
Jam telah menunjukkan pukul 5 pagi ketika Harjan masih duduk di depan meja kerjanya. Setelah tadi ia sibuk di depan laptopnya, kini ia terlihat memperhatikan lima helai daun menjari di depannya. Daun-daun yang masih basah itu ditemukan pegawainya di saku baju Farhan yang dijemur. Sebagian besar orang pasti mengenal daun itu. Itu daun ganja. Harjan mendesah. Ia belum bisa menebak kenapa Farhan menyimpan daun haram itu di saku bajunya. Ia tetap tidak percaya Farhan mengkonsumsi atau menanam tanaman itu. Tapi ia akan tetap menanyakannya nanti kepada Farhan jika kasusnya telah selesai. Pasti ada alasan kenapa Farhan menyimpan daun itu.
Harjan terlihat mulai menguap. Ia kembali menyimpan daun itu di dalam laci lemarinya. Ia kemudian bangkit dan melangkah menuju pintu. Angin menerpa tubuh tambunnya ketika pintu di bukanya. Suasana di luar tampak lengang. Hanya ada petugas di pos jaga yang terdengar sesekali bernyanyi. Sinar senter terlihat dari spead boat yang sedang berpatroli, saling sambut dengan petugas yang sedang berjaga di pos apung di tengah laut. Kaena hawa di luar terlalu dingin, Harjan menutup pintu dan membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya.
Suara gedebur ombak terdengar menghempas sahut menyahut. Langit gelap memperlihatkan gemerlap bintang gemintang yang tak terhitung jumlahnya. Angkasa yang teramat luas dan tak berujung, menjadi renungan orang-orang yang berfikir untuk merenung tentang kebesaran Sang Maha Pencipta.
*
*
Perlahan suasana di dalam hutan mulai terlihat terang. Suara burung-burung satu persatu seperti berlomba membangunkan alam. Angin yang sesekali berhembus kencang seperti hendak mengusir kabut tebal yang saban hari selalu mengganggu cerah pagi. Sinar matahari terlihat berpencar mencari celah di antara awan-awan hitam yang menelingkupi langit timur. Hawa terasa dingin. Suara gemeretak sisa gerimis di dedaunan puncak pepohonan, juga gemericik air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah, menambah suasana dingin di dalam hutan.
__ADS_1
Hardian dan Farhan masih bersembunyi di balik pohon. Tatapan mata mereka tak berpaling ke arah pohon besar berjarak lima puluh meter dari mereka. Suasana sekitar masih sepi. Tak ada sesuatu yang mencurigakan. Hanya beberapa burung yang terlihat mulai hinggap di akar menjuntai pohon besar. Sesekali biawak besar yang lewat di semak-semak mengagetkan mereka. Farhan yang sejak bangun tadi terlihat gatal di sekujur tubuhnya, mendekat ke arah Farhan yang tampak tak berpaling menatap ke arah depan.
"Jam 6: 30," kata Hardian ketika Farhan menanyakan sudah jam berapa saat ini. Farhan memeriksa kakinya. Beberapa semut dan kelabang terlihat berkumpul di sekitar pijakan kakinya yang becek.
Suasana pagi di dalam hutan mulai terdengar ramai oleh kicauan beberapa burung yang hinggap di pucuk pepohonan. Suaranya nyaring membelah hutan. Tonggeret terdengar riuh di kedalaman hutan. Seperti sedang membangunkan pepohonan yang masih berselimut kabut.
Hardian mendesah panjang. Belum juga ada sesuatu yang terlihat di depan pohon tempat mereka bersembunyi. Hardian menoleh ke arah Farhan. Semalaman berjaga di tempat itu, dengan kondisi yang tidak nyaman, membuat Farhan terlihat mulai bosan dan ingin segera memeriksa sekitarnya. Tapi Hardian segera mencegahnya. Dia memintanya bersabar beberapa menit lagi. Hardian yakin, instingnya sebagai seorang intel tak beberapa lama lagi akan terbukti. Dia yakin, laki-laki misterius itu tak akan terlalu jauh masuk kedalam hutan dengan kondisi pincang seperti itu.
