
Aileen membuka matanya dengan hati-hati, berharap apa yang dialami beberapa hari ini hanyalah sebuah mimpi buruk—bertemu dengan Jymin mimpi buruk yang paling mengerikan. Aileen berharap bangun dengan melihat atap putih hitam seperti biasa, Aileen sangat berharap akan mendengar teriakkan Bundanya yang menyuruh segera turun untuk makan. Namun, tepat ketika mata Aileen terbuka sempurna, dan kesadarannya berangsur kembali, Aileen malah dikejutkan fakta bahwa ini bukan yang diharapkan nya. Aileen tak seharusnya berada disini, tak semestinya berbaring di tempat ini.
Kasur ini.
Ruangan ini.
Aroma ini.
Tidak!
Tidak mungkin!
Aileen tak ingin disini, ia tak mau kembali kesini. Tempat yang penuh dengan memori yang begitu menyesakkan hatinya.
Tidak!
Aileen menggeleng keras. Bagaimana bisa ia kembali berada di kamar Jymin? Apa Jymin yang menemukan nya saat pingsan kemarin.
Aileen lantas menegakkan tubuhnya, berusaha mengatur napasnya untuk tidak terlalu panik. Aileen mengitari kamar, tak ada Jymin disini. Bagus, Aileen bisa sesegera mungkin melarikan diri. Sekilas Aileen melihat Jam dinding 02.30 AM, sudah terlalu larut, Aileen khawatir—Bundanya pasti mencarinya.
Seketika Aileen mengambil tas selempang nya, merongoh isi tas mencari ponsel lalu mengirim pesan—Aileen harus mengabari bundanya. Setelah pesan itu terkirim, Aileen siap-siap buat pergi, namun baru beberapa langkah, Aileen mendadak berhenti perutnya menjadi sakit. Ah, Aileen lupa, bahwa sejak tadi ia belum sempat mengisi makanan untuk perutnya. Aileen mencibir dalam hati di sela-sela lenguhannya, perutnya memang tak pernah bisa diajak kompromi.
Maka dengan sangat terpaksa, Aileen melangkah keluar kamar seperti orang pencuri menuju dapur untuk memakan apapun yang ada disana. Tentu saja, yang bisa di konsumsi, makanan yang ada di tempat Jymin selalu tersedia banyak.
Setelah sampai dapur, Aileen tersenyum lega karena melihat situasi yang sangat sepi. Aileen bisa leluasa mengambil apapun yang ia inginkan. Aileen melangkah pelan, membuka lemari pendingin, ia tersenyum puas melihat isi kulkas yang begitu banyak Snack dengan berbagai jenis rasa, Aileen mengambil salah satunya, tak lupa ia juga mengambil satu botol susu rasa coklat. Aileen berseru dalam hati, setelah ini, Aileen akan segera pergi.
“Sudah bangun, hm?”
Sekujur tubuh Aileen membeku, tanpa sengaja Aileen menjatuhkan makanan yang baru saja ia ambil. Sungguh, Aileen terkejut bukan main mendengar suara yang begitu dikenalnya. Jymin, itu pasti Jymin. Sejak kapan? Sejak kapan Jymin disini, bahkan rasanya langkah pria itu tak terdengar oleh telinganya. Spontan, Aileen menoleh melihat Jymin, terlalu dekat, Jymin terlalu dekat dengannya. Perlahan langkah Aileen mundur kebelakang, lelaki itu begitu terlihat santai menatapnya, menutup kulkas lalu melipat kedua tangan di dada dengan tubuh yang sudah disandarkan di kulkas. Tapi satu yang membuat Aileen menjadi ketakutan, Jymin menatapnya tak biasa, ini ekspresi pertama kali yang Aileen lihat hingga Aileen sendiri tak bisa mengartikan maksud tatapan itu. Aneh.
