
Aileen tak tahu harus seperti apa untuk mengekspresi diri. Kesal atau senang? Ini terlalu mendadak. Setelah ia bangun dan menyadari sudah di tempat tidurnya. Jymin membuatnya syok, terlalu mengejutkan untuk di percaya. Jin apa yang sudah merasuki Jymin? Jymin mengajaknya ke sebuah pesta perayaan ulang tahun perusahaan. Tak pernah sekalipun Jymin mengajaknya ke sebuah keramaian bahkan bertemu dengan orang lain. Baru kali ini! Woahh, Aileen tak menyangka.
Sepertinya, Aileen harus bisa menerima apa yang belum bisa ia pahami. Jymin tak main-main dengan ucapannya. Jymin tak hanya mengajaknya saja tapi juga membawanya ke sebuah butik mewah, yang paling Aileen yakini harganya pasti sangat mahal. Jymin juga mendatangkan penata rias untuknya. Seolah-olah itu adalah pesta yang penuh dengan kemewahan, yap semuanya serba mewah.
“Kau cantik.”
Aileen berdiri lesu di hadapan Jymin yang sedang berjalan kearahnya. Sebenernya, Aileen kesal. Jymin cepat sekali melupakan kejadian yang di dapur kemarin, seperti tidak terjadi apa-apa. Aileen malu sekali, ini salahnya. Untuk apa juga ia meraung-raung seperti orang yang tampak sangat menyedihkan. Aileen salah menampakkan kesedihan pada seseorang, seharusnya bukan Jymin.
Apa Aileen tak salah dengar? Cantik? Apa ini terlihat cantik. Jymin hanya menyuruhnya memakai gaun yang terlihat tak mencolok, ah bisa di bilang terlalu sederhana. Tak ada sedikitpun menarik dari gaun merahnya ini. Lebih parah lagi, Jymin memang mendatangkan penata rias, tapi Jymin melarang memakai polesan make up di wajahnya. Oh ayolah, mana mungkin Aileen pergi dengan wajah pucat seperti ini! Untung saja, Jymin menuruti permintaannya, memberi izin untuk memakai lipstik saja. Kalau tidak, sudah seperti mayat hidup. Malu-malu saja.
Aileen memutar bola matanya malas, memandangi Jymin yang tersenyum kearahnya. Aileen membalas senyum Jymin tanpa minat. “Kau sudah sadar. Aku memang cantik untuk semua baju.”
Jymin mengulurkan tangannya mengusap kepala Aileen, menepuk-nepuk pelan kepala Aileen dengan penuh kasih sayang. Tak luntur, bibir Jymin terus tersenyum lebar. Aileen sedikit terperangah dengan tindakan Jymin.
“Aku Mencintaimu lebih lama dari umurku, Aileen!”
Tidak! Jangan!
Please, jangan berdetak jantung bodoh. Itu hanya cinta palsu. Tak mungkin. Jymin mencintainya, sulit di percaya. Aileen membalas perkataan itu dengan tatapan sengitnya, wajahnya terlihat masam sekali memandangi Jymin. “Hanya karena aku menerima ajakanmu, bukan berarti hatiku terbuka padamu.”
Jymin terkekeh kecil, seolah ucapan yang keluar dari bibir Aileen membuatnya geli. “Apa kamu mau mengingat ini? Di manapun kamu berada, aku akan selalu disampingnya.”
Aileen mengalah, jika di teruskan membantah, pembicaraan ini akan semakin memanjang. Jadi, yang hanya Aileen lakukan adalah mengangguk malas dengan raut wajah datar. “Hm, baiklah.”
Jangan! Terpesona, jangan kagum. Jymin tampan sekali. Tidak, bicara apa aku ini!
Batin Aileen memberontak keras, ketika tanpa dikendali, Aileen sempat terpesona dengan senyum lebar Jymin setelah selesai ucapannya. Kurang ajar, matanya begitu jelalatan.
Kenapa hatinya malah menyeru jika Jymin tampan! Oh no, makan apa ia? Sampai terpengaruh dengan wajah Jymin itu. Meski tak dipungkiri, Jymin sebenarnya memang tampan.
Pluk!
Aileen seketika memukul jidatnya pelan, sembari merutuki diri yang sudah kelewatan. Aileen spontan menunduk, tak ingin terlalu lama bertatapan dengan Jymin.
