Miracle,

Miracle,
Masih mencintaiku?


__ADS_3

Ada yang nunggu cerita ini up?


🐼🐼🐼


“Kau kelihatan jahat sekali membohonginya? Kenapa kau memperlakukannya seperti itu, apa kau akan membuatnya tersakiti, karena bisa saja dia kembali mencintaimu dan berakhir kau meninggalkannya?”


Jymin menghela napas samar, ketika telinganya mendengar ucapan tak percaya dari bibir Jey. Pandangan matanya tetap tertuju menghadap ke dinding kaca besar melihat langit cerah serta kerumunan kendaraan yang berjejer rapi dan ribuan manusia di bawah sana. Mood Jymin menjadi buruk ketika Jey mengungkitnya. Jymin memanggil Jey langsung kerumah untuk membicarakan hal yang menurutnya mustahil.


Niat awal gitu.


Tapi Jey membahas lain. Jey membahas kelemahannya.


Jey yang duduk berhadapan langsung dengan Jymin menghela napas panjang. Jymin tak menggubris ucapannya. Jey tahu, ia salah. Seharusnya Jey tak membuat perbincangan topik ini. Jymin tak suka setiap kali ia mengungkitnya. Tapi Jey, tak bisa jika harus terlihat tenang. Jey khawatir. Sebagai paman, Jey harus melakukan yang terbaik buat Jymin. Jymin satu-satunya orang yang paling dekat dengannya, jadi sudah seharusnya Jey membuat Jymin menjadi lebih baik, agar nanti tak ada lagi terjadi penyesalan.


“Apa yang membuatmu berubah pikiran? Bukankah kau berkata tak akan mencarinya lagi setelah kita mendapat file tanpa pengirim itu? Sebenarnya apa rencanamu? Kau kehilangan akal!”


Jey tetap pada topik utamanya. Ia harus menemukan jawaban langsung dari Jymin. Sudah beberapa hari ini pertanyaan itu terus menghantuinya. Jey tidak tenang. Jey pikir, Jymin sudah terlalu jauh melangkah. Jey tak ragu jika harus memprotes atau membantah ucapan Jymin. Jey sudah mengganggap Jymin sebagai anak kandungnya sendiri setelah terjadinya kecelakaan orangtua Jymin yang sampai sekarang belum tahu apa penyebabnya. Jadi tak heran, Jey bersikap berbeda. Jika di kantor, Jey akan bersikap profesional dan jika dirumah Jey akan bersikap layaknya orangtua.


Jymin mengusap telinganya yang mendadak muak dengan pembicaraan yang dibahas Jey. Jymin tak suka. Ia sudah terlalu bosan untuk mendengar semua keluhan Jey tentang tindakannya. Toh, ini maunya. Jadi suka hatinya dong harus bertindak seperti apa. Jymin menciptakan senyum dengan garis kerutan pada sudut bibir ketika menoleh kearah Jey yang memandanginya dengan tatapan tak main-main, begitu serius.


Jymin mengangkat bahunya samar sembari mengusap dagunya pelan. “Hmm ... Aku berpikir, ini agak menyenangkan untukku. Jadi, tak seorang pun yang bisa memilih apa yang harus ku lakukan atau siapa yang harus ku sakiti.” Jymin menjeda ucapannya sejenak untuk mengambil gelas kaki yang berisi Jus melon nya, memutari gelas itu hingga minumannya terlihat bergelombang.


“Aku hanya memprioritaskan tujuanku. Aku harus menyelesaikannya, situasinya memang seperti itu. Ini situasi dimana aku tidak ada pilihan lain. Itu pasti mengesankan karena menantang.” Jymin mengangkat alisnya memandang Jey, lalu mengarahkan gelas itu di bibirnya, meneguk minuman kesukaannya dengan santai. Tenggorokan Jymin terasa begitu segar, minuman jenis ini memang tak bisa di kalah oleh apapun. Jymin meletakkan gelas minumannya, tanpa melihat Jey. Jymin menyandarkan tubuhnya dengan kaki menyilang, kembali menoleh kearah kaca besar. Seolah pemandangan itu lebih menarik daripada wajah Pamannya yang terlihat masam. Jymin hanya akan mendengar kelanjutan ucapan Jey, tapi jika Jey membahas tentang hal itu lagi, sesegeranya Jymin meninggalkan Jey dari ruangan kedap suara ini.


