
Xavier Mulai membuka pintu ruang kerja Vano sembari membawa tumpukan berkas yang Sempat Vano minta padanya. dia membawa tumpukan berkas itu pada seorang pria yang sedang duduk di bangku kerjanya.
" Apa yang ingin kau lakukan dengan berkas lama ini Van,kenapa kau tiba tiba menyuruh ku membawanya kemari. " tanya nya sembari meletakan berkas itu diatas meja.
" Aku hanya ingin tahu beberapa hal tentang perkembangan perusahaan ini di tahun 2017 ketika Lusiana yang menjadi Ceo disini. " Jawabnya singkat pada Xavier yang mulai duduk di depannya itu.
Mendengar hal itu membuat Xavier sedikit terdiam dan mengingat akan sesuatu di dalam benaknya.
" yang aku tahu, di era itu perusahaan ini tidak mengalami banyak perkembangan bahkan di era itu perusahaan ini tidak banyak mendapatkan tawaran kerja sama dan pembangunan proyek. " ucapnya sedangkan Vano juga mulai membaca satu persatu tulisan dari berkas yang dimaksud Xavier.
Vano terus membolak balikkan berkas itu hingga di bagian halaman belakang dia menemukan satu lembar berkas yang menarik perhatiannya.
" Disini juga ada data riwayat Wanita itu, kukira semua datanya sudah tidak ada. "
" (mengangguk) memang ketika kau mulai menjabat disini Ny Lusiana mengambil semua berkas yang berkaitan dengannya, tapi dia lupa bahwa masih ada berkas salinannya di yang tersimpan di dalam. "
" Dasar gila,aku baru tahu kalau dia menikah tiga kali, dan pernikahan keduanya hanya bertahan satu tahun lalu bercerai. " ocehnya sedangkan Xavier hanya diam menatap nya. Vano membaca semua tulisan yang ada disana hingga beberapa saat kemudian diapun menutup kembali berkas itu dan mengambil lain disana.
" Xavier kenapa Client ini di daftar hitam kan? " tanya nya ketika melihat satu data Client dari Italia yang di daftar hitam kan.
" Ahh Client itu memiliki perusahaan obat obat legal yang pernah berkerja sama dengan perusahaan kita Vano, waktu itu perusahaan kita tidak tahu akan hal itu hingga perusahaan kita sempat tergiur dengan tawarannya hampir ingin menerima tawaran kerja samanya. " jelasnya.
" Lalu? "
" Lalu,ketika pihak keamanan merazia perusahaan inti kita, mereka menemukan beberapa obat obatan yang ketika di periksa itu adalah obat obatan legal. "
" Ahh, setelah itu perusahaan dan client itu di daftar hitam kan. " ucapnya yang membuat Xavier mengangguk dan Vano mulai mengambil berkas lain disana.
Vano mengambil dan membaca berkas yang berisi tentang Data riwayat Tuan Rionard Arqio.
" Bagaimana bisa ini terjadi. " ocehnya lagi.
" bukankah yang ku tahu Presiden Rio meninggal disaat berada di Cina dan dia meninggal karena sakit. " Ucapanya yang membuat Vano terdiam mendengar nya.
" Itu masalahnya, bagaimana caranya aku membuang semua pemikiran itu, dan mengatakan bahwa Papa meninggal karena dibunuh, bukan karena sakit. " Batinnya.
" Xavier, Tinggalkan semua berkas ini disini, aku akan menyimpannya secara pribadi. " Ujarnya yang membuat Xavier mengangguk.
" Tentu saja, lagi pula semua berkas itu sudah jarang digunakan. " jawabnya.
...****************...
Malam harinya Vano pulang lebih awal untuk pergi menghadiri undangan makan malam di rumah Mama Tirinya, Pria itu memberhentikan mobilnya dan masuk kedalam rumah itu, Namun ketika dia ingin pergi ke kamarnya dia teringat akan seseorang yang membuatnya langsung mengurungkan niatnya.
seperti biasa dia membuka pintu kamar Keyra dengan begitu kerasnya sehingga membuat penghuni kamar itu terkejut akan kedatangannya.
" Apa kau menikmati waktumu Dokter Key? " tanya nya dengan semringah nya sembari menghampiri Keyra.
