Miracle,

Miracle,
Mimpi buruk!


__ADS_3

"Jy, aku menemukan Ayah dan Ibumu." teriakkan menggelegar itu memenuhi seluruh sudut ruangan. Donny masih berlari, dengan bibir yang terus mengatakan kalimat itu. Berlari dengan semangat, begitu kegirangan seolah ini adalah kabar sangat baik.


Jymin yang tak jauh dari posisi Seo, langsung menegapkan tubuhnya. Berhenti dari aktivitas menggambarnya sejak tadi. Wajah Jymin terlihat membinar sekali. Ini adalah situasi di mana Jymin selalu mengharapkan kabar itu. Tak ada yang memberitahunya. Bagaimana orangtuanya meninggal? Kenapa bisa orangtuanya meninggal? Apa penyebab orangtuanya meninggal? Kapan orangtuanya meninggal?


Semua orang seolah menyembunyikan darinya. Jymin yang polos hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apapun. Dengan kesendiriannya, Jymin hanya bisa merenung dan melamun. Berharap ada keajaiban yang akan datang, menolong dan membantunya untuk mencari keberadaan Orangtuanya yang tak meninggalkan jejak. Jymin dengan lugunya, bersorak gembira seraya memandangi Seo yang sudah di depannya dengan wajah penuh harap. "Benarkah? Di mana? Di mana Ayah dan Ibuku?"


Seo juga terlihat auntusias. Ia tersenyum lebar. Namun siapa sangka di balik itu senyum itu hanyalah sebuah alibi, alibi kebohongan. Jebakan yang mematikan. Seo langsung menarik girang pergelangan Jymin. "Ayo, ikuti aku. Tak terlalu jauh dari sini."


Mata Jymin yang polos menyipit heran. Bingung dengan tempat yang ia pijaki sekarang. Sekilas berbalik menatap Seo di belakangnya. Kenapa Seo membawanya ke tempat gedung tua yang kumuh, berantakan dan sedikit bau. Apa benar Orangtuanya ada di lantai dua di gedung tua ini?


Menyakinkan diri, Jymin yang menganggap Seo dapat di percaya. Akhirnya, Jymin tetap berjalan sesuai dengan perintah Seo. Seo memerintahkannya untuk menghampiri jendela besar samping pojok dinding. Jymin tahu, jendela besar tanpa kaca itu terdapat sebuah pintu. Pintu yang Jymin tak tahu apa isi di dalamnya. Seo mengatakan bahwa di balik pintu terdapat orangtuanya. Hingga akhirnya, Jymin tak bisa mengenali apa yang terjadi. Kenapa tubuhnya bisa oleng dan hilang keseimbangan. Semuanya terasa cepat. Jymin kecil hanya bisa berteriak memanggil nama kedua orangtuanya. Matanya membelalak melihat senyum sinis Seo. Apa Seo ingin membunuhnya dengan mendorongnya jatuh ke bawah? Jymin tak tahu, apa jawaban dari pertanyaan. Hanya kegelapan yang memenuhi dunianya.


Mimpi buruk!


Jymin terbangun seperti orang yang terkejut. Jymin terduduk di atas kursi kebesarannya dengan napas tersengal-sengal, jantungnya berdegup kencang tanpa bisa di kendali. Keringat mengalir deras di sekitar lehernya. Jymin mengusap wajahnya. Kenapa ia selalu di hantui oleh mimpi itu. Masa kecil kelamnya yang begitu buruk. Masa kecil tanpa ada warna warni yang menghiasi setiap harinya.


Mimpi itu mengingatkannya kembali, bahwa sikapnya yang seperti ini berawal dari sana. Sejak itu, kepercayaannya pada seseorang mulai berkurang dan memilih menyendiri tanpa ada keluarga di sekitarnya. Memang siapa, yang bisa di anggap keluarga. Keluarganya bagaikan iblis menurutnya.


