
“Woah, apa kau hamil?”
Aileen ingin menjawab, tapi Aileen di buat diam dengan tatapan peringatan Jymin yang seolah berbicara, jangan katakan apapun. Jymin terlihat memasukkan tangannya ke dalam kantong, santai tersenyum dingin dan menaikkan salah satu sudut bibirnya, seolah-olah itu adalah pertanyaan yang membuatnya geli. “Haha, kami menundanya. Bukankah bayi itu sedikit menyusahkan!”
Ya Tuhan, pembahasan ini benar-benar menyebalkan. Aileen muak. Lebih dari itu, Aileen benci dan kesal. Rasa nyeri itu mulai muncul di hatinya. Aileen sudah tak ada selera lagi. Awalnya, setelah selesai pembicaraan ini, Aileen ingin mencicipi hidangan mewah yang memang sedari tadi terus terpandang oleh matanya. Aileen menatap jijik dengan tiga lelaki di depannya ini, dua lelaki yang menenteng gelas kaki di tangannya dan lelaki yang masih memegang erat pinggangnya. Aileen muak dengan dirinya sendiri, padahal seharusnya Aileen tidak peduli dengan itu. Aileen tanpa sadar meremas gaunnya sendiri.
Setelah salah satu lelaki itu menyesap cairan merah di gelas kaca. Pernyataan lain pun mulai muncul. Dan, membuat Aileen sudah tak bisa berdiri diam saja. Aileen ingin menghantam wajah mereka dengan kemarahannya. Aileen sudah tak peduli lagi dengan Jymin. Ingin melepaskan genggaman dari tangan Jymin, gagal—Jymin malah semakin mengeratkan genggaman mereka.
“Partner? Apa semacam itu? Jymin mendapatkan apa yang diinginkan, Jymin menjadi lebih kuat. Sedangkan wanita disampingmu menikah denganmu karena kemewahan dan bermain dengan uang? Bukankah menyenangkan?”
Jymin langsung melemparkan seringainya kepada dua pria itu. “Apa kalian kesini untuk merayakan perusahaan atau melakukan penghinaan, Bill, Wief?”
Jymin spontan menarik Aileen dengan memegang pergelangan tangan istrinya. Bukan menyerah dengan perseteruan itu, tapi Jymin tak ingin istrinya semakin tenggelam dengan pembahasan itu. Aileen masih belum pantas mendengarnya. Aileen yang di belakang Jymin hanya bisa mengikuti. Untung saja, Jymin tak berjalan terlalu cepat. Tentu saja, Aileen masih belum bisa mengimbangi kakinya yang memakai high heels. Di pertengah jalan, Aileen langsung menyentak tangan Jymin dari pergelangannya. Now, Aileen tak ingin berjalan menyamping di dekat Jymin. Jadi, Aileen lebih memilih berjalan lebih cepat dan di depan Jymin.
Aileen tersentak kaget saat sesuatu yang basah menyentuh bibirnya. Kurang ajar, Jymin baru saja menyatukan bibir mereka. Syukur, itu tak terlalu lama, hanya kecupan singkat tapi mampu membuat langkah Aileen yang terburu-buru mendadak terhenti. “Jymin, ini tempat umum!”
Jymin memandangi Aileen serius. Matanya mengamati dengan rinci ekspresi yang di keluarkan Aileen. Hanya satu yang Jymin pahami, Aileen kesal padanya. “Aku sudah mengatakan padamu, jangan masukkan perkataan mereka ke hatimu. Apa mereka melukai hatimu?”
Bukan mereka saja Jymin, tapi kau juga. Kau yang lebih menyakitiku. Dengan santainya kau mengatakan, bayi itu menyusahkan. Apa kau tak tahu perasaanku Jymin. Aku sakit! Ternyata aku benar, kau tak akan pernah bisa berubah!
Ingin Aileen mengatakan semua itu di depan wajah Jymin dengan nada yang sangat keras. Sialnya, Aileen hanya bisa memendamnya di dalam hati. Aileen tak punya cukup keberanian, apalagi tempat ini masih tampak sangat ramai. Aileen tak mau jadi pusat perhatian. “Aku sudah mempersiapkan diri untuk itu. Jadi, tidak sama sekali!”
