
Jymin tidak mengerti.
Jymin bingung sekali dengan perubahan sikap Aileen setelah ia menanyakan tentang perasaan Aileen padanya. Aileen bukan menjawab pertanyaan yang sesuai, Aileen malah menginginkan kerumah Bunda. Perubahan Aileen sangat dratis, Aileen kesan cuek dan tak peduli. Aileen seakan menciptakan tembok besar antara mereka, Aileen tidak ingin di dekatnya. Tak bisa dipungkiri, Jymin bukannya marah tapi Jymin berpikir ini sedikit menyenangkan, menimbulkan rasa gemas tersendiri dengan perang dingin yang diciptakan Aileen.
Jymin tadi sempat mempertimbangkan. Memberi izin atau tidak untuk Aileen. Namun jika Jymin mencegah Aileen kerumah Bunda. Dipastikan Aileen akan semakin marah dan kesal padanya. Setelah memberi izin, Aileen malah ingin pergi di kawal saja. Tapi Jymin memaksakan diri untuk pergi bersama Aileen, Jymin tak mau terjadi sesuatu pada Aileen. Sudah Jymin katakan bukan? Jymin akan selalu melindungi Aileen.
Jymin memandangi punggung belakang Aileen, berjalan di belakang Aileen sembari mengawasi. Jymin tak mau memperkeruh suasana, jadi Jymin membiarkan Aileen tenang dulu dengan menyendiri agar pikiran Aileen lebih jernih. Jymin tak sedikitpun menanyakan sebenarnya Aileen kenapa. Jymin hanya mengikuti apa yang dilakukan Aileen, seolah ada rasa gengsi yang besar membuat satu sama lain saling diam.
Jymin menyadari setiap langkah perjalanan mereka kerumah Bunda, ada sedikit perubahan tempat keberadaannya. Perumahan ini sedikit tertutup, padahal sebenarnya tadi Jymin menggunakan mobil. Tapi melihat gang jalan yang sempit, tak memungkinkan mobil untuk masuk. Jadi terpaksa mereka berjalan kaki. Tak jauh, hanya beberapa meter saja.
Mereka tetap saling diam, membisu. Tak ada salahnya satunya yang ingin membuka suara. Aileen yang malah menghindari tatapan dari Jymin, sedangkan Jymin masih terus memperhatikan Aileen hingga mereka sampai di depan pintu rumah Bunda.
Setelah pintu terbuka, Bunda Aileen tersenyum melihat kedatangan Aileen dan Jymin. Aileen langsung berlari masuk ke kamarnya, tanpa berkata apapun untuk sekedar menyapa Bundanya.
Tidak biasanya Aileen seperti itu.
Bunda Aileen dan Jymin bersamaan menatap Aileen yang berlari, hingga mereka dibuat sedikit tersentak saat Aileen menutup pintu kamarnya brutal dan terdengar suara mengunci yang cukup keras. Tidak ada niat dari keduanya, untuk bergegas mengejar Aileen. Mereka rasa Aileen memang perlu untuk menyendiri. Bunda Aileen—Birai, menoleh kepada sosok tinggi di depannya, Jymin seketika merasa sungkan begitu melihat tatapan bingung dari mertuanya.
“Ada apa? Kenapa dengan Aileen, apa ada terjadi masalah.”
Birai berucap cemas tapi masih tetap dengan suara yang lembut, karena Birai tentu sangat menghargai Jymin, menantunya.
Jymin mengembuskan napas pelan, tetap mencoba untuk tenang. Sedikit tercipta suasana canggung dengan mertuanya. Mungkin ini efek dari Jymin yang jarang sekali berjumpa dengan Bunda Aileen. “Tidak ada apa-apa Bunda, kami baik-baik saja. Aileen sedikit sensitif beberapa hari ini.” Jymin menjelaskan dengan pelan. Jymin sendiri saja bingung dengan sikap Aileen yang seperti itu. Mood Aileen gampang sekali berubah.
Birai tersenyum tipis mendengar penjelasan menantunya. Walaupun jarang bertemu, Birai tahu persis bagaimana perilaku Jymin. Jymin adalah lelaki yang pengertian dan lembut, jadi Birai tak ada sedikitpun pemikiran negatif tentang menantunya. Birai memandangi manik Jymin, terlihat jelas sekali di binar mata itu, jika Jymin begitu mencintai Aileen. “Maafkan sifat Aileen yang masih kekanak-kanakan. Bunda tidak habis pikir dengan anak itu, sikap masa kecilnya masih belum bisa diubahnya. Oh, ya Bunda terkejut sekali dengan kedatangan kalian. Aileen tidak mengabari Bunda dulu. ”
Birai menutup pintu utama setelah mempersilahkan Jymin masuk. Jymin menatap Birai dengan senyum tak enaknya. “Maaf Bunda. Jymin beberapa hari ini sibuk sekali.”
