Metamorphosis Cinta

Metamorphosis Cinta
MC - Festival Sekolah (Part 1)


__ADS_3

Setiap kelas sudah sibuk mempersiapkan apa yang akan mereka lakukan di festival sekolah nantinya. Kelas 1-3 tengah berdiskusi mengenai pakaian yang akan mereka gunakan nantinya. Perbedaan pendapat antara laki-laki dan perempuan terus saja terjadi. Para perempuan yang indah terlihat cantik dan lucu, sedangkan para pria hanya tau mau mengeluarkan terlalu banyak uang hanya untuk pakaian. Mereka juga harus berpikir membuka stand apa dan harus mengikuti perlombaan apa saat hari festival tiba.


Ding dong Deng....


Panggilan untuk Aiden dari kelas 1-1, Dean dari kelas 1-2, Rana dari kelas 1-3 dan Yesa dari kelas 1-8. Harap segera menuju ke ruang guru, sekarang!!!


Rana keluar kelasnya bersamaan dengan Dean dan Aiden yang keluar dari kelas masing-masing. Gadis itu berlari menghampiri Dean untuk berjalan bersama menuju ruang guru. Begitu mereka bertiga tiba, Yesa sudah lebih dulu sampai disana.


"Kalian duduklah, festival sekolah selalu dibuka untuk umum. Jadi kita akan mengadakan unjuk bakat dan berbagai lomba lainnya. Kalian sebagai wajah baru sekolah, akan berfoto bersama dan dicetak untuk ditunjukkan pada pengunjung" jelas Pak wakil kepala sekolah.


"Foto lagi? Kenapa tidak pakai hasil foto kemarin? Itu bagus semua, fotografer nya juga memuji kami Pak" ucap Rana.


"Tak hanya foto, kalian juga akan membuat beberapa video menunjukkan kegiatan sekolah kita. Kalian akan difoto menggunakan beberapa outfit berbeda. Sekarang kita akan membagi kalian menjadi pasangan"


Semua guru mulai berdiskusi bagaimana mereka akan membagi kedua pasangan ini. Meski Rana berharap ia akan berpasangan dengan Dean, tapi dengan Aiden pun tak masalah. Masalahnya berada pada Yesa yang akan menjadi pasangan Dean, mana mungkin Rana bisa menahan diri untuk tidak cemburu.


"Baiklah, kami sudah memutuskan, Aiden akan bersama Dean dan Rana bersama Yesa. Kalian harus menunjukkan apa saja kegiatan yang biasa dilakukan oleh para siswa dan siswi sekolah ini" kata Pak Wapeksek.


"Apa? Tap..tapi kenapa Pak? Kenapa saya sama dia? Saya kan maunya sama ..."


Takkk....


"Diam dan turuti saja, kau selalu banyak permintaan" sahut Pak Jo menyela rengekan Rana.


Rana kembali diam dan mendengarkan arahan dari Wapeksek. Mereka berempat diberi naskah yang harus mereka hafalkan untuk pembuatan video. Beberapa pakaian juga sudah disiapkan untuk pemotretan hari ini. Aiden, Dean, dan Yesa diminta kembali ke kelas masing-masing untuk menghafal bagian mereka. Sedangkan Rana memiliki tugas lebih sebab dirinya merupakan peringkat satu diantara teman seangkatannya. Terlebih penilaian level Rana sangat sempurna, ini jarang bahkan hampir tak pernah terjadi.


Gadis itu diminta untuk mencuci wajahnya, ia dirias dengan natural dan terlihat ceria. Setelah itu Rana diberikan naskah lain untuk ia hafalkan sekarang saat itu juga. Ini tak sulit tentunya bagi Rana yang sempat mengikuti les drama saat SMP. Para guru juga sudah tau, karena itulah mereka memilih Rana, kebetulan yang sempurna.


Usai dirias, Rana diminta menggunakan gaun putih layaknya seorang putri. Dengan mahkota indah dan selempang yang bertuliskan "Murid Legenda". Entah Rana harus senang atau merasa malu karena hal ini.

__ADS_1


"Waah, ini memalukan Pak" gumam Rana pada Pak Jo.


"Pffftt, terima saja" sahut Pak Jo menahan tawanya.


"Bapak bangga sama kamu Ran, anak kelas Bapak memang hebat" puji Pak Cipto yang terlihat sumringah.


"Tentu saja, harus seperti itu" jawab Rana merubah raut wajahnya menjadi ceria. Ia tak boleh mengecewakan siapapun yang berharap padanya, ia harus bisa melakukan yang terbaik.