Jey terlihat memutar bola matanya malas merasakan aura Jymin yang begitu dominasi. Lebih tepatnya, julukan yang pantas 'bocah arogan'.


Baiklah, Jey akan lebih serius. Ia akan membahas kembali tentang file itu. File yang memang kelihatan nyata, tapi Jymin seakan menyangkalnya.


“Apa kau yakin file itu palsu tanpa ada kebenaran? Seharusnya kau memberitahu istrimu. Kenapa kau menyembunyikan darinya, dia wajib tahu. Bagaimana jika istrimu di nyatakan ada sangkut pautnya dengan masalah ini?


Jey berusaha membaca ekspresi Jymin yang terlihat datar. Tapi satu Jey yang tahu, Jymin pasti terus menyangkal ucapannya dalam otak. Ia hanya ingin mengelabui Jymin saja, melihat bagaimana tanggapan Jymin tentang hal ini yang mungkin benar-benar terjadi. Tentu saja, pembicaraan mereka kemarin terdengar masuk akal. Jymin menjelaskan jika itu tidak benar, Aileen tidak menjadi tersangka sebab hubungan Jymin dan Aileen hanya satu bulan setelah pernikahan. Di tambah lagi, Aileen sempat menghilang dari Jymin. Jymin pun tak pernah mengatakan pada Aileen kenapa orangtuanya bisa meninggal, Jymin hanya mengatakan, orangtuanya memang sudah waktunya meninggal.


Waktu sudah berlalu lima belas menit. Jey melihat Jymin tak kunjung menjawab. Bocah arogan ini, memang selalu berperang sendiri dengan pikirannya tanpa mau berdiskusi bersama mungkin ini ada sangkut pautnya dengan phobia Jymin yang sudah lama dialami. Jey heran, kenapa Jymin tak kunjung seperti dulu lagi? Bukankah lebih baik membagi kecemasan daripada memendam sendiri. Jey sadar, mengembalikan rasa kepercayaan memang hal yang tersulit untuk dilakukan? Tapi bisa kan mencobanya dulu?


“Bagaimana jika istrimu tahu dari orang lain? Ku rasa, dia pasti tak ingin melihatmu lagi.”


Jey tetap menunggu respon Jymin. Walaupun lelaki itu terlihat seperti patung yang tak bergerak sedikit pun dari posisinya. Hingga akhirnya, Jey bernapas lega ketika Jymin menoleh memandangnya. Tatapan Jymin menjadi lebih intens, tampaknya Jymin terlalu berpikir keras untuk menjawab.


Jymin tersenyum kecil. “Istri? Itulah sebabnya aku tidak mau dia tahu dariku. Karena ini hal terbaik yang harus ku lakukan.”


Jey berdecak samar sembari menggeleng kecil, tak percaya dengan ucapan yang terlontar dari bibir Jymin. Apa sebenarnya yang ada di otak Jymin. Jymin seakan menganggap ucapannya begitu santai.


“Kau bodoh atau bagaimana. Itu malah membuatnya semakin membencimu. Kau tidak waras!”

__ADS_1


Wajah Jey memerah kesal. Biarlah Jymin mengatakan jika dia suka marah-marah atau mudah emosi. Ini memang sifatnya, walaupun Jymin tidak suka, kata Jymin jika dia marah akan semakin tua. Memang sudah tau, itulah makanya Jey harus memperingatkan apa yang baik untuk Jymin lakukan. Umurnya sudah tak semuda dulu lagi, ia tak tahu kapan saja nyawanya bisa diambil.