Jymin terkekeh gemas dengan tingkah Aileen. Jymin tahu, Aileen sedang mengagumi wajah tampannya. Lucu sekali istrinya. “Aku pasti terlalu tampan karena kamu terus memandangiku. Bagaimana penampilanku? Ganteng sekali bukan?”
Jymin merentangkan kedua tangannya, seperti memberi tempat untuk Aileen menatapnya leluasa. Melihat penampilannya, yang menurutnya memang wow sekali. Apalagi kali ini Jymin mengganti model rambutnya. Jymin menunggu pendapat Aileen, meski Aileen seperti ragu-ragu melihatnya. Jymin semakin gemas saja.
“Ti--dak, kau ... Kau jelek!”
Aileen refleks kembali menunduk, tak berani melihat ekspresi Jymin setelah mendengar jawabannya. Aileen pasti ketahuan, Jymin itu lelaki paling peka. Sialnya, tadi Aileen berbicara sedikit tergagap. Pasti beribu persen, Jymin menyadari keanehannya. Aileen memejamkan mata, sedikit memalingkan tubuhnya ke samping agar tidak sejajar dengan tubuh Jymin.
__ADS_1
Aktingnya buruk! Baru saja Aileen bilang. Jymin sudah terdengar mendekat kearahnya. Aileen tak tahu apa yang akan diperbuat Jymin padanya. Aileen hanya bisa pasrah, akibat kebodohannya. Biasanya, Aileen bisa sekali berseteru dengan Jymin. Aileen sekarang merasa lengah. Seketika bahu Aileen terjingkat, saat sesuatu menyentuhnya ah apalagi kalau bukan tangan Jymin. Jymin memutar sedikit tubuhnya. Apa yang akan Jymin lakukan di belakang punggungnya?
“Apa yang kau lakukan?”
Suara Aileen menjadi panik. Entahlah, ini sedikit horor.
Di belakang tubuh Aileen, Jymin tersenyum setelah mengeluarkan sesuatu dalam kotak kecil yang Jymin ambil dari saku celananya. Jymin sedikit menata rambut Aileen, agar Jymin bisa menempatkan benda yang ia beli yang sangat special untuk Aileen. “Aku mengeluarkan sesuatu yang berkilau dan indah.”
Aileen membeku. Ia mengerti maksud ini. Kepala Aileen sedikit menunduk, melihat rupa benda yang Jymin pasang melingkar di lehernya. Liontin yang begitu indah terpasang sempurna disana. Tidak boleh terharu! Tapi Aileen sudah terharu. Jadi harus bagaimana! Dengan lancangnya, tangan Aileen bergerak menyentuh liontin cantik itu, meraba dan mengelus-elus lembut. Satu yang baru Aileen sadar, liontin itu berbentuk love di tengahnya.
Jymin tersenyum tulus melihat Aileen yang seperti memantung melihat apa yang ia berikan. Jymin sedikit memajukan langkahnya, mensejajarkan tubuhnya di depan Aileen yang masih tetap menatap liontin itu. Hmm, sepertinya Ia sudah berhasil. Jelas, sekali Jymin tahu kesukaan Aileen.
“Aku harap kamu akan selalu mengenaliku, terlepas dari bagaimana cara orang lain berbicara tentangku. Jika kau takut, kau bisa memegang tanganku, Aileen.”
Perlahan Aileen mulai mendongak. Ia tak mengerti dengan perkataan Jymin. Ini sedikit membingungkan. Memang apa yang terjadi di pesta itu nanti? Kenapa nada bicaranya jadi terdengar misterius?
Aileen memandangi Jymin dengan dahi berkerut halus. Di tambah lagi, Jymin mengulurkan tangan kearahnya, seolah Jymin menyuruhnya untuk segera menyambut, menyatukan tangan bersama.
***
Benar saja! Ini misterius. Bukan, misterius macam itu, tapi ini beda. Apakah ada misterius semacam minder? Inscure? Jelas saja!
Jymin kurang ajar. Sepertinya Jymin ingin mempermalukannya. Aileen benci mengakui, bahwa penampilannya biasa saja, sedangkan Jymin sangat berkelas bahkan dua kali lipat lebih menawan. Aileen hanya bisa diam, lebih tepatnya semakin gugup. Ini terlalu ramai, dari apa yang ia bayangkan. Banyak kali orang asing disini.