Jymin berjalan canggung mengikuti Bunda Aileen, sepertinya arahnya akan menunju meja dapur. Birai menarik senyum hangatnya ketika menoleh menatap Jymin yang mengikutinya dari arah belakang. Berpikir untuk mencairkan suasana yang hmm sedikit canggung, Birai lantas mengalihkan pembicaraan.
“Sudah makan siang? Bunda baru saja selesai masak. Ayo makan dulu, kamu menyukai nasi goreng kan, Nak?”
Jymin sempat berbincang begitu mendengar kata itu. Tentu saja, apa yang diucapkan Bunda Aileen salah satu dari makanan favoritnya. Namun, Jymin yang merasa tidak enek, Jymin langsung menolak.
“Tidak, Terima kasih. Jy--.”
“Hei, jangan sungkan seperti itu. Jarang sekali kamu kerumah Bunda. Bunda ingin berbicara banyak sama menantu Bunda ini.” Birai malah menyela dengan senyum dan alis yang sedikit terangkat.
Gugup sekali. Bagaimana tidak, Jymin tak begitu akrab dengan keluarga Aileen. Mereka hanya bertemu beberapa kali, bahkan bisa diitung dengan jari. Ini juga pertama kalinya, Jymin makan bersama. Semenjak menikah dengan Aileen, Jymin hanya mampir sebentar tanpa melakukan apapun, Jymin pun langsung memindahkan Aileen kerumahnya. Tentu saja, Jymin sedikit terkejut dengan Birai yang tahu makanan kesukaannya. Apa Aileen yang mengatakan? Entahlah.
Kebetulan sekali, Birai memasak cukup banyak. Karena sebelum kedatangan Jymin dan Aileen. Arach—suaminya meneleponnya dan mengatakan akan pulang dari AS, Arach sudah menyelesaikan perkejaannya disana. Mumpung menunggu sang suami pulang, sekalian saja Birai mengajak mantunya itu untuk makan bersama dan mengobrol.
__ADS_1
“Aileen bagaimana?”
Jymin bertanya karena merasa tidak enak duduk di hadapan meja yang penuh dengan hidangan tanpa tahu bagaimana keadaan Aileen sekarang. Jymin masih berdiri di samping kursi, menatap Birai yang sedang menyiapkan makanan kesukaannya kedalam piring.
Birai hanya tersenyum tulus, sembari menoleh kearah Jymin yang masih bingung. Birai meletakkan makanan dan minuman di dekat Jymin. Birai duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Jymin. Birai mendongak, lalu terkekeh kecil.
“Kenapa masih berdiri? Ayo duduk dan makanlah. Ini special untukmu. Jangan pikirkan Aileen, pasti Aileen akan mogok makan kali ini. Aileen memang seperti itu, jika ada sesuatu yang mengusiknya pasti anak itu tidak selera untuk melakukan apapun. Nantinya akan membaik kembali.”
Jymin tersenyum canggung mendengarnya, dengan setengah hati. Jymin pun menduduki kursinya dan mencari posisi ternyaman. Kecanggungan antara mertuanya semakin terlihat saja. Jymin mengangguk samar, saat Birai menyuruhnya segera makan, bahkan memberikan sendok kepadanya. Jymin menerima sendok itu dengan hati yang tidak enak, sepertinya Jymin harus sering-sering kemari, agar kecanggungan ini tidak membunuhnya. Ruang geraknya seakan terasa sangat terbatas.
Jymin langsung mencoba merasakan makanan Bunda Aileen. Enak! Jymin tak pernah merasakan makanan seenak ini. Biasanya, Jymin akan membeli makan diluar jika ia lapar. Meskipun Aileen sudah dirumahnya, Jymin tak pernah menyuruh Aileen memasak atau sekedar makan bersama, Jymin selalu menghindar jika jam makan akan tiba. Entahlah, Jymin rasanya tak pantas saja. Aileen pun tak memusingkan, bahkan Aileen tak pernah bertanya kepadanya, sudah makan atau belum. Jymin tak pernah merasa bahwa Aileen tak peduli padanya atau marah, menurutnya ia memang sangat pantas mendapat perlakuan seperti itu.
