
Dean dan Rana menghampiri teman-teman Dean yang menyambut mereka dengan riang gembira.
"Waaah kok bawa kue?" Celetuk salah seorang teman Dean.
"Bukannya kita sedang merayakan...." ucapan Dean terhenti sebab Rana langsung menyahut.
"Aah maaf ya kami lama, lilinnya juga belum dipasang" sahut Rana setelah menyadari situasinya. Teman-teman Dean langsung merubah situasi dan berdiri melingkar. Mereka menyanyikan lagu selamat ulangtahun untuk seorang pemuda yang tersenyum lebar itu.
Sambil kikuk dan menyiapkan kue yang dibawa Rana, mereka berusaha agar tak ketauan jika nyatanya mereka semua melupakan hari ulang tahun sang peramal, Gerald.
"Waah, terimakasih ya teman-teman, gue pikir kalian lupa hehehe" celetuk Gerald yang terlihat begitu senang.
Teman-teman pemuda itu tertawa canggung dan saling berpandangan. Mereka mencari berbagai alasan ingin memberikan kejutan. Dean yang masih tak mengerti situasinya terdiam kikuk ditempat selama beberapa menit. Rana menyenggolnya beberapa kali agar tersadar dari lamunan.
Usai menyanyikan lagu ulang tahun dan memotong kue, mereka semua duduk di kursi masing-masing. Rana juga menjelaskan situasinya pada Dean yang tak bisa membacanya. Barulah pemuda itu mengerti dan tersenyum menatap Rana. Seandainya Rana tak memiliki ide untuk membeli kue, Gerald pasti tak akan mau berbicara dengan mereka semua selama sepuluh hari.
"Terimakasih kuenya Nona Rana" ucap Gerald pada Rana yang duduk disampingnya.
"Iya, selamat ulang tahun ya, semoga loe gak buat ramalan bodoh lagi" ujar Rana dengan senyuman menyeringai.
"Ahahaha ayolah, tapi itu membuat hubungan kalian semakin intim kan?"
"Loe benar hehehe"
Ttakk... Ttakk....
"Berhenti bicara omong kosong" sela Dean memukul kepala Rana dan Gerald bergantian.
Gerald langsung saja merengek sebab Dean memukulnya berkali-kali lipat lebih keras daripada Rana. Ia memasang wajah cemberut seraya mengusap kepalanya yang sakit.
Ditengah perbincangan dan makan-makan, tiba-tiba seorang wanita menghampiri Dean. Wanita itu tampak begitu bahagia memperkenalkan dirinya sebagai teman dekat Dean, ia bahkan duduk sangat dekat dengan pemuda itu.
__ADS_1
"Haloo, gue Artha temannya Dean. Maaf ya tiba-tiba gabung, tadi Dean kirim pesan katanya ada disini" jelas Artha seraya menyalami teman Dean. Ia juga mengucapkan selamat ulang tahun pada Gerald.
"Kamu bertukar pesan dengannya?" Bisik Rana pada Dean.
Pemuda itu mengangguk dan tersenyum ke arah Rana. Artha terlihat begitu nyaman di dekat Dean, ia bahkan mencoba berinteraksi dengan orang-orang disekitar pemuda itu. Beberapa teman Dean tampak biasa saja, namun yang lainnya tampak risih dengan sikap Artha. Bagaimana tidak, ia selalu mencoba ikut masuk dalam setiap obrolan. Terlebih saat Rana hendak menjawab ia akan langsung menyelanya.
"Yah, nih cewek berani banget pegang-pegang tangan Dean, loe cewek yang kami lihat di tempat karaoke waktu itu kan?" Celetuk Suho yang baru saja tiba. Ia melirik ke arah Rana yang hanya diam memandangi kejadian ini.
"Karaoke? Oh waktu gue dan Dean pelukan ya" celetuk Artha dengan tawa candanya.
Braakkkk....
"Sial, brengsekkkk" umpat seseorang di meja lain. Ia berjalan mendekati meja Dean bersama gerombolannya.
Para wanita terpanah melihat sekelompok laki-laki tampan datang menghampiri mereka.
"Rana, ikut kami, kami antar kau pulang" ucap salah seorang dari mereka.
