Misteri Gadis Terpenggal

Misteri Gadis Terpenggal
BAB 23


__ADS_3

BAB 23


Malam terus meluncur dengan ketegangannya sendiri. Mama nya Agnes belum mau pulang ke rumah jika Pandu belum datang. Mama nya Agnes masih tekun menunggui anaknya yang saat itu telah tertidur di atar ranjang Pandu.


Begitu Dhamayanti datang sambil memapah Pandu, Tante Mirah mulai menggeragap tegang., “Ada apay anti..? Oh,, apa yang terjadi dengan kakak mu..?”


Suara itu membuat Agnes terbangun. Matanya melek, dan ia terkejut melihat Pandu yang di seret – serat oleh Dhamayanti mendekati ranjang.


“Panduuu… Panduuu..?! Kenapa dia, Yanti ? Kenapa..?” Rasa – rasanya Agnes ingin segera membantu mengangkat tubuh Pandu, sayangnya ia hanya sebutir kepala yang tak dapat berbuat apa – apa kecuali memandang dan melirik.


Pandu di baringkan di samping kepala Agnes. Keadaannya masih seperti orang terhipnotis. Memandang hampa, mulut terbengong. Tubuh lemas semuanya, tapi napasnya masih ada.


“Panduu…! Panduuu…!” teriak Agnes yang mulai menangis melihat keadaan Pandu.


Dhamayanti terengah – engah ketika Tante Mirah berkata dengan nada cemas, “Bagaimana awalnya bisa terjadi begini, Yanti..?”

__ADS_1


Ayahnya Pandu pun segera masuk kemar itu.


“Pandu…?!” Lelaki tua itu memang cemas, namun masih bisa menyimpan kecemasannya. Di tidak menampakkan kecemasannya agar yang lain tidak bertambah panik.


“Sudah berapa lama di menjadi begini..” Tanya Ayahnya Pandu kepada Dhamayanti.


Tapi, Dhamayanti belum bisa menjawab. Mungkin ketegangan dan kelelahannya membawa Pandu dari luar rumah ke situ membuat ia butuh waktu untuk mengatur pernapasannya.


“Siapa yang melakukannya..?” tanya Ayahnya Pandu lagi.


“Bob…!” jawab Dhamayanti, kemudian ia terbatuk – batuk.


“Tuh, Tante Bilang apa…? Hati – hati. Dia itu berbahaya..!” Kata Tante Mirah, Mama nya Agnes.


Sementara itu, tangis Agnes terdengar semakin merintih – rintih di samping Pandu. Sebenarnya saat itu Pandu mendengar semua yang di ucapkan mereka, ia juga mendengar rintihan tangis Agnes. Tetapi ia tak bisa menggerakkan seluruh anggota badannya. Menelan ludah pun ia tak bisa.

__ADS_1


“Dia seperti terkena totokan jalan darah.! Dia hanya lumpuh sesaat, tapi nanti akan segera pulih kembali.” Kata ayahnya Pandu memcoba menenangkan suasana.


“Usahakan sekarang juga dia kembali normal ayah…! Usahakan…!” rengek Agnes seperti anak kecil.


“Berisik kamu, Ahh…!” Bentak Dhamayanti.


“Memangnya Ayahku ini seorang pendekar jago totok darah…? Keadaan seperti itu nggak bisa sembuh seketika, punya waktu tersendiri, Bego..” Kata Dhamayanti kembali.


Dhamayanti tak peduli Mama nya Agnes, ia mengomel bersungut – sungut. Mama nya Agnes tidak tersinggung, sebab ia tahu watak Dhamayanti memang begitu.


“Sudah, sekarang kita semua harus tenang. Biarkan si bandel ini istirahat supaya peredaran darahnya kembali normal..! Jangan ada yang ganggu.!” Kata Ayahnya Pandu


Malam itu adalah malam ratapan batin buat Agnes. Ia merasa sangat sedih, karena dalam keadaan seperti itu ia tidak bisa memberi pertolongan kepada Pandu. Setidaknya dia tadi yang melepaskan sepatu Pandu, atau memberi selimut kepada kekasihnya itu.


Tapi, karena Agnes tak memiliki satu tangan pun, maka ia hanya bisa meminta tolong kepada Mama nya untuk melepaskan sepatu Pandu. Mama nya Agnes melakukan itu dengan penuh pengertian.

__ADS_1


“Mama istirahat saja, Ma. Besok kan Mama masuk kantor.” Kata Agnes.


Akhitnya, Tante Mirah pun pamit kepada Pak Salim. Ia kembali ke rumahnya setelah yakin bahwa Agnes tidak akan Menangis lagi.


__ADS_2