
BAB 31
“Silahkan duduk, Pandu..!” ucap Bob Shalman mulai tegas
Pandu tetap berdiri di samping mabel kosong itu. Satu tangannya bersandar pada bagian atas sandaran mabel, satu tangannya lagi bertolak pinggang. Pandu berdiri dengan santai, memperlihatkan sikapnya yang tidak menaruh rasa hormat sama sekali kepada Bob Shalman.
Melihat sikap Pandu yang seperti itu, Bob Shalman menggeram jengkel, kemudian ia membentak Pandu dengan mata mendelik tajam, “Duduk kataku..!”
Pandu bahkan tersenyum, sedikit melengos. Menampakkan sikap menyepelekan sekali.
“Aku tidak perlu duduk. Aku perlu anggota tubuh Agnes agar segera kau kembalikan.” Kata Pandu.
“Disini kau harus menuruti perintahku, Pandu !. Siapa pun tak ada yang boleh membangkang jika ingin selamat!!” kata Bob Shalman.
“Aku tidak pernah punya kedudukan! Apa perlunya duduk? Yang ku butuhkan Cuma anggota tubuh Agnes! Setelah itu aku tidak akan mengganggu mu lagi.!” Kata Pandu dengan suara tenang.
Bob Shalman semakin dongkol. Ia berseru, “Jim…! Kasih dia Pelajaran.!”
Seorang lelaki bercelana merah tua mendekati Pandu. Ia adalah sopir mobil BMW hitam yang waktu itu bermaksud mengusir Pandu di pintu gerbang.
Kali ini, Jim mendekati Pandu dengan kedua tangan mengepal. Satu langkah sebelum ia meluncurkan pukulannya, kaki kanan Pandu lebih cepat bergerak ke samping. KraaKK….!
“Uuhh..” Jim menunduk. Tendangan yang cepat sekali itu telah mematahkan tulang iganya. Ia mencoba untuk mempertahankan diri, namun tak sanggup. Akhirnya ia jatuh terkulai dengan mulut ternganga tak bisa bernapas.
Bob Shalman melihat keadaan yang tak di sangka – sangka itu dengan mata terbelalak kaget. Lebih kaget lagi ketika teman Jim segera berlari menyerang Pandu melangkahi Jim sambil mencabut pisaunya, Pandu masih kelihatan tenang. Satu tangannya masih memegang sandaran mabel. Ia biarkan orang itu menghujamkan pisaunya dari atas ke bawah, sasarannya adalah pundak atau punggung Pandu.
__ADS_1
Begitu pisau itu berkelebat, Pandu bergeser ke kiri. Tangan orang itu menyelonong kea rah tempat duduk mabel, kepala nya ikut terbawa turun, dan siku kanan Pandu menyodok mulut orang itu dengan keras sekali. Prokkk…!
Kepala orang itu sempat terdongak karena kerasnya sodokan siku Pandu. Tapi, tangan yang memegangi pisau masih berusaha menyabet dada Pandu dari bawah ke atas. Tangan kanan Pandu segera menangkis pergelangan tangan orang itu, sedangkan tangan kirinya menghantam lurus ke arah rahang bawah orang tersebut. Prokkk…!
Orang itu sempoyongan ke belakang dengan mulut berdarah karena dua giginya patah akibat pukulan keras yang di lancarkan Pandu.
Bertepatan dengan itu, Pandu segera bergerak ke samping kiri. Kaki kirinya berkelebat menendang ke arah samping belakang dengan kedua tangan masih berpegangan pada sandaran kursi. Orang bercelana biru yang hendak menyerang Pandu dari belakang itu terjengkal seketika karena tendangan kaki kiri Pandu tepat mengenai dadanya.
Tetapi, orang yang giginya patah tadi segera menerkam Pandu dengan gerakan seperti singa yang kelaparan. Ia melompat sambil mengerang. Pisaunya di arahkan ke leher Pandu.
Pada saat itu, Pandu mundur selangkah dan tangan kanannya mendorong tangan yang memegangi pisau itu. Pisau tidak mengenai sasaran, justru orang itu kepalanya membentur sandaran kursi. Dengan cepat Pandu mengangkat pinggang orang itu pada bagian belakang, dan menjungkirbalikkannya ke depan, sehingga orang itu jatuh terduduk di mabel kosong. Jruubbb….!!!
