Misteri Gadis Terpenggal

Misteri Gadis Terpenggal
BAB 32


__ADS_3

BAB 32


Penjaga yang semula di todong Pandu itu membuka pintu kamar yang hendak di masuki Pandu. Begitu pintu di buka, seekor singa melompat keluar sambil mengaum mengagetkan, membuat bulu roma berdiri. Pandu sempat berlari ke tempat yang kosong untuk menjaga jarak dengan singa jantan yang terhitung besar itu.


Jantung Pandu berdetak - detak, nyaris berhenti sewaktu mengetahui bahwa isi kamar yang di jaga itu ternyata singa. Melihat potongan dan ukurannya, Pandu menduga singa itu berasal dari Afrika Tengah.


"Gggrrraaauuummm" singa itu memandang Pandu dengan buas.


Pandu mundur selangkah demi selangkah. Ia sadar bahwa dirinya sedang di adu dengan seekor singa. Tetapi, ia sedikit tenang karena tangannya masih menggenggam sebuah pistol jenis Colt 44 Magnum. Sudah dua peluru yang terbuang tadi pikirnya.


Terdengar suara Bob Shalman lagi, "Buka pintu kedua...!"


Kamar yang letaknya berseberangan dengan kamar pertama tadi, kali ini pintunya di buka. Seekor Beruang hitam yang bertubuh tinggi besar, meraung sambil berdiri. Kemudian melompat mendekati punggung Pandu. Segera Pandu berguling ke lantai untuk menghindari terkaman beruang tersebut. Tetapi pada saat itu ia, singa dari pintu pertama tadi pun bergerak melompat untuk menerkam Pandu.


Dorrr...! Dorrrr..!


Pandu melepaskan dua kali tembakan ke arah dada singa dalam keadaan berbaring. Habis menembak dua kali, ia pun cepat - cepat berguling. Ia tahu, tembakkan nya mengenai sasaran. Darah mengucur dari tubuh singa itu.


Bruukkkk....! Singa itu jatuh menerkam bekas tempat berbaring Pandu. Denga cepat Pandu berdiri dan menembak kepala singa itu satu kali. Door...!


"Ggggggrrrrrraaaaooowghh" Singa itu mengerang dengan kepala yang sudah bolong akibat di tembak Pandu. terlambat sedikit saja, maka punggung Pandu akan menjadi sasaran empuk kuku - kuku tajam beruang tersebut.


Pandu melompat ke Arah lain dengan cepat, karena pada waktu itu Beruang hitam itu berdiri dan mencabikkan kukunya yang panjang ke arah tubuh Pandu.


Terlambat sedikit saja, maka pundak Pandu akan menjadi sasaran empuk kuku – kuku beruang hitam tersebut.


Trak..! Kacamata Pandu terlepas, jatuh. Pandu buru – buru memungutnya dan mengenakannya kembali walaupun retak sedikit.


“Ouchhh…!” Pandu sempat mengernyitkan alisnya dan menyipitkan mata. Ternyata Singa tadi telah berubah wujud menjadi seorang wanita cantik yang dikenalnya dengan nama Ella. Dialah salah satu dari dua perempuan pendamping Bob Shalman tadi. Kasihan, dadanya berlubang dua peluru dan ubun – ubunnya pecah.


Pandu masih memegangi pistolnya yang di arahkan kepada beruang hitam itu. Ia tahu, jika singa itu adalah jelmaan dari Ella, maka beruang hitam di hadapannya ini pasti jelmaan dari Natasya.


“Grraaaawwwhh..!” Beruang hitam itu melompat menerkam Pandu pada saat Pandu hendak lari ke arah mabel. Terpaksa Pandu melompat ke arah lain, berguling – guling tiga kali sampai akhirnya ia berada di samping mayat orang yang pelipisnya bolong akibat tembakkannya tadi. Beruang itu masih mengejar Pandu dengan ganasnya.


Maka dengan cepat Pandu mencabut pisau di pinggang mayat itu dan melemparkannya ke arah beruang tersebut. Jruubbb..! Lemparan pisau yang menjadi salah satu keahlian Pandu itu telah menancap tepat di leher beruang tersebut. Akibatnya, beruang itu semakin mengamuk dalam keadaan sekarat.


__ADS_1


Pandu segera berlari ke arah lain setelah merebut pistol di mayat itu dan segera menembakkanya dua kali di wajah beruang, satu kali di dada beruang, tepat mengenai jantungnya.


Doorr…. ! Doorrr…! Doooor…!


Beruang itu meraung dan roboh. Tak berapa lama berubah menjadi seorang wanita cantik. Dialah Natasya, Pandu sudah tidak kaget lagi.



Tinggal satu pintu lagi yang belum terbuka. Letaknya ada di sisi lain, tidak berhadapan dengan kedua pintu sebelumnya, juga tidak sederetan dengan salah satu pintu tersebut. Penjaganya berkepala botak, tinggi tegap, tubuhnya berotot. Mungkin mantan seorang binaragawan.



Tampangnya sangar. Matanya tajam, tulang pipinya tampak menonjol. Tak salah lagi, ruangan yang berhadapan lurus dengan lantai lift itu pasti ruangan yang sangat penting. Entah apa isinya. Bisa berisi Bob Shalman, bisa juga berisi gajah! Pikir Pandu.



Tetapi, sebelum Pandu mendekat ke sana, suara Bob Shalman kembali terdengar oleh Pandu.


“Panggil orang – orang yang ada di atas…!” teriak Bob Shalman yang masih bersembunyi.


