
"Kamu ngapain cari aku? Kangen yaa" goda Rana dengan senyuman genitnya.
"Deekkk... Kenapa telepon Kakak gak diangkat?" Sentak Yuan yang tengah video call dengan Dean.
Rana menatap Yuan dan Dean bergantian, ini adalah sesuatu yang sedikit mustahil. Gadis itu berbincang dengan Yuan dan sedikit berdebat. Tentu saja Rana masih marah pada sang Kakak yang terus ikut campur dalam urusan keluarganya. Sedangkan Rana ingin memilih kisah cintanya sendiri, entah luka atau bahagia, ia ingin merasakannya sendiri.
"Sudah? Jadi kamu cari aku cuma buat ini? Menyebalkan" gerutu Rana lalu pergi meninggalkan Dean.
Dean tertawa kecil kemudian pergi kembali ke teman-temannya. Namun di tengah perjalanan ia bertemu Aiden, mereka pun berbincang sejenak.
\================
Hari berganti...
Para murid sudah siap untuk pergi mengunjungi tempat-tempat yang sudah diberitahukan sebelumnya. Mereka akan pergi ke kandang sapi untuk melihat pengolahan susu sapi menjadi beberapa produk konsumsi. Para siswa begitu bersemangat untuk memerah susu sapi, mereka bahkan mulai berebut tanpa mendengarkan penjelasan dari pemandu.
"Rana, woy sini buruan" teriak Suho.
"Apa sih? Kalian gak mencatat? Ini buat laporan loh, nilai tambahan tau" oceh Rana.
"Ini nih lihat coba pegang, cepat-cepat" paksa Suho.
Rana mengernyitkan dahinya, ia mulai memegang ****** sapi dan mencoba untuk memerahnya. Para pemuda itu berseru kala Rana berhasil mengeluarkan susu sapi.
"Punya Dean sekecil itu gak?" Goda Gerald.
"Apanya?" Sahut Rana kebingungan.
"Anunya lah hahaha, tekstur nya lembek gitu atau keras?"
Plakkkk....
"Gila nih anak" seru Dean dengan wajah memerah. Ia beranjak pergi dan menghindari teman-temannya yang mulai berkata jorok.
Sedangkan Rana juga terpaku dengan wajah memerah.
"Sadar Ran, masih dibayangin aja nih" celetuk Gerald seraya menepuk bahu Rana.
"Aah sialan kalian" umpat Rana kemudian pergi kembali ke teman-temannya. Ia tak tau harus kemana sebab teman-temannya pun tengah bergantian mencoba memerah susu sapi.
Teman-teman Dean tertawa terbahak-bahak melihat Rana yang salah tingkah.
Usai memerah sapi, mereka bergantian pergi ke destinasi lain. Sebab jumlah murid yang banyak, mereka membaginya menjadi beberapa kelompok dan bergantian untuk mendatangi destinasi satu ke destinasi lainnya.
__ADS_1
\=====
Sore menjelang...
Semua murid sudah bersiap untuk acara selanjutnya, unjuk bakat. Mereka duduk berdasarkan kelas masing-masing, dan setiap kelas harus menyuguhkan pertunjukkan untuk mendapatkan poin. MC mulai membuka acara dengan menyapa semua orang.
Pertunjukan bakat dimulai dari para anak-anak kelas sebelas. Ada yang menyanyi, menari, cover lagu K-Pop dan lain sebagainya. Malam itu begitu seru dengan tepuk tangan yang riang gembira. Setelah kelas sebelas, barulah para murid kelas sepuluh mulai unjuk bakat dari kelas terbesar dan berakhir di kelas sepuluh satu.
Tak hanya unjuk bakat setiap kelas, MC pun menawarkan jika ada yang ingin maju untuk mendapatkan poin lebih.
"Saya saya" teriak Rana bersemangat mengangkat tangannya.
"Wow wow, gadis cantik dari kelas sepuluh terlihat sangat percaya diri. Silahkan naik kepanggung siswi berbaju biru" ucap MC diiringi tepuk tangan.
Rana naik ke atas panggung dengan percaya diri, ia membisikkan sesuatu pada MC lalu pergi mengambil gitar yang ada di balik panggung.
"Please attention, beri tepuk tangan meriah untuk Rana dari kelas sepuluh tiga" ujar MC kemudian turun dari panggung.
Gadis itu terlihat duduk di kursi dengan gitar ditangannya. Ia mulai memetik gitar dengan merdu. Alunan musik yang indah membuat pendengarnya membuka ponsel untuk merekam. Rana pun mulai bernyanyi, menyanyikan lagu Kasmaran yang dipopulerkan oleh Jaz.
