Metamorphosis Cinta

Metamorphosis Cinta
MC - Garis putus-putus


__ADS_3

Di sekolah..


Seperti biasanya, Rana tengah berada di kelas Dean kala jam istirahat. Ia tengah mengobrol dengan kekasihnya sambil membahas beberapa soal latihan.


"Ran si Freya kenapa aneh banget? Gue ajak kesini gak mau" celetuk Suho duduk dihadapan Rana.


"Freya? Hm.... Gue juga gak tau hehehe"


Dean melirik ke arah Suho yang tengah memainkan ponselnya. Ia menghela napasnya hingga membuat Rana spontan melirik. Pasti ini posisi yang berat untuk Dean, Rana tau benar. Namun ia harus bersikap biasa agar Dean tak semakin terbebani.


Gerald tiba-tiba menarik Suho dan duduk di kursi itu. Ia mengeluh pada Rana karena tak kunjung dikenalkan pada temannya. Rana dan Gerald saling bertukar pandangan memberikan kode.


"Jangan membebani pacarku seperti ini" celetuk Dean tiba-tiba.


"Iye iye, gue paham kok loe sayang banget sama Rana. Tapi kan gue cuma... Ya sudahlah, pelit banget si Dean" gerutu Gerald lalu beranjak pergi. Ia menarik Suho untuk menjauh sebab Dean sangat sensitif jika ada yang mengganggu kekasihnya.


Rana tertawa kecil menatap Gerald yang pergi, ia tak sengaja melihat Freya yang melintas dengan beberapa siswi lainnya. Mereka tampak bahagia bercanda gurau bersama. Rana masih tidak tau jika Freya sudah mengetahui semuanya. Ia beranjak dari duduknya dan pergi ke kelas.


"Kemana?" Tanya Dean.


"Kelas, byee"


Pandangan Rana tertuju pada Freya yang tengah duduk di kursinya. Ia mencoba mendekati Freya untuk berbicara. Namun gadis itu malah mengacuhkan Rana dan tak ingin berbincang dengannya. Meski begitu Rana terus mencoba agar hubungannya dan Freya bisa kembali seperti dulu.


Sepulang sekolah, Rana masih mencoba mengejar Freya. Namun salah seorang dari teman sekelasnya menahannya. Ia menarik Rana ke tempat sepi untuk berbicara berdua.


"Ran, Freya bilang loe gagalin pdkt nya sama Suho karena loe suka Suho? Bukannya pacar loe Dean?"


Rana terdiam mendengar pertanyaan itu, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal tak tau harus berkata apa.


"Siapa yang bilang?"


"Freya, tapi gue gak yakin, loe kan sesuka itu sama Dean. Semua orang juga tau loe suka Dean, Freya bilang loe suka dikelilingi cowok-cowok"


"Gitu ya, makasih ya udah kasih tau gue"

__ADS_1


Gadis itu pun pergi lebih dulu meninggalkan Rana yang masih tertegun. Rana berdiri seorang diri sambil merenungkan perkataan itu. Entah ia harus percaya atau tidak pada perkataan teman sekelasnya. Namun ia juga harus mencari kebenarannya pada Freya.


Begitu Ratu tiba, Rana langsung berjalan bersamanya pulang kerumah. Hari ini Dean tak bisa pulang bersama mereka sebab pemuda itu ada pemotretan. Dean juga menjadi sangat sibuk akhir-akhir ini.


Di rumah Rana...


Rana menceritakan apapun yang ia dengar pada Ratu, Bella, Alin dan Diva. Lebih tepatnya, mereka sudah mendengarnya lebih dulu dibandingkan Rana. Karena itulah mereka meminta berkumpul di rumah Rana untuk membicarakannya. Sudah beberapa hari berlalu, dan sikap Freya semakin menjadi-jadi. Merekapun ingin mengambil sikap agar Rana tak semakin terluka nantinya.


"Jadi kalian udah tau? Dia kenapa sih? Kenapa bilang gue suka Suho? Bukankah kalian tau jika gue sesuka itu sama Dean" keluh Rana.


Keempat wanita itu diam dan saling berpandangan. Tidak mungkin mereka mengatakan pada Rana jika Suho menyukainya. Entah apa yang akan terjadi nantinya pada hubungan mereka semua.


Rana merebahkan tubuhnya dilantai sambil menatap langit. Ia berguling-guling tak tau harus bagaimana lagi.


"Ajak bicara baik-baik saja dulu" saran Ratu.


"Baik gimana? Dia udah nyebarin berita buruk tentang Rana!" Sahut Diva kesal.


Bella dan Alin hanya mendengarkan sambil memesan makanan. Sebenarnya Bella menyarankan agar Rana berbincang dengan Dean, namun Rana tak mau kekasihnya banyak pikiran nantinya. Ia tak mau semua kegiatan Dean terganggu hanya karena masalah kecil ini.


