
Kembali Ke kejadian dimana Lia terkema tumpahan kuan panas.
Orang yang menerobos lewat didepannya adalah Zian, lelaki itu tanpa adanya rasa bersalah dan acuh malah duduk didamping Bian dengan membawa sekotak sanwich lalu mengodorkannya kehadapan Bianca. Berharap Gadis pujaannya itu Memakan hasil mahakarya yang di buatnya dengan susah payah pagi ini.
Ah betapa sakit hatinya saaat umpatan kasar itu keluar dari mulut kecil sang empu yang telah ia ganggu. Zian sekilas melirik kearah Lia dengan pandangan yang biasa saja. Lalu kembali fokus membujuk Wanita yang dicintainya agar mau memakan sanwich buatannya yang a penuh dengan cinta.
Tapi nihil. Bian Tetap teguh tak ingin memakan dan malah memberi sedikit harapan kepada zian. Hatinya pun sudah milik orang lain.
"Come makan lah plis, aku sudah membuatnya dengan susah payah. Hargai meski sedikit saja ya" dengan wajah melas ia terus memohon selerti yang ia lakukan dua tahun dulu saat baru menduduki bangku kelas 1 SMA.
"Zi plis jangan ganggu aku oke? Mau aku hargai masakan mu ha? Dan juga, aku kan tidak menyuruhmu membuat itu semua." Bian sedikit berteriak karena batas kesabarannya sekali lagi hilang.
Ya ini bukan pertama kalinya Zian membuatnya jengkel, dua tahun. Coba kalian bayangkan? Sangat tidak nyaman bukan, bukan nya aku tidak mau bersyukur mendapatkan zian yang masuk kategori tampan dan pangeran kelas, tapi hati sudah memilih bukankah sakit bila dipaksakan?
Bian menggeleng pelan lalu berdiri hendak meninggalkan Zian.
__ADS_1
"Bi kamu bisa berdekatan dan jalan dengan cowok yang selalu berbeda, kenapa tidak denganku? Aku kurang apa? Tidak bisakah membuka sedikit hatimu untukku? Sedikit saja." wajah tampannya memelas, sedih dihati nya tak dapat terbendung lagi.
Bianca menundukan wajahnya malu saat mendengar kata yang keluar dari mulut Zian.
"Kamu tidak tahu apa apa, jangan berkomentar dan berasumsi semaumu sendiri jika tidak tau alasanya!" Wajah Bian Datar dan Dingin, ia tak sua jika orang lain mengganggu privasi dirinya, sungguh.
Zian Kembali menutup kotak makan itu lalu pergi meninggalkan meja, menuju arah UKS.
Dilorong ia berpapasan dengan Anne, tetapi Anne tak berani menyapa karna melihat tampang dinginnya. Ia hanya menundukan kepala dan berjalan secepat mungkin.
Tiba didepan pintu ruang yang dituju, tanpa permisi atau izin terlebih dahulu ia langsung membuka pintu tersebut.
Sayang nya Lia tidak melihat wajah malu Zian tadi saat melihat buah dada miliknya. Karna dengan hitungan detik Zian suadah bisa mengontrol emosi dan bersikap sok cool.
"Ah maaf, aku tidak tau kamu sedang buka baju. Aku hanya ingin mengantarkan ini. Maaf untuk yang tadi." Tanpa menunggu jawaban dari Lia, Zian bergegas meninggalkan ruangan itu dengan jantung yabg tak beraturan.
__ADS_1
Ah jadi seperti itu ya bentuk asli buah dada, aku hanya bisa melihatnya di komik atau vidio dewasa saja! Ternya lebih bagus yang asli. Oh **** apa yang aku pikirkan? Lupakanlah otak kotor pergi!
Zian berargumen dengan otaknya disepanjang loronhmg itu hingga menuju kelas dan memulai pelajarannya.
"Dari mana kamu Zian? Kenapa telat masuk" tanya Ibu Dinda guru IPA yang baru saja akan memulai pelajrannya.
"Toilet" wajahnya datar, tidak seperti biasannya.
"Cepat duduk, ibu akan mulai pelajarannya."
"Baik"
Sementara Lia diruaang UKS memasang wajah full senyum termanis miliknya yang entah ditunjukan untuk siapa karna tidak ada orang selain dirinya diruangan itu.
Lia memakan sanwich dan bergegas meninggalkan ruang UKS untuk mengikuti kembali pelajaran yang tertinggal.
__ADS_1
Cukup terampil untuk menyembunyikan emosi, ia memasang wajah seperti biasanya seakan tidak terjadi sesuatu dihatinya
Mohon dukungannya ya teman😉