
Jangan lupa Votmen ya!')
***
Pistanthrophobia, mungkin istilah itu sering terdengar. Jymin mengalaminya, fase dimana ia sulit sekali mempercayai orang lain kecuali Jey yang sudah ia anggap sebagai Pamannya. Sering, Jymin merasa takut untuk kembali bekerja, takut Untuk berbicara dengan orang-orang yang kelihatannya baik dengannya namun sebenarnya tidak. Jymin tak memiliki kemampuan untuk mengenali siapa yang benar-benar tulus padanya dan siapa yang hanya pencitraan di depannya.
Masalah trauma dengan keluarganya mungkin itu salah satu penyebabnya, Jymin pernah dibohongi, dikecewakan, dan dikhianati oleh orang terdekatnya. Jymin masih hidup dengan orangtuanya sejak berumur tiga tahun, masih sangat kecil Jymin saat itu, Jymin tak tahu apa-apa bahwa kala itu Jymin kehilangan orangtuanya, semua orang menyembunyikan apa yang menyebabkan orangtuanya meninggal,—lebih dari tiga tahun Jymin mencari informasi terkait meninggal nya orangtuanya, tapi belum menghasilkan apapun. Sebenarnya Jymin masih sangat sulit untuk menerima bahwa orangtuanya sudah meninggal kannya. Tapi Jymin tahu, ini sudah takdirnya. Orangtuanya menyerahkan semua warisan padanya, Jymin mengelola perusahaan terbesar keluarganya—AJ Amstelco.
Selama menjalani itu, tentu saja tak mudah, banyak sekali yang mencoba merebut posisinya saat ini, tapi Jymin jauh lebih cerdik karena sudah mengantisipasi sebelum nyaris terperangkap.
Jymin tahu beberapa orang sinting yang bermain-main dengannya, Jymin punya beberapa nama untuk dicurigai dan hanya tinggal waktu yang tepat untuk memberi perhitungan.
Jymin menarik satu napas panjang, setelah selesai melihat beberapa laporan keuangan perusahaannya, punggungnya disandarkan di kursi seraya memijit pangkal hidungnya. Ia mengangkat kedua kakinya ke atas meja mencari posisi ternyaman. Jymin melirik sekilas kearah Jey yang berdiri di depannya.
“Kau sudah melihatnya bukan? Karena kau sudah melihatnya, kau harus melaporkan padaku apa saja yang dia lakukan. Awasi semua kegiatannya.”
Jey yang mendengar perintah penuh penegasan itu mengangguk patuh. “Baik, Tuan.”
Jey bisa merasakannya, bagaimana rasa kesalnya Jymin saat kemarin mereka gagal mengejar wanita yang kata Jymin merupakan istrinya.
Jymin tak menemukan Aileen.
***
Langkah girang Aileen yang sedang memutari Taman terhenti saat mendengar sebuah tangisan anak kecil yang hanya berjarak dua meter darinya. Anak kecil itu menangis tersedu-sedu di dekat kolam. Ah, Aileen baru menyadari anak kecil itu menangis karena Es krimnya terjatuh. Lantas Aileen melirik kantong yang berisi Es krim di tangannya.
Haruskah Aileen memberi salah satunya?
Tak tega, melihat anak kecil itu terus menangis tanpa henti membuat Aileen langsung melangkah mendekat. Setelah sampai, Aileen berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi anak kecil yang begitu terlihat mengemaskan. Aileen langsung menyodorkan sebuah Es krim rasa coklat di depan anak kecil itu, sembari berkata. “Hei, jangan menangis. Kakak punya yang baru lho, nih ayo ambil!”
Anak kecil yang masih mengusap-usap matanya perlahan mendongak menatap Aileen yang sedang tersenyum manis. Aileen menahan rasa gemasnya, sorot mata bulat yang memerah itu memancarkan kepolosan dengan wajah yang imut, pipi gembil dan tubuh yang gembul. Aileen tersenyum lembut, saat melihat gelagat anak kecil itu yang agak ragu mengambil Es krim di tangannya. Setelah sudah di genggam di tangan mungil itu, anak kecil itu langsung bersorak gembira sembari berlari meninggalkannya.
Aileen tersenyum kecil, lalu kembali menegakkan tubuhnya dengan pandangan mata melihat punggung anak kecil itu yang berlari kearah ibunya. Tanpa menyadari bahwa kaki Aileen yang sudah berpijak hampir melewati tepi kolam, otomatis saat Aileen sedikit menggerakkan tubuhnya. Jantung Aileen mendadak terhenti, matanya membulat sempurna, pekikan keras meluncur dari bibirnya, tak menyangka bahwa tubuhnya malah kehilangan keseimbangan hingga terjun ke dalam kolam.
