
BAB 21
Di sana ia bertemu dengan Faisal dan juga Mister Bimba. Anak buah Mister Bimba sendiri sibuk membantu mayat korban bersama beberapa panitia lainnya.
Oom Bimba yang tadi sudah diperkenalkan kepada Pandu dan Dhamayanti, kali ini sengaja membawa Pandu dan Faisal keluar dari ruangan belakang panggung.
“Kejadian ini sudah bukan semata – mata permainan sulap. Tapi ilmu sihir yang ikut ambil bagian.” Kata Oom Bimba.
“Bob Shalman orangnya..!” Pandu menebak.
Oom Bimba yang wajahnya mirip orang China itu berkerut dahi, “Kamu yakin dia orangnya..? dari mana kamu tahu bahwa ini ciri pekerjaan dari dia..?
“Terus terang, kami sedang memburunya..” jawab Pandu.
“Oooo…” Oom Bimba manggut – manggut.
Faisal menyela kata, “Apakah Bob Shalman sering melakukan gangguan seperti ini, Om..?”
“Ya, hampir di setiap pertunjukan sulap dia selalu hadir secara diam – diam dan mengganggu permainan dengan kekuatan sihirnya. Aku saja pernah di ganggu nya waktu main di Surabaya. Tapi untungnya aku belum memainkan aksi andalanku. Dan, sejak saat itu aku tidak berani memainkan adegan – adegan berbahaya.”
__ADS_1
“Om Bimba tahu di mana dia tinggal..?” tanya Pandu, “kalau boleh, saya ingin minta alamatnya, Om”
“Bisa.” Jawan Om Bimba. “Tapi.. Apa yang ingin kamu lakukan terhadap dia, Pandu..? Dia ini berbahaya loh..! Sebenarnya belakangan ini dia menjadi momok yang di takuti oleh para pesulap, baik pesulap professional maupun pesulap amatiran. Sebab…”
Dhamayanti datang dengan setengah berlari – lari menemui Pandu. Ia lansung berkata kepada Pandu, “Dia ada di dalam mobil BMW hitam! Sekarang masih di tempat parkir itu. Baru saja masuk kedalam mobil.”
“Permisi sebentar Om..” seraya Pandu bergegas ke arah tempat parkir di depan bangunan bertingkat itu.
Begitu sampai di tempat parkir itu, Dhamayanti segera menuding dengan suara sedikit keras, “Itu Dia…!”
BMW hitam telah meluncur meninggalakn parkiran menuju pintu gerbang. Pandu segera mengejarnya dengan berlari secara terang – terangan. Ia tak peduli banyak orang yang memperhatikannya. Ia bahkan berteriak,
“Tunggu…! Bob Shalman…! Hoooyyy… Tolong berhentikan mobil itu..!” teriak Pandu.
“Ada apa, Bung..?” Petugas Satpan bertanya dengan penuh selidik.
“Orang yang ada di dalam Mobil BMW hitam itu, Bob Shalman…! Saya tadi minta tolong untuk menghentikannya, tapi bapak tidak menghiraukan seruan saya.” Jawab Pandu.
“Saya juga tahu kalau itu mobilnya Bob Shalman.” Kata Pak Satpam yang setengah tua itu, “ Tapi.. sebaiknya Anda datang kerumahnya saja kalau butuh tanda tangan beliau. Jangan di sini, bisa mengganggu mobil – mobil yang mau keluar…!”
__ADS_1
“Saya tidak butuh tanda tangannya…!” Bentak Pandu dengan penuh rasa dongkol, “Bob Shalman yang membuat keadaan di atas panggung tadi! Dia yang membuat gadis itu benar – benar terpotong oleh gergaji mesin tadi. Dia menggunakan kekuatan sihir untuk menjatuhkan para pesulap lainnya.”
“Hoooohhh….!” Orang – orang yang mengerumuni Pandu saling menggumam, lalu berkasak – kusuk.
Dhamayanti datang dan segera menarik tangan Pandu seraya berkata, “Tinggalkan orang bodoh itu,,! Buang – buang waktu saja…! Aku sudah berhasil mencatan nomor polisi mobilnya.!”
Faisal dan Oom Bimba pun datang ke tempat parkir dalam keadaan tetap tegang. Oom Bimba bertanya kepada Pandu, “Bagaimana…?”
“Dia sudah kabur duluan, Om..” Jawab Pandu sambil terengah – engah.
Dhamayanti berkata kepada Faisal, “Sal, gue pinjam mobil lu, ya..? Besok gue pulangin.”
“Bawa deh sana..! Biar nanti aku numpang mobilnya Om Bim aja.” Jawa Faisal.
“Ehh… Hmmm.. saya minta alamatnya Bob Shalman sekarang juga Om..!” kata Pandu.
Setelah Faisal menyerahkan kunci mobilnya dan Oom Bimba memberikan Alamatnya Bob Shalman, Pandu pun segera pergi bersama adiknya. Ia sendiri yang mengemudikan mobil Mitsubishi Eterna abu – abu milik Faisal itu.
“Kita lansung menuju ke alamat ini saja…!” kata Pandu sambil meletakan kertas yang berisikan alamat di depannya.
__ADS_1
“Sebaiknya kamu jangan terburu nafsu, Pan.! Jangan sekarang, tapi selidiki dulu situasinya. Cari celah yang baik untuk menyerang dia. Ingat pesan Theresia,” ujar Dhamayanti yang berwajah tegang.
“Kalau kamu bertindak sekarang, bisa gagal. Karena, kita nggak tau seperti apa situastinya. Apalagi kalau kita lansung menyerang ke dalam rumahnya. Mungkin saja banyak jebakan yang sudah dia persiapkan.” Tambah Dhamayanti.