
BAB 28
Dhamayanti muncul ikut nimbrung, “Dia memang goblok!” sambil menuding kakaknya sendiri. “Nggak pakai otak kalau kerja, Ther. Sudah ku ingatkan berulang kali agar jangan menyerang, eh Dia malah nekat.”
“Aku kan nggak menyerang dia, bego!” bantah Pandu.
“Secara fisik memang nggak. Tapi dari kata – katamu, suara mu yang kayak kebo mau melahirkan itu.. sudah membuat Bob Shalman merasa diserang.” Balas Dhamayanti
Theresia tertawa kecil mendengar perdebatan kakak – beradik itu. Kemudian dengan tenang berkata, “Bob Shalman punya kekuatan hipnotis, yang berubah menjadi sihir. Kekuatan itu lebih dominan di matanya. Sasarannya adalah mata lawannya.”
“Kalau begitu, colok matanya biar buta!” ujar Dhamayanti seenaknya saja.
“Sebelum kau colok matanya, kau sudah lebih dulu di bacok.” Pandu Menyahut.
“Hei, kalian berdua kok jadi colok – colokkan sendiri..?” Tegur Theresia dengan menahan geli.
“Seharusnya kalian bisa berpikir dong, kalau Bob Shalman mempunyai kekuatan pada Mata, dan yang menjadi sasaran adalah mata lawannya, mata kalian harus memakai kacamata hitam. Biar kekuatan itu tidak bisa menembus mata kalian.”
“Kacamata hitam…?!” Pandu menggumam dengan berkerut dahi.
“Kamu punya nggak..? Kalau nggak punya, beli dulu..!” celetuk Dhamayanti sambil memukul pungguk kakaknya, lalu pergi dengan santainya menuju ruang makan.
__ADS_1
“Yanti.. Tolong panggilkan Pandu dong..” seru Agnes.
“Panggil saja sendiri.” Jawab Dhamayanti dengan ketus, suaranya cukup keras, membuat Pandu memandang dari ruang tamu.
“Apaan, Yan..?” tanya Pandu.
“Aku disuruh manggil kamu! Aku nggak mau dong. Memangnya aku babu disini..?” jawab Dhamayanti.
Pandu bergegas ke kamarnya. Omelan Dhamayanti sebenarnya niat untuk memanggilkan Pandu, tapi ia tidak mau di perintah begitu saja. Gadis bertubuh lansing dan berdada sekal itu memang gampang – gampang sudah meladeninya.
Di balik kekasaran sikapnya, sebenarnya tersimpan pengertian yang cukup tinggi terhadap keluarga. Ia punya perhatian khusus kepada kakaknya, dan juga ayahnya. Tapi ia punya cara yang berbeda untuk mengomel kepada kakaknya dan ayahnya.
Kepada Pandu, ia lebih sering membentak – bentak dan berlagak masa bodoh. Cara menyampaikan aspirasi, ide, atau gagasan – gagasan lainnya, sering di ungkapkan secara uring – uringan.
__ADS_1
Seperti halnya sore itu, tiga hari setelah Agnes pindah kerumahnya sendiri, Dhamayanti lansung teriak – teriak memanggil Pandu. Ia tahu bahwa Pandu sudah pulang dari kantor. Tas dan sepatunya sudah di kamar. Ia juga tahu bahwa Pandu sedang berada di rumah Agnes. Tetapi, ia tidak mau menyusul Pandu ke sana.
Dhamayanti berseru dari kamar Pandu sambil memukul – mukul dinding kamar itu. Tentu saja di kamar Mamanya Agnes terdengar suara dag – dug – dag – dug.
“Pandu…. ! Paaan,…! Pulang lu ! Gue punya kabar penting, bego…!” teriak Dhamayanti.
Ayahnya hanya geleng – geleng kepala, “Kenapa nggak di samperin saja ke sana sih..”
“Ngapain pakai di jemput segala? Memangnya dia pangeran..?” kata Dhamayanti kepada ayahnya. Ia berteriak, “Panduuuu…! Gue punya kabar penting tentang Bob Shalman…! Hoooiii… Pulang, Pulang….!”
Dug.. Dug… Dug.. ! Dinding kamar yang bersebelahan dengan kamar Mamanya Agnes itu di tending – tending oleh Dhamayanti. Tentu saja car aitu membuat Pandu geram. Ia memang sedang menemani Agnes di Kamar itu, ada juga Mamanya Agnes yang tengah mengemasi kertas kerjanya dari atas meja. Malu juga Pandu terhadap mereka. Mamanya Agnes hanya tersenyum sambil menggeleng – gelengkan kepala, Pandu segera pulang ke rumah dengan menyimpan kedongkolan.
“Pandu…” tegur Mamanya Agnes, “Mengalah saja! Jangan di ladeni. Memang sifat dia begitu kan..?”
“Mudah – mudahan bisa, Tante.!” Jawab Pandu sambil pergi.
Pandu menemukan Adiknya yang urakan itu di ruang makan. Gadis berhidung mancung itu sedang makan irisan manga matang dengan dicocol garam halus. Dhamayanti, merasa tak bersalah. Ini yang membuat Pandu geram sekali.
“Ada apa lu teriak – teriak kayak kebo hah…?” bentak Pandu dengan mata melotot.
__ADS_1