"Kenapa aku selalu bermimpi seperti itu? Melelahkan!"


Jymin berkata seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Sedikit mengumpat, menyadari bahwa ia tertidur di ruang tempat kerjanya. Akibat salah tertidur, lehernya menjadi kaku dan nyeri. Jymin mengusap lehernya dari keringat, seraya matanya melihat kearah jam dinding 13.00, berarti sudah dua jam ia tertidur.


Ah, Jymin sampai melupakannya. Ia harus segera bangkit keluar dari ruangannya yang kedap suara. Jymin masih mengusap lehernya, lehernya benar-benar terasa nyeri. Membuka pintu, hal yang pertama dilihat adalah seorang bodyguard yang menunduk menatapnya. Jymin menyatukan alis, sedikit kesal kerena bodyguardnya tak menuruti perintahnya.


"Aku sudah bilang, jangan meninggalkan dia sendiri ketika dia sudah sadar."


"Maaf Tuan. Kami sudah mengecek CCTV tempat kejadian, tidak ada jejak pelakunya seolah tempat itu di rusak dengan sengaja CCTV nya. Kalau di lihat dari tempat Non Aileen terjatuh, kamar itu merupakan satu-satunya kamar yang tidak memiliki CCTV!"


Benar! Sesuai dengan dugaannya. Memang ada seseorang yang melakukan kejahatannya akan nampak? Mustahil bukan. Tanpa mencari info pun, Jymin sudah tahu siapa pelakunya. Seo, memang siapa lagi. Sudah sejak dulu, Seo itu sangat membencinya. Tapi Jymin lebih membencinya. Namun, karena tak ada bukti yang akurat, Jymin tak bisa melakukan apapun apalagi Seo sederajat dengannya.


"Mulai sekarang atur keamanan rumah sampai maksimal. Hubungkan jaringan agar aku bisa memonitor semua ruangan dalam radius 100 M setiap saat. Jikalau ada penerobosan dari luar buat alat itu mengeluarkan bunyi tanda bahaya. Mengerti?"


Bodyguard itu langsung mengangguk tegas, mendengar nada bicara Tuannya yang begitu memerintah dengan tajam. Setelah melihat anggukan bodyguardnya, Jymin pun berlalu pergi.

__ADS_1


"APA KAU PIKIR INI MENYENANGKAN UNTUKKU? APA KAU BENAR-BENAR INGIN MATI! KENAPA KAU MEMBUAT SITUASINYA JADI SULIT AILEEN? AH YA, AKU MEMANG MELAKUKAN HAL YANG TAK BERGUNA. MEMANG PERNAH, KAU MENDENGARKANKU?"


Tanpa pikir panjang dan tak bisa mengontrol emosinya. Jymin langsung masuk ke dalam kamar. Membentak seseorang yang Jymin tahu sudah sadar. Aileen, yang kini berbaring di atas kasur dengan selimut menutupi separuh tubuh mungil itu. Jymin tak ada niat sedikit pun, untuk menanyakan bagaimana keadaannya, menanyakan apa yang sakit ataupun menenangkan Aileen yang Jymin tahu sudah menangis. Jymin tak peduli lagi, Aileen membuatnya cukup sangat kecewa. Sikap lembutnya selama ini, di balas dengan Aileen yang mengikari kepercayaannya. Jymin percaya bahwa Aileen akan menuruti perintahnya, Jymin pikir Aileen mendengarnya.


"Jymin, kendalikan emosimu."


Bahkan Jymin pun, tak menggubris Jey yang di dekatnya. Paman, yang selalu Jymin hormati. Paman, yang selalu membantunya. Paman dengan sejuta pengorbanan. Jika tak ada Jey kala itu, mungkin tak ada lagi Jymin di dunia ini.


Tentu saja, Aileen tersentak mendengar suara Jymin yang seperti itu pertama kali. Tak pernah Jymin membentaknya. Di mana sikap lembut Jymin? Apa kesalahannya ini membuat Jymin seperti itu?