Setelah menyelesaikan ucapan itu, Aileen langsung meninggalkan Jymin dan memilih duduk di kursi yang terbuat dari titanium. Aileen saat ini ingin menenangkan diri. Sepertinya tempat itu cukup membantunya. Memandangi kolam dengan air jernih, membuat pikiran Aileen sedikit tenang.
__ADS_1
Jymin mengejar Aileen. Kini, Jymin berdiri di depan Aileen yang sedang duduk. Bibir tebal Jymin menerbitkan senyumnya, sembari tangannya mengelus permukaan kepala Aileen dengan lembut. Jymin harus memberi ruang untuk Aileen menenangkan diri. “Baiklah, jika ingin duduk disini. Aku akan membiarkanmu lima belas menit saja. Setelahnya, aku akan menjemputmu disini. Aku harap kau tidak pergi kemana-mana sebelum aku menemuimu.”
Aileen tak sedikitpun menggubris. Aileen hanya diam sambil mengalihkan pandangan kearah lain. Jymin tersenyum hambar, sepertinya sudah terbiasa dengan ketidakacuhan Aileen terhadapnya. Lalu, Jymin memilih pergi. Setelah Jymin menghilang dari depannya, Aileen perlahan mendongak memandangi punggung tegap Jymin yang berjalan kearah selatan.
“Hei ...”
Aileen dibuat copot jantung ketika tiba-tiba suara menyapa itu terdengar begitu dekat dengannya. Lantas, Aileen langsung menoleh kearah yang Aileen yakini adalah suara seorang pria. Aileen terperanjat, seseorang itu adalah Seo.
“Hei, bagaimana kabarmu Aileen. Apa kau suka dengan pesta ini?” Itu hanya sekedar reaksi basa-basi saja, Aileen tahu itu. Jadi Aileen lebih memilih, menimpali dengan pembahasan lain. Tepat sekali, Seo sudah ada disini. Aileen rasa harus segera mengungkapkan kebingungannya selama ini. “Seberapa penting rahasia yang tidak bisa kak Seo katakan? Kenapa kakak malah mengajak Aileen untuk berteka-teki. Aileen tak bisa menebaknya, otak Aileen terlalu capek berpikir keras!”
Seo tak menyangka, Aileen akan langsung ke pembahasan yang memang ingin ia utarakan. Aileen begitu cepat ingin memulai start mungkin sampai finish. Seo mengangkat alisnya. “Haruskah aku memberitahumu tentang itu? Aku pikir kita tidak terlalu dekat untuk berbicara hal pribadi.”
Aileen mengernyitkan dahi. Seo melihat itu, langsung menyela. Seo tahu Aileen pasti ingin berujar kesal.
Aileen yang begitu penasaran langsung mengangguk. Tanpa mengingat, jika tadi Jymin menyuruhnya untuk tidak pergi kemana-mana. Ternyata, Aileen di ajak masuk oleh Seo dengan melewati sebuah pintu dimana hanya beberapa tamu undangan VIP saja yang boleh masuk. Ragu, ketika Seo menyuruh masuk ke sebuah kamar yang gelap. Aileen pikir, Seo hanya membawanya duduk di sofa luar yang tersedia. Menyakinkan diri, Aileen masuk diikuti oleh Seo dari belakang. Kamar menjadi lebih terang, ketika Seo menghidupkan saklar lampu samping pintu sekaligus menutup rapat pintu.
Aileen terus melangkah mengikuti Seo dari belakang. Hingga mereka berhenti di sebuah balkon. Dari atas terlihat semuanya, lampu kelap kelip, serta suasana meriahnya perayaan. Aileen mendadak bingung dengan Seo yang membawanya kesini. Tapi, Aileen cukup nyaman dengan suasana yang memang terlihat indah dimatanya.
“Kau mungkin tidak setuju, tapi ini yang sebenarnya. Yakin? Kau tidak akan marah dengan apa yang aku katakan?”
Aileen menoleh kearah Seo. Lantas mengangguk cepat. “Penasaranku lebih utama kak, jadi sebaiknya kakak bilang saja. Aileen tidak mau di bunuh secara perlahan karena penasaran!”
Seo menanggapi dengan senyum yang sangat tipis. Pandangan Seo kembali tertuju ke depan, menatap ribuan manusia di bawah sana. Serta kolam besar yang terlihat sangat indah dari atas. Seo mengusap dagu sebelum memulai percakapan. “Apa kamu mau? Terus hidup seperti dipenjara? Jymin selalu mengekangmu bukan? Wanita mana yang bisa bertahan dengan lelaki seperti itu. Membosankan sekali.”
