
Lia menghampiri Chio dan tak sengaja melihat sketsa wajah pada laptop.
Bugh
Laptop itu seketika di tutup dengan sedikit keras, lalu sang pemilik menoleh dan menatap tajam.
"Apa yang kamu lihat?"
"Tidak melihat apapun sungguh! Baru saja saya datang laptop ya sudah di tutup, suer dah!" Sambil mengangkat kedua jarinya membentuk V.
Chio memutar matanya malas, seperti bocah saja tingkahnya ini.
"Umm anu pak mau pesan apa?"
"Ekspreso dan Ball cHup yang itu" Tangan menunjuk salah satu chiki yang berada pasa rak yang tersusun rapi berisi per chikian.
Lia mengangguk dan pergi ke belakang counter untuk membuat pesanan. Sepuluh menit kemudian kembali lagi dengan membawa nampan berisikan pesanan Chio.
"Ini aja pak? Kalo masih ada yang lain panggil lagi aja."
"Tutup jam berapa?"
Lia menggangkat sebelah alisnya dengan wajah bingung, ada apa dengan dosen ini? Apa dia salah makan obat.
"Toko tutup jam 00.00" Jawabnya
__ADS_1
"Lebih tepat kamunya pulang dari sini jam berapa Lia? Bodoh banget sih" Ia berdecak sedikit kesal.
**** bodoh dia bilang? Coba cek pertanyaannya yang tadi, salah Jawabnya dimana coba? Sialan.
"Setengah satu, memangnya kenapa?" Ucap nya berusaha menekan emosi.
"Aku antar pulang."
"Antar pulang?" Beo Lia
"Sebagai hukuman kamu lihat gambar tadi" Lalu tatapannya seperti memberi tahu 'sudah pergi sana jangan ganggu'
Tuhan ada apa dengan orang satu ini? Tidak cukupkah memperlihatkan dua insan itu saling bermesraan? Sekarang masih harus menghadapi manusia ngeselin satu ini.
Lia pergi dengan perasaan dongkol, sumpah siapa sih yang yang jengkel kalau jadi Lia?
Benar saja baru Lia datang Danang sebagai senior dan yang paling tua langsung membaca mantra.
"Eh Bontot kenapa dari tadi bad mood terus, apalagi abis nyanperin si mas ganteng pojokan itu? Terus Tuh muka jeles banget pas liatin si babang tampan yang lagi kasmaran. Cerita kek kayak kesiapa aja, kita kalo ada apa apa aja cerita kok kamu nggak!? Kamu udah gak nganggep kita abang lagi? Sakit hati aku kamu kayak gitu" Isi mantra Danang.
"Hmm tau kan aku itu suka sama cowok dari SMA kelas 1. Dia udah punya pacar lagi abis di tinggalin sama cewek yang dia kejar dulu." mendesah pelan "Dia bilang kalau udah jatuh cinta gak bakalan gampang pindah hati eh ini malah gua liat pacaran sama temen cewek nya. Kesel kan? Tau gitu mah dari dulu udah gua pepet tuh orang" jelas nya panjang kali lebar.
"Cowok nya yang mana sih, abang penasaran loh Ya" Vano mengedarkan pandangan mencari sosok yang membuat Lia yang sudah dianggap adik itu sedih.
"Itu?" Tunjuk Dian tepat sasaran.
__ADS_1
Sontak mata mereka ikut mengedar dan menangkap gambaran dua insan yang sedang yah gak begitu mesra sih, karna seperti nya si cewek terus mengoceh sambil menatap teduh netra si cowok, tapi sebaliknya cowoknya malah acuh hanya sesekali menjawab dan tersenyum kaku.
...****************...
Waktu sudah menunjuk jam pulang, setelah beres beres dan menghitung pendapatan empat orang makhluk sedang ber gosip ria sambil berjalan menuju pintu luar.
Ceklek
Pintu gerbang di tutup dan mereka mengambil kendaraan masing masing, kecuali Lia ia jalan kaki karna jarang kampus dan kafe itu tidak terlalu jauh.
"Lia Disini!"
Seketika lia menoleh ke sumber suara.
Huff untung saja yang lain sudah pulang
"Bapak tidak udah repot repot nungguin saya sampai pulang kerja"
"Memangnya kenapa? Kamu tidak suka?" Wajahnya seketika berubah kesal.
"En bukan begitu, hanya saja.. Memang ada urusan apa sampai bapak menunggu lama?" Jujur Lia takut jika berhadapan dengan orang ini, sikap dan sifatnya suka gampang berubah.
"Sudah saya bilang bukan? Hukuman kamu melihat sketsa milik saya! Tidak ada bantahan naik mobil cepat."
Lia pasrah saja, dari pada tidak pulang pulang jadinya. Badan cape, hati cape, pikiran cape, masih harus ngurusin orang gak jelas satu ini.
__ADS_1
Sumpah demi apa tuhan? Sial banget