Jymin menghentikan kunyahannya, lalu dengan ragu mendongak menatap Birai yang masih terus memperhatikannya dengan senyuman. Menatap wajah itu, Jymin menjadi merasa bersalah. Apa Birai tak marah dengannya? Setelah apa yang sudah ia lakukan pada Aileen. Kenapa semuanya terasa baik-baik saja, bahkan Birai memperlakukan dengan lembut. Jymin menarik napas pelan. “Bunda, Jymin minta maaf. Jymin belum bisa membahagiakan Aileen. Jymin rasa gagal menjadi suami. Maaf Bunda, Jymin banyak sekali melakukan kesalahan.”
Bunda Aileen melemparkan senyum tulusnya. Sebagai orang tua, Birai tak bisa mencampuri urusan rumah tangga anaknya, Birai berpikir mereka sama-sama sudah dewasa. Jadi sudah semestinya, mereka menyelesaikan masalah itu dengan baik. “Bunda hanya khawatir dengan rumah tangga kalian, kalian sempat berpisah. Bunda tidak ingin ikut campur dengan masalah kalian. Aileen tidak pernah bercerita pada Bunda. Aileen hanya mengatakan rindu pada Bunda dan menginap disini. Bunda pikir Aileen hanya beberapa hari saja dan kamu akan menjemput Aileen disini. Tapi setelah melihat Aileen yang menangis di kamarnya. Bunda sudah menerka kalian ada masalah.”
Birai menjeda ucapannya, menarik napas panjang sembari memandangi Jymin yang begitu serius mendengar penjelasannya. “Pesan Bunda, selesaikan masalah itu dengan dewasa ya Nak. Bunda bahagia melihat kalian yang kembali bersatu.”
Jymin begitu tak bisa mendeskripsikan suasana yang tercipta. Jymin bisa merasakan bagaimana Birai yang begitu sedih dengan anaknya. Ini semua salahnya, Jymin yang memulainya. Jymin melakukan kesalahan yang besar pada Aileen, Jymin tahu, ia pantas dibenci oleh Aileen. Meskipun beribu maaf, Jymin rasa Aileen tak akan bisa memaafkannya. “Aileen satu-satunya yang ada disisi Jymin, Bunda. Jymin akan melindungi dan menjaga Aileen apapun yang terjadi. Jymin akan memperbaiki masalah ini. Bunda, jangan membenci Jymin yah.”
***
Jymin masih terus mencoba lebih dari tiga kali. Jymin mengembuskan napas lelah, Jymin rasa Aileen tak akan membuka pintu untuknya. Maka, akhirnya Jymin menyerah. Jymin sekilas melihat sofa yang cukup panjang di sampingnya, apa malam ini ia harus tidur di sofa itu? Ah, Jymin sepertinya harus tidur disana. Jymin dengan langkah yang lesu berjalan kearah sofa. Semoga aja, Bunda Aileen tidak melihatnya tidur di luar. Jymin tak mau, Bunda Aileen berpikir aneh-aneh lagi.
Sementara disisi lain, tepatnya di dalam kamar. Aileen menutup telinganya, mencegah suara Jymin yang bisa saja masih terdengar. Aileen semakin merapatkan tubuhnya dengan selimut, bahkan tubuhnya sudah sepenuh tertutup dengan selimut tebal. Perlahan, Aileen melepaskan tangannya dari telinga. Aileen tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Aileen tak bisa mencintai Jymin lagi, ada sesuatu yang begitu mengusiknya. Hingga Aileen ragu untuk kembali mencintai Jymin. Aileen tak mau mencelakai siapapun. Aileen tak bisa menahan rasa takutnya yang begitu besar. Aileen bingung, ia tak berani bercerita dengan siapapun. Aileen tak ingin melihat orang terdekatnya khawatir. Aileen bertekad, hanya ia saja yang boleh merasakan.
Aileen menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, ketika mendengar dering ponselnya yang bergetar di atas nakas. Aileen menoleh kearah ponsel, lalu mengapai ponsel itu. Ketika layar ponselnya terbuka, Aileen mendapati sebuah pesan dengan nomor yang di kenalnya. Seseorang yang begitu Aileen sayangi, sebagai kakaknya.