Suiiitt….! Salah satu dinding bergerak membuka. Oh, rupanya di balik dinding itu ada tangga berkarpet menuju ke lantai atas. Karena ketika anak buah Bob Shalman tak ada yang bergerak ke atas, mereka sama – sama mengepung Pandu, maka Bob Shalman membentak dengan suara keras, entah dari mana ia bicara.


Roy, orang yang bersepatu pisau itu segera berlari menaiki tangga berkarpet itu.


“Aaarrkkkhh…!” tiba – tiba Roy terpental ke belakang dan jatuh berguling – guling. Terdengar suara yang bersumber dari tangga itu.


“Yang di atas sudah mati semua Boss…!” suara yang tiba – tiba terdengar yang tak lain adalah adiknya Pandu, Dhamayanti.


“Yanti….?!” Pekik Pandu, kaget.


“Aku tahu kamu disini. Tapi aku nggak tahu jalannya lewat mana. Untung Boss kita yang baik hati itu mau membukakan dinding rahasia itu, sehingga aku bisa menyusulmu ke sini, Pan.” Kata Dhamayanti.


Dhamayanti muncul memakai kacamata hitam yang diikat karet bagian belakangnya. Kemunculannya sangat di luar dugaan Pandu. Ia mengenakan celanna Stretch yang ketat dengan tubuh yang cukup elastis itu. Celana itu berwarna biru tua, kaos yang di kenakan juga ketat denagn tubuh, tanpa lengan. Warnanya merah tua.



Rambut Dhamayanti di ikat ke menjadi satu gulungan, sisirannya ke belakang, sehingga tampak keningnya yang sedikit lebar. Rambut itu sebagian sudah ada yang meriap, tanda habis di pakai bertarung.

__ADS_1



Di pinggang Dhamayanti terdapat sabuk berisi pisau – pisau kecil milik Pandu. Dari ke lima belas pisau yang berjejer di sabuk itu, tinggal enam buah yang masih tersisa. Berarti sembilan pisau telah di gunakan Dhamayanti untuk membunuh para penjaga di lantai atas.



Dhamayanti menyengir saat Pandu mendengus kesal karena kebandelannya datang ke situ. Tetapi, cengiran Dhamayanti hilang seketika, sebab seorang lelaki yang semula menjaga pintu kedua itu segera menyerangnya dengan pisau yang hendak di tancapkan ke punggung Dhamayanti.


“Hiiiiaaaaat….!” Teriak orang itu.


Bukkkk…!


Tendangan kaki Dhamayanti ke belakang membuat orang itu tak sempat menancapkan pisaunya. Justru orang itu terpental dan jatuh ke belakang. Ia buru – buru bangun, tetapi Dhamayanti segera melompat dan menendangnya dalam keadaan tubuh melayang, kaki kanan lurus ke samping, tepat mengenai pelipis orang itu.



Praaaakkk…! Kepala orang itu terbentur dinding marmer. Ia mengeluh sambil tangannya memegangi kepala yang berdarah. Kakinya tak tahan berdiri, ia pun berlutut dan nyaris roboh. Dhamayanti segera mencengkram dagu orang itu. Lalu, dengan kedua tangannya ia sentakkan kepala orang itu ke kiri dengan sedikit tekanan ke belakang. Kraaakk…!



Brukkk…! Orang itu pun roboh tak berkutik. Tulang lehernya patah, nyawanya pun melayang. Buuukkk..!



Tiba – tiba sebuah tendangan dari mengenai punggung Dhamayanti. Tubuh gadis itu terjungkal ke depan. Untung pisau di ujung sepatu Roy tidak mengenai punggung Dhamayanti. Sebab, yang di gunakan menendang adalah bagian telapak sepatu.



Sekarang barulah Roy bermaksud menendang leher Dhamayanti dengan ujung sepatunya. Namun, sebelum ia mengayunkan kaki kanannya itu, tiba – tiba Dhamayanti mencabut salah satu pisaunya dan melemparkannya seperti ia menaburkan benih ke atas.



Jruubbb…! Pisau itu tepat mengenai dada Roy. Mulut Roy pun ternganga tanpa bisa bersuara. Pisau itu hanya kelihatan gagangnya saja. Roy ingin mencabutnya tapi sulit. Akhirnya ia roboh dan sekarat sebentar, sebab pisau itu tepat menembus jantungnya. Akhirnya, Roy tak mampu bernapas lagi.



Sedangkan Pandu saat itu sibuk menghindari sabetan – sabetan pisau panjang yang di pegang lawannya. Lawannya itu adalah orang yang tadi di todongnya dengan pistol, yaitu penjaga ruangan satu. Sepertinya orang itu cukup gesit dalam gerakannya. Pisau di kibaskan dengan kecepatan tinggi, nyaris tak terlihat oleh mata manusia biasa. Namun mata Pandu sudah terlatih untuk melihat kecepatan dan merasakan desiran angin. Ia mampu menghindar ke sana kemari. Namun belum mempunyai kesempatan untuk menyerang.

__ADS_1



“Hiiaaaaaatt….!” Dhamayanti berteriak dalam jarak lima langkah dari lawannya Pandu. Ia hanya berteriak, tidak bergerak dan melakukan penyerangan apa pun. Maksudnya hanya untuk mengacaukan konsentrasi gerakan lawan. Dan ternyata, lawannya Pandu segera berbalik kebelakang sambil mengibaskan pisau panjangnya.


__ADS_2