
Lia berteriak histreris saat melihat tubuh ibu nya dibungkus selimut tebal menutupi seluruh tubunya. Tangisannya pecah, dunia seakan hancur.
"Bu bangun! Dok, sus apa yang terjadi dengan ibu saya? Kenapa dibungkus seperti ini? Kenapa ia tidak bangun? Kalian bekerja keras katanya? Lalu bagaimana bisa ibu saya tidak bangun?! Bu bangun bu hiks... Aku lulus bu aku dapat beasiswa hiks.. hiks tuhan engkau jahat!" Tubuhnya lemas, ia terduduk di lantai sembari ditenangkan salah seorang suster yang berjaga. Sedangkan ibunya tetap dibawa ke ruang mayat untuk melakukan ritual sesuai adat kepercayaan agamanya.
Lia semakin syok saat dokter berwajah dingin itu datang dan memberitahu bahwa ayahnya tak dapat ditolong karna tiba tiba henti jantung.
Duar!
Bak tersambar petir di siang bolong, tak kuasa menahan serangan yang begitu tiba tiba Lia pun pingsan.
Dokter meminta perawat untuk mengurusnya dan ia pergi karna masih memiliki jadwal lain. Setelah tubuhnya di baringkan di atas kasur, si perawat bingung hendak menghubungi siapa lagi karna tidak ada yang mewakili Lia untuk mengurus hal hal lain nya.
Suster itu mengambil hp milik Lia dan memeriksa bagian kontak, melihat siapa yang bisa dihubungi untuk mewakilkan Lia yang tak sadarkan diri.
My Iced Boy❤
"Mungkin pacarnya" asumsi si perawat.
Calling
"Halo Ya, tumben ada apa?" suara dari sebrang, dingin kesan pertama si suster.
"Ah maaf mas ini pacarnya pingsan dan sedang dirawat, masnya bisa datang kesini untuk membantunya mengurusi data data orangtua Lia?" Jelas suster tersebut.
"Memangnya apa yang terjadi dengan orang tua nya?"
"Meninggal setelah kecelakaan ter tabrak mobil truk, info lebih jelasnya si mas bisa datang kesini, terimakasih."
__ADS_1
Zian mengiyakan dan bergegas menuju rumah sakit tempat Lia berada.
...****************...
Setelah selesai acara para murid kompak hendak merayakan di sebuah club. Zian memiliki ide agar Bian jadi milik seutuhnya. Dengan cara meniduri Bian nanti di club milik ayah nya.
Zian kira rencananya akan berhasil dengan lancar, setelah ditidurin bilang ke orang tua trus nikah sesimple itu kan.
Tapi sayang rencananya itu gatot alias gagal total, Bian berhasil mengubah atensi Zian untuk tidak tidur dengan nya.
"Zi tunggu kita bisa bicarakan ini baik baik, jangan buat aku membencimu. Meskipun menikah jika hanya kamu sendiri yang mencintai tidak nyaman bukan?" Ucap Bian bernegosiasi.
"Lalu seperti apa yang menurutmu baik Bi? Aku hampir gila 3 tahun ini, dan sekarang kegilaan ku sudah berada pada batasnya. Aku cinta sama kamu Bianca! Aku cinta!" Zian menarik nafasnya dalam dalam.
"Kamu tau? Sangat menyakitkan melihat orang yang kita cintai dekat dengan cowok lain, sedangkan aku kamu tidak pernah mau membuka hati. Kenapa? Aku kurang apa?" Wajah nya sendu, gurat kesedihan dan kekecewaan yang ia pendam selama ini terlihat.
"Aku 13 bersaudara! Mereka bukan pacar sehari yang aku sewa untuk menemani. Aku anak bungsu, kakak pertama perempuan tapi sudah menikah dan ikut suaminya, dan kesebelas kakakku cowok dan tidak ingin melihat adiknya tidak fokus belajar malah pacaran, kadi mereka selalu menemaniku kemanapun aku mau!" Ia pikir untuk apa juga menjelaskan masalah pribadinya dengan orang luar, ah sudahlah dari pada tubuh nya menjadi korban.
"Maaf" hanya itu yang bisa keliar dari bibirnya nya yang kelu
Bian mengangguk, lalu mengajak Zian keluar dan bergabung dengan yang lainya. Mengingat ini adalah pertemuan terkhirnya.
Saat berjalan menyusuri lorong dengan banyak orang yang berlalu lalang, Bian menghentikan sejenak langkahnya disusul Zian. Wajah bingung tercetak jelas.
"Aku mencintai pria lain, jadi kumohon menyerahlah atas diriku. Cintamu hanya menyakiti. Kita akhiri sampai disini ya?" Bianca berbalik menatap netra Zian, wajah seiusnya membuat dada Zian kembali berdenyut nyeri.
Zian hanya tersenyum membalas perkataan Bian. Saat hendak melanhkah masuk medalam ruangan pons miliknya bergetar.
__ADS_1
"Lia telpon? Tumben" lalu mengangkat ikon hijau dan menggesernya keatas.
"Halo kenapa?"
******
Zian bergegas kearah parkiran, menyalakan kuda besi miliknya dan melaju membelah jalanan kota yang tidak terlalu ramai. Tak butuh waktu lama karna club dan rumah sakit lumayan dekat jadi hanya perlu waktu 15 menit.
Zian berjalan dengan tergesa gesa menuju tempat resepsionis.
"Pasien keluarga Abimana dirawat dimana?" Nadanya sedikit panik. Mungkin karna teman sekelas, atau karna hal lain?
ceklek
Suara pintu terbuka, Zian menatap iba Lia yang sedang menangis sambil memeluk lututnya. Suaranya terdengar pilu.
"Lia are you okey?" Zian mendekat dan mengelus kepala Lia lembut.
Lia menggangkat kepalanya dan menatap dalam ke netra cowok dihadapnya. Seakan mencari tahu adakah ketulusan di dirinya sehingga datang menemui orang tak penting seperti Lia.
"Haha apa aku kembali delusi? Aku melihatmu disni Zi, wajahmu tampak khawatir. Apa aku benar?" Lia terisak kembali "Hug me plis! Aku tau ini cuma hayalan, aku benar benar berharap ada seseorang yang menemaniku saat ini." Kembali mengencangkan tangis nya.
Zian duduk di tepi ranjang dan menarik tubuh Lia kedalam dekapannya, hatinya tak karuan dan mengurungkan niatnya menanyakan maksud si suster tadi perihal pacar. Melihat wajahnya Zian tidak tega.
"Zi kenapa tuhan selalu bercanda denganku? Apa salah aku Zi coba katakan!? Tuhan mengambil kedua orang tuaku, setelah mengambil hatiku untuk memaksaku mencintai mu. Aku tidak ingin menyalahkan takdir karna telah mencintaimu, itu suatu anugrah untukku, tapi mengapa harus orang tuaku? Sekarang aku sendiri. Ah aku tidak sendiri hehe aku ada Leo dan dirimu meski itu hayalanku." Oceh Lia mengeluarkan unek unek nya.
"Tenang Ya tenang, kamu kuat aku tahu itu. Jangan nangis lagi oke. Istirahat agar badan kamu sehat." Suara Zian begitu lembut, tidak seperti biasanya terkesan sangat dingin pada Lia dan yang lain ya, kecuali Bianca.
__ADS_1
Lia menurut. Membaringkan tubuhnya lalu tertidur, berharap setelah bangun mimpi buruknga berakhir.
Semoga suka ya;)❤🙏