MIANHAE { Maaf }

MIANHAE { Maaf }
BAB 9 ( Bermuka Dua)


__ADS_3

" Kenapa semua ini terjadi padaku,kenapa aku selalu mendapatkan nasib yang sangat buruk. " batinnya sembari menatap mereka berdua yang hampir menghilang dari pandangannya.


Keyra terus menatap kepergian mereka hingga tanpa disadari Vano pun mulai keluar dari toilet itu.


" Apa yang sedang dia lihat. " batinnya sembari menatap kearah yang sama, yang kemudian menghampiri gadis yang sedang terduduk di bangkunya.


" Apa yang sedang kau lakukan? " tanya nya yang membuat Keyra sontak menatapnya.


" Kau menangis, kenapa kau menangis, aku tidak sedang melukaimu kenapa kau menangis? " tanyanya ketika melihat mata gadis itu memerah dan berair seakan akan ingin mengeluarkan semua isinya.


Mendengar hal itu membuat hati Keyra yang berusaha menahan sedihnya itu seketika menjadi sesak dan membuat gadis itu tiba tiba menangis disana.


" Astaga Dokter Key, kau ini kenapa. " tanyanya lagi sembari duduk disampingnya sedangkan beberapa orang yang melintasi jalanan itu terus menatap kearah mereka.


" Yakk, kau gila kenapa kau tiba tiba menangis seperti ini, kau ingin membuatku malu di mall ku sendiri. " kesalnya sembari melihat ke sekeliling nya dimana banyak orang yang mulai tertuju padanya.


" Hiks kenapa nasibku begitu buruk sekali, hiks kenapa kau tidak membunuhku saja eoh. " tangisnya.


" Ada apa denganmu, berhentilah menangis, apa yang akan dikatakan orang orang tentang diriku. " pintanya yang membuat Keyra mulai berusaha untuk meredakan tangisnya itu.


" kenapa gadis itu, apa pria itu melukainya. " bisik pengunjung yang baru saja melewati mereka.


" Entahlah. " sahut yang lainnya.


Mendengar hal itu membuat Vano sedikit kesal dan membuatnya langsung meraih pundak Keyra dan memeluk tubuhnya itu karena dia tidak tahu apa yang akan dia katakan pada pengunjung Mallnya itu.


"Berhentilah menangis, jangan membuatku malu disini dokter key, kau membuat semua orang disini berpikiran buruk terhadap ku. " bisiknya lagi yang kemudian memberikan sebuah sapu tangan padanya.


" Maafkan Aku. " jawabnya sembari meraih sapu tangan itu dan membersihkan air matanya.


" Ayo pergi. aku sudah lapar. " ucapnya sembari berdiri dari tempatnya yang membuat Keyra menurutinya begitu saja.


Vano membawa gadis itu pergi dari lantai itu dan pergi ke sebuah restoran yang berada di lantai atas. pria itu membawa Keyra kesebuah restoran untuk makan siang.


Setelah mendapatkan tempat duduk dan memesan makanan Vano pun mulai menyantap makanan yang dia pesan itu, namun beda halnya dengan Keyra yang sama sekali tidak menyentuh makanannya karena lengannya yang begitu kaku dan sakit, dia hanya diam sembari menatap Vano yang sedang makan di depannya itu.


" Kau tidak makan?,kenapa menatap ku seperti itu? " tanyanya tanpa menatap nya sama sekali.


" Aku tidak lapar. " jawabnya singkat sedangkan Vano tidak memedulikannya dan dia terus memakan makanannya itu.


["Drrtttt"] ["Drrtttt "]


Terdengar suara dering dari handphone Vano yang ia letakan tidak jauh darinya, mendengar hal itu Vano pun langsung mengambil handphonenya itu dan mengangkatnya.