Langkah kaki Jymin perlahan berjalan kearahnya, Aileen mendadak panik berlipat-lipat ganda. “Menjauh, jangan mendekat, jangan menyentuhku.”
Aileen memekik keras, sekujur tubuhnya menjadi gemetar. Percuma jika Aileen berteriak minta tolong ataupun berlari, Jymin pasti bisa menangkapnya. Rasanya Aileen ingin menangis melihat Jymin menatapnya penuh mengerikan dan terus berjalan mendekat kearahnya.
“Kau tahu? Apa yang ku pikirkan satu tahun terakhir ini, aku gila, aku depresi karena kau menghilang begitu saja. Kau tahu bagaimana perasaan ku heh? Jangan tinggalkan aku lagi, mulai sekarang jangan kemana-mana lagi.”
Aileen menggeleng keras mendengar ucapan itu, tidak! Tidak ia tidak mau seperti ini. Aileen menatap Jymin tajam, ada kemarahan dan kebencian disana. Aileen mundur lagi, sebisa mungkin Jymin jangan sampai menjangkaunya. Tapi kali ini, keberuntungan tak memihak padanya, Aileen benar-benar sudah di ujung tembok dan membentur dinding. Aileen hanya bisa memejamkan matanya, ia tak ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya, Aileen merasakan bahwa Jymin semakin mendekat, terbukti dengan bulu Aileen mendadak bergedik karena napas hangat Jymin menyapu tengkuknya.
Spontan Aileen langsung mengelak, memberontak tapi sia-sia, Aileen kalah telak dengan Jymin yang lebih dulu mengunci tubuhnya, mengurungnya seakan menjadi borgol yang paling ampuh untuk melumpuhkan gerak.
__ADS_1
Tatapan Aileen menjadi lebih tajam, menatap Jymin yang memandangnya dengan tanpa ekspresi, Sangat datar.
“Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku ingin menghilang dari hidupmu Jymin, aku tidak mau disini. Aku ingin hidup seperti yang aku inginkan dan ku mau. Aku tidak bisa bersamamu, Jymin kau itu gila.”
Aileen mengepalkan tangannya, ia marah dengan Jymin yang selalu seenaknya, Aileen muak dengan Jymin yang menjadikannya seperti Boneka yang diperlakukan semaunya.
“Tidak juga.”
Mendadak Aileen menelan ludahnya merasakan dominasi Jymin yang begitu kuat, Aileen merasa dirinya begitu kecil di hadapan sosok pria yang tengah menatapnya dengan senyum seringai. Aileen menarik napas beberapa kali, memberi kekuatan agar tidak takut.
Aileen tercekat, ketika menyadari Jymin semakin mengikis jarak antara mereka, bergerak sedikit saja sudah berciuman. Tak hanya itu, Jymin juga membelai pipinya lembut, Aileen sampai menahan napas karena itu.
“Sayang, kau menyakiti hatiku saat berwajah seperti tadi. Aku tidak peduli apa yang kau katakan padaku, apapun perlakuan mu, kau harus tetap bersamaku.”
Jymin tersenyum asimetris. Aileen mendengus geram melihat senyum itu, masih dalam posisi saling menatap dengan Jymin. Perlahan Aileen mengatur napasnya, kali ini ia sedikit menantang dan berani. Tatapan keduanya menjadi lebih intens.
“Kau brengsek yang tidak memiliki hati, tidak punya ot--.”
Ucapan Aileen terputus ketika bibir Jymin tiba-tiba saja menyambar bibirnya, mata Aileen melotot dan mencoba meronta—berusaha mendorong Jymin tetapi dua lengannya sudah lebih dulu di jangkau Jymin dan di tempatkan di kedua dinding. Aileen mengeram rendah di sela-sela ciuman itu, Aileen tak ingin Jymin menyentuhnya, ia terlalu benci dengan lelaki ini. Aileen ingin sekali berteriak, memaki atau bahkan menampar pipi lelaki ini. Tapi Aileen tak bisa, ia terlalu lemah untuk melakukan semua itu, kekuatannya terlalu kecil jika dibandingkan dengan Jymin yang begitu kuat.
