Metamorphosis Cinta

Metamorphosis Cinta
MC - Festival Sekolah (Part 2)


__ADS_3

Semua stand sudah berjajar rapi sejak pagi hari. Masing-masing kelas sudah mempersiapkan yang terbaik untuk kelas mereka. Sebab ada hadiah untuk stand yang menghasilkan pendapatan paling banyak.


"Yosh, kita pasti dapat juara, kelas satu tiga yang terbaik, semangat-semangat" teriak Rana begitu bersemangat.


"Hahahah apa sih, gila ya loe" celetuk Alin yang ada di stand depan Rana. Jejeran stand memang dibedakan berdasarkan nomor ganjil dan genap.


"Lihat saja, kami akan memenangkan semua lomba hari ini" balas Rana sembari menjulurkan lidahnya. Ia sudah melakukan pemanasan untuk mengikuti berbagai lomba bersama dengan Ratu dan beberapa anak lainnya. Kali ini Rana tak menjaga stand, ia sudah bersiap dengan baju olahraga untuk menjadi peserta lomba.


"Ran, nih buat loe, enak kok coba deh" celetuk Aiden yang berjalan mendekati Rana. Ia memberikan makanan dari stand dikelasnya.


"Sialan si Aiden, buat dijual nih"


"Pantang mundur ya Den, Pepet terosss"


Teman-teman Aiden mulai menggoda keduanya, Rana berterimakasih dan menerima pemberian itu dengan senang hati. Ia tak sadar jika sedari tadi seseorang melihatnya dengan kesal, Dean yang sudah bersiap untuk stand nya memberikan tatapan super tajam ke arah Rana.


Akhirnya gadis itu tersadar usai mendapatkan telepon masuk dari Dean. Ia berlari menghampiri stand Dean dan terkesima menatap wajah tampan kekasihnya.


"Waaah Dean ganteng bangeeett, mau foto dongg" heboh Rana kegirangan.


"Eits, kami memang ada sesi foto, lima ribu per satu foto ya, dan juga harus beli makanan dulu" jelas Bela melakukan promosi.


"Apa? Waaah gila kalian, kenapa Dean yang harus jadi modelnya, gak bisa gak boleh. ARRGGHHH sial" geram Rana meracau di depan stand kelas 1-2. Ingin rasanya mengacak-acak stand itu saat ini juga.

__ADS_1


Ttakkk....


"Bicara yang bagus, sana kembali ke stand kelasmu" perintah Pak Jo usai memukul Rana dengan clipboard nya.


Teman-teman Rana menarik gadis itu agar tak membuat kekacauan lagi. Para pengurus stand sudah bersiap di tempat masing-masing, sedangkan yang lainnya pergi mengikuti lomba. Begitu jam mulai gerbang sekolahan dibuka, banyak sekali pengunjung dari luar yang datang kesana untuk menikmati Festival. Sambil melihat banyak pertunjukkan bakat yang juga bisa mereka ikuti tentunya.


Kelas Rana mengikuti semua perlombaan olahraga dengan instruksi Ratu. Mereka begitu yakin akan membawa pulang semua hadiah. Bagian stand juga telah ramai pengunjung, stand kelas Rana mengeluarkan standee bergambar Rana yang pose tengah membentuk setengah hati dengan tangannya. Para pengunjung pria mulai berdatangan dan mengambil foto di stand kelas Rana.


Para pengurus stand kelas lainnya tidak mengira jika kelas Rana memiliki metode promosi yang mengesankan, meski tak menghadirkan Rana secara langsung. Mereka yakin jika Rana akan membawa pengaruh besar sebab ia merupakan salah satu wajah baru sekolah. Mau tidak mau, semua orang pasti akan melihatnya walau sekilas.


Disisi lain, Rana sudah bersiap di posisinya. Kali ini lomba lari putri satu putaran, meski tak terlihat atletis, namun sebenarnya Rana pernah bercita-cita menjadi seorang atlet lari. Sayangnya lagi dan lagi, pilihan kedua orang tuanya adalah hal yang paling utama bagi Rana. Setidaknya, Rana masih bisa menjadikan bakatnya itu sebagai hobi.


Priiitttt....


Begitu peluit ditiup, semua peserta berlari secepat yang mereka bisa. Sedari awal pun Rana sudah memimpin di depan, teman sekelasnya bersorak dengan semangat. Terlebih kala gadis itu melewati garis finish lebih cepat dari siapapun.