[ " hallo Xavier ada apa" ]


[ " Van, kau sedang dimana saat ini, apa kau sedang sibuk. " ]


[ " Tidak, aku sedang makan siang di suatu tempat, kenapa. " ]


[ " kalau begitu, bisakah kau datang ke kantor saat ini, kalau bisa cepatlah kemari, karena kepala direktur dari perusahaan rusia tiba tiba kemari dan memajukan rapatnya hari ini juga. " ]


[ " Apa?, kenapa mendadak sekali? Baiklah, katakan pada mereka aku akan tiba 15 menit lagi. " ]


[ " Baik. " ] Jawabnya yang membuat Vano langsung menutus telepon nya secara sepihak.


" Kau tidak memakan makananmu kan, kalau begitu ayo pergi. " ucapanya setelah menghabiskan minumannya dan beranjak pergi dari tempat itu, melihat hal itu membuat Keyra langsung berdiri dari tempatnya dan berlari menyusul Vano yang sudah berjalan jauh darinya.


Mereka berdua pun akhirnya pergi dari tempat itu dan menuju ke kantor dimana tempat perusahaan Vano berada.


...***...


Jarak Mall dan kantor Vano tidak cukup jauh, hanya memerlukan waktu 20 menit untuk sampai, tapi karena kemampuan kemudi Vano yang begitu luar biasa pro akhirnya mereka bisa sampai di tempat itu tidak sampai 15 menit, dan itu membuat Keyra sedikit takut karena nya.


Sesampainya disana Vano langsung masuk begitu saja menuju ke ruangannya yang berada di lantai atas dan ketika masuk kedalam ruangan itu Keyra melihat dia orang bertubuh besar yang sudah stand by disana.


" Aku mungkin akan sedikit lama, jadi kau tunggulah disini sampai aku selesai, dan ingat jangan lakukan  kesalahan yang sama. " ucapnya ketika masuk kedalam ruangan nya.


" Aku mengerti, kau sudah mengatakan hal sama berulang kali hari ini. " jawab Keyra.


" Jangan pernah berencana mencoba kabur dariku atau semacamnya jika kau tidak mau menerima hukuman yang sama.


" ucapnya lagi yang membuat Keyra terdiam hingga tidak lama kemudian seorang pria tampan bertubuh tinggi dan memakai sebuah kemeja putih berjas merah pun membuka pintu ruangan itu dan masuk.


" Ahh akhirnya kau sampai juga Van, kenapa kau tidak memberitahu ku, aku sudah menunggumu sedari tadi. " ucapnya begitu masuk dan tanpa sadar ada orang lain di dalam ruangan itu.


" kau tahu, aku sudah melajukan mobilnya dengan begitu cepat,kau sudah menyiapkan semua dokumen yang bukan." ujarnya pada sekretaris nya itu.


" Eoh Vano, siapa gadis cantik itu, dia temanmu atau siapa? " tanyanya yang terheran tiba tiba ada seorang wanita di dalam ruangan itu.


" Dia kekasihku. " jawabnya singkat yang membuat Keyra langsung menatapnya yang sedang sibuk membaca dokumen di tangannya.

__ADS_1


" Apa!! Siapa? Kau serius? " ujarnya yang tidak percaya.


" apa aku terlihat sedang bercanda? " ucapnya yang membuat Xavier langsung memukul pundak Vano dengan begitu keras.


" Astaga Kawan akhirnya kau bisa mengencani wanita sungguhan, tidak sia sia aku berdoa setiap ingin tidur dan sebelum ke masuk keruangan ini, aku ikut senang. " senangnya.


" Yakk sakit, kau ingin ku pecat. "


" memangnya kau bisa memecat ku, jangan terlalu marah padaku, kau tahu aku selalu berdoa kalau kau tidak bisa mengencani seorang wanita setidaknya kau bisa kencan dengan salah satu mahluk hidup di dunia ini, agar kau tidak terus berkencan dengan tumpukan kertas. " ocehnya lagi namun Vano sama sekali tidak menghiraukanya.


" Hallo perkenalkan aku Xavier Chayton sekretaris setianya. " sapanya sembari mengulurkan tangan pada Keyra.


" Aku Keyra. " Jawabnya sembari membalas uluran tangan Xavier itu.