Matanya hanya menatap ke satu titik, dengan senyuman malu yang terus menyanyikan lagu. Tak ada yang tau jika jantung Rana berdebar dengan sangat kencang kala itu. Meski begitu percaya diri, namun melakukan hal seperti ini di depan orang yang disukai tentu membuat Rana gugup dan tegang.
"Pacarnya Dean benar-benar berusaha keras" celetuk salah seorang teman Dean.
Prookkk.... Pprrookkk... Pprok....
Suara tepuk tangan meriah mengakhiri penampilan Rana. MC langsung naik ke atas panggung dan memuji penampilan gadis itu.
"Sepertinya lagu ini untuk seseorang" celetuk MC bertanya-tanya.
"Iyaaaaa" teriak para penonton histeris.
"Bagaimana jika Nona muda ini menyebutkan namanya, maka saya akan beri seribu poin" tawar MC.
Rana menggeleng.
"Tiga ribu poin?"
Rana masih menggeleng, padahal teman-teman sekelasnya sudah bersorak memaksa agar Rana menyebutkan nama pemuda itu.
"Waah cukup mahal juga, saya hanya bisa memberikan empat ribu poin. Jika tidak mau ya sudah"
"Lima ribu poin saya sebut nama dan kelasnya" ucap Rana seraya menaikkan alisnya.
__ADS_1
"Hahahhaa bagus baguss, peringkat satu memang hebat" teriak salah seorang teman sekelas Rana.
Sang MC mencoba mempertimbangkan permintaan itu, beliau berpikir cukup lama hingga akhirnya menyetujui penawaran itu. Namun beliau meminta Rana menyebutkan namanya dengan lantang dan keras. Itu adalah kesepakatan yang muda, kesepakatan yang membuat Rana tersenyum lebar.
"Untuk seorang pria yang sangat saya cintai, pemuda tampan dengan sikap cuek dan menyebalkan. Dean dari kelas sepuluh dua, aku suka kamu"
"Wooh cuit cuit"
"Ngerii nih bos Rana, keren"
"Asiknya jadi Dean"
"Ciyeeee"
Sorak Sorai mulai memenuhi aula dengan sahut-sahutan. Para murid berdiri mencoba mencari tau mana pemuda yang Rana maksudkan.
"Dean dari kelas sepuluh dua, silahkan berdiri jika tidak poin kelasmu akan dikurangi lima ribu" perintah MC.
Dengan paksaan temannya, Dean akhirnya berdiri dan menunjukkan wajahnya yang sudah merah padam. Sedikit memalukan menjadi perhatian seperti ini, namun Rana malah tersenyum riang melihat wajah tersipu kekasihnya.
"Kalian berkencan?" Tanya sang MC kala melihat pakaian mereka yang serasi.
"Tentu saja, dia terlihat sangat manis saat tersipu malu" jawab Rana.
"Hoeeek najiss" seru para penonton.
MC sekali lagi meminta tepuk tangan atas keberanian Rana. Setelah Rana turun dari panggung, MC kembali membuka kesempatan untuk orang terakhir yang berani naik ke atas panggung. Apapun yang akan ditunjukkan, MC menawarkan dua ribu poin untuk yang berani maju.
Suasana kembali hening, tak ada satupun murid yang ingin maju kedepan. Beberapa saat berlalu dan sang MC pun hendak menutup kesempatan.
"Saya" teriak seseorang yang berdiri dengan sedikit keraguan.
"Waah, kali ini pemuda tampan yang percaya diri. Dari kelas sepuluh satu, silahkan naik ke atas panggung. Beri tepuk tangan untuk murid pemberani ini" kata MC memeriahkan suasana.
Semua mata menatap ke arah pemuda yang menaiki panggung. Wajah tampan yang familiar, dia adalah wajah baru sekolah, Aiden. Para gadis sudah histeris bahkan saat Aiden hanya berjalan menuju atas panggung.
"Sepertinya peserta kita kali ini memiliki banyak penggemar ya" ucap MC.
"Apa yang ingin kau tampilkan?" Imbuh sang MC.
"Sebuah kisah cinta" jawab Aiden.
"Waah sepertinya pemuda tampan ini pandai menulis cerita. Mari kita dengarkan sehebat apa ceritanya dan apakah bisa membuat semua pendengar merasakan kisah itu. Beri waktunya untuk Aiden dari kelas sepuluh satu"
__ADS_1