Usai lomba lari, mereka langsung bergerak ke lomba-lomba berikutnya. Hingga akhirnya lomba terakhir dengan hadiah fantastis. Lomba terakhir ini adalah lomba cerdas cermat, sebab SHS memang dikenal dengan sistem penilaian yang ketat.


Rana sudah bersiap dan menunggu giliran untuk naik ke atas panggung. Ia melihat-lihat lawannya, tak hanya dari SHS, beberapa pengunjung dari sekolah lain pun ingin mengikuti perlombaan tersebut. Salah satu wajah yang ia kenali, Rana yakin bertemu dengannya beberapakali.


"Maaf, sepertinya kita pernah bertemu kan?" Celetuk Rana memulai perbincangan.


Gadis dihadapannya itu berpaling seolah tak mengenali Rana, ia sibuk menghafalkan catatan miliknya. Sepertinya gadis itu juga sangat ingin menang. Merasa diabaikan, Rana pun pergi keluar ruangan untuk melihat apa yang terjadi dipanggung. Ia merasa suntuk harus membaca buku-buku yang disediakan di dalam ruang tunggu.

__ADS_1


Secara tak sengaja, mata Rana menangkap segerombolan murid yang menarik dirinya untuk melihat mereka lebih dekat. Baru beberapa langkah, mereka semua merasakan kehadiran Rana yang semakin mendekat.


"Ooh jadi loe juga anak SMA? Waah wajah loe gak bisa dilupa ya, gue langsung ingat waktu lihat loe" oceh salah seorang siswi.


Memori Rana kembali berputar mengingat kejadian hari itu, perlahan ingatannya mulai tajam, iya dia ingat dengan jelas mereka adalah seolah perundung dan korbannya adalah gadis yang ia lihat berpelukan dengan kekasihnya. Rana membalikkan badannya, ia berlari menghindar hendak menemui Dean. Namun seseorang tiba-tiba menariknya dengan sangat kasar.


"Sekarang loe ingat kan?" Tanyanya dengan marah.


"Iya gue ingat, gue mau kasih tau Dean, dia harus tau"


"Untuk apa? Loe mau gue terlihat jelek dihadapan Dean ha? Tidak, loe gak boleh bilang, gue gak mau Dean melihat gue yang menyedihkan" bentak Artha kesal. Ia mencengkram lengan Rana dengan sangat erat.


"Ta..tapi mungkin dia bisa membantu.."


"CUKUP!!! Sial... Harusnya gue dan Dean gak pernah pisah, tidak kami ditakdirkan bersama. Kenapa? Kenapa harus loe yang jadi pacarnya, kenapa? Loe gak pantas buat dia, loe sok baik dan bermuka dua"


Rana mengernyitkan dahinya, ia tak mengerti kenapa siswi dihadapannya ini begitu kasar. Padahal mereka bertemu dua kali dan tak ada pembicaraan khusus, Rana tak pernah menyakitinya. Tapi bisa Rana lihat kebencian begitu besar dimata Artha. Untuk siapa kebencian itu? Dan kenapa Rana harus menjadi pelampiasan amarahnya?


"Semua hal berjalan baik buat loe, tapi gue gak akan biarkan Dean juga jadi bagian dari bahagia loe. Dia milik gue, jangan ambil dia dari gue, aahh cewek sial" umpat Artha lalu pergi.


Hati Rana rasanya begitu sakit mendengar perkataan itu. Umpatan yang menyakitkan untuk siapapun pendengarnya.


Perlombaan segera dimulai, Rana berlari menuju panggung dan bersiap untuk mengikuti lomba. Meski pikirannya begitu kacau, Rana mencoba menyembunyikan perasaannya. Sayangnya itu tak berjalan sesuai keinginannya, sebab Ratu yang menjadi penonton bisa melihat wajah gelisah Rana.

__ADS_1


Ratu tahu benar jika ada hal yang mengusik pikiran sahabatnya itu, ini bukan tentang perlombaan. Rana tak pernah khawatir meski tau lawannya sangat pandai.


Para penonton begitu histeris mendukung teman mereka masing-masing. Sorakan demi sorakan terdengar begitu lantang, hingga waktu perlombaan dimulai dan mengharuskan para penonton diam agar pertanyaan serta jawaban bisa di dengar dengan jelas..


__ADS_2