Metamorphosis Cinta

Metamorphosis Cinta
MC - Karyawisata (1)


__ADS_3

Semua murid SHS tengah berkumpul di lapangan sekolah. Mereka membawa perlengkapan untuk berwisata sebagai tanda jika semester satu telah berakhir. Kegiatan ini biasa dilakukan kala pergantian dari semester ganjil ke semester genap.


Bus-bus sudah berjejer rapi, seluruh murid kelas sepuluh dan sebelas tengah berkumpul untuk mendengarkan pengarahan sebelum memasuki bus. Sedangkan para murid kelas dua belas sudah tidak lagi mengikuti karyawisata sebab mereka harus fokus pada pembelajaran.


"Ranaa" panggil Viola berjalan mendekat. Ia membawa bingkisan besar penuh makanan ditangannya.


"Ada apa?" Tanya Rana berusaha cuek.


"Ini untukmu, semua makanan kesukaan kamu. Aku harap kita punya waktu untuk bicara, tapi duduk dikelas tiga sangat menyulitkan karena sibuk belajar. Semoga harimu menyenangkan, sampai jumpa, Rana" ujar Viola lalu pergi seraya melambaikan tangan ke arah Rana. Ia tersenyum lebar untuk pertama kalinya, hingga membuat banyak pemuda jatuh hati hanya dengan sekali melihat.


Rana menatap tas bingkisan dari Viola, sebenarnya ia juga tak mau bertengkar seperti ini. Namun rasa kecewa itu, bahkan Viola tak pernah meminta maaf. Hanya satu kata yang ingin Rana dengar, permintaan maaf dengan sungguh-sungguh tulus dari dalam hati Viola.


Para murid mulai berbaris masuk kedalam bus sesuai dengan daftar yang diberikan. Rana juga masuk kedalam dan duduk di kursi belakang di samping pintu. Ia menata semua barangnya lalu kembali keluar bus untuk membantu ketua kelas memasukkan konsumsi.


"Rana bisa bawa ini? Ini pasti berat, biar Bapak saja" ucap Pak Cipto kala melihat dua kardus minuman di depan Rana.


"Bisa Pak, serahkan saja pada saya" sahut Rana dengan yakin. Ia menumpuk kardus dihadapannya lalu mengangkatnya dengan mudah. Lalu gadis itu pun masuk kedalam bus yang sudah terisi penuh oleh penumpang.


"Waah, sayang sekali kita tidak punya murid laki-laki. Karena itulah para siswi harus bekerja keras mengangkatnya" sindir Pak Jo ketika melihat Rana menaiki bus dengan membawa dua kardus minuman. Beliau mengambil alih kardus itu dan meminta Rana untuk duduk dikursinya.


"Rana terimakasih ya" teriak Pak Cipto dengan senyumannya.


"Tentu Pak" jawab Rana dengan ramah.


Para murid laki-laki menghindari tatapan wali kelas mereka. Sudah jelas sekali jika mereka dipermalukan sebab tak mau membantu mengangkat konsumsi kedalam bus. Padahal ini juga untuk mereka semua.


Rana berjalan ke kursi belakang, ia melihat Dean yang sudah duduk dengan earphone terpasang. Beberapa murid menatap mereka dengan khawatir, sebab mereka belum tau jika keduanya sudah berbaikan. Terlebih saat dilapangan keduanya sibuk dengan kelas masing-masing.


Dean langsung berdiri kala melihat Rana mendekat ke arahnya.


"Kamu mau duduk dimana?"


"Terserah sayang saja, sayang maunya dimana?"

__ADS_1


"Hee? Kalian udah baikan? Kapan? Waah setelah pertikaian yang kejam, kalian baikan tanpa memberitahu kami" celetuk Alin tiba-tiba.


"Tau nih, kami pikir kalian mau berdebat lagi barusan" imbuh Bela.


"Kalau gini kan kelihatan manis, kalian jangan bertengkar lagi dong. Kalian kan pasangan resmi sekolah kita" seru Diva melantur.


"Apa'an? Sejak kapan jadi pasangan resmi?"


"Hei loe mesum diam, ini adalah hal yang tidak akan pernah loe rasakan"


"Parah kalian udah nyiapin berapa film nih"


"Pinjem headset dong gais"


Para murid kelas tiga begitu berisik sebab duduk dan berkumpul di kursi belakang. Mereka yang paling ramai dan bersemangat dibandingkan kelas lainnya. Pak Jo sudah tak lagi peduli dan memilih untuk berpura-pura tak mendengar keributan kelasnya itu.


