
Mohon kritik dan sarannya. Vote dan komen yah;')

Seluruh badannya masih terasa sakit, persendiannya terasa ngilu dan badannya meriang. Itulah yang pertama kali dirasakan Aileen saat membuka matanya, sedikit terkejut ketika mendapati dirinya sudah terbaring di ranjang empuknya. Padahal, terakhir kali ia memegang ponsel dan membaca sebuah pesan yang sungguh membuatnya syok setengah mati. Apa ia terlalu merasa ketakutan dengan pesan aneh itu hingga membuatnya mendadak demam seperti ini? Apa maksudnya? Kenapa pesan itu begitu mengerikan? Sebenarnya pesan itu siapa yang mengirim?
Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam otaknya, sampai Aileen merasa sangat pusing. Aileen makin melebarkan matanya, berusaha beradaptasi eksistensi pria yang tengah menutup tirai kamarnya karena sudah malam. Berapa lama ia tertidur?
Aileen melirik sekilas punggung tegap yang membelakanginya. Jymin. Aileen menjadi sangat malas bertemu Jymin saat ini. Aileen langsung memejamkan matanya ketika melihat Jymin yang membalikkan tubuhnya. Aileen rasa, Jymin semakin dekat karena parfum lelaki itu menyeruak di hidungnya hingga sampai kasurnya sedikit melesak. Jymin sudah duduk disampingnya.
Aileen berusaha tenang, bertahan dengan posisi tidak bergerak sedikitpun dan berpura-pura seolah ia masih tertidur. Hingga akhirnya, Aileen dibuat sesak napas, saat tangan itu membelai lembut keningnya.
“Hei, aku sudah melihat. Jadi jangan berpura-pura tidur lagi. Bangunlah Aileen, ada hal yang ingin ku bicarakan denganmu. Ini penting!”
Suara tegas yang mengalun telinganya, membuat Aileen menarik napas pelan. Dengan sangat terpaksa Aileen kembali membuka matanya dan lebih memilih memandang kearah lain, tak sedikitpun Aileen melihat kearah Jymin. Meskipun kini Jymin tersenyum melihat Aileen yang membuka mata.
Aileen mengatur napasnya pelan sebelum membuka suara. Entahlah kenapa saat ini suasana begitu canggung dan panas. “Apa yang ingin kau katakan. Cepatlah, aku ingin istirahat!”
Jymin membentuk senyum tipis mendengarnya, ada nada jengkel disana. Bukannya tersinggung dengan nada itu, tapi Jymin malah jadi gemas dengan sikap Aileen yang seperti ini.
“Apa yang terjadi? Kenapa kamu mendadak demam seperti ini? Apa yang kamu takutkan. Kamu bisa jujur padaku.”
Tatapan Jymin berubah menjadi sedih ketika melihat wajah Aileen yang masih pucat. Jymin tak bisa melihat Aileen yang seperti ini. Aileen belahan jiwanya. Jymin mencintai Aileen dengan setiap detak jantungnya sampai hari dimana tak lagi berdetak.
Jymin sudah begitu baik mengenal Aileen, istrinya akan mendadak demam jika sesuatu mengusik Aileen, merasakan cemas yang berlebihan yang melibatkan rasa takut dan kekhawatiran. Aileen memiliki kebiasaan mengkhawatirkan hal-hal kecil. Jadi memang pantas sebenarnya jika Aileen menyembunyikan, menceritakan rasa cemas pada seseorang memang tak terlalu mudah.
Jymin menarik napas panjang, melihat Aileen yang hanya terdiam tak menjawab pertanyaannya. Bahkan sudah lima menit berlalu, Aileen terdiam dalam lamunannya.
