
Hari telah mulai gelap. Suasana di tengah laut terdengar ramai oleh suara mesin sampan nelayan dan spead boat yang lalu lalang. Di tepi laut terlihat benderang dengan cahaya-cahaya lampu dari rumah-rumah penduduk. Gedebur ombak bersahut-sahutan. Sesekali terlihat sinar senter led super diarahkan ke setiap sudut dari rumah-rumah apung di tengah laut, tempat berjaga pegawai perusahaan mutiara.
"Apung satu, monitor situasi aman. Apung satu, situasi aman," terdengar suara dari handy talky di salah satu rumah apung. Seorang laki-laki dengan seragam hitam mematikan senternya dan melangkah menuju handy talky yang tergantung di sudut apung.
"Pos satu melaporkan aman, situasi terkendali, ganti."Laki-laki itu kembali menggantung handy talky di tempatnya semula.
"Pos dua, situasi, ganti,"
"Pos dua aman, ganti,"
"Pos lima melapor. Pos lima melapor, Patroli barat mohon memeriksa sekitar satu kilo dari pos lima. Ada batangan mencurigakan, ganti. Patroli barat, mohon di copy, sekitar trol wilayah barat"
__ADS_1
"Pos barat siap memeriksa, ganti."
Suara boat terdengar menderu dari kejauhan. Lajunya yang kencang membelah permukaan air dan menimbulkan gelombang besar. Sinar senter dari boat yang melaju kencang menyilaukan Farhan yang sedang berpegangan di salah satu bola yang mengapung. Ia terlihat menggigil kedinginan saat gelombang besar akibat laju spead boat menghempas tubuhnya. Salah satu tangan Farhan terlepas. Dia merasa sudah tidak kuat lagi berpegangan. Laki-laki di atas boat mematikan mesin boatnya. Sinar senter di arahkannya ke samping agar tidak menyilaukan mata Farhan. Ia menatap Farhan yang mendongak ke arahnya.
"Lapor Patroli barat, mohon info terkait batangan mengapung, ganti," terdengar panggilan dari handy talky di saku bajunya.
"Patroli barat melapor, ada warga yang tenggelam, sedang di evakuasi."
Laki-laki di atas boat mengulurkan tangannya dan meraih tubuh Farhan naik ke atas boat. Farhan terbaring lemah. Laki-laki itu menyodorkannya minuman, tapi Farhan tak merespon. sepertinya ia tak sadarkan diri. Laki-laki itu segera menyalakan mesin dan suara speda boat meraung dan melaju ke arah pesisir.
PT. Autore pearl culture Segui Lombok Timur. Tulisan yang terpampang di pintu gerbang masuk sederhana yang terbuat dari kawat sisa tempat menggantung mutiara. Di samping pintu gerbang, terdapat pos jaga berukuran 4 x 5 dan terlihat tiga orang laki-laki sedang duduk berjaga di dalamnya. Masuk lebih dalam, beberapa gazebo dan rumah-rumah panggung ukuran besar dengan dinding anyaman bambu, terlihat berjejer menghadap laut. Letaknya tiga meter dari permukaan laut. Beberapa orang di bangunan mirip pos jaga dan terletak paling ujung, terlihat mengarahkan senter berukuran besar ke arah bola-bola yang mengapung di tengah laut.
__ADS_1
Beberapa orang yang sedang ngopi di gazebo bangkit ketika melihat salah satu temannya memapah Farhan ke arah mereka. Farhan yang masih tak sadarkan diri kemudian dibopong masuk ke salah satu ruangan. Pakaian Farhan yang basah mereka ganti dan berusaha menyadarkan Farhan.
"Salah satu dari kita harus melaporkan ini pada manajer Harjan."
Seseorang bangkit dan segera menuju sebuah rumah panggung besar yang terlihat lebih mewah dari bangunan lain. Seorang bertubuh gempal melangkah ke arah pintu ketika terdengar seseorang mengetuknya.
"Lapor, Pak Manajer, ada warga yang tenggelam yang kami selamatkan di pondok. Mohon diperiksa," Kata laki-laki itu ketika melihat Harjan berdiri di balik pintu.
"Ya sudah, tunggu aku di sana." Harjan mengambil jaketnya dan segera keluar.
Harjan memperhatikan wajah kusut dengan rambut panjang yang terbaring lemah di ranjang. Sepertinya ia mengenalnya, tapi ia agak ragu. Dia memeriksanya lebih dekat dan ia terkejut.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Farhan," desahnya. Ia lalu berdiri.
"Bawa ke kamarku," kata Harjan. Ia kemudian melangkah keluar dan orang-orang yang ada di sana segera membopong tubuh Farhan menuju ruangan Harjan.