‘Ohh, ternyata pantat orang itu tertembus besi tajam yang muncul dari jok tersebut, bahkan ujungnya menembus sampai di pinggang belakang. Mabel yang di persiapkan sebagai jebakan untuk Pandu, ternyata telah membunuh anak buah Bob Shalman sendiri.
Beruntung sekali tadi Pandu tidak mau duduk, seandainya ia tadi duduk, maka per yang ada pada jok itu terlepas dan mencuat ke atas. Per itu berbentuk besi runcing yang akan menusuk pantat orang yang duduk di mabel tersebut.
Gila! Padahal Pandu tadi tidak mau duduk bukan karena sudah mengetahui adanya jebakan tersebut, melainkan sengaja ingin menunjukkan bahwa ia tidak mau taat pada perintah Bob Shalman.
“Jahan*m….!” geram Bob Shalman. “Kau telah membunuh satu anak buahku, Pandu..!!!”
__ADS_1
“Mungkin akan menjadi semuanya yang terbunuh, termasuk kau Bob..!” kata Pandu. Lalu dengan cepat ia mencabut pistol yang terselip di pinggang orang yang mati terkena jebakan itu.
Doorr…! Pistol itu di tembakkan dengan gerakkan cepat ke arah Bob Shalman. Tapi, dalam waktu sedikit Bob Shalman sudah menghilang begitu saja bersama kedua orang pendampingnya. Peluru pistol itu mengenai sandaran mabel tempat duduk Bob Shalman.
Lalu terdengarlah tawa Bob Shalman yang terbahak - bahak menggema, “Hha… Hha.. Hhaaa…! Kau tak bisa membunuhku, Pandu…! Tak akan bisa…!”
Pandu tak peduli dengan kata – kata itu, ia segera berlari ke arah pintu sebelah kiri. Ia menduga Bob Shalman ada di pintu sebelah kiri itu, sebab di atas pintu itu ada jam dinding. Penjaga pintu yang kedua tangannya terlipat di dada itu segera melepaskan kedua tangannya, siap menghadang Pandu.
Pandu nekat dengan menodongkan pistol ke arah orang itu, “Minggir…! Atau ku tembak kau..!”
Doorr….! Dengan cepat Pandu melompat ke arah kiri dengan bersaldo di udara sekali. Bukan pistolnya yang menembak, melainkan pistol orang yang iga nya patah tadi. Pandu merasakan hawa panas yang mendekati punggungnya karena itu, ia cepat bersaldo ke arah samping.
Peluru itu hampir saja mengenai penjaga berbadan kekar. Begitu mengetahui tembakkannya meleset, orang tersebut kembali melepaskan tembakkan ke arah Pandu…. Doorr….!!!
Pandu berguling ke samping. Bangkit sebentar dengan satu lutut berdiri. Pistolnya diarahkan ke lawan yang menembaknya.
Dooorrr…!
“Aarrkkkhhh…!” orang itu terjengkal ke belakang. Pilipisnya bolong terkena tembakkan Pandu. Mereka tidak tahu, bahwa Pandu mempunyai kepandaian menembak sejak ia ikut pamannya menjadi anak kolong di sebuah asrama tentara
Bruukkk…! Tiba – tiba kaki penjaga pintu yang semula di todong Pandu itu berhasil menendang punggung Pandu dengan keras. Pandu tersentak ke depan. Kalau tidak segera mengambil posisi mengambil posisi berguling, ia akan jatuh tersungkur mencium lantai marmer. Untung Pandu segera berguling.
“Akkkhh..” Pandu memekik. Karena begitu ia hendak berdiri, sepatu orang yang tadi menendang dadanya mengeluarkan pisau pada bagian ujungnya. Pisau itu di pakai untuk melukai kepala Pandu. Tetapi, Pandu sempat menghindar ke samping. Akibatnya, tangan yang hendak di pakai untuk menangkis tendangan itu telah tergores oleh ujung pisau tersebut.
Tendangan berikutnya hanya di hindari oleh Pandu. Ia hampir saja nekat melepas kacamata hitamnya kerena mengganggu pandangan mata. Namun, ia mencoba bertahan untuk tetap melawan mereka dengan tetap memakai kacamata hitamnya.
__ADS_1
Terdengar suara dari Bob Shalman, “Buka Pintu pertama..!”