“Baiklah, kalau kamu tidak ingin menjawab. Aku akan menunggu karena kita masih punya banyak waktu.” Jymin memberi jeda sejenak, mengambil tangan Aileen, lalu menyelipkan jari-jari Aileen disela-sela jarinya, membelainya lembut tangan itu. “Apa kamu sudah merasa baikan? Aku berada di sampingmu karena aku khawatir.” Jymin berusaha memberikan perhatian yang penuh untuk Aileen, menghujani dengan seluruh kehangatan. Walaupun batin Jymin begitu tersiksa sebenarnya.
Jymin sedikit merasa lega, sebab Aileen tak perlu dipaksakan lagi untuk meminum obat. Sebelum ia sampai disini, Aileen dengan nurutnya meminum obat yang diberikan oleh pelayan atas suruhannya.
Aileen membasahi bibirnya, sekujur tubuhnya terasa begitu gugup dengan perilaku Jymin. Jymin selalu berhasil membuat jantungnya terasa begitu tersiksa. Timbul rasa tidak nyaman dihatinya, ada perasaan dalam hati yang terus mengganjal. Sesuatu mengusiknya tetapi Aileen tidak tahu itu apa. Dulunya memang intim, bergairah dan nyaman, tapi semua menghilang secara perlahan-lahan akibat pikirannya di kendalikan oleh sisi-sisi negatif. Rasanya sungguh Jenuh. Aileen meragukan Jymin, lantas Aileen pun melepaskan jemarinya dari genggaman Jymin lalu meletakkan tangannya jauh dari jangkauan Jymin. “Jangan mengkhawatirkan aku. Aku bisa mengurus diriku sendiri.”
Hening menyelimuti mereka.
Aileen tak tahu apa yang dipikirkan Jymin atas tindakannya tadi atau ucapan yang terlontar dari bibirnya. Yang Aileen tahu, Jymin sedang mengamatinya begitu lekat dalam diam, Aileen bisa lihat jelas lewat ekor matanya. Tubuh Aileen bergerak gelisah, ia menelan ludahnya susah payah, seluruh pikirannya mendadak kacau—cara Jymin menatapnya membuat tubuhnya terasa sangat panas. Aileen sebisa mungkin, menetralkan rasa tidak nyaman ini. Bersikap seperti biasa, seolah tatapan itu tak terpengaruh untuknya.
“Berapa lama kau akan menatapku? Berhentilah menatapku!” Aileen berujar malas, dalam hati Aileen mencibir tindakan memuakkan Jymin.
“Aku tidak akan berhenti sampai kau melihat kearahku.”
Aileen mendecak sambil menggeleng kecil. Namun tiba-tiba, Aileen merasa tercekat saat Jymin menghilangkan jarak dengan wajahnya, sangat dekat hingga Aileen bisa merasakan napas hangat Jymin membelai wajahnya—aroma mint segar dari embusan napasnya Jymin dapat juga Aileen rasakan. Tak dipungkiri, membuat Aileen terkejut setengah mati mendapatkan serangan mendadak seperti ini. Reflek Aileen menoleh, memukul dada Jymin lalu mendorong tubuhnya Jymin kuat agar sedikit menjauh. Aileen dengan raut tajam sedangkan Jymin melemparkan senyum simpul yang hangat sambil menyeringai nakal.
“Ah, kau mengagetkanku. Jika kau akan mendekatkan wajahmu padaku berikan aku peringatan dulu sebelumnya.”
Jymin mengukir senyum usil. Kalimat yang menarik. Jymin merubah senyumnya menjadi senyuman menggoda sembari menaikkan sebelah alisnya. Dalam hati, Jymin mengagumi paras istrinya, mata indah Aileen begitu tampak bersinar—apalagi ekspresi yang Aileen lemparkan menjadi plus bonusnya. Jymin mengulurkan tangannya untuk menyentuh salah satu pipi Aileen, Aileen dibuat kehabisan napas dengan tingkah Jymin.
“Jadi aku juga harus memberi peringatan jika ingin menyerang mu?”