\=====


Beberapa hari berlalu namun Freya masih saja menghindar. Rana masih saja mencoba berbincang dengan Freya meski ditolak berkali-kali.


"Kenapa Ran?" Tanya Dean pada kekasihnya yang tampak melamun.


"Tidak apa-apa, bagaimana kerjaanmu?"


"Lancar, akhir pekan mau kencan? Kita sudah lama tidak keluar bersama bukan"


Rana tak menjawab, ia terdiam menatap ke arah lorong. Dean melirik ke arah kekasihnya, ia merasa Rana tengah memikirkan sesuatu. Pemuda itu menepuk pundak Rana hingga membuatnya terkejut. Mereka saling berpandangan sejenak lalu melemparkan senyuman. Tepat saat bel berbunyi dan Rana pergi menuju kelasnya.


Di dalam kelas Rana tampak begitu tak nyaman, beberapa murid terus memandangi Rana dan berbisik. Ratu merasa risih, namun Rana memintanya untuk mengabaikan semua itu.


Saat jam istirahat kedua, Rana menghampiri Freya dan mengajaknya berbincang.

__ADS_1


"Kita harus bicara" ujar Rana.


"Bicara apa? Gue sibuk gak ada waktu" ucap Freya lalu pergi keluar kelas.


Rana masih berusaha untuk mengejar Freya, ia menarik tangan gadis itu dan menghentikan langkahnya. Beberapa murid melihat mereka, Freya merengek meminta Rana melepaskan cengkraman tangannya.


"Auh ah sakit Ran, lepas" ucapnya dengan raut wajah kesakitan.


"Kita harus bicara" ucap Rana melepaskan genggaman tangannya. Ia sedikit aneh sebab memegang tangan Freya tanpa mencengkram kuat. Namun itu bukan inti dari tujuan Rana saat ini.


Bbukkk... Bbukk...


Beberapa siswi dikelasnya menyenggol Rana dan berdiri di dekat Freya. Mereka melipat kedua tangan di depan dada sambil tertawa miring.


"Loe mau apa lagi sih? Gak puas nyakitin hati Freya sekarang mau main fisik?" Celetuk salah seorang dari mereka.


"Tau loe, mentang-mentang cantik dan pintar, loe mau bersikap seenaknya ha? Jual wajah aja bangga" sahut gadis lainnya.


Kini semakin banyak para murid yang berkumpul melihat Rana dan temannya. Mereka mulai berbisik-bisik dan menerka apa yang terjadi. Melihat dari situasinya, Rana tak mengatakan apapun meski para teman sekelasnya terus melontarkan perkataan untuk menyudutkan dirinya. Rana hanya diam mendengar dan melihat semuanya.


"Apakah pertemanan kita hanya sebatas itu?" Tanya Rana tiba-tiba. Ia hanya menatap ke arah Freya yang tak mau melihatnya.


Rana mengangguk dan pergi meninggalkan tempat kejadian tanpa kata apapun. Ia hanya ingin mendengarkan dari Freya bukan dari temannya. Gadis itu berjalan menjauh seorang diri, mengitari sekolah yang ramai dengan para murid. Langkah kakinya terhenti diruang UKS, ia membaringkan tubuhnya disana.


Kepala Rana rasanya ingin pecah, ia menangis seorang diri menahan sesak didadanya. Tubuhnya terasa begitu lemas dan tak bertenaga. Rana menghabiskan sisa jam pelajaran di UKS hingga waktu pulang tiba.


Ratu, Bella, Alin dan Diva menghampiri gadis itu di UKS kala pulang sekolah. Mereka menatap Rana yang terpejam diatas ranjang UKS.


"Loe terlalu baik Ran, pada akhirnya loe terluka padahal bukan salah loe" kata Ratu seraya mengelus rambut Rana. Suhu badan Rana sedikit naik, wajahnya juga terlihat pucat.


Diluar UKS, Dean dan teman-temannya juga menunggu Rana. Tak lama Viola juga ikut bergabung, ia mendengar jika Rana ada diruang UKS. Gadis itu menatap ke arah Dean dengan dingin.


"Gue yakin seratus persen, ah tidak seribu persen loe gak tau apa yang terjadi pada Rana" ujar Viola.


"Dia tidak mengatakan apapun.." sahut Dean mencari pembelaan.

__ADS_1


"Begitukah? Jika saja loe bersikap layaknya seorang pacar yang perhatian, Rana tidak akan menderita sendirian. Terlepas dari itu, loe emang gak layak untuk dia" imbuh Viola lalu pergi menjauh dari UKS.


__ADS_2