" Sudah sudah, Xavier ayo pergi, kau menyuruhku untuk cepat kemari tapi kau malah mengulur waktu. " celanya yang langsung pergi begitu saja dari ruangan itu.


" Astaga orang itu, iya maafkan aku Tuan." teriaknya yang kemudian berlari menyusul tuannya itu.


Melihat kepergian kedua pria itu keyra mulai terduduk di sofa yang ada disana. sembari menatap pemandangan seluruh kota yang bisa di lihat dari kaca ruangan Vano yang tertuju langsung ke arah luar.


" Apa Vano hanya benci terhadap ku, dilihat dari respon semua orang tadi dia terlihat tidak begitu buruk beda dengan cara pandang dan pengelihatan ku padanya. " batinnya sembari menatap kearah luar.


" Dan caranya bersikap dengan anak kecil tadi juga sangatlah manis, sebenarnya tadi itu memang sifat sebenarnya atau memang dia hanya bersandiwara karena di depan umum. " lanjut nya yang membuatnya mulai bepikir keras mengingat semua itu.


Keyra duduk disana menunggu Vano dengan begitu lama, bahkan hampir 2 jam dia duduk disana tanpa melakukan apa apa sembari menatap sapu tangan yang sedari tadi dia bawa yang terdapat rajutan huruf R.A disana.


" Seandainya aku bisa melarikan diri sekarang, aku pasti sudah berada di rumah. " ucapnya sembari menatap kain berwana biru langit itu, dan tidak lama kemudian pintu ruangan itupun terbuka dan seorang pria mulai masuk kedalam ruangan itu.


" Eoh Apa Vano belum kembali juga? " ucap pria itu ketika seseorang yang dia cari tidak ada di ruangannya dan malah melihat gadis itu yang masih duduk disana.


" Apa Vano belum masuk kemari Noona Keyra? " tanyanya sembari menghampiri Keyra yang sedang duduk disana.


" (menggeleng) dia belum sama sekali kembali, kenapa? "


" Tidak, aku hanya ingin memberikan flashdisk ini padanya, aku ingin memberikannya setelah usai rapat, tapi dia sudah kembali terlebih dahulu dariku. " jelasnya sembari menunjukan benda kecil itu pada gadis itu.


" Ahh begitu rupanya. "


" apa kau sedari tadi hanya disini, kau tidak keluar dari ruangan ini? " tanyanya sembari duduk di depan Keyra.


" Tidak, aku malas pergi keluar. " tipu nya .


" ahh padahal makanan di kantor ini sangan enak sekali, apa lagi tamannya, apa kau ingin  ku temani keluar, aku akan mengenalkan mu pada makanan yang lezat disini. "


" Ohh iya, aku lupa, ketika aku meneleponnya tadi dia bilang sedang makan, maafkan aku. "Ujarnya.


" apa kau ingin minum, sebentar aku ambil kan untuk mu. " ucapnya lagi sembari beranjak dari tempat duduk nya dan pergi ke alat pembuat kopi disana.


" Tidak perlu Xavier, aku tidak haus."


" Sudah jangan malu padaku, anggap saja aku temanmu. " ujarnya sembari menyalakan mesin kopi itu


" Kau tahu Key, selama aku berteman dengan Vano, kau wanita pertama yang Vano kenalkan padaku, selebihnya dia hanya mengenal kan dokumen dan kertas padaku. "


" Benarkah? "


" sekarang aku penasaran, bagaimana kalian bisa bertemu, dan membuat Vano jatuh cinta padamu. " ucapnya lagi yang membuat Keyra terdiam dan hanya menatap pria yang mulai berjalan menghampiri gadis itu dengan membawa segelas minuman padanya.


" ini minumlah, kau pasti belum minum bukan. " ujarnya sembari menyodorkan minuman itu pada Keyra.


" Terima kasih, tapi aku... "


" sudah, tidak apa apa, aku tahu kau haus karena bibir mu terlihat sangat kering. "


Mendengar hal itu membuat Keyra sedikit mengangkat ujung bibirnya dan mulai berusaha untuk mengambil minuman itu.


