Miracle,

Miracle,
“Menjauh”


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan vote&komen yah:') sebgai bentuk apresiasi klian;')


Tandai typo;')


***


Mendadak Aileen memijit keningnya saat rasa pening menderanya hebat. Dengan salah satu tangan bertumpu di atas meja memegang ponsel, membaca setiap deretan pesan dan panggilan yang masuk kedalam ponselnya, pesan dari Jymin lima puluh, penggilan telepon lima puluh satu. Semua ini membuat Aileen sangat frustasi. Aileen capek sekali, apalagi masalah kemarin Jymin yang mengira anak kecil yang memanggilnya adalah anaknya, padahal itu keponakannya. Hampir saja, Jymin membuat keributan di restorannya, untung Aileen bertindak lebih cepat dan berakhir Jymin meninggalkannya—dan tentu saja Jymin sebelum pergi pasti harus membuatnya kesal terlebih dahulu, Jymin merampas ponselnya—menyalin nomor ponselnya tanpa persetujuannya. Demi apapun, Aileen bisa jadi gila jika terus seperti ini. Otak Aileen seakan seperti diremas kuat-kuat dengan semua tindakan Jymin yang tak pernah berubah.


Dan, masalah bertambah lagi, Jymin lagi-lagi membuat aliran darahnya mendidih ke puncak kepala. Jymin menunggunya tanpa henti dua puluh empat jam bahkan sudah terjadi beberapa Minggu. Kali ini, sangat terpaksa Aileen mengambil sebuah keputusan untuk menutup Restorannya lebih cepat dari sebelumnya, Aileen sangat berusaha menghindar dari Jymin. Ia tak ingin hidupnya di kekang lagi, Aileen ingin bebas tanpa ada yang menahannya untuk melakukan apa yang ia suka. Tapi, semua itu sia-sia, Jymin tetap saja bersikukuh masuk walaupun karyawannya sudah mengusir, malah karyawannya yang kena imbas di bentak Jymin.


“Dia selalu menatap kakak setiap saat, sepertinya lelaki itu memiliki perasaan sama kakak, bahkan dia sudah menunggu terlalu lama. Padahal kita sudah menutup tokonya dua jam yang lalu.”


Jessi, karyawannya Aileen menatap kearah jendela kaca besar yang menjadi pembatas antara tempat duduk pelanggan dengan dapur, disana Jessi melihat jelas, sosok lelaki yang terus melihat kearah Bosnya—seperti tak niat untuk pergi walaupun seorang diri disana. Jessi kembali menoleh kearah Bosnya, memandang prihatin dengan kondisi Bosnya yang sudah terlihat putus asa dengan tingkah lelaki itu, bahkan Bosnya sedari tadi tak beranjak bangun ataupun keluar dari persembunyian.


Aileen yang duduk di lingkaran meja yang sama dengan salah satu karyawan yang sudah sangat akrab dengannya, mendongak mengalihkan pandangan dari ponsel kearah Jessi yang menatapnya dengan tatapan tak bisa diartikan. Aileen tak sanggup lagi berkata-kata, hanya helaan napas berat yang Aileen berikan sebagai jawaban.


“Sepertinya lelaki itu tidak akan bangkit dari tempat duduknya, sebaiknya kakak menanyakan apa tujuannya kesini.”


Jessi bertanya sambil mengambil kripik dalam toples yang terletak di tengah-tengah mereka.


Helaan napas panjang terurai dari bibir mungil Aileen, memijit pangkal hidungnya sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. “Aahh, aku hampir mati lemas mengusirnya. Gimana ini? Lelaki itu membuat darahku mendidih.”


Aileen berteriak putus asa, ia ingin sekali menangis sebenarnya. Aileen ingin pulang, mengistirahatkan tubuhnya yang cukup sangat lelah beberapa hari ini, apalagi di tambah Jymin yang terus menganggunya membuat Aileen semakin geram. Aileen tak ingin ambil resiko, jika ia pulang sekarang otomatis Jymin tak akan tinggal diam, lelaki itu pasti akan mengikutinya. Aileen tak pernah mau, Jymin tau tempat tinggalnya.


Jessi yang melihat bosnya seperti ini pun tak tahu harus berbuat apa. Ia sudah berusaha sebisa mungkin untuk mengusir lelaki itu, tapi sia-sia— lelaki itu keras kepala sekali. Walaupun begitu tampan menjadi bonusnya.


“Bernapaslah kak, tarik dalam-dalam. Dengarkan aku kak, kakak belum pernah bertemu dengannya kan?”


Aileen mengikuti instruksi Jessi, lalu setelahnya Aileen hanya bisa mengangguk. Tak mungkin juga, Aileen menceritakan kebenarannya, kalau lelaki itu adalah suaminya.