Begitu siap dengan penampilannya, Rana mulai berjalan menyusuri lorong menunjukkan setiap kelas dari kelas 1 hingga kelas 3. Sambil mengucapkan narasi yang sudah ia baca sebelumnya.


Para murid diminta untuk tenang selama proses syuting Rana kala melewati kelas mereka. Gadis itu memang berbakat dalam banyak bidang, bahkan hal ini pun tak membuat Rana gugup sama sekali.


"Cantik banget Ranaa, kayak putri beneran tuh anak. Bisa juga kelihatan anggun dan lemah lembut" puji Diva kala Rana melintas di depan kelasnya.


"Dia tidak hanya berbakat, Rana sudah bekerja keras" timpal Alin dengan senyuman tipis.


"Benar, jika kita menghabiskan waktu SMP untuk bermain-main. Rana bahkan kurang tidur karena harus les setiap hari, karena itu meski cantik dan baik ia tak pernah berkencan. Gadis bodoh itu hahahha" sahut Bela.


"Pantas saja dia sangat kikuk" celetuk Dean yang langsung kembali fokus pada naskahnya.


"Ehem... Kikuk gimana nih? Jadi kalian sudah sampai mana? Hehehe wah wah Mas Dean ternyata agresif dalam hubungan yang lebih intim ya" goda Suho memulai pembicaraan aneh.


"Weleh weleh, ternyata Mas Dean tidak sedingin dan secuek kelihatannya"


"Waduuh boss, kikuk waktu anu ya hehehe"


"Aaah apa sih gak gitu, kalian mikir apa sih sial" umpat Dean kesal. Ia memasang headset dan kembali fokus pada tugasnya.


\=========

__ADS_1


Hari ini menjadi hari paling sibuk untuk keempat wajah baru sekolah. Mereka harus melakukan pemotretan dan merekam video selama beberapa jam. Padahal murid lain tengah Menikmati waktu kosong dengan merencanakan stand mereka nantinya.


"Aissh kenapa gue harus ngelakuin ini? Menjijikkan" gerutu Yesa. Ia tak bisa menerima kenyataan jika dirinya harus memungut sampah bersama Rana.


"Saya lelah, bisa lanjutkan nanti, istirahat sebentar" pinta Yesa.


"Baiklah, ini sudah jam makan siang, kalian makan dulu saja" ujar kameramen.


Rana langsung berlari menuju kantin untuk menemui Dean. Rasanya menyebalkan sebab tak bisa bertemu Dean saat jam istirahat. Baru saja Rana memasuki kantin, ia merasa kesal melihat para siswi yang berkerumun diantara Dean dan Aiden yang tengah makan. Ada banyak hadiah di dekat kedua pria itu, sungguh membuat Rana merasa amat kesal.


"Tidak Rana, jangan merengek, bisa jadi Dean tak lagi suka padamu. Lebih baik makan siang saja" gumam Rana. Ia mengantri makanan lalu duduk bersama teman-temannya. Meski matanya tak bisa berpaling dari Dean sedikitpun.


Setelah makan siang hingga hari menjelang sore, akhirnya tugas keempat murid itu telah usai. Kini mereka hanya perlu fokus kembali pada kelas dan pertunjukkan bakat yang akan kelas mereka ikuti. Seperti biasa, Rana dan Dean pulang bersamaan. Mereka menghabiskan perjalanan dalam diam.


"Aku masuk ya, kamu hati-hati. Bye" ucap Rana kala ia berada di depan rumahnya.


"Rana.." panggil Dean. Ia membuka tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam sana.


"Apa?"


"Nih buat kamu, tadi dapat dari anak-anak. Aku tidak terlalu menyukai coklat, buatmu saja"


"Tapi kenapa? Para siswi itu kan memberikannya untukmu, makan saja aku tidak peduli" jawab Rana ketus.


"Begitukah? Haruskah ku buang? Mana mungkin aku memakannya jika kamu marah karena ini. Akan kuberikan pada yang lain jika kamu tak mau"


Rana mengerutkan keningnya mendengar perkataan Dean, ia tak bermaksud bersikap kasar. Namun tak tau kenapa hatinya begitu terluka dan tak menyukainya.


"Yasudah aku terima"

__ADS_1


"Hehe aku pulang dulu ya kalau begitu. Selamat menikmati" pamit Dean seraya mencubit pipi Rana sebelum pergi.


Gadis itu tiba-tiba tersipu malu dan kegirangan sendiri. Perasaannya kembali senang dan masuk kedalam rumah dengan senyuman lebar.


__ADS_2