Menungu Balasan Cintamu

Menungu Balasan Cintamu
Pemakaman


__ADS_3

Lia terbangun dari tidurnya, ia merasakan berat pada bagian mata. Mungkin karna terlalu banyak menangis membuat matanya membengkak.


Lia celingukan diruangan itu, mencari seseorang yang jelas keberadaannya tidak ada.


"Tuh kan apa aku bilang, tadi itu cuman delusi bukan beneran orang nya yang datang. Kayaknya aku harus pergi kepsikolog lagi deh buat nanyain mental aku yang ancur saat ini, haha Ya Ya.. Nasib mu buruk sekali." sekali lagi, niat nya benar benar tak ingin menyalahkan takdir. Hanya saja ya begitulah sangat sulit dijelaskan dengan kata kata.


Diambang pintu seseorsng sedang menekan knop hendak dibuka, tapi urung saat mendengar gadis itu berbicara sendiri.


"Delusi? Lagi? Dia sudah sampai tahap delusi? Psikolog, Ah Lia hidupmu begitu tertutup sehingga tidak ada orang yang bisa melihat jauh isi hati kecilmu." Gumam Zian sangat kecil sehingga hanya tuhan dan para malaikat yang bisa mendengarnya.


Zian membuka lebar pintu, Lia masih tidak sadar dengan keberadaan Zian diruangan itu. Sedang terjeremus kedalam pikirannya, berargumen dengan otak kecilnya, masih terus memikirkan kejadian hari ini nyata atau tidaknya. Ah Lia cepat lah sadar muka cengo dirimu sangat tidak enak dipandang.


"Ahem"


Deheman Zian membuyarkan isi pikiran Lia, ia terperajak kaget saat melihat sosok yang sedang dipikirkannya.

__ADS_1


"Delusi lagi?" Bertanya pada diri sendiri.


"No. Ini bukan delusi, ini asli jadi perhatikan kondisimu saat ini Lia. Ayo pulang." menyadarkan Lia bahwa yang dialaminya ini nyata.


"Lalu orang tuaku? Itu juga pasti mimpi atau delusi kan. Benarkan?" Wajahnya seketika pucat, ia pikir semuanya hanya mimpi belaka atau delusi seperti biasanya.


"Orang orang sedang mengurus pemakaman beliau" ucap Zian berhati hati.


Air mata kembali luruh membasahi pipi putihnya.


Zian mendekap erat tubuh Lia, menyalurkan rasa simpati pada pelukanya.


"Aku tau kamu gadis kuat, hadapi ini, kamu masih punya Leo adikmu, jika kamu ikut bersama orangtua mu, bagaimana dengan adikmu? Hmm." Zian memberi saran.


"Too easy to talk, not to live it!" kesedihan terpancar jelas pada netra indahnya.

__ADS_1


"Oke sorry, tapi lu harus ikut balik buat ngurusin pemakaman belau. Kamu kuat, aku tau itu, kamu adalah wanita kuat. Kalo kamu kayak gini mereka pasti bakalan sedih dan gak tenang di alam sana. Biarin mereka tenang disisi tuhan."


Zian benar, tak ada untungnya sedih berlama lama. Ia masih punya Leo dan cita cita yang harus diraihnya. Adiknya juga pasti sedih, ia harus jadi bahu yang kuat untuk dirinya dan sang adik nanti.


Lia mengirup nafas dalam, setelah sedikit tenang Lia menganggukan kepala pelan "Aku harus pulang buat ketemu sama Leo, aku lupa untuk sesaat bahwa aku masih punya Leo. Tapi Zi sangat merepotkan jika aku seperti ini, apakan Bianca akan marah padaku? Karna selama ini titik fokusmu hanya pada dia aku takut dia akan memarahi dirimu." dengan nada sesegukan Lia bertanya dengan hati hati.


Zian hanya menjawabnya dengan tersenyum tipis.


Pemakan berlangsung dengan khidmat, tangisan kedua saurada itu menjadi pertanda bahwa dunia mereka sedang terluka.


"Sampai saat ini aku tidak percaya bahwa kalian pergi, tapi tak apa, aku akan tetap menjadi putri kebanggaan kalian, menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya. Meski jalan yang tuhan berikan tak selamanya mulus, rintangan sebesar apapun akan aku lewati demi kalian dan Leo. Aku pasti akan merindukan kalian, aku akan menjaga Leo dan diriku sendiri dengan baik. Maafkan aku jika belum bisa membahagiakan kalian, tenang di alam sana ya ibu ayah." Hari ini hari penuh duka bagi Lia sekeluarga.


Entah mungkin alam pun turut merasakan kesedihan sehingga cuaca berubah menjadi gelap, angin sepoi sepoi seakan menandakan bahwa langit pun ingin ikut menangis bersamanya.


Mohon dukungannya ya teman teman:)🙏✌

__ADS_1


__ADS_2