Aileen hanya bisa menangis, menumpahkan ribuan air mata hingga rasanya mengering. Menangis darah pun, memang bisa mengembalikan semuanya? Jymin sudah sangat kecewa dengannya. Akankah Jymin membencinya? Aileen mencengkeram guling yang di pelukannya, bahkan Aileen mengigit sarung guling itu hingga rusak hanya agar Jymin tak mendengar isakannya. Sungguh, Aileen pikir ia sudah mati. Mengingat ia jatuh ke dalam kolam yang sangat dalam, sangat tak memungkinkan ia masih hidup. Apalagi Aileen tak bisa berenang.


"Jika sesuatu seperti itu terjadi, kau harusnya bilang padaku! Apa kau itu bodoh, Aileen? Aku menemukanmu di dalam kolam. Jika aku tidak bergerak lebih cepat, kau akan mati mengapung di dalam air. Siapa yang membuatmu seperti itu, katakan!"


Jymin hanya mengetes kejujuran Aileen. Apakah Aileen akan jujur dengannya? Apakah Aileen akan mengatakan apa yang terjadi. Setelah melihat isi ponsel Aileen, bahwa selama ini mereka saling berkomunikasi. Kenapa Aileen tak pernah mau mendengarkannya? Seo, lelaki yang paling ia benci mencoba mendekati istrinya.


Aileen hanya bisa menggeleng lemah, berulang meminta maaf dengan tanpa suara. Aileen tak bisa menjelaskannya pada Jymin, ia takut. Ketakutan itu seakan berakar dalam pikirannya. Pikiran negatif menghujamnya dengan bertubi-tubi. Hingga berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya. Apa yang akan dilakukan Seo selanjutnya? Apa Seo akan tahu bahwa ia masih hidup hingga tetap melukai Jymin? Apa Seo akan membunuh Jymin ataupun sebaliknya, membunuhnya?


Jey yang sejak tadi melihat kemarahan Jymin, merasa geram. Benar-benar Jymin ini, tak melihat dulu keadaan. Jymin salah, ini bukan tempat yang tepat untuk menyalurkan emosi. Aileen masih sakit.


Masih, Jymin mengabaikan Jey. Jymin tetap pada emosinya.


Jymin tersenyum kecut. Melihat kediamannya Aileen yang tak sedikitpun merespon. “Kau tak ingin menjawab? Aku benci dengan orang yang melakukan kesalahan. Aku benar-benar kecewa denganmu Aileen.”


Jymin pergi dengan rasa kecewa yang teramat menghantam hatinya.


Aileen sedikit terperanjat dengan dentuman pintu yang begitu brutal di tutup oleh Jymin. Aileen hanya bisa menangis. Ingin sekali mengatakan yang sebenarnya, tapi ia belum memiliki keberanian yang cukup. Tentu, Aileen akan memberitahu Jymin tapi bukan sekarang, mungkin nanti.


Jey menghela napas melihat kepergian Jymin. Pandangannya kembali tertuju kearah tempat tidur yang di tempati Aileen. Jey tahu, sepanjang Jymin marah tadi, Aileen hanya menangis saja. Jey tahu, Aileen masih merasa ketakutan. Siapa yang tidak takut, ketika hampir saja di hadapi oleh kematian?


Sudah sejak tadi, Jey di kamar Aileen sebelum Jymin muncul. Hingga gadis itu sadar, Jey hanya diam. Sebab gadis itu langsung menangis dalam diam. Tungkainya melangkah mendekati Aileen yang tertidur membelakanginya, Jey hanya duduk di tepi kasur menatapi nanar punggung Aileen.


“Seorang perawat memeriksamu, dia bilang kau baik-baik saja. Bagaimana perasaanmu, apa benar kau baik-baik saja?”