" Sampai kapan kau akan mengurungku seperti ini Rey, Tidak ada gunanya kau mengurungku seperti ini. " ucapnya
" itu memang benar, aku akan terus mengurungmu sampai aku mendapatkan kebenaran tentang keluarga ku, dan mendapatkan kembali nama baik Papaku, bukan hanya itu aku ingin kau merasakan betapa kejinya hidup seperti ku karena ulah keluarga mu. " jawabnya.
" Sudah ku katakan berulangkali kali Reyvano,keluargaku bukanlah keluarga yang suka menghancurkan hidup keluarga lain, termasuk ayahku, dia bukanlah orang yang jahat, dia adalah pria yang baik. "
" Orang jahat yang sebenarnya adalah kau, seharusnya kau melihat dirimu sendiri, kau adalah pria pengecut yang hanya bisa menyiksa dan mengurung wanita yang tidak tahu apa apa ini disini, ditempat ini. " tegasnya yang membuat Vano seketika mengangkat tangannya dan menarik rambut Keyra dengan begitu kuatnya.
" Dokter Key, sudah pernah ku peringatkan berpikirlah terlebih dahulu sebelum kau berbicara padaku. " ucapnya
" Agrhhh untuk apa aku berpikir untuk setiap perkataan ku, sedangkan kau tidak pernah bisa berpikir untuk setiap tindakanmu. " jawabnya.
" Tindakanku? Dokter Key, aku sudah sangat berbaik hati padamu karena mengurungmu di tempat seperti ini dari pada di tempat kumuh dan gelap yang berada di ruang bawah tanah setidaknya aku masih memiliki hati nurani. " tekannya yang semakin memperkuat tarikan nya.
" Yak lebih baik aku dikurung di tempat seperti itu, dari pada harus terikat dan terkurung di ruangan seperti ini, kau mengerti!!! " Bentaknya.
"Benarkah? " Ucapnya yang langsung melepaskan ikatan rantai pada kaki Keyra, setelah itu Vano pun menarik paksa gadis itu keluar dari kamar itu.
"Yakk kau mau membawaku kemana, lepaskan aku. " berontak nya namun Vano tidak. menghiraukannya dan terus menariknya keluar dari tempat itu.
__ADS_1
Vano melempar tumbuh gadis itu begitu saja di lantai gudang bawah tanah yang Keyra maksud tadi.
" Lihatlah aku menuruti semua kemauan ku, ini bukan yang kau mau? " ujarnya sembari menatap nya dengan begitu tajam.
" Maka membusuk lah kau disini Dokter Key. " Lanjutnya lalu pergi dari tempat itu begitu saja meninggalkan Keyra disana.
melihat hal itu membuat terdiam dan tiba tiba mengangkat kedua ujung bibirnya seakan akan dia senang akan hal itu.
...****************...
Sedangkan disisi lain terlihat sebuah mobil yang baru saja berhenti di depan mansion itu,setelah memberhentikan mobilnya dia pun mulai keluar dan masuk kedalam, dan disaat yang bersamaan Vano juga baru saja tiba dimansionnya selepas dari ruang bawah tanahnya.
" Kak Vano, kau dari mana? " tanya Aaron yang melihat Vano yang hendak masuk kedalam rumah nya itu.
" Aku habis mengambil handphone ku di dalam mobil,apa kau sudah siap, kalau begitu ayo pergi. " ajaknya sembari menggandeng tangan adiknya itu.
" Kak kau tidak ingin bersiap atau mandi dulu? " tanya nya ketika melihat Vano masih memakai pakaian yang sama seperti tadi pagi.
" aku tidak perlu terlihat terlalu rapi ataupun bersih ketika menemui orang seperti mereka, lagi pula tanpa mandi pun bukanlah aku tetap terlihat begitu tampan. " ocehnya yang membuat Aaron geleng kepala, dan menghindar dari hadapannya.
" Baiklah ayo. " ucapnya yang langsung masuk kedalam mobilnya lagi begitu juga dengan Vano.
Jarak Mansion dan rumah ibu tirinya memang sangatlah jauh, butuh waktu satu jam lebih untuk menempuh perjalanan dari hutan menuju ke kota tempat dimana rumah ibu tirinya itu berada, dia harus melewati beberapa daerah untuk sampai di sana.
...****************...
Dan akhirnya beberapa Jam kemudian setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh kedua mobil sport berwarna hitam dan merah berhenti di sebuah rumah yang cukup besar becat putih dan kebiruan.
kedua pria itu keluar dari mobil mereka dan masuk kedalam rumah itu dan disambut oleh dua wanita yang terlihat sangat tidak asing baginya.