Wajah Jymin berubah sedih. Alisnya memberengut, memalingkan wajah kearah lain seolah kontak mata akan membocorkan rahasia. “Ini karena aku, aku membenci diriku sendiri. Aku melakukan sesuatu yang buruk padanya. Itu karena aku cemburu.” Jymin menarik napas, seolah oksigen di sekitarnya dalam sekejap menghilang hingga menimbulkan rasa sesak yang menghantam dadanya.


“Aku mungkin tidak akan memulainya, namun hatiku bergerak melakukan itu.”


      Tambah Jymin lagi dengan lirih.


Dalam satu detik emosi Jey menguap entah kemana, tergantikan dengan wajahnya yang memandang Jymin prihatin. Jymin terlihat terluka sekali, meskipun kejadian itu sudah berlalu satu tahun, mungkin ingatan tentang masa lalu menyakitkan itu tidak akan pernah hilang dan terus melekat di otak Jymin. Jey tidak tahu harus bersikap seperti apa, kagum atau bahkan takut. Jymin memiliki kelebihan yang jarang sekali dimiliki oleh orang lain. Jey tidak mengerti, apa itu kelebihan atau malah kekurangan, Jymin memiliki sebuah otak yang begitu kuat ingatannya, tapi aneh. Jymin hanya akan mengingat kenangan buruk, sedangkan kenangan yang indah perlahan akan memudar sewaktu-waktu.


“Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Kau bisa memperbaiki kesalahanmu, tapi yang tidak bisa kupercaya kau malah sebaliknya.”


Jymin senyum sedikit tanpa usaha, tipis sekali hanya segaris. “Aku tidak tahu bagaimana caraku menghadapi ini. Kita lihat saja, apa yang terjadi.” Jymin langsung duduk dengan tegap ketika mengingat sesuatu, dalam sedetik Jymin merubah ekspresinya menjadi serius memandang Jey.


“Oh ya, aku sampai melupakan sesuatu. Periksa kembali file itu, jangan ada kesalahan. Aku tahu pasti ada yang memanipulasi agar terlihat nyata. Kamu tahu kan, aku tidak bisa mempercayai orang lain. Aku akan mengandalkanmu, mempercayaimu dan menangani konsekuensinya.”


Jymin bukan lelaki bodoh. Jymin tipe lelaki cerdas, bahkan lebih dari kata cerdas. Tidak ada yang bisa membodohinya dengan cara yang sangat konyol menurutnya. Mereka pikir sedang menghadapi orang sangat gampang di tipu, Jymin bahkan tidak pernah mengalami itu sekalipun dalam meraih sebuah tender di perusahaan, Jymin terlalu licik dalam menghadapi sesuatu. Jymin sudah menganalisa segala hal tentang file yang dipaparkan, Jymin menemukan sebuah kejanggalan dari sebuah rekaman video itu sesuai dengan pernyataannya pada Jey kemarin. Jymin hanya perlu menyelidiki lebih rinci, mengenali tanda-tanda dan mengumpulkan bukti serta fakta dengan isu tersebut.


Jey hanya mengangguk samar. Dalam hati Jey bergumam pelan 'Aku merasa kasian padanya'. Jey menatap Jymin tak kalah seriusnya. “Ok baiklah, aku akan menyelidiki file itu. Tapi, aku menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Satu tahun yang lalu, sejak kau mengurung diri. Tak ada muncul masalah seperti ini. Aku menebak pasti ada sangkut pautnya dengan seseorang yang menyembunyikan kematian orangtuamu.”


Jymin mengangguk paham. Mengerti apa yang dikatakan Jey. Itu memang dari dulu ia sadari, ketika ia memilih mengurung diri daripada muncul pada keramaian. Banyak keanehan yang terjadi. Jymin tak tahu, mungkin seseorang itu senang atau bahkan merasa menang dan berkuasa atas dibalik penderitaan. Tapi, Jymin tak mudah di mainkan, Jymin akan membalas balik perbuatan mereka, termasuk orang yang punya niat untuk terus mencoba menjatuhkannya dari posisi terpimpinnya sekarang. Tak peduli jika seseorang itu mengalir darah yang sama dengannya dengan sebuah ikatan.


