Menungu Balasan Cintamu

Menungu Balasan Cintamu
Ujian Nilai atau Ujian Hati?


__ADS_3

Semua siswa telah mempersiapkan diri masing masing untuk menghadapi ujian kali ini. Ujian penentuan apakan lulus atau tinggal kelas.


Lia tidak terlalu khawatir kerna tuhan memberikan kelebihan pada otaknya meski tidak pada wajahnya. Haha Syukuri saja!


Semua siswa siswi kelas 12 sedang mempersiapkan mental dan otaknya, jika gagal? Pasti sangat memalukan.


Semua murid digiring menuju sebuah ruangan dengan laptop berjajar rapih. Terdapat angka disetiap meja dan setiap murid memiliki nomor tempat duduk masing masing.


Kali ini Lia sedikit kecewa karna tidak duduk berdekatan dengan Zian, dia beruntung mendapat meja bersebelahan dengan pujaan hatinya, Bianca.


Semangat, jangan hidup hanya karna cinta!


Lia terus menyemangati diri meski ia tau itu tidak membantu. Tuhan percepatlah waktu, aku tak tahan!


"Baiklah buka laptop kalian masing masing, buka browser dan bla bla..." guru pengawas menjelaskan supaya setiap anak mengerti. "Ada yang tidak paham?"


"Paham bu!" serentak semua menjawab.


Saat sedang melakukan kegiatan tiba tiba, ctak.


Lampu padam, sebagian panik dan sebagian bahagia.


"Sabar jangan panik, ibu akan carikan genset agar ujian kalian lancar." Terlihat pengawas itu seperti sedang menelpon seseorang. "Pak Gani akan menyalakan genset, jadi sebentar lagi akan menyala"

__ADS_1


"Ah sial!" umpatan kecil dari seorang siswa.


...****************...


Ujian kali ini berjalan mulus meski ada kendala mati lampu, tapi itu semua bisa di atasi. Hanya saja drama lainnya sedang menanti untuk membuat keonaran.


Ya Bianca terkena lemparan batu krikil pada kepala bagian belakangnya, ia pingsan ditempat. Zian sebagai pahlawan kesiangan membawa Bian kerumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif mengingat batu itu masih menancap.


Tentu saja sibegundal itu tidak tinggal diam, ia membuat keonaran dengan mengancam akan membakar semua sekolah dan mengeluarkan pegawai di kantor pusat maupun cabang milik ayahnya, ia tau sebagian besar pekerjaan orang tua murid disini bekerja di kantor ayahnya.


"Kita lihat siapa yang berani bermain main dengan ku! Zian Agata!" menekan kan nama besarnya. Kemarahan nya sudah sampai puncak, ia tidak peduli hal lainnya karna yang ingin ia ketahui hanyalah siapa yang membuat gadisnya terluka.


Perasaan Lia saat ini campur aduk, setelah menguras otak saat ujian malah menguras tenaga untuk menahan sabar karna cemburu. Ya ia cemburu melihat Zian begitu peduli pada Bianca, sedangkan pada dirinya? Tuh kan apa aku bilang? Jangan terlalu mengaharapkan hal yang sudah tau tidak akan mungkin bisa didapatkan, meski ada kemungkinan pun pasti hanya sedikit saja. Paling paling 1% saja, jadi plis ya hati walaupun ku tau kamu mencinta ingat, tak semuanya bisa terbalas.


...****************...


Ujian telah selesai, tiga hari serasa tiga minggu. Lama sekali, muak karna banyak sekali drama yang Zian agar pelaku itu muncul.


Jika aku ada di posisi Bianca saat ini, akan kuhargai setiap detik perjuangan yang dia lakukan. Tapi sayang, hati Bian sudah tertutup rapat karna sudah memiliki penghuni.


Lia pergi keruangan guru karna wali kelas memanggilnya, menyusuri setiap lorong dengan wajah sendu. Cinta oh cinta, membuat orang gila saja.


Lia menarik nafas pelas saat sampai didepan pintu ruang yang ia tuju, huff..

__ADS_1


Tok tok


"Masuk"


"Ibu memanggil saya?"


"iya, Lia duduk lah, ada yang ingin ibu bicarakan." wajah nya terlihat serius. "Ada apa?" pikirnya


"Lia mengenai beasiswa, kamu mau ikut pergi ke universitas A?"


Lia berfikir sejenak, kesempatan bagus masa iya dilewakan.


"Saya akan ikut ujian beasiswa itu bu" ucap nya mantap.


Lia izin pamit pada bu Ine karna urusannya sudah selesai, ia kembali ke dalam kelas dan kembali menemukan drama yang memuakan.


Bianca hendak pergi melanjutkan universitas di luar negri sesuai perintah ayah Bian dan ingin menyusul kekasihnya yang sudah sangat ia rindukan.


"Bi, jangan ngomong kayak gini oke. Kamu tau kan perjuangan aku tiga tahun ini kan?" Wajah ceria Zian luntur, semua orang prihatin dengan nasib cinta teman sekelasnya ini, malang sekali pikir mereka.


"Dari dulu sudah ku katakan untuk menjauh dariku, cinta itu ga bisa di paksa. Terserah kamu mau sampai ikut ke London pun aku akan tetap kembali kesana untuk kekasihku, aku mohon dengan sangat sangat memohon jangan ganggu aku lagi oke. Sampai disini paham?" Bianca benar benar sudah sangat jengah dengan tingkah laku makhluk satu ini, ia memutuskan untuk pergi pulang duluan. Zian tak menahan, rasa sakit di hatinya benar benar terasa untuk saat ini.


"Andai aku bisa, aku pengen jadi obat buat ngehibur kamu Zi" batin Lia

__ADS_1


Mohon dukungan nya ya


__ADS_2