Hal pertama kali Aileen rasakan saat tubuhnya sudah menyentuh air adalah; apa ini akhir dari hidupnya?
Mengingat bahwa selama ini, Aileen tak bisa berenang, ia tak pernah mau belajar setiap kali Ayahnya mengajaknya berlatih. Aileen merutuki dirinya. Ia menyesal.
Konyol, apa ia akan mati dengan cara seperti ini?
__ADS_1
Ketika Aileen sudah berusaha menggerakkan seluruh tubuhnya, mencoba menggapai puncak, berharap tubuhnya terangkat sehingga bisa menggapai udara. Aileen benci kenyataan bahwa ia tak mendapatkan apapun apa yang ingin ia raih, tidak tepian, tidak juga yang ada menolongnya. Padahal ini sudah lebih dari tujuh detik berlalu bahkan hidungnya sudah menyedot sedikit air. Ia merasa sesak, dadanya sakit sekali.
Tubuhnya menjadi sangat lemah, bahkan ia merasakan tubuhnya seakan tenggelam lebih dalam. Tapi tiba-tiba, Aileen bisa merasakan bahwa seseorang menemukan tubuhnya, menariknya keatas.
Akhirnya, Aileen bisa meraih udara sebanyak-banyaknya, hidungnya rasanya begitu sakit, ngilu sekali. Aileen hanya bisa terbatuk-batuk kecil dengan mata terpejam disela-sela leher yang Aileen sadari bahwa postur tubuh yang menyelamatkannya adalah seorang laki-laki. Aileen memegang erat bahu seseorang itu saat membawanya menepi di pinggir kolam, mengeluarkannya dalam air, lalu mendudukkan tubuhnya di daratan. Setelahnya, Aileen segera mencari gelang di pergelangan tangannya tanpa sadari seseorang itu tertegun melihatnya, Aileen bernapas lega saat gelang itu masih tersemat manis disana. Aileen hendak mengutarakan rasa banyak terimakasih nya, tapi terhenti saat seseorang itu lebih dulu membuka suara.
“Ceroboh! Kamu bisa saja terluka. Kamu baik-baik saja kan, Aileen?”
Aileen mematung, suara ini begitu dikenalnya hingga mampu membuat jantung Aileen berdetak tiga kali lebih cepat, refleks Aileen mendadak panik seperti orang yang habis ketahuan mencuri, seraya menyembunyikan gelang di belakang tubuhnya. Hanya dalam hitungan detik, Aileen merasakan dadanya sesak dan tubuhnya gemetar. Aileen tak pernah siap melihat wajah itu lagi.
Bagaimana bisa ia bertemu Jymin lagi setelah satu tahun?
Namun disisi lain, Aileen juga berjuang keras untuk tetap mengait logika bahwa dirinya harus bersikap biasa saja. Tak ingin membuat Jymin merasa curiga, Aileen langsung menegakkan tubuhnya sembari menarik senyum tipis dengan pandangan menunduk kebawah.
“Kamu tidak apa-apa kan, Aileen? Apa ada yang sakit.”
Aileen mengalihkan pandangannya di pergelangan tangannya satu lagi, berpura-pura melihat jam padahal Aileen tak memakai Jam. “Oh, aku ada urusan. Maaf, Terima kasih sudah menyelamatkan saya.”
Setelah menyelesaikan ucapan dengan ritme cepat itu, Aileen langsung berbalik, melarikan diri dari hadapan Jymin tanpa sedikitpun melihat kebelakang, padahal Jymin terus meneriaki sebuah perintah untuk berhenti.
***
Namun, kata sambutan itu tertahan di dalam kerongkongan saat menemukan seseorang yang tidak diharapkan untuk datang. Aileen berusaha tenang, entahlah kali ini Aileen ingin sekali memegang jantungnya, sangat takut jika jantungnya akan copot dan menggelinding ke bawah. Aileen menelan ludahnya berulang kali. Bagaimana Jymin tahu tempat ia bekerja, padahal Restoran ini baru saja dibuka.
“Kamu mengenaliku kan?”
Aileen memejamkan matanya sejenak, suara itu keluar begitu pedih, ada getir kehancuran disana bahkan mungkin penyesalan.
“Tidak ... Saya tidak mengenalmu.”
Aileen mengucapkan dengan lirih, kepalanya sedikit menunduk, menghindari tatapan mata Jymin yang selalu berhasil membuatnya lemah.