[Apa kau sudah cukup mengerti dengan apa yang aku katakan?]
Aileen terdiam membaca pesan itu. Aileen tak ada niat untuk membalas. Entahlah, kini Aileen masih terlihat ragu dengan apa yang dikatakan Seo tentang Jymin. Ragu, apa harus dipercaya atau tidak? Tanpa sepengetahuan Jymin, Aileen sering sekali teleponan dengan Seo. Meskipun awalnya Seo yang menghubungi. Akibat dari tindakan Jymin terhadapnya, ruang gerak Aileen tak lagi bebas, bertemu dengan Seo saja begitu susah.
Bibir Aileen spontan mengeluarkan lenguhan sembari memegang perutnya. Sakit, perutnya nyeri sekali. Ini pasti di sebabkan, Aileen sejak tadi tidak memakan apapun. Bahkan tadi Aileen tak menyapa Bundanya, padahal Aileen begitu rindu dengan Bundanya. Perlahan, Aileen bangkit dari kasurnya, berjalan dengan langkah pelan menuju pintu sembari memegang perutnya yang nyeri. Sejenak Aileen memastikan jika Jymin benar-benar sudah tak ada di depan pintunya. Aileen mengembuskan napas lega, suara Jymin sudah tak ada.
Aileen membuka pintunya. Matanya langsung tertuju kearah Jymin yang tertidur meringkuk seperti bayi di sofa. Aileen tahu, pasti sangat kedinginan jika tidur diluar seperti ini. Apalagi hujan deras masih terdengar diluar sana. Aileen tak terlalu memusingkan itu, langkahnya langsung tertuju kearah dapur. Sebelum itu, Aileen mengitari seisi rumah, tampak begitu sepi. Bagaimana tidak, ini tengah malam. Aileen berjalan lemas kearah kulkas, mengecek isinya dan berharap ada makanan yang masih tersisa. Aileen bernapas lega, tak apa jika malam ini Aileen hanya memakan sebuah apel.
Aileen mengambil apel itu, lalu menutup kembali kulkas.
“Aileen ...”
Seperti tersengat listrik, Aileen menegang. Ketika mendengar suara Jymin yang memanggilnya. Tanpa melihat kebelakang Aileen berlari menjauh dari Jymin. Aileen tahu, Jymin mengejarnya hingga sesuatu menyentuh pundak, membuat Aileen terkejut bukan main. Dan tanpa di prediksi, apel ditangannya jatuh dan mengenai jempol kakinya. Aileen spontan sedikit membungkuk, memegang kakinya yang sedikit nyeri.
__ADS_1
Jymin yang melihat itu, langsung membungkuk lalu menyelipkan tangannya di tekukan kaki dan punggung Aileen. Aileen memekik dengan tindakan itu hingga refleks berpegangan pada leher Jymin. Jymin mengendong Aileen bridal style, mendudukkan Aileen di pinggiran meja makan. Aileen sedari tadi menahan pekikannya, dan tanpa sengaja memegang kedua bahu Jymin.
Tubuh Aileen menjadi membeku seperti patung. Melihat tatapan serius Jymin yang begitu mendominasi hingga membuat Aileen melepaskan tangannya dari kedua bahu Jymin dengan pandangan menunduk kebawah. Aileen saat ini begitu tak sanggup jika harus bertatapan dengan Jymin.
Jymin menahan tangan Aileen yang ingin lepas, menetapkan tangan Aileen pada posisi semula. Mata Jymin memandangi Aileen begitu mengintimidasi. “Kenapa kau lari saat aku memanggilmu?”
Aileen menggeleng lemas. Aileen sebenernya begitu tak tahan dengan sikap Jymin yang seperti ini, sikap lembut Jymin begitu menyiksanya. Aileen ingin sekali melepaskan tangannya yang di genggam Jymin begitu erat, tapi Aileen begitu tak memiliki kuasa untuk memberontak. Aileen capek. “Aku tidak lari.”
Jymin menghela napas panjang, melihat wajah Aileen yang terus menunduk. Seperti tak enggan menatapnya sedikit pun. “Jika aku berjalan kearah mu, kau juga harus melakukannya.”