Bibir Jymin terus menguasai bibirnya yang mungil, Aileen merasakan kehilangan akal sehatnya seperti menguap entah kemana saat Jymin mengesap lembut miliknya. Lama kelamaan seiring berjalannya waktu, Aileen merasakan getar yang berbeda. Semua perlakuan Jymin pada tubuhnya, membuat Aileen lemah tanpa bisa berbuat apapun. Tidak ada perlawanan lagi, hanya kepasrahan karena jujur saja, Aileen sudah bosan untuk melawan semua apa yang ia rasakan.
Jymin tersenyum tipis, satu tangannya menyentuh pipi Aileen, mengusapnya lembut. “Haruskah aku melakukannya? Menciummu tanpa henti. Jangan membuat semua ini semakin rumit Aileen. Kita sudah impas, kita menyakiti keduanya.”
Seketika darah Aileen mendidih mendengarnya, jantung Aileen terasa seperti di tekan kuat saat Jymin menekankan kata terakhir nya. Dadanya terasa sangat sesak.
“Tidak akan pernah impas, tidak ada balasan yang setimpal yang bisa menyembuhkan luka hati aku. Kau mencoba membunuhku Jymin, kau lupa malam itu hah!”
Aileen berteriak keras di depan wajah Jymin yang masih menatapnya datar, tak ada raut penyesalan disana. Sebenarnya apa yang ada di otak Jymin?
Jymin kini hanya tersenyum dingin, melihat Aileen yang berada di bawah kuasanya—mata indah itu menyiratkan emosi yang menyentak hebat. “Maaf ... Apapun yang terjadi tetaplah bersamaku. Kau tahu? Aku bisa melakukan apapun yang ku inginkan. Jadi jangan pernah melarikan diri lagi. Kamu harus tetap ditempat ku berada. Mengerti?” Jymin merubah senyum dinginnya menjadi seringai. Aileen terdiam sejenak, dan bahkan sempat menahan napas ketika bisikan Jymin terdengar menantang dan penuh penegasan—menusuk sekali.
“Dan? Meskipun aku tidak bahagia akhirnya. Kau menyiksaku Jymin. Tolong, biarkan aku pergi, kumohon!” Aileen sudah terlalu lelah melawan, ia hanya bisa memohon menatap Jymin dengan tatapan sendunya.
Jymin terkekeh hambar, lalu menarik satu sudut bibirnya—membentuk senyuman tipis menatap Aileen dengan wajah seriusnya.
“Kamu tahu? Tidak ada efeknya untukku kau memohon seperti ini. Aku akan selalu mengawasimu agar kau tidak bisa menghilang seperti waktu itu. Jadi semuanya terserah padaku, itu berarti tidak ada cara untuk melarikan diri. Kau tahu aku dengan baik kan? Setelah aku menetapkan pikiranku, aku tidak akan pernah berubah pikiran. Itu bakatku!” Jymin berucap lirih namun menusuk.
“Kau brengsek, gil--.”
__ADS_1
Bibir Aileen menjadi terkatup saat tiba-tiba Jymin kembali mendaratkan bibirnya diatas bibir Aileen—hanya kecupan singkat, tidak terlalu lama seperti tadi hanya sebentar namun mampu membuat Aileen terdiam.
“Sssstt ... Jangan berkata kasar pada suamimu sayang.”
Ingin sekali Aileen membawa tangannya untuk menampar Jymin. Lelaki ini sedikit pun tak punya hati. Tapi Aileen hanya bisa mendadak terdiam, saat Jymin kembali menghapus jarak, lalu mendaratkan bibir tebalnya itu di keningnya—mengecup pucuk kepala Aileen dengan lembut. Setelah bibir Jymin terlepas dari keningnya, telinga Aileen mendengar langkah kaki lain dari arah belakang punggung Jymin.
