Metamorphosis Cinta

Metamorphosis Cinta
MC - Kilas Balik (Masa Kecil)


__ADS_3

Di sebuah taman, Rana tengah bermain ayunan dengan Vigo. Rana kecil yang tampak bahagia dengan senyuman lebarnya. Ia berlarian kesana-kemari hingga terjatuh sebab menabrak seseorang.


"Punya mata gak sih loe?" Sentak seseorang dengan wajah marah.


"Maaf gak sengaja, maaf" ucap Rana dengan mata berkaca-kaca.


Vigo berlari menghampiri Rana, tak hanya Vigo tetapi ada dua pria lainnya. Anak lelaki itu tampak marah menatap Rana yang menangis. Ia mengulurkan tangannya membantu Rana berdiri.


"Cengeng, Kak ayo pulang" ucapnya kemudian pergi lebih dulu.


"Eh Dean tunggu, gue duluan ya. Kak Vigo gue duluan, Deaan tunggu Kakaaaakk" teriak pemuda yang datang bersama Vigo.


Yuan berjongkok dan memeriksa luka Rana, goresan kecil. Ia menepuk kepala adiknya dengan senyuman sambil berkata, "Adik Kakak hebat, jika nanti jatuh lagi, jangan menangis ya"


Vigo menggendong Rana di belakang punggungnya. Mereka bertiga berjalan menuju rumah sambil berbincang-bincang.


"Saat besar nanti, aku mau cari pacar seperti Kak Vigo. Yang tampan dan perhatian, yang paling penting sayang sama aku" celetuk Rana tiba-tiba mengeratkan pelukannya pada leher Vigo. Ia menatap Kakak sulungnya sebagai laki-laki yang sempurna.


"Seperti Kak Vigo? Pemuda cuek dan dingin, dia tidak romantis sama sekali dek. Dia hanya baik kepadamu, karena itu Rana bukan perempuan lain" sahut Yuan.


"Siapa bilang begitu? Kak Vigo adalah pemuda terbaik, Kak Yuan nomor dua, Kak Brandon? Lupakan saja dia hehehe. Dan aku juga akan menjadi Rana yang sama untuk orang seperti Kakak"


Vigo tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Rana. Yuan masih mendebat harapan sang adik ingin memiliki kekasih seperti Vigo. Keduanya saling memaksakan kehendak dengan pemikiran masing-masing. Hingga akhirnya Yuan mengalah sebab Vigo mencubitnya, karena nada suara Rana sudah terdengar bergetar hendak menangis.


"Kakak, jika nanti aku bertemu dengan Kak Vigo kedua, dia akan menyayangi aku seperti Kakak kan?"


"Begitukah menurutmu? Kenapa?" Tanya Vigo.


"Karena aku adalah Rana, karena kesayangan Kakak adalah aku. Sudah pasti kesayangan dia juga aku"


"Anak ini benar-benar, bagaimana jika nanti orang yang kau suka tak menyukaimu? Kau akan menangis?" Sela Yuan yang kesal dengan pembicaraan konyol itu.

__ADS_1


Rana terdiam dan termenung, ia memikirkan pertanyaan itu selama perjalanan pulang kerumah. Vigo dan Yuan pikir Rana tertidur sebab tak ada lagi suara, tapi mereka tak tau jika gadis kecil itu masih mencari jawabannya.


Begitu mereka sampai di rumah, Yuan hendak mengambil alih Rana, tapi gadis kecil itu langsung membuka matanya. Ia mengeratkan pelukannya pada Vigo.


"Kakak, jika dia tak suka aku, aku harus apa?" Bisik Rana lirih.


"Kejar saja, katakan kau menyukainya. Jangan menyerah, Kakak yakin dia akan sadar jika kau adalah gadis terbaik untuknya. Seperti Rana yang selalu mengatakan rasa sukanya pada Kakak" pesan Vigo seraya menurunkan tubuh Rana.


Rana menatap Vigo dengan kagum, ia lalu menatap sinis ke arah Yuan. Bagi Rana, Vigo adalah tempat mencari jawaban atas keraguan dalam hatinya. Sayangnya hari itu Vigo harus kembali ke asrama sebab besok masih sekolah. Rana tak lagi menangis, ia melepaskan Kakaknya dengan senyuman lebar.


\===========


Keesokan harinya..


Rana sudah meyakinkan dirinya, ia pergi menuju rumah Viola bersama dengan Ratu. Raut wajah Viola sudah menunjukkan tak suka, namun Rana mendudukkan keduanya di sofa rumah Viola. Gadis itu memandangi Viola serta Ratu secara bergantian.


"Kalian mau jadi temanku kan?" Tanya Rana dengan wajah serius.


"Kalau begitu kalian harus berteman juga, cepat baikan. Atau aku tidak mau berteman dengan siapapun diantara kalian" ancam Rana.


