
Farhan mengendap-endap di balik rerimbunan pohon pisang. Di depannya gubuk kecil berpagar ilalang kering yang diikat dengan tali dari daun lontar. Karna suasana sudah semakin gelap, ia menyalakan senternya dan mengendap masuk ke dalam gubuk.
Hanya ada ranjang kecil terbuat dari bambu di dalam gubuk. Di sampingnya, ada perapian kecil yang digunakan untuk memasak. Juga tumpukan kayu-kayu kering di dekat perapian. Panci dan beberapa alat memasak tergantung di belakang perapian. Farhan terus mengarahkan senternya ke setiap sudut. Ia seperti sedang mencari sesuatu, karna terlihat beberapa kali mengarahkan senternya ke tempat yang sama. Ia tadi seperti melihat sesuatu, tapi tak begitu jelas. Sesuatu itu terlihat sekelebat di sela-sela pagar ilalang. Farhan kembali mengarahkan senternya, dan ia menemukan sesuatu yang mengejutkannya. Sebuah potongan telinga terselip di sela-sela pagar ilalang. Bulu kuduknya berdiri. Dia langsung teringat cerita Hardian tentang salah satu telinga Haji Maemun yang terpotong saat terbunuhnya.
"Mungkinkah ini telinga Haji Maemun?" batinnya. Walaupun merasa ngeri, ia lebih mendekat memperhatikan potongan telinga di depannya. Benar-benar sebuah potongan telinga, bersih dan sepertinya telah diawetkan.
Farhan mengeluarkan buah berry yang ada dalam tas kresek. Ia kemudian memasukkan tangannya ke dalam kresek lalu mengambil potongan telinga itu. Setelah memasukkan potongan telinga itu ke dalam saku bajunya, Farhan bergegas keluar. Ia akan menyusul Hardian masuk ke dalam hutan.
Hardian melangkah hati-hati memasuki jalan sempit di sela-sela pepohonan. Awalnya ia sempat kehilangan jejak karna gelap dan kabut yang menghalangi pandangan. Tapi sosok laki-laki itu kembali terlihat ketika laki-laki itu menyalakan senternya. Kini laki-laki itu hanya berjarak lima puluh meter darinya. Ia harus berjalan sangat hati-hati, tak boleh ada suara semak-semak yang diinjaknya yang terdengar telinga laki-laki itu. Ia sudah meninggalkan tanda bagi Farhan di setiap pemberhentiannya. Ia berharap, Farhan bisa menemukannya.
Laki-laki itu mematikan senternya. Suasana kembali gelap. Hardian mendesah. Ia sama sekali tak bisa melihat apapun di depannya, termasuk laki-laki itu yang menghilang entah kemana. Hardian melangkah pelan. Ia meraba kesana kemari, mencoba mengukur jaraknya tadi dengan posisi laki-laki itu. Ia tidak berani menyalakan senternya, takut laki-laki itu masih di depan dan akhirnya mengetahui keberadaannya. Ia terus saja melangkah, dan ketika ia memastikan suasana aman, ia mencoba menyalakan senternya.
Hardian merasa telah kehilangan jejak laki-laki itu. Dia menghilang begitu saja tanpa jejak. Dia yakin, posisi terakhir laki-laki itu berdiri adalah di tempatnya kini berdiri, sesuai dengan penghitungannya. Ia mengarahkan senternya ke sekitar, hanya ada pepohonan besar dan seperti tak pernah di lalui.
Hardian duduk dan memeriksa bekas-bekas kaki di semak-semak dan tanaman liar. Semuanya berakhir di sebuah pohon besar dengan akar-akar yang menjuntai ke bawah. Hardian mengarahkan senternya ke atas pohon. Tinggi dan amat besar. Laki-laki itu, dengan kondisi kakinya yang pincang, tak mungkin bisa memanjat pohon secepat itu. Ia yakin laki-laki itu menghilang di sekita pohon besar itu. Hardian melihat ada sinar senter yang mengarah ke sana kemari dari kejauhan. Ia yakin itu Farhan, ia harus segera menjemputnya sebelum gerakannya mengundang perhatian laki-laki misterius itu. Setelah mengikat sebuah tali di salah satu batang pohon kecil, perlahan ia melangkah ke arah Farhan.