“Hmm ... Ada banyak orang gila di dunia ini. Aku sudah berusaha keras menemukan jawabannya. Banyak yang kita lalui. Kasus ini tidak ada perkembangannya karena kita tidak menemukan bukti apapun, sekeras apapun usaha. Kau tahu bahwa kita sudah putus asa mencarinya.”


Jey menyatukan dahinya, sedikit tak mengerti dengan arah pembicaraan Jymin. “Jadi?”


Jey susah payah meneguk ludahnya. Jymin terlihat sedikit menyeramkan setelah menyelesaikan ucapan itu. Ini wajar! Jymin begitu menyayanginya orang terdekatnya, bahkan tak segan-segan Jymin akan mempertaruhkan nyawa untuk melindungi seseorang itu. Dan, sampai saat ini juga, Jey belum bisa membaca pikiran Jymin, sebenarnya siapa seseorang itu?


“Aku mengerti. Aku tahu kau bukan tipe yang menyimpan dendam. Ehem, ku pertanyakan lagi. Apa kau yakin akan terus menyembunyikan ini darinya?”


“Oh ya, apa kau sudah berhasil mengambil ponselnya? Aku mengira pasti terjadi sesuatu.”


Bibir Jey hanya bisa terkatup. Jymin malah mengalihkan pembicaraan, bukankah pertanyaan itu mudah sekali untuk di jawab. Walaupun Jymin sudah menjawab sebelumnya, tapi Jey belum bisa menerima, seakan belum puas dengan jawaban Jymin tadi. Mungkin saat ini Jymin hanya tidak mood saja, Jey tetap berpikir positif.


“Maaf, mungkin Aileen tidak begitu mengenaliku. Jadi dia seakan menghindar. Aku akan berusaha mencobanya lagi nanti.”


Jey masih mengingat, awal-awal pernikahan Jymin. Jymin menikah begitu privasi, hanyalah orang terdekat saja yang diundang, termaksud dirinya. Tapi Jey tak bisa datang kala itu, sebab Jey masih menjalankan perintah Jymin untuk mengelola perusahaan Jymin yang di London. Itulah sebabnya, mungkin wajahnya masih terlihat asing di mata istrinya Jymin.


“Tidak perlu, aku sudah mengambil keputusan. Aku sendiri yang akan melakukannya. Aku akan mengurusnya.”


🐼🐼🐼


“Kapan? Berapa lama kau sudah berdiri disana?”

__ADS_1


Sejenak Aileen menghentikan aktivitasnya. Bibir Aileen yang tadi tersenyum, mendadak cemberut ketika merasakan kedatangan Jymin di sekitarnya. Tanpa melihat pun Aileen bisa menyadari, karena parfum yang melekat di tubuh Jymin begitu menyeruak di hidungnya.


Jymin menatap sedikit aneh dengan aktivitas Aileen tadi, walaupun sekarang Aileen tidak lagi melakukannya. Tak dipungkiri, baru kali ini sisi lain Aileen keluar. “Sejak kau mengajak boneka itu berbicara. Kau salah makan apa pagi-pagi begini?”


Jymin tak bisa menahan lagi kedutan di kedua sudut bibirnya, hingga akhirnya tawa itu menyerbu keluar terbahak-bahak. Merasa geli dengan apa yang dilakukan Aileen. Aileen mencemooh sembari berdecak malas. Woah, tawa itu terdengar begitu mengejek, Jymin sialan.


“Jangan tertawa, ini semua karena kau! Ya ampun, apa yang sudah aku lakukan. Ah, aku jadi gila tinggal disini. Dumb, c'est con, Estupido.”


Aileen menjambak kepalanya, merasa geram dengan dirinya sendiri. Sepertinya kata bodoh masih belum cukup untuk dirinya. Aileen menghela napas kasar, menyandarkan tubuhnya lesu di sandaran sofa. Kepalanya terkulai lemas, mulut Aileen sedikit melengkung ke bawah. Ia BOSAN!