Terlebih, rasanya Aileen ingin pingsan. Visual semua wanita yang hadir disini begitu anggun dan cantik dengan polesan make up seolah mereka mengeluarkan banyak uang untuk menyempurnakan garis-garis di wajah mereka. Aileen semakin mencengkram erat, tangannya yang entah kapan mengalung di sisi lengan Jymin. Ketika Aileen menatap ekspresi Jymin, lama-lama Aileen benar-benar kesal. Jymin tampak biasa saja dan tenang. Seolah tak ada sedikitpun rasa bersalah padanya yang sudah membuatnya seperti ini.
Bukankah Jymin pria yang cukup peka? Tapi, kenapa sekarang Jymin seolah tak mengerti bahwa Aileen ingin pulang?
Jymin, tunggu saja pembalasanku. Aku akan membalasmu, Jymiinnnnnn. Batin Aileen berteriak marah.
“Oh, lihat siapa yang datang!”
Ini adalah puncak gugupnya. Meski sebenarnya seseorang itu tak menyapanya, lebih tepatnya menyapa Jymin yang berada disampingnya. Tapi entah, Aileen merasa gugup. Apalagi mata dua pria itu, menatapnya seperti mengamati penampilannya. Jelas, Aileen lihat. Bola mata kurang ajar mereka, mengitari dari ujung kaki sampai wajah. Ingin tersenyum? Tapi tak bisa, bibirnya seolah di lem secara permanen.
Luar biasa! Jymin hanya menanggapi seruan mereka dengan wajah datar. Woah, Aileen dibuat bingung. Tunggu, sebenernya Jymin yang asli yang mana? Lembut padanya seperti tadi atau dingin seperti sekarang. Kini, Jymin memberhentikan langkahnya tepat di depan dua orang pria yang bisa di bilang cukup tampan. Umur? Sepertinya tak jauh dari Jymin.
Langkah Jymin yang berhenti, otomatis Aileen pun terhenti. Tak ada niat Aileen untuk menyapa juga, satu sifatnya, ia tak begitu mudah langsung akrab dengan seseorang. Entah, wajah mereka masih terlalu asing.
“Hahaa, jarang sekali kau menghadiri acara ini. Bagaimana kabarmu, sudah lama tidak bertemu?” kekeh kecil dari seorang pria dengan jas merah gelapnya. Kalimat seseorang itu menunjukkan kesombongan, tapi bernada candaan yang tetap terdengar hangat.
“Hm, seperti yang kau lihat. Jika sakit mana mungkin aku berdiri di depanmu.” Aileen benar-benar kagum, lebih tepatnya kagum dalam hal lain semacam tak percaya. Jymin pandai sekali berakting. Lihatlah, bagaimana cara Jymin membalas ucapan pria itu. Dingin tak tersentuh.
__ADS_1
Aileen tak percaya. Jelas-jelas, Jymin berbicara pada lelaki itu dengan nada tak bersahabat bahkan bisa dibilang tak ada minat. Terlihat sangat malas untuk terus melanjutkan pembicaraan ini. Tapi apa yang di lihat Aileen, lelaki itu bisa saja. Seperti sudah sering dilakukan seperti itu oleh Jymin.
Sekujur tubuh Aileen mendadak membeku ketika bola mata tajam pria itu tertuju kearahnya. Mengerikan! Entahlah, raut wajah itu sulit sekali untuk Aileen artikan. Aileen rasa gedung besar ini dipenuhi oleh orang-orang seperti yang ingin memangsanya habis-habisan. Itu semua tak luput dari pengamatan Jymin, maka dengan lembut Jymin mengingkari pinggang Aileen, hingga membuat Aileen semakin merapat dengannya. Sentuhan mendadak itu, membuat tubuh Aileen yang tadinya seperti patung, sedikit menjadi lebih rileks.
“Woaahh, siapa yang disampingmu? Apa wanita cantik ini pemuas napsumu? Oh ya, apa dia yang menjadi alasan kenapa kau membatalkan pertunanganmu?”