Aileen memejamkan matanya sejenak. Aileen ingin sekali bebas dari kukungan ini. Tapi melihat Jymin yang begitu mengurungnya dengan kedua tangan Jymin membuat Aileen tak bisa menghindar. Perlahan, tangan Jymin menyingkirkan helaan rambut Aileen yang menutup wajah cantik Aileen, hingga tangan Jymin bergerak menuju dagu Aileen, membuat Aileen mendongak, menatap Jymin sepenuhnya. Hanya padanya. “Hei, apa aku salah bicara? Apa aku membuat kesalahan padamu? Ayo katakan, jangan buat aku kebingungan seperti ini.”
Aileen merasakan hatinya berdenyut, dadanya begitu sakit seperti ada sesuatu yang menekan tulang dadanya hingga rasanya oksigen di sekitarnya menghilang. Sangat sesak, sulit sekali bernapas. Aileen berusaha kuat untuk tidak menangis di depan Jymin yang menatapnya meminta penjelasan. Jymin bisa merasakan ada aneh dengan Aileen, bahkan tangan Aileen yang masih digenggamnya menimbulkan sebuah sensasi yang begitu Jymin tak mengerti.
“Kemana pikiranmu pergi Aileen, kenapa tanganmu gemetar?”
Aileen mengeratkan pejaman matanya sejenak, menatlisir rasa sesak di hatinya. Tanpa sadar, air matanya melesat jatuh di pipinya walaupun sudah sekuat tenaga untuk tidak menangis. “Aku ingin hidup dengan tenang. Apa aku bisa denganmu sepanjang waktu? Apa aku tetap bisa melihatmu dan menyentuhmu seperti ini? Apa aku bisa hidup lebih lama lagi, Jy--min?”
Hati Jymin seketika teriris melihat Aileen yang seperti ini. Rasa khawatir menghantam dadanya begitu kuat. Jymin tak sanggup melihat kesedihan Aileen. Sebenarnya apa terjadi dengan Aileen?
“Kenapa kau mengatakan hal yang tidak berguna? Berhenti memikirkan hal aneh, itu tidak akan terjadi. Ku pastikan tidak akan pernah terjadi. Aku akan melindungi mu Aileen, selalu.”
Aileen menggeleng lemas, sembari memukul-mukul dada Jymin. Mata Aileen tak henti mengeluarkan air mata. “Berhenti berpura-pura semuanya baik-baik saja. Kau benar-benar tidak mengerti atau berpura-pura Jymin. Apa yang kau sembunyikan dariku?”
Pukulan Aileen yang di dadanya yang sebenarnya tak sakit, membuat Jymin langsung mengambil tangan itu, menggenggam jemari Aileen dengan erat. Aileen hanya akan menghabiskan tenaga saja, apalagi Jymin tahu Aileen tak memakan apapun tadi, Jymin jadi khawatir jika Aileen akan sakit. “Tidak, aku tidak menyembunyikan apapun, Aileen. Maaf, aku benar-benar tidak bermaksud melukai perasaanmu. Jangan terlalu banyak berpikir, kau bisa sakit kepala.”
“Kenapa harus aku? Kau membuat hidupku sulit. Bersamamu membuatku tersiksa.”
Perkataan Aileen yang parau membuat Jymin spontan memejamkan matanya sembari meraup pasokan udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang tiba-tiba menyempit. Sungguh, ini menyakitkan sekali di hatinya.
“Maaf, aku tidak bisa menahannya, itulah sebabnya ada begitu banyak yang ingin aku lakukan denganmu. Maaf, jika semua perlakuanku menjadi beban bagimu. Aku akan melakukan apapun yang aku bisa, aku berusaha apa yang sedang di pikiranmu itu tidak akan pernah terjadi.”
Aileen masih terus menggeleng lemas. Ia tak bisa. Aileen tidak percaya dengan perkataan Jymin. Itu akan malah membuat masalah tambah besar, Aileen tak mau melukai siapapun hanya karenanya. Aileen yang memang lemas, dan tak bertenaga membuat Aileen akhirnya tertidur di dada Jymin. Jymin mengembuskan napas sesaknya, tangan Jymin bergerak mengelus kepala Aileen dengan lembut. Apa karena ini sikap Aileen berubah padanya, Aileen merasakan takut yang begitu berlebihan. Ini sebabnya, seharusnya Jymin tak menyeret Aileen kedalam masalahnya.
“Aku minta maaf karena membuatmu menangis Aileen, aku minta maaf.”
***
Vote ya teman², kalian tahukan kalau ngetik ini juga butuh mood jadi kalian vote ya gak lama kok, ga selaama waktu nulisnya😆
Terimakasih 🤗
__ADS_1