Viola hendak membuka mulutnya untuk membantah, namun Ratu lebih dulu mengatakan menerima kemauan Rana. Karena tak mau Rana berpikir yang buruk tentangnya, Viola pun ikut berdamai dengan Ratu. Hal itu membuat Rana tersenyum lebar, tapi Viola memberi syarat jika dia tak mau terlalu dekat dengan Ratu. Hanya Rana yang boleh dekat dengannya seperti seorang adik. Ratu juga mengatakan tak mau terlalu dekat dengan Viola tentunya.


"Dengar, kalau loe nyakitin Rana, gue tidak akan diam" bisik Viola dengan senyuman menyeringai.


Ratu menelan ludahnya dan tertawa canggung, ia berpamitan pulang karena ada hal yang harus di urus. Saat itulah Ratu berlari ke Mamanya dan meminta untuk berlatih tinju serta bela diri. Hanya dengan begitu ia akan siap bila Viola mencoba mencari masalah dengannya.


Semuanya berjalan dengan lancar setelah ketiga gadis kecil itu berbaikan. Rana masih harus membagi waktu sebab Viola tak mau makan siang bersama Ratu. Setelah Viola lulus SD, sepenuhnya waktu makan siang Rana hanya bersama dengan Ratu. Dan sesuatu tiba-tiba terjadi, hal yang tak pernah Rana bayangkan sebelumnya.


Beberapa murid tiba-tiba memperlakukan Rana dengan semena-mena. Mereka merundung dan mengucilkannya secara tiba-tiba.


"Kalian itu kenapa sih? Bukannya kalian dulu baik banget sama Rana" sentak Ratu kesal. Ia membantu Rana berdiri, dan membersihkan pakaian nya yang kotor.

__ADS_1


"Loe masih mau jadi bawahan dia? Kita kan baik karena Kak Viola, siapa yang gak mau berteman dengan Kak Viola? Mana mau kita berteman dengan anak gendut jelek kayak dia" ujar salah seorang siswi.


Ratu mengepalkan tangannya, tetapi ia merasakan tangan Rana menahannya. Gadis itu berdiri dan menarik tangan Ratu untuk menjauh. Meski bisa melihat air mata Rana menetes, Ratu tak mengatakan apapun. Mereka berdua duduk ditaman sambil memakan bekalnya. Rana terlihat masih ceria seperti biasanya, seolah tak terjadi apapun.


"Ran?" Panggil Ratu lirih.


"Tidak apa-apa, jangan jadikan beban. Toh, Rana punya Ratu kan hehehe" jawab gadis itu tanpa melihat ke arah Ratu.


Meski selebar apapun senyuman Rana, Ratu tau jika hati gadis kecil itu pastilah terluka.


Masa sekolah dasar Rana habiskan hanya berteman dengan Ratu dan beberapa anak baik saja. Meski dirinya sudah populer karena berteman dengan Viola pada awalnya, namun Rana masih saja mendapatkan kebencian sebab beberapa teman yang lain menyebar berita buruk tentangnya.


Akhirnya Rana memulai gelar barunya sebagai siswi SMP. Ia dan Ratu masuk di SMP yang sama dengan Viola. Mereka kembali bertemu, dan seperti biasanya Rana memiliki banyak teman lagi sebab kedekatannya dengan Viola. Namun kali ini, Ratu menjadi khawatir tentang Rana. Ia takut hal yang sama terulang lagi nantinya.


Saat itu untuk pertama kalinya, Rana merasa bahagia. Ia bertemu dengan seorang siswa yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Meski tak bercerita pada Ratu, terlihat jelas jika Rana memiliki kesibukan lain karena tak lagi mau pulang bersama dengan Ratu. Viola juga merasakan hal yang aneh, ia mulai curiga karena gerak-gerik Rana yang mencurigakan.


"Kalian duluan aja ya, aku mau pulang sama teman hehehe" ujar Rana untuk kesekian kalinya.


Ratu dan Viola saling berpandangan, mereka mengangguk lalu mengikuti Rana secara diam-diam. Benar saja, gadis itu menunggu seseorang di depan gerbang. Setelah sekian lama, ada gerombolan laki-laki yang lewat dan salah satu dari mereka berhenti untuk menghampiri Rana.


"Sial, siapa cowok itu, beraninya deketin Rana" umpat Viola kesal.


Ratu mencoba memperjelas dan menggali memori kecilnya. Ia ingat itu adalah Kakak kelas dua yang pernah mereka temui secara tak sengaja.


"Dia cowok brengsek, dia pasti deketin Rana karena Kak Viola" celetuk Ratu.


"Apa maksudnya?" Sahut Viola.


"Huh, gue pernah dengar dia dan teman-temannya ngobrolin Kak Viola dan mengatakan yang tidak-tidak tentang Rana. Cukup, gue udah muak, Kak Viola adalah pusat rasa sakit Rana"


"Loe ngomong apa sih? Jangan buat gue marah ya!!"

__ADS_1


Ratu mengatakan pada Viola apa dan semua yang terjadi saat mereka masih duduk di sekolah dasar dulu. Bahkan sekarang pun Ratu sangat yakin hal yang sama terjadi. Rasa sakit Rana, Ratu tak bisa melihatnya lagi. Ia langsung pergi usai mengatakan kebenaran pada Viola.


__ADS_2