Metamorphosis Cinta

Metamorphosis Cinta
MC - Karyawisata (Akhir)


__ADS_3

Tepuk tangan meriah diberikan oleh penonton untuk kisah yang menyentuh hati dari Aiden. Sang MC bahkan terdiam sejenak karena merasa tersentuh juga.


"Apakah ini kisah nyata? Terdengar sangat masuk akal dan menyentuh jiwa" ujar MC.


"Benar, ini kisah cintaku" jawab Aiden.


"Apa kita harus menyebut nama sang wanita? Apakah sang wanita ada disini?"


Beberapa murid sudah bisa menebak siapa apakah gadis yang Aiden maksud. Namun Aiden menolak menyebutkan orang yang ia cintai. Karena itu bisa jadi hanya menimbulkan luka. Rana menyipitkan matanya menatap ke arah Aiden.


"Kenapa Ran? Loe suka ceritanya?" Tanya Bela.


"Tidak, bukankah dia bodoh? Memang kenapa jika berusaha meski gagal? Kita tak pernah bisa melihat masa depan, seandainya dia lebih berani mungkin dia akan berkencan dengan gadis itu" jawab Rana.


"Begitukah menurutmu?" Sahut Dean.


"Tentu saja, lalu dia tidak akan dekat dengan kita dan membuat Deanku cemburu. Tapi setelah ku pikir, kenapa ceweknya gak peka? Apa dia cewek aneh?"


Dean menepuk kepala kekasihnya, sedangkan teman-teman mereka sudah tertawa terbahak-bahak. Jelas sekali jika gadis yang Aiden sukai adalah cewek aneh, bahkan sudah seperti ini pun Rana masih tak menyadari jika ia adalah gadis yang Aiden maksudkan. Ia pikir dirinya hanya pelampiasan karena Aiden tak bisa berkencan dengan perempuan itu.


\====================


Esok hari...


Sebelum mereka pulang, semua murid berkumpul untuk mengunjungi destinasi terakhir. Kunjungan terakhir mereka adalah taman bermain dengan banyak wahana. Tentu saja ini membuat para murid kembali bersemangat. Mereka langsung berpencar usai mendengar pengarah dari para guru.


"Masuk rumah hantu yuk, sepi tuh" saran Gerald.


"Males ah, nanti kalau ayang gue nangis gimana? Dia kan penakut" sahut Rana.


"Berani kok, massa iya takut sama begituan, ada-ada aja" ucap Dean. Ia menelan ludah menatap rumah hantu di hadapannya itu.


Setelah semuanya setuju mereka pun masuk berpasangan agar lebih tertantang katanya. Rana menatap ke arah kekasihnya yang sudah tegang bahkan sebelum giliran mereka masuk. Sekali lagi Rana mencoba membujuk Dean jika memang pemuda itu takut, namun Dean tak mau mundur karena pasti nanti temannya akan mengejek. Pemuda itu terus meyakinkan dirinya jika itu semua palsu dan hanya buatan.

__ADS_1


Tiba giliran Rana dan Dean masuk kedalam rumah hantu. Baru saja satu langkah, Dean sudah bergelayut di lengan Rana. Tentu hal ini malah membuat Rana sumringah, ia pikir tak ada salahnya masuk sebab bisa lebih dekat dengan Dean. Mereka berjalan perlahan di ruang yang gelap itu, tak ada hal mengejutkan hanya pajangan horror saja. Rana tampak biasa saja melihat-lihat sekitar.


Saat hendak melewati jembatan, Dean menarik tangan Rana.


"Sepertinya akan ada yang muncul" bisik Dean.


"Tidak apa-apa, santai saja" ujar Rana kembali berjalan.


Firasat buruk memang selalu benar, tiba-tiba saja ada hal mengejutkan, sebuah bonek berayun diatas mereka dengan suara yang keras. Sontak saja Dean berteriak dan mencengkram tubuh Rana dengan erat.


"Aaahhh gila ya, kamu pegang apa sih? Dasar mesum" teriak Rana sembari menepis tangan Dean dari dadanya. Ia mendorong Dean menjauh dan berlari meninggalkan pemuda itu yang masih terkejut.


"Peg..pegang apa? Apa? Dadanya? Ahh sial gue kenapa sih? Rana... Tunggu hei.. heii" teriak Dean yang tersadar dari keterkejutannya. Ia berlari mengejar Rana hingga keluar wahana tersebut.