Hati Jymin terasa seperti dirobek, pedih sekali efek dari Kalimat itu, Jymin menatap Aileen dengan tatapan nanar nya, lebih tersayat lagi Aileen sudah tak memakai gelang pemberiannya—gelang yang menjadi sanksi bahwa kala itu ia melamar Aileen dengan sangat romantis. Namun, Jymin tetap sadar apa kesalahannya. Apa ini sebuah karma untuknya? Istrinya tak mengenali dirinya lagi.
Sekuat mungkin, Jymin menahan diri untuk tidak melangkah mendekat—memeluk Aileen yang berdiri di depannya, ia merasa tak pantas melakukannya lagi. Ia tak tahu harus tenang atau justru merasa makin kacau, sungguh sulit sekali menerima kenyataan bahwa istrinya tidak mengenalnya, Jymin takut bahwa ia tidak bisa bersama Aileen lagi.
“Aileen, kamu sungguh tidak mengenaliku, mengingat ku sedikit saja?”
“Saya tidak tahu kenapa kau bisa tahu nama saya. Tapi, saya sungguh tidak tahu siapa sebenarnya kau!"
__ADS_1
Selama Aileen mengucapkan kalimat itu, setiap kalimat yang keluar—Aileen menahan napas sesaknya. Tapi kali ini, apa yang ia lakukan sudah benar, Aileen merasa ini memang sudah waktunya bersikap seperti ini. Walaupun tak bisa dipungkiri, Aileen juga tak bisa berbohong bahwa ia sangat merindukan sosok Jymin.
Awalnya, Jymin pikir pertemuan ini akan berakhir manis, namun malah membuat dada Jymin menyempit mendengar Aileen mengatakan kalimat itu, pertemuan ini bagaikan sebuah garam yang ditaburkan ke dalam luka hatinya.
“Ka-mu sangat mirip dengannya. Oh aku mengerti, aku menemukan yang salah.”
Aileen sempat menoleh pada raut wajah Jymin yang terlihat terpukul, tapi Aileen tetap berusaha tenang. Ia hendak kembali mengusir Jymin lagi, tapi Jymin malah sesukanya melenggang masuk melewati dirinya dan memilih duduk di kursi dekat jendela kaca.
Mata Aileen melebar melihatnya, kali ini ada sepercik kekesalan dengan tingkah Jymin yang seenak jidat, sifatnya memang tak pernah berubah—egois dan keras kepala. Jadi, Aileen mengatur napasnya lalu berjalan mendekati Jymin yang sudah duduk manis disana.
“Apa kau mengikuti ku sampai sini?”
“Ya, aku mengikuti mu.”
“Permisi, saya tahu kau telah menyelamatkan saya. Tapi aneh kalau kau mengikuti saya sampai kesini, apa kau tahu itu tidak normal? Kau membuat saya merasa tidak nyaman, sebaiknya kau pergi!
Masih butuh waktu untuk memahami semua yang terjadi. Istrinya masih tampak begitu kesal, tak ada senyum yang ia rindukan sama sekali dari bibirnya. Jymin menyentuh bibir bawah tebalnya, menandakan ia sedang bingung—tapi Jymin tetap berusaha mempertahankan obrolan ini. “Hmm, satu porsi pancake durian, juga tolong beri aku secangkir teh dengan sedikit gula.”
Jymin langsung memelas ketika melihat istrinya hendak kembali berdebat lagi, dengan bibir membentuk senyum ringan disana, meskipun saat ini Jymin begitu sulit untuk menarik senyum. “Aku lapar saat ini.”
Jymin tidak bisa mengalihkan tatapannya, sorot matanya terus menatap lurus kearah Aileen yang sejak tadi mengomel di depannya. Wajah itu, mata itu, bibir itu—sungguh Jymin sangat-sangat merindukannya.
Ingin sekali Aileen berteriak, Jymin benar-benar membuatnya kehilangan seluruh pasokan kesabaran. “Terserah, setelah ini jangan ikuti aku lagi.”
Aileen sungguh kesal sekali, raut wajahnya memancarkan kegelisahan akan sesuatu yang mengganjal dalam benaknya.
“Sete---,”
“Bunda ...”
Ucapan Aileen terhenti begitu saja, saat suara anak kecil mengalihkan perdebatan nya dengan Jymin. Tak dipungkiri, Jymin tertegun melihat anak kecil yang memanggil Aileen dengan sebutan Bunda—sungguh Jymin menganggap semua ini hanyalah sebuah lelucon atau mimpi saja, sampai kapanpun Jymin tidak akan pernah menerima dengan berbagai pertanyaan yang mendadak muncul di otaknya.
Apa Aileen menikah lagi?
Atau;
Bahkan memiliki anak dengan lelaki lain?
***
__ADS_1
Lanjut?