
BAB 22
Agaknya Pandu memang sudah terlanjur di kuasai oleh emosi. Ia nekat tancap gas menuju alamat rumah Bob Shalman. Mobil Mitsubushi Eterna itu meluncur dengan cepat, bahkan nyaris terpelanting menghantam tiang listrik.
Mereka meluncur ke arah perbatasan kota, sebab di sanalah Bob Shalman membangun rumahnya yang besar dan mewah layaknya istana kerajaan.
Malam itu terlalu larut. Masih pukul sepuluh lewat empat belas menit. Dalam kecepatan yang sangat tinggi, Pandu berhasil mencapai rumah yang di carinya. Rumah itu berpagar dinding batu setinggi tiga meter lebih. Dari luar bentuknya seperti benteng kompeni. Tonjolan – tonjolan batu pada pagar yang mengelilingi nya menimbulkan kesan seperti rumah pada zaman purba.
Rumah itu mempunyai dua pintu gerbang yang terbuat dari besi dengan butiran mata pakunya yang besar. Melihat bentu pintu gerbangnya itu, Pandu ingat pintu gerbang zaman romawi. Bentuk atas nya melengkung, masing – masing pintu gerbang terdiri dari dua daun pintu.
“Itu dia…! kayaknya dia juga baru sampai..!” kata Dhamayanti penuh semangat.
Mobil BMW hitam itu memang baru saja di bukakan pintu gerbang. Belum sempat masuk. Dan secepatnya, Pandu berhenti di belakang mobil tersebut. Ia segera keluar dari dalam mobil dan berseru,
“Bob Shalman…!” Seruan itu penuh dengan nada emosi, sehingga penjaga pintu yang ingin membukakan pintu gerbang itu berhenti bergerak.
__ADS_1
Mereka yang berada di dalam mobil itu, keluar. Bob Shalman hanya mendongakkan kepala lewat kaca mobil yang di turunkan. Sopir dan satu orang pengawal mendekati Pandu dengan sikap dingin.
“Bob Shalman…! Keluar kau dari mobil…!” Teriak Pandu.
Bob Shalman hanya berseru memanggil dua orang pengawalnya yang hendak mendekati Pandu, “ Jim, Roy… tahan Sebentar..!”
Bob Shalman tetap berada di dalam mobil. Ia memang kelihatan tampan, menurut Dhamayanti yang belum berani keluar dari dalam mobil. Dhamayanti hanya berbisik kepada kakaknya yang masih berada di dekat mobil,
“Jangan dekati dia, Pandu. ! Bahaya..!” Dhamayanti berbisik kepada Pandu.
Bob Shalman berseru, “Siapa kamu..? Ada perlu apa denganku, Bung..?”
“Aku minta kembalikan Raga Agnes yang kau curi itu..!”
“Agnes siapa..?” tanya Bob Shalman yang tidak tahu siapa Agnes.
__ADS_1
“Anak gadis Tante Mirah..! jangan berlagak bodoh kau..!” jawab Pandu dengan penuh amarah
“Ha…ha..ha.. rupanya Agnes nama anak itu…” Bob Shalman tertawa seenaknya.
Tiba – tiba tawanya berhanti. Ia memandang Pandu dengan penuh keseriusan. Tajam sekali pandangan mat aitu, Dan….
“Akkkhhh…!” teriak Pandu.
Tiba – tiba Pandu tersentak ke belakang, seperti ada yang memukul bagian ulu hati nya. Napasnya sesak, kaki nya lemah. Ia terkulai lemah walau masih sempat berusaha berpegang pada pintu mobil.
“Pandduuu..!” Dhamayanti menjadi cemas. Tubuh kakaknya segera masuk ke dalam mobil. Sementara itu, Bob Shalman tertawa lagi terbahak – bahak, kemudian menyuruh Jim membawa masuk mobilnya. Mereka menghilang di balik pintu gerbang yang di tutup kembali oleh penjaganya.
“Pandu…. Panduuuu…!” teriak Dhamayanti dengan penuh ketegangan.
Pandu tidak bergerak. Lemas. Tapi Matanya masih melek, napasnya tipis sekali.
__ADS_1
Dengan cemas dan penuh ketegangan, Dhamayanti memindahkan kakaknya ke kursi penumpang belakang. Kemudian, ia sendiri yang mengemudikan mobil itu. Tancap gas menuju rumah sambil menggerutu.
“Gue bilang juga apa, Monyong…?! Jangan Gegabah dulu! JAngan main serang sebelum tahu situasi dan kondisinya !! Dasar otak kodok! Sudah di beri tahu, sudah di wanti – wanti, eh.. masih juga nekat lompat. Masih untung nggak mampus lu…!”