Namun sayangnya tangan Keyra begitu kaku dan sedikit bengkak hingga begitu sulit untuk mengangkat nya apa lagi dengan tinggi yang Xavier berikan.


" Arghh. " Rintihnya pelan sembari menarik kembali tangannya.


" kenapa, Key, kenapa kau kesakitan. "


" Aku baik baik saja. "


"Kau serius, kau terlihat begitu kesakitan, apa kau terluka, apa Vano mengetahui hal ini. " ucapnya yang penuh dengan pertanyaan sembari duduk disamping Keyra untuk meraih tangan kanannya dan melihat kondisinya.


"Aku baik baik saja Xavier, tanganku sedikit keseleo tadi, tapi aku baik baik saja. " ujarnya sembari menjauh darinya.


" Benarkah, kalau begitu apa Vano tahu hal ini? " tanyanya lagi yang membuat keyra terdiam menatapnya.


" Dia tidak hanya tahu, tapi memang dia yang membuat luka ini, andai kau tahu jika aku bisa aku ingin berteriak meminta tolong padamu, tapi apa dayaku kau adalah sekretaris pribadi sekaligus temannya, tidak mungkin kau mempercayai perkataanku." ucapnya sembari manatap Xavier itu.

__ADS_1


Sedangkan Xavier hanya duduk menatapnya dengan tatapan khawatir, sebab raut wajah keyra juga terlihat seperti orang yang sedang ketakutan sedari tadi.


" Apa kau benar benar baik baik saja, kau jangan malu padaku, ahh apa perlu aku panggilkan dokter untukmu, aku yang akan memberitahukan vano nanti. " pintanya lagi sembari ingin menyentuh tangannya.


" Tidak, tidak perlu Terima kasih, aku baik baik saja. " jawab keyra yang membuat Xavier terdiam mendengar nya.


" Ekhemm. " dehamnya yang membuat mereka langsung menatap ke arah pintu ruangan dan melihat Vano yang sedang berdiri disana.


" Vano"


" Apa yang sedang kalian lakukan? " tanyanya yang begitu dingin yang membuat suasana ruangan itu menjadi begitu tegang.


" Tidak, kita tidak melakukan apa apa Van,jangan salah faham, aku disini karena menunggu mu. " jawab Xavier.


"(Tersenyum) kenapa kau takut sekali, aku hanya bercanda,aku tadi masih berbicara sebentar dengan kepala tim, apa yang membawamu kemari Xavier? " tanyanya sembari menghampiri mereka berdua.


" aku ingin memberikan Flashdisk ini, kau bilang kau ingin salinan file rapat tadi. "


" terimakasih, oh iya kapan aku akan berangkat ke rusia Xavier? "


" Lusa, aku akan menyiapkan tiket pesawat mu dan beberapa perlengkapan lainnya yang kau butuhkan disana. "


" baiklah siapkan saja semuanya, dan iya tolong cari informasi mengenai tempat yang dewan tadi katakan. "


" yang ku tahu tempat itu hanyalah tanah pemungkiman kecil, tapi nanti coba aku cari tahu lebih lanjut, kalau begitu aku pergi dulu. " ucapnya sembari beranjak dari duduknya dan hendak pergi.


" ahh iya Van,seperti nya tangan keyra keseleo atau mungkin terluka, apa kau sudah mengetahui nya? " ucapnya ketika ingin pergi dari tempat itu.


" Eoh benarkah, Sayang kau terluka, kenapa kau tidak memberi tahu ku? " tanyanya namun keyra hanya diam tidak menjawabnya.


" cih ternyata begitu cara mainnya, dasar bermuka dua. " batin keyra tanpa menatap nya sama sekali.


" dia sangatlah pemalu Xavier, nanti coba ku tanya dan obati dia. " jawanya yang membuat Xavier mengangguk lalu pergi dari tempat itu.


