral.(Latah)
Ia mengusap begian belakang kepalnya dan memutar ingin milihat siapa yang melakukan ini padanya, kurang kerjaan, pikirnya.
"Siapa!"
"Apa? Kamu tidak terima ibu pukul ha?"
Ah ternyata guru BP yang sedang melakukan razia setiap bulan di masing masing kelas.
"Eh hehe mana berani aku memarahi ibu winda yang cantik aduhay bagai bidadari turun dari sawah."
Tak ada yang berani tertawa, karena mereka tau jika tertawa artinya harus ikut menerima hukuman bersama si begundal itu.
Ah rasanya sangat lelah jika terus menerus berurusan dengan makhluk tuhan satu ini, selaku membuat dirinya naik darah. Meski otaknya encer, tetap saja tidak bisa menutupi kelakuannya yang sangat meresahkan.
__ADS_1
"Zian mau ibu pindahkan ke kelas lain agar kamu pisah dengan Bian?" Kalah telak, hanya satu jurus itu yang mampu membuan Zian tunduk tak berkutik.
Seketika Zian langsung memasang wajah sayu "Bu, apa ibu tega melihat saya kehilangan separuh jiwa saya jika pindah dari kelas ini, huhu"
"Apasih Zi jijik tauuu!" Bian angkat bicara setelah mendengar kata kata yang membuatnya jijik.
"Ah ayang jangan gitu dong" memanyunkan bibirnya.
Ah imutnya, andai rasa cinta itu untukku.
Seseorang memperhatikan dipojokan dengan wajah yang sulit diartikan.
Keributan kelas telah berakhir, bel istirahat pun telah berbunyi. Mahasiswa/i berbondong keluar kelas menuju kantin yang terletak dibagian samping sekolah.
Tempatnya sangat luas sehingga ribuan orang cukup untuk duduk didalamnya. Tidak ada spot foto menarik karna ini didalam sekolah, meskipun sekolah elit pengaturan sekolah ini sangat ketat karena tidak mengizinkan murid menggukan handphone saat di dalam lingkungan sekolah, terkecuali dibutuhkan untuk membatu membuat tugas
"Bi ini seperti biasa ya." senyum manis dari gadis itu terpatri.
"Ah Lia, baik bibi buatkan tunggu sebentar ya" si bibi berlalu kebelakang menuju dapur dan memasak pesanan pelanggannya.
Lima belas menit menunggu akhirnya pesanan siap, 4 mangkuk makanan berbeda jenis terpampang menggiurkan, cacing diperut sudah minta dipuaskan.
Lia berjalan perlahan membawa nampan dengan penuh makanan, berat. Ya iya jelas apalagi melihat kuah soto yang menguap dan masih panas, jika tersiram pasti terasa perihnya.
Entah karna sial atau apa tuhan membuatnya menjadi nyata, hanya tinggal satu langkah lagi ia bisa menaruh benda yang ada dikedua tangannya, entah datang dari mana makhluk tampan menyerobot sehingga makanan yang ia bawa tersiram kebadannya.
__ADS_1
"aww panass!" Lia menjerit saat merasakan kuah panas itu tumpah kebadannya.
"Ya kamu gapapa kan?" Anne sigap langsung membawa Lia ke UKS untuk mendapat perawatan.
"Aduh Ya tunggu aku ambilkan es batu sama salep duli ya, buka aja baju nya biar ga nempel ke kulit." Anne Bergegas meminta salep dan es batu kepada petugas kesehatan lalu kembali ke ruang UKS membantu Lia.
Saat Anne ingin membantu mengkompres luka Lia, Lia menolak secara halus karna malu jika harus bertelanjang dada dihadapnya.
"Maaf Ne aku sendiri, aku malu jika buka baju ada kamu."
"Baiklah aku tinggal ke kelas soalnya bentar lagi masuk kelas, kalo ada apa apa telpon aku aja saja ya." Lia membalasnya dengan anggukan kepala, lalu Anne berjalan keluar dengan berat hati.
"Anna makasih ya udah peduli" Lia mengatakan itu saat Anna tepat diambang pintu.
Anna membalikan tubuhnya, memasang wajah bingung. "Apa maksudmu? Bukankah sudah seharusnya aku menolongmu dan peduli padamu karna kita teman?" ucap Anne masih setia diposisinya.
"Kamu tahu kan hanya aku yang terlahir dari keluarga miskin yang berani masuk kesekolah ini." Lia tersenyum kecut saat melihat ekpesi Anne yang masih berdiri di ambang pintu.
"Kembalilah, aku takut kami akan dimarahi oleh Bian dan Jen jika berlama lama denganku." Lia membuang muka tak berani menatap Anne.
Deg..
Dia tau kalau aku sering dimarahi jika sering berduaan denganya?
"Maaf membuatmu susah, ini terakhir kalinya aku dekat dengan kalian. Kamu juga tidak perlu terlalu peduli lagi denganku ya."
__ADS_1
"Maaf" Anne berlalu pergi menutup pintu dengan pelan, hatinya merasa sakit saat memikirkan perasaan Lia. Tapi mau bagaimana lagi? Ia juga tidak ingin ayah nya menjadi pengangguran jika tidak mengikuti permintaan anak bos besarnya itu.
Mohon dukungannya ya teman 😉