
BAB 30
Pandu menatap sekeliling dengan tegang. Tatapan matanya tampak liar. Beberapa saat kemudian, baru lah ia menyadari bahwa ia berada dalam sebuah kamar yang menyerupai kamar tahanan. Semua dindingnya terbuat dari logam, bagian enternitnya juga dari logam, lantainya marmer.
Ruangan itu berbentuk seperti silinder. Bulat. Tingginya sekitar tujuh meter. Lebar garis tengahnya antara delapan sampai sepuluh meter. Anehnya lagi, ruangan bulat menyerupai tabung kaca itu tidak mempunyai pintu sama sekali. Tidak ada jendela sedikitpun. Tetapi, pada langit – langitnya terdapat lampu neon yang menyala terang berbentuk seperti buah papaya.
‘Gila! Aku telah masuk kedalam perangkapnya! Bangs\*t…!’ batin Pandu.
Dukkk….! Pandu memukul dinding ruangan itu. Tak bergeming sedikit pun. Dinding itu keras sekali, bagai berlapis beton di balik logam mengkilatnya itu.
Pandu tidak menyangka sama sekali, bahwa Bob Shalman Lebih cepat mengambil antisipasi dan cepat bertidak demi keamanan pribadi. Pandu sebenarnya di singkirkan dari panggung dengan menggunakan kekuatan sihirnya
Sedangkan penonton tahunya, Pandu telah berpindah tempat dengan Natasya. Natasya keluar dari tabung lansung menuju tempat duduknya kembali, Pandu juga keluar dari dalam tabung dan duduk ke tempatnya semula.
Tepuk tangan penonton terdengar bergemuruh riuh. Tetapi, penonton tidak tahu, bahwa Pandu yang duduk di tempatnya kembali itu dalam waktu kurang dari sepuluh menit telah hilang dengan sendirinya. Seperti bensin tertiup angin. Penonton tidak tahu, bahwa Pandu yang sebenarnya terperangkap dalam sebuah ruangan tanpa pintu dan jendela, dan tanpa lubang untuk lolos sekecil jarumpun tidak bisa.
__ADS_1
Sudah berapa lama Pandu terjebak itu sebenarnya, ia sendiri tidak tahu. Barangkali waktu telinganya berdenging, jarum jam di tangan penonton sudah berjalam melewati tiga angka.
Yang jelas, setelah beberapa saat Pandu kebingungan mencari jalan keluar, tiba – tiba lantai bergerak dengan sendirinya. Pandu panik. Ia berdiri dengan kedua kaki sedikit direnggangkan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, sebab lantai itu bergerak turun ke bawah seperti lift.
Lama – lama terlihat Cahaya terang di tepian lantai. ‘Ooh… ternyata lantai tersebut berfungsi sebagai pintu dan lift yang menuju ruangan tadi.’ Batin Pandu. Kini ia bergerak turun secara elektrik, membawa Pandu ke sebuah ruangan yang mirip dengan aula. Lebar, luas, dindingnya terbuat dari batuan marmer hitam bercorak putih.
Di sana, Bob Shalman telah menunggu Pandu bersama dua orang anak buahnya yang ada di kanan dan kirinya. Mereka adalah Natasya dan gadis yang tadi berperan dalam permainan: Sate Kemesraan.
‘Tak salah dugaan ku, mereka adalah anak buah si bangs*t itu..!’ gumam Pandu.
Sementara itu, di belakang Bob Shalman ada tiga orang mengenakan kaos hitam berleher panjang, juga berlengan panjang. Hanya celana nya yang berbeda – beda. Ruangan luas itu mempunyai tiga pintu, di mana masing - masing pintu terdapat satu orang penjaga berkaos hitam dan celana hitam.
Pada pinggang para penjaga itu tampak terselip pisau, bahkan ketiga orang yang berada di belakang Bob Shalman itu, selain menyelipkan pisau juga menyelipkan pistol di pinggang mereka.
__ADS_1
Bob Shalman terkekeh – kekeh menyambut kedatangan Pandu dari atas. Ia tidak mengenakan pakaian sulap lagi, melainkan sebuah kimono yang berwarna hijau satin.
Sebelum lantai itu berhenti bergerak, Pandu masih tetap berdiri tegak, sedikit merenggang, matanya menatap sekeliling dengan liar. Ia sempat melihat jam dinding di atas sebuah pintu. Jam itu sudah menunjukan pukul dua belas lewat sembilan menit.
Padahal waktu Pandu memasuki hotel tersebut, jamnya menunjukan pukul tujuh malam lewat beberapa menit. Acara sulap di mulai pukul delapan tepat. Jadi, berapa lama sebenarnya Pandu terkurung di dalam sebuah ruangan itu.? Lebih dari tiga jam.
Ketika lantai itu bergerak semakin rendah, Pandu buru – buru mengenakan kacamata hitam. Ia tampak lebih gagah memakai kacamata hitam begitu. Namun, keadaan tersebut membuat tawa Bob Shalman jadi terhenti sedikit demi sedikit. Ada rasa kecewa yang di pendam dalam hati Bob Shalman ketika melihat Pandu mengenakan kacamata hitam.
Buru – buru Bob Shalman menguasai diri dan berusaha tetap kelihatan tenang. Seakan ia telah memperoleh kemenangan dengan berhasilnya menawan Pandu.
“Selamat datang di istana ku, Pandu…!” sapanya sambil tersenyum. Ah, take nak senyumnya itu. Pahit, memuakkan.
Lantai berhenti bergerak, Pandu melangkah meninggalkan lantai itu. Ketiga orang yang mempunyai pistol, bergerak ke samping kiri dan kanan Pandu, yang satu bergerak di depan Pandu. Sedangkan Bob Shalman berjalan diiringi dua gadis pendampingnya itu mmenuju sebuah mabel berukir warna kuning emas.
Mabel itu mempunyai sandaran lebih tinggi dari kepala manusia yang duduk di situ. Anehnya, mabel itu hanya terdiri dari dua buah, berhadap – hadapan, dipisahkan dengan sebuah meja kaca berbentuk persegi empat memanjang.
__ADS_1
“keberanian mu cukup menarik simpatiku, Pandu. Silahkan duduk!” kata Bob Shalman.
Pandu tidak mau duduk walaupun Bob Shalman telah lebih dulu duduk. Natasya dan Ella ada di sampingnya terus. Berdiri dengan gaya erotis, memandang penuh gairah, melirik dengan penuh ajakan birahi.