Dilihatnya Rana yang tampak bete dengan wajah manyun, jika seperti ini bagaimana Dean bisa menjelaskan bila itu semua tak sengaja. Mana mungkin ia memikirkan hal seperti itu terlebih dalam kondisi ketakutan ini. Rana terus saja menghindari Dean dan tak mau menatap wajah pemuda itu.


Pada akhirnya mereka menghabiskan waktu sendiri-sendiri bersama teman masing-masing. Dean mengutuk wahana rumah hantu itu, sampai kapanpun ia tak akan masuk kedalam sana dengan kekasihnya lagi.


Setelah makan siang, mereka masuk kembali kedalam bus dan bersiap untuk kembali ke sekolah. Sebenarnya Rana ingin pindah tempat duduk, tapi itu akan terlalu jelas jika ia menghindari Dean. Melihat kekasihnya merasa tak nyaman, Dean pun berinisiatif untuk pindah tempat duduk.


Rana dan Dean saling bertabrakan kala hendak keluar dari kursi mereka. Secepat kilat Rana menghindar menjauh dan menatap Dean dengan canggung.


"Kalian berantem ya? Apa udah putus?" Tanya Ratu dengan suara yang keras.


Pasangan itu tak saling menjawab dan hanya saling menghindar. Keduanya tampak kikuk berdiri disana, Dean maju kedepan dan meminta temannya untuk bertukar tempat duduk. Sedangkan Rana juga melakukan hal yang sama.


"Serius berantem? Kenapa tukar tempat dudu?" Sahut Alin.


"Waah kenapa berantem sih? Padahal kemarin sweet banget" seru Freya.


"Gara-gara rumah hantu? Njir lah kocak, kalian di datengin hantu apa sampai berantem gini?" Oceh Gerald yang sukses menebak alasan pertengkaran mereka.


"Diam" ucap Dean dan Rana bersamaan. Mereka kembali saling menatap lalu berpaling karena malu.

__ADS_1


Para murid mendengar perbincangan mereka. Beberapa menoleh kebelakang untuk melihat kenapa pasangan romantis itu bertengkar. Namun yang lainnya tak peduli dan sibuk mencibir karena iri. Aiden juga mendengar semuanya, ia sedikit terusik namun berusaha untuk tidak ikut campur semakin jauh.


Selama perjalanan pulang, para murid sudah kehabisan tenaga. Sebagian besar memilih tidur untuk memulihkan tenaga mereka.


Di sekolah...


Sudah banyak mobil yang berjejer untuk menjemput anak-anak mereka. Para guru pengawas mengatakan jika semua murid bisa langsung pulang setelah absen. Rana, Ratu dan Dean pulang bersama naik bus. Suasana canggung itu masih menyelimuti mereka.


"Mau berantem sampai kapan?" Celetuk Suho yang ikut bergabung di halte.


"Gak berantem" jawab Dean cuek.


"Gue nginap rumah loe ya, males pulang"


"Iya"


Begitu bus tiba, merekapun masuk kedalam dan duduk di kursi yang kosong. Ratu dan Suho langsung duduk bersebalahan, membiarkan pasangan itu untuk duduk bersama.


"Duduklah" ucap Dean pada Rana.


"Aku berdiri saja" ujar Rana.


Dean menghela napasnya panjang, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal dan menatap ke arah Suho. Harus bagaimana agar Rana memaafkan ketidaksengajaan itu. Meski begitu Dean tak bisa menyalahkan Rana, pasti gadis itu juga terkejut.


Brrmmm....


Bus melaju, Rana yang melamun tak sempat berpegangan. Alhasil ia terdorong kebelakang, dan dengan mudah Dean menangkap tubuh mungil kekasihnya itu.


"Maaf" ucap Dean kemudian membantu Rana untuk duduk di kursi.


"Terimakasih, a...aku juga minta maaf. Aku, aku hanya... ini terlalu tiba-tiba jadi aku terkejut"


"Aku mengerti tidak apa-apa, bicaralah padaku saat hatimu sudah merasa nyaman ya. Jangan memaksakan diri" kata Dean seraya tersenyum menatap Rana.

__ADS_1


Suho dan Ratu saling berpandangan lalu membuat gestur ingin muntah. Haruskah merekat melihat pasangan berbaikan sedekat ini, rasanya sedikit menyebalkan.


__ADS_2