Jessi tersenyum kecil melihat anggukan Aileen, lalu kembali melanjutkan ucapannya. “Apa yang kita lakukan bila orang asing mendekati kita?”


Aileen mencoba mencerna baik-baik ucapan itu, lalu berpikir sejenak setelah menemukan jawaban lantas Aileen langsung menjawab.


“Mengabaikannya.”


“Itu benar.”

__ADS_1


Aileen mendadak lesu tiba-tiba, setelah berpikir mungkin itu akan terjadi sia-sia juga. “Tapi bagaimana jika di masih gigih?”


“Perlakukan dia seperti orang gila.”


***


“Apa yang sebenarnya yang ingin kau katakan? Kami sudah tutup, tidak menerima kustomer lagi.”


Sekujur tubuh Jymin sedikit terkejut saat tiba-tiba Aileen menghampirinya menggunakan suara yang meninggi sekaligus dengan alat makan yang lempar hingga berbentur di atas meja. Jymin mengernyitkan bingung, ia tampak tenang ketika menoleh kearah Aileen yang berkacak pinggang, menatapnya dengan sorot mata memerah menahan amarah. Percayalah, Aileen terlihat sangat lucu sekali, tapi kali ini bukan waktunya untuk meledani hal itu hingga Jymin memilih menatap Aileen dengan tatapan tanpa ekspresi, sangat datar.


“Apa kamu sibuk kemarin? Kamu tidak membalas pesanku bahkan mengabaikan telepon dariku.”


Aileen berdecak samar. Jujur, ia tak percaya dengan Jymin yang menunggunya sangat lama hanya menanyakan hal yang tak penting seperti itu. “Tidak, aku tidak akan membalasnya meskipun aku tidak sibuk. Kalau tidak ada yang penting lagi, sebaiknya kau pergi.”


Murka Aileen terlihat kesal sekali, sembari menunjuk pintu utama yang terbuka lebar untuk Jymin. Sudah sangat gatal Aileen mengusir Jymin sekarang.


Sementara itu, Jymin menatap Aileen begitu santai—seolah kemarahan Aileen tidak ada apa-apa untuknya. Jymin tetap mempertahankan ekspresi datarnya. “Aku merasa kesepian, tidak bisakah aku disini dan melihatmu? Kalau aku sudah bosan, aku akan langsung keluar.”


Omong kosong apa ini? Sungguh tak bisa dipercaya. Tak ada senyum, hanya ada tatapan santai tanpa ada rasa bersalah. Rasanya Aileen ingin menabok wajah Jymin yang kelewat polos sekali. Aileen tertawa renyah sembari menggeleng, terdengar mengejek sekali. Aileen langsung melayangkan tatapan tidak suka kearah Jymin.


Jymin tersenyum kecil, bukan senyum bahagia ataupun senyum kesedihan—senyum itu lebih sulit untuk diartikan. “Tapi aku melihat ... sesuatu yang aneh tentangmu, sejak beberapa waktu lalu.”


Aileen mengangga, ia benar-benar syok dengan apa yang ia dengar. Jangan bilang, Jymin tahu jika selama ini ia hanya bersandiwara aja. Aileen mengerutu kesal dalam hati, Ah acting nya memang jelek sekali. Tidak, Aileen tak akan membiarkan itu, maka Aileen langsung mengerjab bingung—seolah tak mengerti apa-apa. Yang nyatanya tak luput dari perhatian Jymin pada perubahan Aileen. Sungguh, Aileen menjadi sangat gugup saat mendapati Jymin terus menatapnya mengintimidasi bahkan Aileen sudah tak bisa mengendalikan dirinya agar menjadi tenang. Dan Aileen sangat perlu, mengambil oksigen untuk menetralkan rasa gugupnya.


“Apa? Apa yang aneh? Tidak ada yang aneh. Berhenti mengangguku, apa kau tidak lelah mengangguku terus menerus?”


Aileen mengucapkan kalimat itu dengan cepat meski berakhir dengan Jymin semakin mencurigainya, bahkan perubahan reaksi Aileen menjadikan Jymin tahu bahwa yang dikatakan Jey tentang Aileen yang berpura-pura melupakannya hanyalah bualan hingga membuat Jymin terdiam dan berpikir sejenak.


“Aku minta maaf.”


“Kalau begitu keluarlah.”


“Maaf ...”


“Jika minta maaf, maka keluarlah.” ulang Aileen lagi kali ini dengan nada yang lebih tinggi.


Dalam hitungan detik, tetap saja tindakan Aileen masih tidak berpengaruh untuknya, Jymin menatap Aileen lekat, sungguh Jymin sebenarnya tak bisa menahan rasa rindunya pada Aileen. Demi apapun, Jymin ingin sekali membungkam bibir manis Aileen yang terus mengomel padanya. Tapi, Jymin hanya bisa menahannya, kali ini ia tak bisa berbuat apapun. “Aku akan menunggumu disini, kapan kamu akan pulang, Aileen?”