"Jika dia memang pacarmu, harusnya tidak dekat dengan wanita lain. Dia hanya mempermainkan mu"
Dean berdiri dari duduknya dan menggenggam tangan pemuda yang mencengkram lengan kekasihnya itu. Ia menatap pemuda dihadapannya dengan tatapan super tajam.
"Sikap kalian berlebihan" kata Dean.
"Berlebihan? Bagaimana jika kau ada diposisi Rana?"
"Gue akan biasa saja, karena memang gue yakin tidak ada perasaan apapun dan hanya berteman"
"Hahaha, teman? Loe dan Rana juga berawal dari teman"
Teman-teman Dean meminta maaf dan mulai menengahi pertengkaran itu. Artha memanfaatkan keributan dan berjalan menghampiri Rana. Ia berdiri di samping gadis itu dengan senyuman tipis, "Gara-gara loe, Dean tidak merasa nyaman dengan hidupnya. Loe emang bencana buat dia"
__ADS_1
Tangan Rana mengepal mencoba menahan amarahnya, ia meminta semuanya untuk diam. Setelah itu keputusan Rana adalah pergi bersama teman-teman sang Kakak. Rana tak menoleh sedikitpun ke arah Dean, ia berjalan perlahan menuju pintu keluar berharap Dean akan mengejarnya. Namun sampai langkahnya pergi keluar kafe, tak ada suara Dean sama sekali.
Para gerombolan pemuda itu membawa Rana masuk ke kafe seberang. Disana ada beberapa teman mereka yang sudah berkumpul untuk mengerjakan tugas.
"Rana? Kenapa ada disini?" Tanya seorang pemuda duduk disudut. Ia berdiri dan memeluk adiknya yang hendak menangis. Jelas sekali terlihat mata Rana berkaca-kaca.
"Yuan, tadi sebelum masuk kafe kami melihat Rana bersama seorang pria. Jadi kami mengikutinya, dan disana, ah sudahlah pria itu brengsek putus saja" jelas salah seorang teman Yuan. Ia berdiri di sudut kafe dan menunjuk ke arah Dean dan teman-temannya yang juga tengah menatap mereka.
Teman-teman Yuan berdiri dan ingin melihat seperti apa pria yang berani menyakiti adik Yuan. Kakak kedua Rana ini memang sangat terkenal di kampusnya, selain cerdas dan tampan, Yuan juga memiliki club motor. Sayangnya, sifat Yuan berbanding terbalik dengan Rana, ia begitu cuek dan dingin pada orang lain, namun sangat perhatian pada adik bungsunya.
"Bukannya itu pacar Rana? Gue lihat postingan Rana, mereka kelihatan serasi kok" seru salah seorang wanita.
"Mau kita hajar aja? Kasih pelajaran biar jerah"
"Ckckck, ganteng sih, tapi kalau suka mempermainkan cewek mah kayak sampah"
Rana meraih tangan sang Kakak, ia menggelengkan kepalanya dengan sedih.
"Tidak Kakak, jangan ikut campur urusanku lagi. Bagaimana bisa aku menjalani hubungan jika kalian terus ikut campur? Aku tau kalian khawatir, tapi biarkan aku memiliki memori kisah cintaku sendiri. Jangan ganggu dia, kumohon" pinta Rana dengan wajah sedihnya.
"Rana..." panggil seseorang dengan napas terengah-engah.
"Deaan" sahut Rana dengan senyuman lebar. Ia hendak berlari menghampiri Dean, namun sang Kakak menahannya.
"Putus, silahkan pergi!!" Sela Yuan dengan nada dinginnya. Ia menatap Dean dengan tajam dan raut wajah tak suka. Yuan tak pernah rela jika adiknya disakiti oleh siapapun, bahkan Brandon sekalipun. Baginya Rana adalah nyawa yang harus ia jaga.
"Tidak, gue gak tau siapa loe. Selagi bukan Rana yang minta, gue gak akan pergi" jawab Dean dengan begitu yakin. Matanya bahkan berani membalas tatapan mata Yuan tanpa terintimidasi.
Yuan tersenyum miring dan menghampiri Dean. Ia menepuk kedua pundak pemuda itu dan berkata, "Gue bukan Brandon, kalian putus itu keputusan gue"
"Gue antar adik gue pulang dulu, nanti gue kesini lagi" pamit Yuan seraya menarik tangan Rana menjauh. Meski Rana mencoba memberontak, namun Yuan memaksa dengan amarahnya.
__ADS_1