Mata bulat Aileen melotot mendengar kalimat kurang ajar itu. Jelas, ucapan Jymin terdengar sangat ambigu. Sungguh Aileen tak bisa menahan degup jantungnya yang sangat berdebar, intimidasi dan dominasi nya Jymin menjadikannya tak berdaya. Ini tak bisa dibiarkan, Aileen tak mau sedikitpun terpengaruh dengan gombalan Jymin yang tak bermutu. Aileen dengan sekuat tenaga mendorong dada Jymin saat hampir saja Jymin hendak menciumnya. Melihat Jymin sudah sedikit jauh, Aileen bergerak cepat segera menyingkir dari jangkauan Jymin sejauh mungkin.
“Berhenti bercanda dan menjauhlah. Sebaiknya kau pergi sekarang. Jika tidak pergi dalam tiga detik aku akan membuat sikat gigi dengan semua rambut ketiakmu. Pergi!”
Aileen mengusir Jymin dengan suara lantangnya. Dan seketika Aileen dibuat tak percaya. Mata itu menjadi lebih menyempit, Jymin tertawa keras sekali hingga Aileen rasa pasti perut Jymin melilit akibat tawa lepasnya. Aileen semakin mempertajamkan matanya. Apa saat ini ia membuat sebuah lelucon? Apa perlu Aileen katakan jika ia begitu marah!
Jymin menyeka bulir bening yang keluar dari sudut matanya. Lucu sekali, hingga Jymin dibuatnya tak bisa berhenti untuk tertawa. “Lucu. Kamu sangat manis, Aileen. Sama persis, tetap sama. Sifat yang paling ku rindukan.”
__ADS_1
Bukannya Aileen luluh, baper ataupun salting dengan ucapan lembut itu. Jymin malah membuat darahnya semakin mendidih. “Apa kau tuli! Tinggalkan aku sendiri, Jymin. Pergi!”
Perlahan Jymin meredakan tawanya, tergantikan dengan senyum yang terbit dikedua sudut bibir Jymin lalu tangannya terulur menyentuh pucuk kepala Aileen lembut, walaupun saat ini Aileen tak lepas menatapnya dengan tatapan sanggar.
“Jangan khawatir, aku akan melindungimu dengan caraku sendiri.”
Aileen dibuat gugup setengah mati dengan perlakuan Jymin yang begitu tersentuh hingga mendebarkan jantungnya. Tidak! Perasaan apa ini, apa aku gila! Tidak! Aku tidak boleh berdebar karena perlakuannya apalagi dengan suara lembutnya yang begitu menenangkan.
“Baiklah, aku keluar. Jika kamu membutuhkan sesuatu, panggilkan saja aku.”
Tambah Jymin lagi.
Perlahan Jymin beranjak dari duduknya, lalu membungkukkan tubuhnya—memosikan bibirnya untuk menggapai pucuk Aileen, memberikan kecupan hangat dan lembut. Aileen menahan napas sepanjang Jymin melakukan tindakan itu, hingga Aileen bisa menghembuskan napasnya ketika Jymin sudah melepaskan ciumannya.
“Jymin ...”
Tubuh Jymin yang hendak berbalik pergi terhenti akibat panggilan itu, matanya kembali memandangi wajah Aileen yang seperti terlihat ragu. Jymin menunggu dengan sabar, karena Aileen masih saja terlihat ragu mengutarakan sesuatu.
Sejak tadi Aileen menormalkan detak jantungnya yang berdetak begitu cepat akibat perlakuan Jymin tadi. Jymin benar-benar kurang ajar membuat jantungnya seperti ini. Ingin marah, tapi suaranya hanya bisa tertahan di dalam kerongkongan. Aileen sengaja membuat Jymin menunggu, biar kaki itu pegal. Tapi itu mustahil, sama saja ia membiarkan Jymin terus berlama-lama bersamanya. Oh, pemikiran yang konyol.
Tentu saja, Aileen sedikit berakting membuat raut wajahnya semaksimal terlihat seperti orang yang ragu, agar tidak ketahuan, Aileen mengerjai Jymin. Jymin itu tipikal lelaki yang sangat peka, menurutnya. Aileen akan berteriak sekarang, ia harus mengutarakan kalimat yang terpendam di hatinya sejak beberapa hari ini.