__ADS_1


Meski Aileen tak tahu siapa itu. Aileen bisa menyadari bahwa seseorang itu punya ikatan yang baik dengan Jymin. Karena beberapa hari ini, ia sering kali melihat kebersamaan mereka. Lantas, Aileen mengangguk lemah. Mengiyakan pertanyaan itu. Ia memang baik-baik saja, tapi hatinya tidak baik. Hatinya hancur melihat perubahan dratis Jymin terhadapnya.


Jey menghela napas panjang dengan respon Aileen yang seperti itu. “Aku sudah banyak mendengar tentangmu. Mungkin kau belum mengenaliku. Kenalkan aku Jey, paman Jymin. Jymin menganggapku hanya keluarga dia satu-satunya. Ah, anak itu. Dia memang seperti itu, bahkan paman di paksa untuk menjadi Sekretarisnya. Padahal umur paman yang setua ini, seharusnya di rumah saja kan?”


Jey terkekeh kecil di akhir ucapannya. Mencoba mencairkan atmosfer ruangan yang tadi sempat tak enak. Dan, berusaha agar Aileen terhibur sedikit, melupakan kesedihan. Jey menunggu respon Aileen yang mungkin kepo dengan kelanjutan ceritanya. Tapi nyatanya, Aileen cuma diam. Lagi, Jey menghela napas panjang. Sepertinya, susah sekali mengobati perasaan yang sudah tersakiti.


“Sifatnya memang seperti itu, tapi dia sedang berusaha melindungimu. Dia sangat mencintaimu, dia mencintaimu lebih dari yang kamu bayangkan. Dia sebenarnya tak ingin menyakiti perasaanmu.”


Ya, Aileen tahu Jymin tak ingin menyakiti perasaannya. Justru, Aileen yang menyakiti perasaan Jymin. Membuat lelaki itu kecewa akibat tingkah lakunya yang keras kepala tak ingin mendengar perintah Jymin. Aileen tak mengerti, harus bagaimana mengembalikan Jymin yang lembut seperti dulu. Mungkin, rasa kecewa itu akan sangat sulit di sembuhkan.


“Aku tahu kau melakukan itu pasti ada alasan. Tapi bukankah sebaiknya mengungkapkannya daripada memendamnya sendiri?


Benar, alasan. Aileen melakukan itu hanya ingin hidupnya kembali bahagia. Terlepas dari Jymin dan ia pun bisa kembali ke kehidupannya dulu. Egois! Iya, memang egois. Aileen hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa tahu bahwa seseorang itu akan sakit. Jymin, suaminya. Aileen tak sedikitpun peduli dengan perasaan suaminya. Tak terkecuali, Aileen juga penasaran dengan semua perkataan Seo.


Aileen berusaha mengeluarkan suara di tengah bibirnya yang bergetar. Hingga akhirnya, suara itu terdengar sangat lirih dan terbata-bata. “A—ku ta—kut paman, ta—kut.”


Jey memejamkan matanya sejenak, suara itu terdengar sangat memilukan. Hatinya merasa iba. Seharusnya, Aileen mendapatkan pelukan menenangkan dari Jymin, bukan sebuah bentakan. Tapi, Jey mengerti. Jymin sangat kecewa hingga dia terpaksa melakukan itu. Jey mengulurkan tangannya ragu, hendak menyentuh bahu kecil yang bergetar itu. Jey mengelus lembut bahu itu, hanya ini yang bisa Jey lakukan.


“Kau percayakan, bahwa Jymin bisa melindungimu? Jadi, kau tidak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak. Jymin akan membereskannya.”


***


Huhu siapa nih yang msi nunggu cerita ini up?


Keknya gda;'v


Makasih yg udh baca. Lope yo😘


Maaf lama up, krn ada kendala dgn naskah IB. Alhamdulillah, udah selesai.


Mkasih sekli lagi😆


35 vote ± 35 komen \= UP

__ADS_1


Jangn lupa vote&komen😊


__ADS_2