Misteri Gadis Terpenggal

Misteri Gadis Terpenggal
BAB 26


__ADS_3

BAB 26


Pandu tetap lumpuh. Yang terjadi malam itu adalah perubahan pada tubuh Agnes. Mamanya menangis penuh keharuan melihat raga Agnes telah kembali.



Bagian dada sampai ke perut telah tumbuh menjadi satu dengan bagian lehernya. Tetapi, raga itu tanpa tangan dan kaki. Jadi, hanya kepala dan badannya saja. Kedua pangkal pahanya rata, seperti habis di potong dengan gergaji mesin. Demikian pula pada pangkal lengan. Ia tak memiliki ketiak.



Sekalipun demikian, perubahan tersebut sudah cukup membuat hati Agnes, Mamanya, Ayah Pandu, dan yang lain merasa lega. Gembira, walau dalam keadaan seperti itu, sebenarnya Agnes belum bisa berbuat apa – apa.



Pada waktu Agnes menjerit dan berteriak – teriak dalam tangisnya, sebenarnya Pandu juga mendengar. Tetapi, ia masih tetap tidak bisa berbuat apa – apa. Ia hanya memandang hampa, mulut terperangah, sekujur tubuhnya lemas bagai tidak bertulang.


__ADS_1


Mama nya Agnes tak henti – hentinya memeluk dan menciumi anaknya. Tubuh Agnes untuk semenatara masih di tutup selimut. Dhamayanti yang pertama kali memergoki tumbuhnya raga Agnes itu, dan segera melemparkan selimut hingga menutup tubuh mulus berkulit kuning langsat itu.



Sementara para tetangga saling berkasak – kusuk, Mama nya Agnes menyisi dari mereka. Ia termenung, duduk di dapur sendirian. Ia telah menemukan rahasia yang belum berani di pastikan kebenarannya.



‘Aneh, tiap aku habis di perk\*sa oleh gumpalan kabut asap itu, Agnes selalu mengalami perubahan. Yang pertama setelah peristiwa malam itu, leher Agnes tumbuh. Tadi habis mengalami hal yang sama, Badan Agnes tumbuh. Apakah..?’




Hal itu tak berani ia ceritakan kepada siapa pun. Memalukan. Tante Mirah hanya menganalisa dalam hati., dan mempertimbangkan baik – baik. Namun untuk sesaat, pertimbangan itu di simpannya dulu dalam hati. Sekarang masalahnya adalah Pandu.


__ADS_1


Sampai pukul dua belas siang, Pandu belum ada perubahan. Masih lumpuh. Masih belum bisa menggerakan satu jari pun. Kasihan sekali keadaannya. Sementara itu, Agnes masih sesekali menitikan air mata sambil terbaring di samping Pandu. Ia sangat sedih melihat kekasihnya menjadi seperti itu.



Dhamayanti sendiri menjadi cemas bercampur jengkel pada Kakak nnya. Akhirnya ia menghubungi kantor Kakaknya, meminta bicara dengan Theresia.


“Ther… Pandu dalam bahaya, cepat datang. Kalau bisa sekarang juga.” Kata Dhamayaanti.


Terdengar Theresia menjawab dalam telepon dengan nada tenang, “Biarkan dulu dia! Biar kakakmu tahu, bahwa dalam setiap perbuatan tidak hanya membutuhkan otot dan keberanian saja, tapi juga membutuhkan perhitungan. Kalau tidak seperti itu, otak kakakmu akan tetap utuh, tidak pernah di pakai.”


“Ther kau sudah mengerti apa yang terjadi pada Pandu..?” tanya Dhamayanti


“Mungkin aku lebih dulu mengerti daripada kamu, Yanti.. Tapi, Oke.. oke.. Aku akan datang setelah urusan kantorku selesai.” Jawab Theresia.


Siapa sangka gadis secantik Theresia ternyata ilmu kebatinan cukup tinggi. Ia dapat mengetahui hal – hal yang akan terjadi sehari sebelumnya, atau bahkan sebulan sebelumnya. Tak dapat di pungkiri lagi, Dhamayanti menyimpan rasa kagum terhadap Theresia, sehingga ketika siang itu Theresia datang, Dhamayanti lansung berkata.


“Tubuh Agnes mulai ada perkembangan lagi. Bagian badannya telah kembali. Tentunya kau tahu, apa sebabnya begitu, bukan..?”

__ADS_1


__ADS_2