__ADS_1


Benar, Jymin tetap dengan keras kepalanya. Mau tidak mau, Aileen lebih memilih meninggalkan Jymin, sungguh berdebat dengan Jymin tidak akan ada habisnya, tidak ada yang mau mengalah. Jymin langsung bangkit, lalu mempercepat langkahnya untuk mengejar Aileen yang hampir jauh dari penglihatannya.


Jymin dengan singgap menahan langkah Aileen dengan memegang pergelangan tangan Aileen, menghadang tubuh Aileen yang ingin melangkah lagi hingga tubuh mereka saling berhadapan. Di detik itu juga, Aileen langsung menghempaskan tangan Jymin dengan kasar—amarah telah menguasai seluruh pikirannya.


“Jangan menyentuhku.”


Jymin sedikit terkesiap dengan respon yang di berikan Aileen, namun Jymin tetap pada pendiriannya—ia harus melindungi Aileen.


“Setidaknya, ayo pergi bersama. Aku akan mengantarmu.”


Jymin menekan setiap perkataan yang keluar dari bibirnya. Matanya tak lepas menatap Aileen yang seperti menahan tangis. Sungguh demi apapun, Jymin tak pernah bisa melihat Aileen mengeluarkan air mata. Jymin tak pernah membayangkan hal ini terjadi, Jymin hanya berpikir bahwa Jymin akan menjalani hidup bersama Aileen lagi, hanya Aileen dan dirinya.


Aileen Mengigit bibir bawahnya kuat, ia tak ingin terlihat lemah di mata Jymin. Kepalanya mendadak pusing, dan napasnya begitu sesak. Sekuat tenaga, Aileen meredam tangisnya. “Tidak usah, kita pergi kearah yang berlawanan.”


Jymin menghela napas kasar, Aileen benar-benar menguras seluruh kesabarannya. Hingga tanpa sadar, Jymin membentak Aileen dengan suara yang keras.


“Apa lagi yang harus aku lakukan untuk menunjukkan agar kamu memperhatikanku? Aku harus bersikap seperti apa?”


“Menjauhlah dariku! Kenapa kau terus melakukan ini padaku? Aku muak, muak, kau tahu? Aku sangat muak dengan tingkahmu! Aku tidak ingin hidup seperti ini, jika aku tahu akan sesakit ini, aku takkan mencintaimu.”


Aileen membalas yang sama seperti Jymin, membentak lelaki itu di sela-sela rasa sakit yang menghujam hatinya. Sungguh, suasana hati Aileen sedang tidak bertata dengan baik akan permikirannya sendiri, rasanya Aileen ingin mengluapkan semua rasa sakit dalam hatinya. Rasa sesak di dada Aileen tercipta hanya kerena tindakan Jymin yang sudah berlebihan. Mata Aileen benar-benar sudah memanas, menatap Jymin yang tampak terpaku di depannya. Aileen tak perduli lagi, jika kebohongannya selama ini terbongkar—persetan dengan semua itu.


Aileen mengusap air matanya yang tanpa sadar mengalir melewati pipinya namun Aileen cepat-cepat mengusapnya dan menghindar pergi. Aileen ingin pergi sejauh mungkin dari Jymin, sejauh yang ia bisa. Sungguh, Aileen tak mau melihat Jymin lagi, ia sudah muak dengan semua ini. Ia pikir Jymin akan berubah, namun kenyataannya Jymin semakin menjadi-jadi.


Aileen semakin mempercepat langkahnya, hingga tanpa sadar ia sudah semakin jauh. Aileen tak menyadari jalan apa yang ia gunakan, jalan yang bisa saja menyesatnya. Seketika Aileen memberhentikan langkahnya, saat Aileen bisa merasakan bahwa hawa jalan yang ia gunakan terlalu dingin, sepi dan sangat menyeramkan. Aileen mengatur napasnya yang tersengal-sengal, mendadak Aileen melenguh sakit seraya memegang kepalanya—kepalanya semakin pusing, napasnya terasa sangat sesak. Aileen langsung berpegangan pada sebuah pohon sebelum tubuhnya bisa saja ambruk ke tanah. Lututnya terasa sangat lemah, seluruh udara di sekitarnya seakan lenyap.


Pandangannya mengabur.


Aileen tidak tahu apa lagi yang terjadi setelahnya, ia hanya merasakan tubuhnya jatuh namun tidak sampai ke bawah karena ada yang lebih dulu menangkapnya.


Aileen sangat berharap seseorang itu bukanlah Jymin.


***


Kira-kira siapa ya?🤔


Semoga bukan Jymin🤣

__ADS_1


__ADS_2