Misteri Gadis Terpenggal

Misteri Gadis Terpenggal
BAB 33


__ADS_3

BAB 33


Kesempatan itu di manfaatkan dengan baik oleh pandu untuk


menendang tengkuk kepala orang tersebut dengan kecepatan tinggi. Praaakkk…! Kreeekk…!


Ada tulang yang patah, dan orang itu sempat terbelalak. Mengejang kaku, lalu oleng ke kiri dan akhirnya ia roboh dengan darah mengalir dari mulutnya. Pandu segera menendang tangannya yang masih memegang pisau panjang. Pisau itu melesat di lantai ke arah Dhamayanti dan di tahannya dengan kaki.



Kemudian, pisau itu di ambilnya dan di lemparkannya ke arah tubuh lawan Pandu, seperti melemparkan sebuah tombak ke arah bawah. Jleebbb…! Tepat mengenai perut orang tersebut.



Pandu dan Dhamayanti sama – sama menghela napas. Dhamayanti berkata, “Temanmu masih ada satu, tuh…!”



Pandu berpaling memandang orang berkepala botak yang dari tadi tidak ikut campur. Ia hanya menjaga sebuah pintu. Namun, kali ini karena Pandu dan Dhamayanti mendekatinya, ia terpaksa mulai menggerakkan kedua tangannya yang berotot itu. Merentang ke atas keduanya, terlipat yang kiri, kedua kaki merenggang dan sedikit rendah. Lalu segera meraung seperti macan.



Pandu dan Dhamayanti berdampingan, sama - sama mengambil posisi miring dan pasang kuda – kuda. Tangan lawannya saat itu berkelebat mencakar – cakar sambil maju beberapa langkah. Lelaki botak itu mencabut pisaunya yang ada di pinggang. Tetapi, Jruubbb….! Dhamayanti lebih dulu melemparkan pisau kecil ke arah dadanya.



Orang itu menggeram. Pisau yang menancap di dada segera di cabut memakai tangan kiri, dan tanpa peduli darah yang mengucur, ia kembali menyerang maju dengan menusukkan pisau yang ada di tangan kanannya ke arah Pandu.



Pandu berkelit ke samping, tusukan itu meleset ke arah kiri Pandu, lalu tangan kanan Pandu menghantam telinga orang itu dengan sekuat tenaga.


Pllllooookkk…..!


Sikut orang itu menyodok ke samping, Proookkk…! Tepat mengenai pipi Pandu. Seketika Pandu terpental jatuh. Gigi grahamnya ada yang nyaris copot. Kepala Pandu jadi pusing. Tapi, ia tetap waspada, karena lelaki itu menyerangnya kembali dengan mengangkat pisau ke atas yang hendak di tancapkan ke dada Pandu.


“Hiiiiaaa….!”


Jruubbb…! Tiba – tiba orang itu berhenti berteriak. Pisaunya Dhamayanti yang tadi menancap di dada orang itu dan di buang setelah di cabut, kini sempat di tarik orang Pandu, kemudian segera di lemparkan. Pisau itu masuk ke mulut orang itu.


Kebetulan Dhamayanti ada di sampingnya, maka Dhamayanti berkelebat setengah lingkaran, menendang tepat mengenai gagang pisau tersebut. Jruubbb…! Pisau itu makin menusuk ke mulut orang itu, Dhamayanti sempat terpelanting jatuh karena tangan orang itu merenggang ke samping kanan kiri secara seketika dan mengenai wajah Dhamayanti. Namun, hal itu tidak mendatangkan sakit yang cukup berat. Hanya rasa kaget yang membuat Dhamayanti menggeragap lalu terpelanting.



Sedangkan orang itu sendiri dengan mata mendelik masih berusaha mencabut pisau dari mulutnya. Tenaganya cukup kuat, walau sudah separah itu. Maka, tendangan miring kaki Pandu mengakhiri napas orang itu.

__ADS_1



Tendangan tersebut tepat mengenai lehernya, hingga tersentak kuat, kepala bagian belakang membentur lantai. Setelah beberapa saat sekarat, akhirnya orang itu tidak bisa bergerak lagi selamanya.


“Masuk ke kamar itu!” seru Pandu. “Pasti itu kamar Bob Shalman.!”


Entah pistol siapa yang tergeletak di lantai, Pandu sempat memungutnya sebelum ia membuka Pintu tersebut. Ia berdiri di depan pintu dalam jarak kurang lebih tujuh langkah. Pistol di arahkannya ke depan dengan di pegangi kedua tangan, tepat membidik ke pintu. Dhamayanti membuka pintu itu dari samping. Mula – mula dengan pelan, namun begitu memegang handel pintu, ia menyentakkannya kuat – kuat sambil berlari ke samping.



Pandu siap menembak apa saja yang keluar dari balik pintu itu. Tapi, ternyata tak ada yang keluar dari ruangan tersebut, sebab ruangan itu ternyata kamar berlapis kaca. Lempengan – lempengan kaca tersusun sedemikian rupa sehingga menjadi penyekat dan membentuk lorong – lorong berliku – liku.



Pandu dan Dhamayanti berdiri di depan pintu sesaat. Mata mereka menata liar, mempelajari situasi setempat. Kemudian, Pandu berbisik. “Ini yang di namakan ruang jebakan….!”


“Dia ingin mempermainkan kita. Sebaiknya kita permainkan terlebih dahulu.” Kata Dhamayanti.


