Misteri Gadis Terpenggal

Misteri Gadis Terpenggal
BAB 34


__ADS_3

BAB 34


Pandu segera mencabut salah satu pisau dari pinggang Dhamayanti, kemudian dia mengarahkan lemparannya ke arah kiri. Ujung pisau itu telah dipegang dan diangkat ke atas, siap dilemparkan. Namun, tiba – tiba ia berbalik ke arah kanan dan Wuusshh…!


Jleeebb…!


“Arkkhh” Bob Shalman menjerit dengan pisau menancap di keningnya, di antara kedua alisnya. Lemparan Pandu sangat tepat. Dhamayanti terbengong sesaat.


“Dari mana kau tahu kalau di ada di sebelah kanan kita..?” tanya Dhamayanti


“Semua pipa yang ia pegang pakai tangan kiri. Itu adalah bayangannya. Pipa yang di pegang dengan tangan kanan, itu yang asli. Dan yang ada du sebelah kanan kita. Mampus dia sekarang…!” jawab Pandu


Suara jerita Bob Shalman begitu keras menggema. Bahkan cermin – cermin lainnya mulai pecah tanpa di sentuh oleh siapa pun. Pandu segera menarik tangan Dhamayanti agar segera berlari. Mereka menuju keluar menghindari pecahan – pecahan kaca tersebut.



Pada saat itu, langkah Dhamayanti tertahan sebentar, “Lihat…. Dia berubah wujud..!”



Pandu menyeringai ngeri. Wajah Bob Shalman berubah menjadi semacam kepala anjing bertelinga panjang, mempunyai sayap seperti kelelawar. Badannya kurus, ukurannya makin lama makin mengecil, kurang dari satu meter.


“Menyeramkan sekali….!” Gumam Dhamayanti/


“Itulah wajah aslinya. Wajah iblis yang di maksud Theresia! Ayo, kita pergi..” kata Pandu


Prangg…. Prangg…. Prangggg…!


Kaca – kaca semakin banyak yang pecah. Pandu menarik tangan Dhamayanti ketika ia melihat ujung pintu. Mereka lari keluar dari ruangan tersebut menuju tangga berkarpet.


Booooommmm…..!!!!

__ADS_1


Terdengar sebuah ledakan menggema. Pandu dan Dhamayanti semakin cepat berlari. Kacamata mereka di buang semua, sehingga mereka bisa melihat dengan jelas dan mudah menemukan jalan keluar dari rumah besar itu. Pandu melihat banyak mayat yang tertancap pisau di sana – sini, jelas itu pasti perbuatan Dhamayanti.


Dddduuuuuarrrrrrtt….!


Ledakan paling dahsyat terjadi pada saat mereka sudah berada di mobil. Kemudian mereka segera meninggalkan tempat itu sebelum banyak orang berdatangan. Dhamayanti yang mengemudikan mobil, meluncur dengan kecepatan tinggi menembus kegelapan malam yang nyaris beralih pagi.



Napas Pandu terhempas lepas ketika mereka sudah berada jauh dari rumah Bob Shalman. Luka di lengannya baru terasa perih, namun tak terlalu di perhatikan.


“Kau curi mobil Om Harman ini, ya…?” tanya Pandu kepada adiknya.


“Enak aja…! Aku pinjam secara baik – baik…!” bantah Dhamayanti


Pandu tertawa, mencubit pipi adiknya. Dhamayanti mendengus kesal, tetap cemberut.


“Dari mana kau tahu kalau aku ada di sini…?” tanya Pandu kembali.


“Aku menjemputmu ke hotel itu, tapi ternyata acara sulap sudah selesai sekitar lima belas menit dari aku menjemputmu. Kamu tidak ada. Maka aku yakin, kau pasti nekat menyelinap ke rumah Bob Shalman. Dan aku segera ke sana. Dari rumah aku memang sudah punya firasat buruk. Maka ku gunakan sabuk pisaumu ini. Ku siapkan segalanya, dan ternyata…. Kalau tanpa aku, kamu pasti akan hancur, kan..?” kata Dhamayanti


“Tah* kucing..!” ketus Dhamayanti. Memang begitu sifatnya. Pandu tahu, sebenarnya ia di sayang oleh adiknya. Karena itu ia hanya terkekeh – kekeh melihat Dhamayanti bersikap tak ramah begitu.


Ternyata di rumah Pandu telah terjadi kegemparan. Banyak tetangga yang berkerumun di rumah Agnes, sebagian di rumah Pandu. Dan ketika Pandu serta Dhamayanti tiba, terdengar suara Om Harman berseru,


“Pandu…! Agnes telah pulih..!” kata Om Harman.


Pandu tersenyum melirik Dhamayanti. Yang di lirik hanya mendengus sinis, “Temui dulu tuh bini lu…!



Melihat kehadiran Pandu, Agnes segera berlari dan berseru, “Panduuu… ! Pandu…..! Aku,, ragaku telah kembali, Pandu…”

__ADS_1



Mereka berpelukan di ambang pintu masuk ruang tamu. Suara tangis haru kembali memecah malam.



Kedua mata Pandu berkaca – kaca saat memperhatikan keadaan Agnes yang benar – benar telah kembali seperti sehat, utuh, tanpa ada kekurangan apapun. Sekali lagi ia memeluk gadisnya sambil berkata,


“Iblis itu itu telah ku kalahkan…! Iblis itu tidak akan bisa mengganggu mu lagi, Agnes…!”


Dhamayanti mencolek – colek punggun Pandu. Ketika Pandu menoleh, Dhamayanti berbisik dengan nada geram, “Jangan lupa temanmu,… Insinyur Yudha itu….!”



Pandu tertawa, “Beres….! Ku undang dia dalam pesta pernikahanku nanti…!”


“Huuh… Kelamaan. Kalau gitu, buruan nikah…!” kata Dhamayanti.


Agnes yang mendengar bisik – bisik itu pun tertawa. Ia mencium pipi Dhamayanti dan berkata, “Terima kasih atas bantuanmu, Yanti. Aku tahu, hatimu pasti sayang pada Pandu, bukan?”


“Yaaah.. Kepepet…!” jawab Dhamayanti sambil pergi, menenteng sabuk yang masih sisa empat pisau. Ia berlalu pergi begitu saja, tanpa mau tahu tawa kebahagiaan di rumah Agnes.


Hanya saja, ketika ia sampai di kamarnya, ia berdiri di depan cermin dan berkata pada bayangannya sendiri.


“Gunung mana yang bisa membatasi cinta mereka…? Kurasa tak ada. Benua pun mampu terbelah oleh cinta, begitupun iblis dari dasar nereka.” Gumam Dhamayanti.


Di ufuk timur, surya pagi memancarkan cahaya membuat langit bagai tembaga. Di sana dua hati saling terpaut. Pandu dan Agnes, keduanya punya cinta yang saling membara. Tak ada yang mampu memisahkannya, kecuali DIA.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


......................

__ADS_1


...****************...


T A M A T


__ADS_2