Hardian menyalakan senternya satu kali ke arah Farhan sebagai tanda. Tak berapa lama kemudian, Farhan sudah ada di dekatnya.
"Bagaimana Pak," tanya Farhan berbisik.
"Aku kehilangan jejaknya, tapi aku yakin dia ada di sekitar sini. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah menunggu sampai laki-laki itu benar-benar keluar," kata Hardian.
__ADS_1
"Kita harus mencari tempat bersembunyi malam ini. Kita akan cari tempat yang tidak terlalu jauh dari lokasi yang telah aku beri tanda., ayo,kita akan kesana," sambung Hardian.
Suara burung hantu dan melata malam mulai ramai terdengar mengisi hening hutan. Sesekali desir angin terdengar menggesek ranting-ranting dan dedaunan.
Di balik sebuah pohon besar, Hardian dan Farhan masih menunggu. Mata mereka awas menatap setiap suara dan pergerakan di sekeliling mereka. Hardian menselonjorkan kakinya dan bersandar membelakangi Farhan.
"Han, sekarang giliranku ya, kalau sudah ngantuk, bangunin saya," kata Hardian sambil menepuk paha Farhan. Farhan mengangguk. Malam beranjak larut.
*
*
Farhan terjaga dari tidurnya. Suara rintihan minta tolong seperti barusan saja mampir di telinganya. Farhan memasang pendengarannya, berharap rintihan minta tolong itu bukan terjadi dalam mimpinya. Hanya terdengar aneka suara melata malam. Farhan menyalakan senternya, tapi permukaan senter ia tutup dengan tangannya agar cahayanya tidak menyebar. Hardian masih tertidur lelap. Beberapa ekor nyamuk besar terlihat berkumpul di wajahnya.
Farhan kembali mematikan senternya. Rasa kantuknya sudah tak terasa lagi, tapi rasa dingin yang menusuk memaksa nya mendekap tubuhnya lebih erat.
Prank! wer...wer...wer...
Farhan terkejut. Seperti ada sesuatu yang dilempar dan menggelinding di lantai. Suaranya menggema dan terdengar sangat dekat di telinganya. Farhan mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah pohon besar yang terlihat seperti raksasa dalam kegelapan. Sepertinya suara itu berasal dari arah pohon itu. Bulu kuduk Farhan berdiri. Ia belum mau membangunkan Hardian, takut dibilang halusinasi. Mungkin, suara yang baru saja didengarnya adalah ulah dari penunggu hutan tersebut. Hutan seangker itu pasti banyak makhluk halusnya.
Tekeq...tekeq...
__ADS_1
Farhan kembali terkejut. Suara tokek yang tiba-tiba terdengar menggema, membuatnya melonjak kaget. Ia mengelus dadanya sambil menggeleng.
"Bunuh aku! Jangan menyiksaku seperti ini, kumohon bunuh saja aku...
Kembali terdengar dari arah samping. Kali ini Hardian terbangun. Ia seperti mendengarkan suara teriakan, namun belum pasti asalnya. Hardian bangun dan menanyakan apa yang ia dengar barusan kepada Farhan.
"Benar Pak, ada orang yang berteriak dari arah pohon besar itu. Aku kira tadi bermimpi dan beranggapan itu suara dari penunggu hutan ini. Tapi setelah mendengarnya tiga kali, aku yakin tidak sedang bermimpi," bisik Farhan.
"Menurutmu itu suara apa," tanya Hardian lagi pelan.
"Mungkin saja makhluk penunggu hutan ini," jawab Farhan.
"Aku kok curiganya justru ke laki-laki misterius itu. Soalnya ketika aku buntuti, dia menghilangnya dekat pohon besar itu,"
"Tapi bagaimana bisa Pak, suara yang terdengar itu adalah suara perempuan," kata Farhan. Hardian terdiam.
"Kita tunggu saja, jika suara itu muncul lagi segera cari sumber suaranya. Aku yakin ini ada kaitannya dengan laki-laki misteris itu," kata Hardian. Ia menyalakan senternya dan melihat ke jam di tangannya.
"Sudah jam 4 pagi," bisiknya pada Farhan, "Jangan sampai kita tertidur lagi," sambungnya lagi.
Farhan mengangguk.
__ADS_1