" Selamat datang para putra Mama, Mama senang sekali akhirnya kalian mau datang menemui Mama ini hmm " ucapanya dengan begitu senang sembari menghampiri Vano yang berjalan paling depan dan bermaksud untuk memeluk putranya itu.
melihat hal itu Vano langsung melangkahkan kakinya kebelakang untuk menghindari nya, dan bermaksud agar dia tidak memeluknya, melihat hal itu wanita itu hanya bisa tersenyum dan menghela nafas panjang.
" Vano Mama senang sekali kalian mau datang kemari nak, Mama sudah menyiapkan banyak sekali makanan untuk kalian. " Ucapnya.
" Vano, tidak bisakah kau berbicara sedikit sopan pada mama, dia masih mama mu, setidaknya jangan bertindak kurang ajar disini. " marahnya karena kesal pada pria itu.
" Livi sudah, jangan terlalu keras pada Vano, dia juga masih adikmu. " lerainya.
" Bukan seperti itu Ma, setidaknya dia bisa menjaga sopan santun ya ketika di depan yang lebih tua. "
" Umurku dan umurmu hanya berjarak satu dua tahunan saja, dan bukan berarti aku takut padamu." Celah Vano.
" Aku tahu itu Van,tapi Jika kau tidak bisa menghargai ku setidaknya duduklah disini sebentar dan hargai usaha mama untuk membuat makanan untuk kalian. "
" Livi sudah, jangan bertengkar. " Lerainya lagi, Vano yang terlihat sudah begitu kesal itu langsung pergi begitu saja ke ruang makan dan meninggalkan mereka,
" Aaron kau juga akan disini kan? " tanya nya, pada Aaron yang masih berdiri di ambang pintu itu.
" Aku akan disini jika Kakakku masih berada disini Ma." jawabnya
" Apa kau tidak merindukan Mama sayang? " tanya nya namun Aaron tidak menghiraukannya dan langsung pergi begitu saja menyusul Vano.
"Lihatlah, Anak itu terlalu banyak bergaul dengan Vano. " ucapnya sembari menatap punggung Aaron.
" Sudah Ayo kita Masuk." ucapanya pada putrinya itu.
Mereka mulai duduk di bangku meja makan itu sedangkan Lusi mulai mulai mengeluarkan makanannya dari dapur, setelah semua makanan itu tertata rapi disana mereka pun akhirnya mulai menyantap dan memakan makanan itu.
" Vano, Lihat Mama membuatkan mu telur dadar kesukaan mu. " ucapnya sembari mengambil sepotong telur dadar itu dan ingin meletakkannya di piring Vano.
" Tidak perlu repot repot, aku bisa mengambilnya sendiri." Jawabnya yang mbuat Lusi mengurungkan Niatnya itu.
" Ahh iya Aaron Mama dengar kau habis kecelakaan, bagaimana kondisi mu nak, Maafkan Mama karena tidak bisa menemanimu di rumah sakit. " ujarnya pada Aaron yang sedang asik makan disana.
" seperti yang mama lihat sekarang, dan tidak perlu meminta Maaf padaku. " jawabnya.
__ADS_1
mendengar hal itu Lusi yang merupakan Mamanya itu hanya bisa bersabar meladeni kedua putranya itu.
" Vano, Livi bilang kemarin malam keadaanmu Drop, apa itu benar. "
" kau tidak perlu menanyakan nya padaku jika yang bilang itu adalah putrimu, lagi pula apa pedulimu terhadapku. " ucapnya tanpa menatapnya sama sekali.
" Mama hanya khawatir padamu, Rutinlah untuk meminum obatmu Vano... " ujarnya yang terhenti ketika Vano tiba tiba meletakan kedua alat makannya itu dengan begitu keras diatas meja.
" (menghela Nafas) Jangan terlalu banyak bicara tentang hal yang tidak penting karena itu bukan ciri khas dari mu. " celanya sembari menatap wanita itu dengan begitu tajamnya.
" Sekarang akan lebih baik kau katakan apa maumu, dan apa yang ingin kau bahas denganku disini dengan Aaron. " lanjutnya yang membuat wanita itu tersenyum menatap putranya itu.
" Sepertinya kau bukan orang yang suka diajak basa basi Vano. " ucapnya.
