Menungu Balasan Cintamu

Menungu Balasan Cintamu
Lia


__ADS_3

Perayaan kelulusan bagi semua siswa kelas 12, semuanya tampak bahagia karna hasil ujian mereka memiliki nilai yang lumayan. Tapi kebahagiaan itu tidak didapatkan oleh Lia.


Saat semua orang dipanggil namanya satu persatu untuk naik ke podium dan menerima penghargaan, Lia tidak ada di tempat. Kemana ia?


Saat namanya dipanggil tak ada satu orang pun yang tau dimana keberadaannya. Mungkin?


"Tadi dia sudah datang, mungkin sedang ketoilet. Lewatkan saja dulu Bu Pak, setelah dia kembali baru susul yang terlewat" ucap Dina, ketua kelas 12 A, kelasnya Lia.


"Baiklah, ikuti katamu saja"


......................


Lia sedang berada di rumah sakit kecil menemani ayah dan ibunya, orang tua Lia tertabrak mobil truk yang oleng karna sang sopir mengantuk. Beliau sedang dalam perjalanan untuk menjemput sang adik dan sekalian konsultasi gula darahnya.


Tapi naas kejadian tak terduga itu terjadi.


Sebelum tadi meninggalkan sekolah, Lia sedang asik memakan camilan yang disediakan oleh para guru untuk jamuan, sambil memandang karya tuhan yang ia cintai diam diam. Wajah nya yang semakin tampan dan semakin berwibawa saat memakai setelan jas rapih dan rambut yabg disisir, tidak seperti biasanya selalu di biarkan acak acakan.


perfect!


Saat kepala sekolah memberi wejangan untuk anak didiknya Lia mendapat telpon dari nomor tak dikenal. "Siapa ya?" Batinya.

__ADS_1


Lia pergi menjauh kearah taman belakang agar dentuman pengeras suara tam terlalu terdengar.


"Halo, dengan siapa ya?" tanya Lia sopan


"Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahukan bahwa saudara Panjdi Abimana dan saudari Asti pramuji mengalami kecelakaan dan sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut, untuk spefisikasinya anda bisa datang kerumah sakit Peduli Kasih yang belokasi di jalan xx."


Syok, tubuh Lia bergetar hebat dan jantung nya berpacu cepat. Tubuhnya merosot, seakan tak percaya mungkin ini prank untuk merayakan kelulusan dirinya dan keberhasilan nya mendapatkan beasiswa di uneversitas A. Meski bukan luar negri tetapi kampus itu adalah kampus terbaik di negaranya.


Masih dalam keadaan syok sehingga ia tak mendengar jelas kelanjutan si pria dalam handphone berbicara apa, tapi yang jelas ia harus segera pergi kerumah sakit.


"Rumah sakit Peduli Kasih! Aku harus bergegas."


Ia memohon dengan sangat agar kedua orang tuanya baik baik saja seperti biasanya. Ini hanya prank yang sedang viral belakangan ini.


"Ini ongkos nya pak." Lia memberikan uang lembaran biru pada tukang ojek itu.


"Eh tunggu neng, kembalian nya..." si bapak sedang mengemabil uang di saku nya untuk kembalian eh si eneng malah lari.


"Ambil aja pak, doain semoga saya sama keluarga baik baik aja ya!" sambil berlari pelan karna rok yang ia pakai sangat menyusahkan dirinya untuk berjalan dengan langkah lebar.


***

__ADS_1


Di dalam rumah sakit Lia bergegas menuju ruangan resepsionis dan menanyakan keberadaan orang tuanya.


Sampailah ia didepan ruangan ICU melihat ayahnya sedang terbaring lemah tak berdaya dengan terpasang selang dimana mana. Tunggu, dimana ibu?,


Seorang dokter muda keluar dari ruangan tersebut.


"Anda keluarga korban?" suaranya dingin padahal wajahnya hangat, sulit ditebak.


"Ah iya dok, saya anak dari korban. Bagaimana kondisi ibu dan ayah dok?" wajah panik dan sedihnya tak dapat terbendung, sangat tercetak jelas di wajahnya.


"Kondisi pasien sangat kritis Dan untuk ibu anda sedangan melakukan operasi karna tengkorak belakang kepalanya terbentur dengan sangat sehingga terdapat retakan serta pembuluh darah yang pecah mengakibatkan darah pasien terus keluar, kami akan melakukan yang terbaik untuk ibu anda." jelas sang dokter.


"Terimakasih dokter saya harap ibu dan ayah saya bisa selamat." ucap Lia.


"Hanya menunggu keajaiban tuhan, berdo'a lah. Saya permisi" Saat dokter berlalu pergi Lia menjatuhkah tubuhnya pada kursi tunggu disedikan di rumah sakit. Pikirannya benar benar berkecambuk, berargumen dengan dirinya sendiri.


Ia teringat akan adiknya yang sedang menunggu dijemput sekolah. Lia bergegas memesan ojek dan pulang mengambil keperluan untuk dirumah sakit sekalian menjemput adiknya. Untung saja ayah Lia memiliki tabungan besar di ATM miliknya Jika tidak ia akan bingung bagaimana cara membayar ini semua. Meskipun Keluarganya serba pas pasan, tetapi sang ayah pandai mengatur uang.


Lia bergegas kembali dan mengurus administrasi, untung saja ada BPJ* jadi biaya rumah sakit sedikit terbantu.


Lia gusar saat melihat segerombolan perawat dan dokter keluar dari ruang operasi, jantungnya kini kembali berguncang melihat tubuh sang ibu terbungkus selimut menutupi seliruh tubuhnya.

__ADS_1


God Are you kidding me? This is really not funny!


__ADS_2