“Omong-omong, apakah Bodyguard begitu diperlukan? Pintunya terbuka, rasanya seperti semua orang menatap kearahku. Jadi aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.”
Yah, seperti inilah akhirnya. Aileen tak bisa hingga Aileen mengucapkan kalimat itu dengan begitu lugunya. Dalam hati, Aileen menggerutu. Apa ia sudah termakan dengan sisi romantis Jymin, hingga ia tak bisa marah lagi? Menyebalkan.
Jymin menahan diri untuk tidak menerkam Aileen sekarang. Ah, suara itu benar-benar membangkitkan hasrat libidonya. Jymin menghembuskan napasnya, melenyapkan pemikiran liciknya, bukan saatnya ia seperti ini
"Jangan pikirkan apapun. Mereka akan menjagamu. Kau aman berada disini. Ini demi kebaikanmu, jadi aku tidak punya pilihan.”
***
“Kak Seo-- ah bukan-bukan. Kak Dony, lama tidak bertemu. Bagaimana kabar kakak, baik kan?”
Aileen berucap begitu girang. Melihat sosok pria tinggi yang tampan yang kembali menampakan batang hidungnya. Matanya berbinar, entahlah kenapa ia begitu bahagia melihat sosok ini lagi. Aileen menyukai sosoknya, bukan menyukai yang seperti itu, ini hanya sebatas rasa suka antara adik dan kakak. Kak Dony selalu baik dengannya, membantunya dan selalu membuatnya bahagia. Tak seperti sosok Jymin yang penuh dengan gombalan.
Ohya, kenapa Aileen mengucapkan dua nama yang berbeda. Memang sebenarnya nama sosok tinggi ini adalah Seo. Nama panjangnya? Aileen tak ingin tahu. Aileen tak begitu menyukai nama koreanya hingga Aileen membuat nama Kak Dony sebagai gantinya, menurut Aileen nama itu lebih terdengar santai saat diucapkan.
Tanpa bisa dicegah, memori menyesakkan itu kembali terngiang di benaknya. Malam itu, ketika Jymin menuduhnya begitu kejam karena sosok Kak Dony membuat Aileen kembali merasa sesak. Jymin salahpaham, sebenarnya Kak Dony hanya mengantarnya pulang sebab di jalan tak ada taksi yang lewat, Jymin pun seperti sangat sibuk kala itu, karena Aileen sudah berusaha menelpon Jymin tapi tak di angkat, Aileen pun mematikan ponsel akibat rasa kesalnya. Hingga dimana ia kabur saat Jymin pergi ke kamar mandi. Aileen bisa kabur, karena ia tak sedikitpun menelan apa yang dimasukkan kedalam mulutnya, sampai ---
Ah, menjengkelkan. Tak seharusnya, Aileen mengingat itu kembali. Sesegera mungkin, Aileen menghapus memori itu dalam otaknya. Aileen kembali tersenyum kearah Kak Dony yang masih menatapnya datar dan dingin.
Walaupun sebenarnya Aileen heran juga dengan raut yang dilemparkan Kak Dony setiap bertatap muka dengannya. Tapi, sikap Kak Dony begitu lembut dengannya. Jadi Aileen tak terlalu memikirkan itu, mungkin ini cara Kak Dony memikat siapa saja yang melihatnya dan merupakan salah satu karismanya. Aileen pun lebih lebar membuka pintu utama, mempersilahkan Kak Dony untuk masuk.
“Hmm, seperti yang kau lihat. Lalu bagaimana denganmu. Kau terlihat pucat. Kau sakit?”
Aileen tersenyum tipis, menggaruk alisnya bingung. “Aku baik-baik saja kak. Oh ya, ada apa kakak datang kemari?”