Jymin memundurkan langkahnya, lalu berdiri menyamping hingga membuat Aileen bisa melihat dengan jelas dua pria berbadan kekar bernampilan rapi, berdiri tegap menghadapnya. Aileen menautkan alisnya kebingungan kearah Jymin.
Jymin tersenyum tipis melihat raut kebingungan Aileen, Jymin menaiki alis kirinya sebelum menjawab. “Mulai sekarang, mereka akan melayani mu. Mereka akan menjagamu.”
Jymin mengulurkan tangannya, menyentuh kepala Aileen lalu mengusapnya lembut. “Jika masih lelah, tidurlah lagi. Aku pergi sebentar.”
Jymin mulai berjalan mundur, lalu sempat mengedipkan sebelah matanya. Aileen masih mencoba mencerna dengan baik perkataan itu, seakan sudah tersadar maksud dari ucapan Jymin, Aileen spontan berteriak sembari melihat punggung belakang Jymin yang berjalan pergi makin menjauh.
“Berhenti Jymin, aku tidak mau!!”
Percuma, pria itu menghilang dari pandangannya tanpa sedikitpun menggubris ucapannya. Siap-siap Aileen akan hidup seperti di penjara.
Jymin benar-benar kejam.
***
Aileen mengubah posisi duduknya menjadi bersandar, menyamping, terlentang di sofa. Percayalah, Aileen sudah berulang kali melakukan itu. Aileen bosan sekali, setiap jamnya Aileen hanya bisa menonton TV, makan, minum dan tidur hanya itu yang Aileen kerjakan. Tentu saja, semua pergerakannya selalu diawasi oleh pria berotot yang saat ini sedang mengawasinya di belakang. Sebenarnya, Aileen sudah begitu kangen dengan Restorannya—berkerja dengan leluasa tanpa ada yang memerintahnya, Aileen terpaksa menyuruh Bundanya untuk mengurus Restorannya itu.
Aileen mendengus mengingat perkataan Jymin, katanya hanya pergi sebentar. Tapi nyatanya, lelaki itu belum pulang-pulang dua hari ini. Ingat! Dua hari, lelaki luar biasa. Pembohong besar.
Rindu? Jika kalian mengira Aileen rindu dengan Jymin, itu tak sama sekali. Amit-amit Aileen rindu dengan lelaki seperti itu, ia hanya ingin protes dengan tindakan Jymin padanya. Memberi dua Bodyguard untuk menjaganya, bukankah ini berlebihan? Lebih menyenangkan lagi, Aileen bisa pergi dari rumah ini.
Walaupun Aileen tahu usahanya pasti sia-sia lagi, sebab beberapa hari ini Aileen mencoba kabur tapi selalu ketahuan—tertangkap basah. Menyebalkan sekali.
“Nona, kami sudah memanaskan airnya. Sebaiknya nona segera mandi. Tuan Jymin akan pulang sebentar lagi.”
Aileen hanya mengangguk malas dengan perintah Bodyguard nya. Baiklah, lelaki brengsek itu sebentar lagi akan menampakkan batang hidungnya. Maka, Aileen segera menuruti perintah itu, namun baru beranjak dari duduk nya, dering pesan ponsel Aileen menghentikan pergerakannya, Aileen meraih ponselnya disaku—mendapati satu pesan dengan nomor tidak di kenal. Dahi Aileen berkerut halus, tanpa menunggu lagi, Aileen membuka pesan itu.
[Woahh, ternyata kau sudah kembali pada Jymin. Apa kau tidak sayang pada nyawamu? Tanganku sudah sangat gatal, ingin menembakmu di depan suamimu. Ahh, sudah lama sekali aku menantikannya]
***
Maaf belum ada feelnya;'(
__ADS_1