Aileen sungguh dikejutkan dengan apa yang dikatakan oleh lelaki yang berdiri disampingnya. Lelaki ber jas biru Dongker, seperti ingin juga ikot dalam interaksi yang sudah sedari tadi tercipta. Aileen ingin marah, apa maksudnya. Bukan, dengan kata pertunangan, tapi dengan kalimat yang terdengar begitu merendahkannya. Tapi Aileen tahan, ini bukan tempat yang pas untuk membuncahkan emosi. Aileen harus tenang, tenang dan mempertahankan wajah datarnya. Aileen seperti tak sudi untuk tersenyum kearah mereka.
Kurang ajar! Brengsek! Ahhkkhh, Aileen ingin marah.
Setelah melihat ekspresi Jymin yang masih tetap sama. Jymin seperti tak sedikitpun terpengaruh dengan perkataan lelaki itu. Wajah Jymin tampak begitu tenang. Seolah ucapan itu hanya angin lalu. Aileen rasanya ingin mencakar-cakar wajah Jymin yang begitu songgong. Apa Jymin masih memakai telinganya, heii lelaki itu baru saja menghinanya. Seharusnya Jymin membelanya.
Sebenarnya, sedari tadi Jymin menahan diri untuk tidak memukul wajah mereka sampai hancur. Apalagi mereka dengan brengseknya mengatakan isu yang tak pernah. Sejak kapan ia bertunangan? Omong kosong apa ini! Luar biasa, mereka seperti banyak cara untuk menjatuhkannya. Jika mereka tak diperlukan dalam perusahaannya, sudah Jymin tendang habis-habisan.
Aileen sedikit tersentak ketika tiba-tiba Jymin mengambil tangannya hingga tangan mereka saling menyatu. Aileen makin melebar, saat Jymin mengangkat tangannya, seolah menyombongkan apa yang tersemat di jari manis masing-masing. Sejak kapan, Aileen memakai cincin pernikahannya. Apa Jymin yang memasangnya saat ia tertidur?
“Istriku, siapa lagi! Memang ada yang bisa menarik hatiku, selain istriku.”
Masih dengan tidak melepaskan tangan Jymin dari pinggang Aileen, Jymin melemparkan senyum mengejeknya dengan nada suara di buat-buat sok hangat.
Dua pria itu menanggapi ucapan Jymin dengan tertawa. Aileen tak mengerti jenis tawa apa itu, tapi telinga Aileen menangkap nada yang begitu terdengar meremehkan. Situasi apa ini! Aileen benci, rasanya ia ingin beranjak pergi dari sini.
“Pasangan yang serasi. Jelas sekali kalian saling mencintai, apa kau tak takut?”
Aileen tak mengerti, kerutan di dahinya mendadak muncul. Saat pria ber jas merah gelap itu menatapnya. Apa maksud perkataan itu? Apa yang harus Aileen takutkan? Menarik napas dalam-dalam, Aileen ingin sekali menimpali. Jadi, dengan sekuat Aileen bisa, Aileen memberanikan diri. “Ak —.”
Kurang ajar, ucapannya di sela dengan cepat!
“Ini suatu kehormatan karena kau masih bertahan disisinya. Haha, tak ada jaminan bahwa kalian akan hidup bahagia selamanya, suamimu ini banyak sekali musuhnya, kau tahu?”
Aileen tak mengerti. Jadi, ia lebih memilih mengamati ekspresi Jymin. Ekspresi Jymin langsung berubah menjadi mengerikan, rahang tegas itu tampak mengetat. Tapi Aileen tahu, Jymin seperti berusaha menyembunyikan semua itu.
“Memang kenapa—.” Tanya Aileen spontan tapi langsung di sela kembali oleh mulut kurang ajar mereka, seolah Aileen tak diberi kesempatan untuk berbicara. Aileen bisa lihat, dari tatapan mereka, seperti hanya ingin memanaskan situasi saja. Aileen semakin tak paham, apa yang terjadi sebenarnya. Hingga satu pertanyaan meluncur dari bibir pria ber jas dongker, cukup membuat Aileen terkejut bukan main, mematung di tempatnya.
“Woah, apa kau hamil?”
***
Tolong di Vote ya, author buat ini banyak banget perjuangan sampai pernah punggung sakit. Tolong kalian semuanya untuk menghargai semua karya seseorang🤗
Bagaimana, masih abu-abu kah? Apa sdh jels or msi krg dan penasaran. Maapp jika iya😭
__ADS_1