Xavier mulai pergi dan menutup pintu ruangan itu, melihat hal itu membuat Vano mulai berjalan menghampiri Keyra yang Masih terduduk di sofa nya itu.


" Apa aku membuat mu menunggu lama?"


"Tidak."


" begitukah? Xavier memang orang yang mudah bergaul dan ceria, kau pasti merasa tertemani olehnya, aku harap kau tidak mengatakan apa apa padanya. " ujarnya sembari duduk didepan keyra sembari menatap nya.


"Ti tidak Van, aku tidak mengatakan apa apa. " jawabnya


" benarkah? " tanyanya yang tidak percaya sembari berusaha memegang lengannya.


" jangan Vano, jangan memegangnya kumohon. " pintanya sembari menghindarinya.


" benarkah? Apa sesakit itu? " ucapnya lagi sembari memegang paksa lengannya itu.


"Vano kumohon lepaskan. "


" katakan dengan jujur padaku, apa yang kau katakan pada Xavier, hingga dia sekhawatir itu padamu. " ujarnya sembari mencengkram luka pada lengannya itu hingga luka yang hampir kering itu kembali terbuka dan mengeluarkan banyak darah yang mengotori lengan dress putihnya itu.


" Agrhhh hiks Vano sakit, hiks kumohon lepaskan. " tangisnya kesakitan, namun pria itu tidak menghiraukan nya.


" Hiks hiks aku berani sumpah aku tidak mengatakan apapun padanya, hiks aku tidak mengatakan nya, Agrhhh hiks kumohon lepaskan aku Vano kumohon. " tangisnya yang membuat Vano langsung melepaskan cengkraman tangannya.


Namun meskipun Vano sudah melepas cengkraman nya keyra masih tetap menangis kesakitan akibat ulahnya, dia merasakan rasa yang begitu sakit dan perih secara bersamaan.


" Aku sudah memberi mu kebebasan hari ini, jadi jangan mecoba untuk macam macam padaku. " ancamannya yang membuat Keyra mengangguk tanpa mengatakan sepatah katapun.


Vano mulai beranjak dari tempat nya, sedangkan keyra tidak bisa berhenti menangis meratapi nasib buruknya itu. Namun ketika dia ingin duduk di bangkunya dia melihat Xavier berjalan menghampiri ruangannya dari kaca ruangannya.


Melihat hal itu membuat Vano langsung bergegas menghampiri keyra yang masih menangis disana, dia mulai duduk di samping kanannya menarik tubuhnya dan mencium bibirnya agar dia tidak terus menangis sembari memeluknya dengan begitu erat.


" Astaga, Maafkan aku sudah mengganggu kalian. " ucap Xavier ketika masuk kedalam ruangan itu dan seketika terdiam melihat hal itu dan membuat Vano mulai menenggelamkan wajah keyra padanya dan menatap kearah Xavier.


" kau disini? "


" Maafkan aku Vano, kalau begitu lanjutlah. "


" tidak apa apa, kenapa kau kemari? "Tanyanya lagi.


" aku aku lupa memberi tahu mu kalau besok kau ada Meeting dengan client Jepang pukul 9 pagi itu saja. "


" ahh, baiklah kirimkan semua jadwal ku besok ke handy, dan siapkan semua materinya. " ujarnya.


" Baik, kalau begitu aku pergi, maaf sudah mengganggu waktumu. " ucapnya lalu pergi begitu saja dari ruangan itu.


" hiks tidak, kumohon jangan pergi Xavier, hiks tolong aku. " batin keyra yang masih terus menangis di dalam pelukan Vano.

__ADS_1


Setelah melihat Xavier pergi Vano pun segera menjauh dari keyra lalu melepas jas nya itu dan memakaikannya padanya untuk menutupi noda darah pada dress putih nya.


" Jangan terus terusan menangis, aku akan menyuruh orang untuk mengambil pakaian ganti mu." ucapnya lalu kembali ke bangku kerjanya, sedangkan Keyra masih berusaha meredakan tangisnya.


__ADS_2