Bus pun berjalan usai wali kelas mengabsen semua murid. Rana dan teman-temannya sudah sibuk memikirkan permainan yang akan mereka mainkan didalam bus. Dean terlihat tengah membaca buku dengan earphone terpasang di telinganya.


Semua orang tampak tak keberatan, merekapun setuju dan mulai bermain. Beberapa anak lain juga sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Setelah beberapa ronde berlalu, masih tak ada yang kalah dan mereka terus bermain hingga mengeluh bosan.


Beberapa kali Rana memegangi perutnya yang terasa sakit. Merekapun menghentikan permainan dan menghampiri anak PMR yang bertugas membawa perlengkapan kesehatan.


"Sakit banget Ran?" Tanya Ratu khawatir.


"Sepertinya nyeri haid saja" jawab Rana mencoba menenangkan diri dan Ratu.


"Wajah loe pucat banget, mending tidur aja biar gak terlalu terasa sakitnya" saran Ratu seraya melirik ke arah Dean yang sudah terlelap dalam tidur.


Rana meminum kiranti dan mencoba terlelap dalam tidurnya. Meski berkali-kali mencoba, namun rasa sakit itu masih terus muncul. Gadis itu menatap sekitarnya, para murid sedang tertidur pulas di kursi masing-masing. Ia tak mau merepotkan siapapun, Rana berusaha bangun dari duduknya untuk meminta pereda nyeri.


"Mau kemana?" Celetuk Dean menahan tangan Rana. Ia menarik kekasihnya untuk duduk kembali usai melihat wajah Rana yang begitu pucat.


"Sakit sekali, aku mau minta pereda nyeri" lirih Rana.

__ADS_1


Dean meminta Rana untuk menunggu, ia beranjak dari kursinya dan meminta obat pereda nyeri. Setelah beberapa saat, Dean pun kembali, ia mengambil minuman lalu menyuapi obat pada Rana. Tak lupa pemuda itu meminta Rana mengoleskan minyak pada perut, dada, dan lehernya agar merasa lebih baik.


Sambil berjongkok di samping kursi Rana, Dean memandangi kekasihnya dengan khawatir.


"Kamu makan siang dulu, kamu belum makan kan" ucap Rana sembari mengelus rambut Dean.


"Kamu sudah makan?"


"Aku... Aku nungguin kamu"


"Hm... Pasti karena belum makan, tidak perlu menungguku. Jika sudah tiba waktu makan, kamu harus makan ya"


Rana mengangguk dengan senyuman kecil, ia merasa senang mendapatkan perhatian dari Dean. Dari kejauhan terlihat Aiden berjalan mendekat dengan botol air panas. Spontan Dean berdiri dan memberi ruang untuk pemuda itu berbincang dengan Rana.


Aiden berjongkok di samping Rana dan memberikan botol minum itu.


"Air hangat, diminum ya. Masih sakit sekali?" Tanya Aiden khawatir.


"Gue gak apa-apa kok, maaf merepotkan"


"Kalau butuh apa-apa kasih tau gue ya. Kalau airnya kurang juga bilang, Dean jagain Rana" ujar Aiden lalu pergi kembali ke tempat duduknya.


Dean berbalik menghadap belakang dengan tangan terkepal. Entah apa yang ada dalam pikiran Aiden hingga begitu berani mendekati Rana seperti itu. Teman-teman Dean yang memejamkan mata terlihat menahan tawanya, rupanya mereka pura-pura tidur dan melihat semuanya. Bahkan saat Dean tengah marah sebab cemburu.


Pemuda itu berusaha mengendalikan dirinya dan kembali ke tempat duduk. Ia memandangi jalanan yang ramai dengan kendaraan. Rana tiba-tiba saja menggenggam tangannya erat, ia terlihat memaksakan senyumannya seraya memegangi perut.


"Minumlah air yang diberikan Aiden" pinta Dean.


"Mana mungkin aku meminumnya jika kamu terlihat marah. Aku baik-baik saja, maaf aku refleks memegang tanganmu" lirih Rana lalu melepaskan genggamannya.


Dean menghela napasnya, ia menarik tangan Rana dan menggenggamnya.


"Jangan lepaskan tanganku, kamu bisa membagi rasa sakitnya denganku" ujar Dean dengan wajah memerah. Ia bergegas memalingkan wajahnya yang tampak malu itu.

__ADS_1


__ADS_2