" kau sudah tahu betul akan hal itu, tapi kau memang sengaja melakukannya. "
" Mama ingin Membahas mengenai warisan Keluarga Arqio denganmu dan juga Aaron. " ucapnya yang membuat Aaron sedikit terdiam mendengar nya.
" (Smirik) sudah ku duga, apa uangmu sudah habis sehingga kau membahas tentang hal itu, dengar sampai kapanpun aku tidak akan memberimu seperserpun warisan Keluarga Arqio. " tegasnya.
" Aku tidak bilang aku memintanya Vano,aku hanya ingin tanya apa kau sudah punya calon pewaris kekayaan keluarga Arqio, setidaknya aku hanya ingin memastikan bahwa kau bukanlah keturunan terakhir keluarga Arqio yang memegang warisan itu." Ucapnya.
" Cih Calon pewaris? "
" kalau aku belum mempunyainya, lalu kau mau apa hmm, apa kau ingin menjadi calon pewaris nya. " sindirnya dengan senyuman liciknya.
" Aku tidak berkata seperti itu, aku hanya ingin bilang jika kau terus menerus seperti ini, alangkah baiknya kau menjadikan Aaron sebagai salah satu calon pewaris warisan itu. " ucapnya yang membuat Aaron tersedak oleh makanan yang sedari tadi ia makan.
" Apa? Mama bercanda?" sahut Aaron.
" Mama tidak pernah bercanda Aaron, lagi pula apa salahnya jika kau yang menjadi pewarisnya, kau adik kesayangannya kan. "
" Mama sudah gila, tidak kak Vano jangan lakukan itu, mama akan memanfaatkan diriku jika kakak menyetujui nya. " ucapnya.
" Dengar, aku tidak pernah menginginkan nya sepeser pun. "
" Aaron kau tidak lihat bagaimana keadaan Vano saat ini, kondisinya. semakin hari semakin buruk dan sering Drop, apa lagi dia tidak mau menjalin hubungan dengan wanita, lalu bagaimana dengan nasib keturunan Keluarga Arqio, Apa kalian mau Vano menjadi keturunan terakhir di keluarga ini. "
" Jika dia mewariskan nya padamu, setidaknya Keluarga ini masih bisa memiliki keturunan dari mu. "
" Tidak, aku tidak mau, dan tidak akan pernah mau, mama bisa berkata seperti itu karena mama yakin dengan kematian kak Vano, tapi tidak denganku, aku yakin Kak Vano pasti bisa sembuh dan itu pasti. " tolak nya yang kesekian kalinya.
" Mama tidak pernah berkata seperti itu, Mama hanya memastikan nasib keluarga ini, sekarang Mama tanya Apa Kakakmu itu mau berhubungan dengan wanita dan menikah, setidaknya dia memiliki seorang kekasih yang bisa meyakinkan ku. " ucapnya yang membuat Aaron Terdiam.
" Aaron, Kau juga putra dari papa Rio, kau berhak mendapatkan kekayaan itu, kau pantas mendapatkan nya karena kau putranya. " lanjutnya.
" Aku tidak pernah pantas mendapatkan nya bahkan aku tidak berhak mendapatkan nya karena aku sadar aku hanyalah hasil hubungan gelap kalian berdua!!" bentaknya.
" Aku adalah keturunan yang tidak pernah diharap kan, dan Mama masih berharap lebih padaku. " lanjutnya.
" Aaron. "
" Cukup!!! Sudah Cukup!!! Kau jangan mencoba membuat Adikku Menangis disini!!! " bentaknya sembari menggebrak meja yang ada didepanmu itu.
" Kau membutuhkan kepastian bukan, katakakan padaku apa yang harus ku lakukan untuk meyakinkan mu. " lanjutnya.
" bawalah satu wanita kemari, kenalkan dia sebagai kekasihmu setelah itu baru aku akan percaya padamu. " jawabnya.
" Apa? Mama!!! "
" Baiklah, aku akan membawa kekasihku kemari mengenalkan nya padamu. " sahutnya.
" aku ingin besok lusa kau sudah membawanya kemari dan mengenalkannya sebagai kekasihmu. "
" Apa Lusa? "
" Tentu saja, aku akan membawa menantu keluarga Arqio kemari menghadap mu. " kesalnya yang kemudian dia pun langsung beranjak pergi dari ruangan makan itu.
__ADS_1
Melihat hal itu juga membuat Aaron langsung beranjak dari tempatnya dan berlari menyusul kakaknya itu.