Pandu melangkah lebih dulu masuk. Byaarrr…! Pandu terkejut, karena ruangan menjadi terang – benderang. Sorot lampu dari berbagai suduh memperjelas bayangan mereka di dalam cermin – cermin tersebut. Sementara itu, Dhamayanti melangkah mundur. Punggungnya hampir beradu dengan Pandu.



Ia memegangi sebilah pisau yang siap di lemparkan, dan Pandu memegang pistol dengan kedua tangannya yang siap ditembakkan. Pistol itu moncongnya mengarah ke atas, posisinya begai sedang di dekap di sebelah kanan wajah Pandu.



“Belok ke kiri…!” kata Pandu.


“Jangan, ke kanan saja…!” bantah Dhamayanti dalam bisiknya.


Tiba – tiba terdengar suara tawa Bob Shalman. Dhamayanti berpaling ke kiri, dan segera berseru, “Kiri, Pand…!”



Pandu menoleh ke kiri, tampak Bob Shalman sedang menghisap rokok dengan pipa gading membelakangi mereka. Pistol segera di tembakkan ke arah Bob Shalman.


Doorr…! Dooorrr….! Kaca pecah. Pandu telah menembak bayangan Bob Shalman dalam kaca. Ia di tertawakan. Bayangan itu hilang lagi.


“Hhaa…. Hhaaa… Hhhaaaa..! Kalau kalian mau melihat di mana aku sebenarnya, bukalah kacamata kalian itu…!” terdengar suara Bob Shalman kembali.


Dhamayanti hendak membuka kacamatanya, tetapi tangannya segera di tahan oleh Pandu, “Jangan..! itu pancingannya supaya dia bisa menembus mata kita dengan hipnotisnya”



Mereka melangkah lagi. Suasananya menjadi tegang. Di mana – mana ada cermin, di mana – mana ada bayangan mereka yang kadang bergerak berlawanan arah dengan aslinya. Ohh, membingungkan sekali.

__ADS_1


“Aku di sini, Bung…!” suara Bob Shalman.


Bob Shalman menampakkan diri lagi. Ia menatap Pandu dan Dhamayanti. Tetapi dalam wujud yang banyak, karena pantulan dari cermin itu. Pandu bingung membidik yang mana Bob Shalman yang asli.


Tarrr… ! Prang….! Tarrr…! Prang,,,…!


Sudah tiga cermin yang di hancurkan Pandu. Tapi, Bob Shalman tetap tertawa terbahak – bahak.


“Hha.. Hha… Hhaaa….! Kalian lucu – lucu, seperti tikus mau mencuri permata. Mana bisa..? Hehehe…! Aku paling senang mempermainkan korbanku sebelum mereka menjadi serpihan daging mentah.” Ucap Bob Shalman.


Tarrr… ! Prang….! Tarrr…! Prang,,,…! Semua kaca di tembaki oleh Pandu yang sudah jengkel sekali.


“Jangan buang – buang peluru, Bego..!” sentak Dhamayanti dengan suara berbisik.


Tapi sepertinya Pandu tidak peduli. Begitu muncul wajah Bob Shalman selalu di tembaknya dan ternyata yang di tembaknya itu hanyalah bayangan musuhnya saja.


“Ku hitung sampai tiga puluh, kalau kalian tidak bisa menemukan aku, segera lah berlari. Sebab, pada hitungan ke tiga puluh aku akan menghancurkan tubuh kalian..!” Bob Shalman berbicara bagai di depan mereka. Seketika itu juga Pandu menembaknya dengan menggeram marah.


Tarrr… ! Prang….! Tarrr…! Prang,,,…!


“Siallll….! Huh…!” Pandu kesal dan melemparkan pistolnya karena pelurunya habis.


“Gue bilang juga apa..? Dasar Bego lu…!” gerutu Dhamayanti yang tak di hiraukan Pandu.


“Satu….. Dua….!” Bob Shalman menghitung. Ia berbicara bagai di depan Pandu, tetapi begitu Pandu melancarankan tendangan. Pranggg…! Cermin lagi, cermin lagi yang menjadi sasaran.


“Brengs*k…! Kita di jadikan mainan olehnya…!” gerutu Pandu.


“Delapan… Sembilan…. Sepuluh…!” ucap Bob Shalman.


Prangg….! Kali ini Dhamayanti yang memukul Bob Shalman, tapi ternyata yang di pukul adalah bayangan Bob Shalman dalam cermin. Cermin itu pun pecah..


“Lu juga bego…!” geram Pandu pada Adiknya.


Pandu berhenti melangkah. Matanya memperhatikan Bob Shalman yang memegangi pipa rokoknya sambil terus menghitung dan sudah pada hitungan ke empat belas. Pandu tidak peduli dengan hitungan itu. Yang penting ia harus segera menemukan sosok asli Bob Shalman.



Dhamayanti mendekat dan berbisik, “Jangan – jangan semua adalah bayangannya. Raganya sendiri ada di tempat lain. Cermin – cermin ini hanya layar monitor yang menampilkan wajahnya dari tempat lain. Dan…. Hei, kurasa dia benar – benar akan meledakkan ruangan ini bersama kita. Sebaiknya kita cepat tinggalkan tempat ini, Pandu..!”



“Ssst…!” Pandu memberi isyarat agar Dhamayanti diam. Ia menatap wajah – wajah Bob Shalman yang seenaknya berdiri sambil menghisap rokoknya.


“Dua puluh….,” hitungan Bob Shalman. “Dua puluh satu,….., Dua puluh dua…”

__ADS_1


__ADS_2