Aileen memandang Kak Dony serius, tumben sekali. Kak Dony langsung datang kemari biasanya hanya mengirim sebuah pesan jika ingin mengajak ketemuan.
Dony langsung membuang muka kearah lain, mengitari sudut-sudut ruangan dalam rumah ini. “Hanya ingin bertemu denganmu. Kau harus menjaga kesehatan mu. Oh ya, aku hampir saja melupakan sesuatu. Ini untukmu.”
Aileen dibuat jantungnya— terkejut setengah mati saat tiba-tiba pengawal Kak Dony sudah berhadapan dengannya, sembari menyerahkan sebuah boneka panda yang begitu besar. Ragu, Aileen mengambil boneka itu. Tak di pungkiri, Aileen dibuat senang sebenarnya dengan boneka yang begitu manis menurut pandangannya. Aileen memeluk gemas boneka yang sudah sepenuhnya dalam pelukan. “Woahh besar sekali, makasih kak.”
“Hmm... Bisakah aku minum kopi sebelum aku pulang? Aku ingin memberitahu mu sesuatu.”
Aileen langsung menepuk jidat pelan. Bodoh! Ia sampai lupa mempersilahkan Kak Dony untuk duduk. “Tentu saja kak, silahkan duduk kak. Tunggu sebentar yah.”
__ADS_1
Aileen berjalan sedikit menunduk, hingga tak melihat Jymin bahwa berjalan arah yang sama dengannya. Hingga Aileen dibuat tersentak akibat menabrak dada kekar itu, spontan Aileen langsung meringis pelan. Aileen mencebikkan bibirnya, matanya menatap kesal kearah Jymin. Tak dipungkiri Aileen sedikit di buat takut, dengan ekspresi yang tercipta di wajah Jymin. Jymin begitu mengerikan, wajahnya memerah dengan otot rahangnya yang mengetat keras sembari menatap Kak Dony dengan tatapan yang membuat Aileen bingung.
“Ngapain kau kemari? Siapa yang memberimu hak untuk masuk kerumah ini. Pergi!”
Aileen di buat tak mengerti dengan situasi yang tercipta. Matanya bergantian menatap keduanya, Kak Dony dengan sikap tenangnya, sedangkan Jymin dengan emosionalnya. Aileen jadi takut, meleraikan? Tentu saja, Aileen tak memiliki nyali sebesar itu.
Hingga Aileen dengan terpaksa, menyentuh bahu Jymin—menenangkan Jymin agar tidak melakukan sesuatu yang buruk. Matanya memicing kearah Jymin, menggapai telinga Jymin lalu berbisikkan sesuatu. Meskipun Jymin tak sedikitpun melihat kearahnya. “Jymin, Kak Dony baru sampai. Kenapa kau bicara seperti itu?”
Mata tajam Jymin langsung menoleh kearah Aileen, mengintimidasi hingga kedalam manik Aileen. Aileen dibuat merinding dengan tatapan itu, hingga spontan membuat ia mundur untuk beberapa langkah, menjauhi Jymin yang begitu menyeramkan. Tetap dengan sikap Jymin yang semaunya, Jymin menarik Aileen mendekat, memegang erat pinggang Aileen hingga kembali menempel pada tubuhnya. Aileen dibuat terpekik, langsung saja Aileen menutup mulut. Ini bukan saatnya ia bertingkah konyol. Dalam hati Aileen memaki Jymin, tadi membuat nya takut sekarang membuatnya berdebar. Jymin, brengsek.
Dony mengusap dagu, matanya terlihat menarik memandangi kedua insan yang terlihat begitu lengket. “Ahh... Aku hanya ingin melihat keadaan istrimu. Apakah dia baik-baik saja. Aku hanya merasa khawatir.”
“Bedebah! Pergi kau!”
Aileen terpejam erat. Bagaimana tidak, bukan wajah saja yang mengerikan tapi suaranya juga. Ketakutan melandanya, apalagi saat ini jaraknya begitu dekat dengan Jymin, membuat Aileen begitu tersiksa merasakan aura keduanya.