Hardian sendiri lebih memfokuskan matanya ke arah sesuatu mirip gundukan yang seperti terlilit akar-akar pohon besar itu. Tanaman-tanaman merambat, tumbuh rimbun memenuhi bagian akar pohon yang menjuntai. Di bawah pohon besar itu, rimbunan tanaman pakis setinggi satu meter, tumbuh subur bersandar di sela akar-akar pohon yang menjuntai.
Hardian menggeser posisi duduknya lebih kesamping. Keningnya yang mengerut dengan mata yang memincing seperti ingin memperlihatkan bahwa ia sedang tertarik dengan sesuatu di depannya. Gundukan yang dilihatnya seperti memanjang ke belakang, kurang lebih tiga meter. Hardian mendesah pelan dan kembali ke posisi semula. Hardian mendekatkan mulutnya ke telinga Farhan seperti hendak membisiki Farhan sesuatu. Tapi ia tiba-tiba menarik kepalanya.
__ADS_1
Hardian membungkukkan badannya dan memberi isyarat kepada Farhan untuk melakukan hal yang sama. Ada pergerakan terlihat di sekitar tanaman pakis yang tumbuh lebat di bawah pohon besar itu. Baik Hardian dan Farhan sama-sama menahan nafas. Tanpa gerakan apapun. Hanya mata mereka yang tak berpaling sedikitpun dari sesuatu yang membuat tanaman pakis itu bergoyang. Dan tak berapa lama kemudian, seseorang terlihat merangkak keluar dari bawah akar-akar pohon. Jantung keduanya berdebar. Salah satu tangan Hardian mulai meraba-raba pistol yang tergantung di pinggangnya. Hal yang sama juga dilakukan Farhan. Parang yang tergeletak di sampingnya diraihnya pelan.
Lelaki dengan jaket hitam itu terlihat berdiri. Setelah memeperhatikan ke sekitarnya, ia memperbaiki lagi posisi tanaman merambat di depannya sehingga lubang tempatnya keluar nyaris tak terlihat lagi. Begitupun juga dengan tanaman pakis. Terlihat biasa dan seperti tak pernah terjamah sama sekali.
Laki-laki itu terlihat memandang ke sekitarnya. Setelah memastikan sekelilingnya aman, sabit besar di tangannya dimasukkannya di balik jaket lusuhnya.
"Dia itu manusia atau monster Han," bisik Hardian di telinga Farhan, ketika laki-laki itu menampakkan wajahnya, tepat ke arah mereka. Farhan hanya menggeleng. Bulu kuduknya berdiri. Wajah laki-laki di depannya itu begitu menyeramkan. Seluruhnya dipenuhi oleh bintik-bintik hitam sebesar kelereng. Matanya seperti sudah tidak terlihat lagi akibat benjolan itu. Entah, penyakit apa yang bersarang di wajah dan mungkin juga di sekujur tubuh laki-laki itu.
"Monster kali, Pak. Terus terang, ngeri melihatnya,"bisik Farhan mencoba mengusir ketegangan diantara mereka. Hardian tersenyum.
Laki-laki itu terlihat melangkah menjauhi pohon besar. Ia sepertinya hendak pergi ke arah ladangnya. Dia semakin jauh dan tak terlihat lagi di balik pohon. Hardian dan Farhan bangkit, namun tetap dalam posisi sembunyi di balik pohon.
__ADS_1
"Sekarang kita bagi tugas. Aku akan mengikuti laki-laki itu dan kamu masuk ke dalam. Berhati-hatilah, kita tidak tahu ada berapa lagi orang di dalam sana," kata Hardian. Farhan mengangguk. Parang yang terikat di pinggangnya di lepas dan memegangnya erat. Dengan pelan, ia mulai melangkahkan kakinya ke arah pohon besar itu. Sedangkan Hardian sendiri terliat memutar mencari arah yang lain untuk membuntuti laki-laki itu.