Masih dengan posisi yang sama, Aileen meraih boneka panda lalu menaruhnya di kedua lipatan kakinya, ah lebih tepatnya di atas pangkuannya. Tangan Aileen bergerak malas, mencolok-colok mata panda yang terasa keras di telunjuknya, bibir Aileen tetap mengerucut ke depan beberapa senti.


“Apa yang si brengsek itu lakukan kali ini? Apa kau ingin melihat wajahnya lagi? Aku tidak ingin melihatnya bahkan dalam mimpiku. Dia manusia tanpa hati.”


Jymin yang masih berdiri di belakang Aileen, menyaksikan semuanya. Jymin tahu Aileen pasti merasa bosan. Tidak ada yang bisa Aileen lakukan sesuka hati, karena Jymin mencegah semuanya, termasuk keluar dari rumah ini. Jymin bisa merasakan, Aileen hidup seperti di penjara. Jymin ada alasan melakukan semuanya. Ini demi kebaikan Aileen. Tak dipungkiri, pemandangan itu membuat Jymin merasa gemas dengan tindakan konyol Aileen begitu tak di sangka-sangka.


Aileen langsung mencubit telinga Boneka panda nya, seolah melampirkan rasa kesalnya. “Berhenti kamu roh jahat, pergilah kamu. Di larang mendekatiku, menjauh 100 meter.” Aileen bisa saja membuat telinga boneka panda nya tersobek, saking kerasnya Aileen mencubitnya, bagaimana tidak. Aileen menahan rasa marah ketika derap kaki Jymin terdengar mendekat, enak saja Jymin ingin mendekatinya. Aileen sekarang tidak mau melihat wajah Jymin.


Aileen mendadak terpekik ketika Jymin muncul seperti hantu, tepat di depan wajahnya. Jymin menatapnya sembari tersenyum manis, bukannya terpesona, Aileen malah merasa senyum itu sedikit lebay. Aileen tidak menduga kalau Jymin mengambil pergelangan tangannya, memojokkannya di ujung sofa. Semua gerakan itu dilakukan begitu gesit dan sigap, Aileen merasa tidak ada sedikitpun celah untuk melarikan diri. Jymin benar-benar begitu ahli, seperti pro dalam hal ini.


Jymin kini tersenyum tipis saat mendapati Aileen sudah berada dibawah kuasanya, Jymin berhasil mengunci tubuh Aileen yang setengah berbaring di sofa. Jymin bisa merasakan tubuh Aileen yang begitu terlihat kaku, mungkin Aileen sedikit terkejut. Agar Aileen bisa tenang, Jymin pun mengulurkan tangan untuk mengusap dahi Aileen lembut.


“Sepertinya kamu senang bertemu denganku, kamu pasti sering memikirkan ku. Aku sudah terlalu berarti bagimu akhir-akhir ini bukan?”


Aileen ingin muntah mendengarnya, mata bulatnya menajam menatap keatas Jymin. Aileen sedikit bergerak untuk mengelak, tapi Jymin lebih dulu menahan pergerakannya. “Aku bukan senang, aku syok. Minggir lah!”


“Kenapa? Terlalu indah di matamu?”


Jymin melemparkan senyum menggodanya.


“Maukah kau mendengarkanku, Aileen?”


Aileen mendadak mengelak, ketika melihat tatapan Jymin menjadi lebih intens dan serius memandanginya. Tatapan itu membuatnya tidak nyaman, tapi tetap saja mau semua gerakan yang Aileen keluarkan, Aileen akan tetap kalah dengan tubuh Jymin yang begitu mendominasi di atasnya. Aileen menatap Jymin menantang. “Tidak mau!”


“Apa kamu masih mencintaiku, Aileen?”


🐼🐼🐼


Bagaimana? Deg deg tidak?🤣


Jangan lupa tekan vote(★) di pojok kiri yahh:')


Di komen juga:')

__ADS_1


Biar author jdi lbih smngatt buat up:')


Masih ada yg nunggu cerita ini up?


__ADS_2