__ADS_1
Dalam hati, Aileen seakan mengelaknya. Jymin memang seperti itu, tapi Aileen memaklumi. Itu sifat Jymin yang memang dari lahir. “Tapi kak, Jymin selalu memperlakukan Aileen dengan lembut. Jymin tak pernah kasar sama Aileen.”
Seo langsung terkekeh geli, tersenyum meremehkan kearah Aileen. “Apa kau sebodoh itu? Haha, bukannya ini lucu. Mana bisa kau mendeskripsikan seseorang dari penampilannya saja. Kau harus berhati-hati dengan orang yang penampilan seperti itu, apa bagusnya dengan sifatnya lembut tapi tindakannya membuat batinmu tersiksa. Benarkan? Kau jangan lengah, itu namanya strategi.”
Seo sekilas melirik arloji di pergelangan tangannya. Ia tak boleh terlalu lama. Jangan sampai, ia ketahuan membawa Aileen kesini. Seo hanya boleh menggunakan waktu lima belas menit saja, seperti pembicaraan mereka yang Seo nguping tadi.
Dalam hati, Aileen memang bisa membenarkan ucapan itu. Ada kalanya dimana, Aileen salah tingkah dengan tindakan Jymin, tapi juga ada kalanya Aileen terasa tersiksa batin bersama Jymin.
Sejenak Seo memberi waktu untuk Aileen mengevaluasi ucapannya. Tentu saja, Seo tahu Aileen mempunyai jiwa yang mudah cemas, pada umumnya lebih gampang di kendalikan. Rasa ketakutan pada diri Aileen yang begitu tinggi membuat Aileen lebih rentan untuk menyetujui sesuatu karena menganggap sarannya sebagai solusi terbaik. Menghasut? Cukup menguntungkan disini.
“Kau belum tahu? Jymin memanfaatkan mu agar bisnisnya lebih kuat. Ah, kau bisa dibilang sebagai sasaran untuk musuhnya, agar Jymin tetap bertahan.”
Aileen mendadak bingung. Sasaran?
Apa ia hanya digunakan sebagai umpan, istilahnya seperti jika diperlukan hanya untuk ada kepentingan saja, jika tidak yah di buang. Apa Aileen hanya diperlukan dalam sebuah permainan? Apa Jymin seperti itu padanya? Tapi mana mungkin! Aileen bingung sekali, sisi lain hati Aileen berkata itu mustahil, sisi lainnya lagi bisa jadi benar karena Jymin kerap sekali memuji dirinya bahkan terkesan sangat berlebihan. Tentu saja, Aileen sedikit syok saat ia kembali pada Jymin, sifat Jymin sedikit berubah padanya. Dulunya tak terlalu lembut seperti sekarang. Jauh beda sedikit.
Seo mengangkat alis kirinya, melihat pupil Aileen, Seo menyadari Aileen begitu bingung sekaligus seperti semakin tertarik dengan bahan pembicaraannya. “Jymin menyembunyikannya darimu? Woah luar biasa, benarkah lelaki seperti itu tulus mencintaimu Aileen?”
Sungguh, Aileen tak tahu harus bagaimana. Ini seperti sebuah situasi yang begitu membuat Aileen syok dan luar biasa bingung. Aileen sedikit memiringkan kepalanya kearah Seo dengan dahi jelas sekali terlihat berkerut. “Tidak mungkin, sulit dipercaya.”
Ah, sepertinya Seo harus lebih dalam lagi memainkan situasi. Hmm, Aileen cukup pintar juga menyangkal ucapannya. “Kau harusnya takut, tapi kau malah berpikir bahwa ini sulit dipercaya. Aku sih hanya memberitahu. Jangan mau terlibat, bersama Jymin kau lebih beresiko.” Seo mengangkat bahunya samar, lalu pandangan Seo tertuju pada meja bundar kecil yang terletak di sampingnya. Disana sudah tersedia dua jenis minuman yang berbeda, lalu Seo pun mengambil miliknya.
“Jadi aku harus bagaimana?”
__ADS_1
Yes, Aileen semakin masuk ke perangkap.