“Hmm baiklah. Dia terlihat baik. Itu sudah cukup bagiku. Aku pergi dulu, saudara.”
Aileen mengintip disela-sela ekor matanya. Kak Dony pergi hingga punggungnya menghilang dari pandangannya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Jymin begitu memusuhi Kak Dony. Mereka terlihat begitu tak akrab walaupun darah sebuah ikatan mengalir dikedua nya.
Tak menunggu lagi, Aileen dengan cepat melepaskan diri dari Jymin, menghindar sejauh mungkin. Matanya menatap nyalang kearah Jymin, sembari memeluk boneka panda besarnya seolah boneka ini menjadi sebuah senjata jika Jymin kembali mendekatinya.
“Kenapa kau seperti itu Jymin. Bersikap baiklah pada saudaramu.”
Jymin membuang napas samar, sekuat mungkin ia mengontrol degup jantungnya yang meronta. Apalagi mendengar kalimat saudara yang terlontar dari bibir Aileen, bisa saja kembali membangkitkan amarah dalam dirinya. Tatapan Jymin menjadi lebih menghangat menatap Aileen. “Aku tidak memiliki siapapun, dia bukan saudaraku. Aileen, hanya kau milikku. Apa dia berbuat sesuatu padamu?”
Aileen bergegas mundur ketika melihat langkah kaki Jymin yang ingin mendekat. Aileen langsung memasang sikap waspada nya, was-was jika Jymin ingin menggapainya. Ia tak akan membiarkan Jymin menyentuhnya lagi, sudah cukup Aileen hampir saja termakan oleh sikap romantis Jymin yang begitu memuakkan.
“Kau cukup pandai berbicara juga ya?”
“Apa kamu akan semakin jatuh cinta dengan cara bicaraku?”
Jymin tersenyum menggoda sembari menaikkan alis kirinya mengamati Aileen dengan tatapan nakalnya.
Luar biasa! Jymin begitu pandai mengubah suasana, yang tadinya mencekam, sekarang membuat jantung Aileen berdebar tak karuan.
“Berhenti menggodaku, Jymin. Itu hanya di mimpimu.”
Aileen berdecak, memasang wajah galak menatap Jymin yang belum juga mengubah ekspresi nya. Rasanya Aileen mual dengan ucapan itu.
Jymin terkekeh gemas. Dalam hitungan detik, Jymin sudah berada di depan wajah Aileen—memegang pinggang Aileen agar tidak menjauh lagi padanya. Aileen dibuat tercekat, gerakan yang begitu gesit, rasanya Jymin seperti memiliki kekuatan saja—sangat tak bisa dihindari, apalagi Jymin juga memegang pinggangnya. Mata Aileen hanya bisa membulat lebar melihat tatapan tulus Jymin, untung saja boneka panda menjadi penghalang tubuh mereka, jika tidak—bibir Jymin sudah mendarat mulus diatas bibir Aileen.
Jari telunjuk Jymin dari sebelah tangan yang lain bergerak menuju salah satu sudut pipi Aileen. “Jangan dekat dengan lelaki itu, Aileen. Dan jangan terima apapun dari dia. Ini perintah.”
Aileen langsung mencengkeram erat boneka panda nya, dari mata Jymin Aileen bisa merasakan Jika Jymin bisa saja membuang bonekanya. Aileen hendak menyangkal tak terima, tapi jadi terkatup erat akibat kalimat yang terlontar dari bibir Jymin.
“Aku akan mencium mu, jika kau balas bicara. Jadilah, istri yang nurut sayang.”
***
Please;") komen&vote yahh
Biar author jadi lebih semangat buat update;'(
Yeayy, yg kngen Seo, akhirnya ia muncul lagi disini🤣 tentu dgn karakter yg berbeda. Penasaran dengan karakter Seo?
Jadi ad yg bsa menebak bagaimana karakter Seo di cerita ini?🤭
__ADS_1