MISTERI HUTAN RARANGAN

MISTERI HUTAN RARANGAN
#23


__ADS_3

Setelah berkutat memasukkan tubuhnya di sela-sela akar pepohonan di depan lubang kecil di depannya, Farhan akhirnya bisa masuk, dan kini, sesampainya di dalam ruangan itu, ia hanya bisa berdiri menatap kegelapan. Ruangan tempatnya kini berdiri berbentuk lorong selebar satu meter. Jika orang dewasa berdiri di dalam terowongan itu, ia harus setengah membungkukkan badannya agar kepalanya tidak terantuk langit-langit terowongan. Ia belum tahu seberapa panjang lorong itu. Udara di dalam terowongan terasa pengap dan lembab. Di tambah lagi dengan bau kotoran kelelawar, yang membuatnya sesekali menutup hidungnya.


Farhan menyalakan senternya, tetap dengan kehati-hatiannya. Ia yakin ada orang di dalam sana. Ia yakin, suara yang terdengar tadi malam, berasal dari dalam terowongan itu. Ia berusaha tidak menimbulkan sesuatu yang menarik perhatian. Ia terus berjalan pelan, hingga ketika ia sudah sampai di ujung terowongan, ia begitu kaget. Kaki sebelahnya seperti menginjak ruang hampa. Ia terjatuh dan meluncur jauh ke bawah. Tubuh Farhan terguling di lantai. Untuk sesaat ia hanya terdiam merasakan sakit akibat benda-benda keras yang mengenai tubuhnya saat terguling. Farhan menatap ke atasnya sambil terus meringis. Rupanya di ujung terowongan tadi ada lubang yang hanya di tutupi ranting dan daun rumbai kering. Ia tidak melihatnya karna terlalu gelap dan fokus mencari jalan masuk.


Farhan mencoba bangkit. Senter yang masih digenggamnya erat dinyalakannya kembali. Farhan terdiam memperhatikan sekelilingnya penuh awas. Dia kini sedang berada di sebuah ruangan di bawah terowongan. Ruangan itu berbentuk bundar, dengan luas sekitar 3 x 4 meter. Lantainya penuh dengan ilalang-ilalang kering yang berserakan. Bau kencing dan kotoran menyeruak memenuhi hidungnya. Benar-benar bau dan membuatnya hendak muntah.


Farhan mulai mengarahkan sinar senternya ke setiap sudut ruangan. Parang yang sempat terlepas dari tangannya ketika jatuh tadi, nampak tergeletak tak jauh dari tempatnya jatuh. Ia perlahan mengambilnya, dan memegangnya erat-erat dengan tangan kanannya. Dia terus berjalan memeriksa sekelilingnya, hingga di sebuah sudut yang agak menjorok, ia terperanjat kaget. Seorang perempuan dengan rambut berurai kusut menutupi wajahnya menatapnya tajam. Kedua tangannya terikat di sebuah batu besar di sampingnya. Ia hampir telanjang. Ia hanya memakai sarung kumal yang hanya menutupi bagian ***********. Sedangkan bagian atasnya sama sekali tak tertutupi selembar pakaianpun. Untuk sesaat Farhan hanya bisa terdiam di tempatnya berdiri. Tak ada gerakan sedikitpun. Ia fokus ke arah sosok perempuan di depannya.


Farhan mendekat pelan ke arah perempuan itu. Perempuan itu menundukkan wajahnya ketika sinar senter mengenai wajahnya. Ia terlihat menggerak-gerakkan kepalanya.


"Tolong, lepaskan aku, aku mau pulang. Tolonglah aku," rintih perempuan itu sambil berusaha menatap Farhan dari sela-sela rambut yang menjuntai menutupi wajahnya. Farhan lebih mendekat. Setelah menghela nafas panjang, parang di tangannya kemudian diayunkannya ke arah tali yang mengikat perempuan itu hingga terputus.


Perempuan itu memperhatikan kedua tangannya yang sudah tak terikat lagi. Ia tersenyum dan mulai memperhatikan dengan seksama orang yang ada di depannya. Perempuan itu tersenyum ketika menyadari orang yang ada di depannya bukan laki-laki misterius itu.


"Kamu bukan monster itu? Kamu datang untuk menyelamatkanku?"


Perempuan itu merangkak kegirangan mendekati Farhan. Ia mulai bersimpuh di kaki Farhan dan mulai menciumnya. Tangisnya mulai terdengar.

__ADS_1


"Cepatlah berpakaian, kita harus cepat-cepat keluar dari tempat ini," kata Farhan sambil berusaha menghindarkan kakinya dari wajah perempuan itu.


Perempuan itu mendongak. Dengan tubuh yang terhuyung, perempuan itu bangkit dan segera membenahi pakaiannya. Bau menyengat menyeruak dari tubuhnya, membuat Farhan mendengus tak tahan.


"Kemana monster itu, aku takut dia kembali dan menyakitiku lagi," kata perempuan itu sambil memegang tubuh Farhan. Matanya kesana kemari mengikuti gerakan ketakutan dari tubuhnya. Tangannya bergetar hebat saat memegang tangan Farhan. Farhan menatapnya.


"Jika kamu ingin selamat, naiklah, dan segera keluar dari tempat ini. Dan satu lagi, kita belum aman. Kita tidak tahu sedang ada dimana laki-laki itu saat ini," kata Farhan sembari mengarahkan senternya ke arah lubang di atasnya. Tangan perempuan yang masih erat memegang tangannya dilepaskannya perlahan. Perempuan itu mengangguk dan mulai mengikuti Farhan dari belakang menuju ke arah lubang masuk. Setelah merasa situasi di atas sana aman, Farhan menoleh ke arah perempuan itu dan menyuruhnya naik. Perempuan itu segera bergegas. Tangannya mulai merayap menggapai pinggir lubang dengan berpegangan pada ujung-ujung akar pohon yang tembus ke dalam terowongan. Dari bawah, Farhan berusaha membantu mendorong tubuh perempuan itu agar bisa naik ke atas dengan tetap menahan nafas. Tubuh perempuan itu benar-benar mengeluarkan bau yang tak sedap. Dengan susah payah, perempuan itu akhirnya sampai di atas.


Farhan mematikan senternya dan memasukkan ke dalam saku bagian belakang celananya. Dengan cepat ia bergelantungan di akar-akar pohon dan sigap mengangkat tubuhnya naik ke atas.


Tidak berapa lama kemudian, setelah melewati terowongan sepanjang satu meter, keduanya akhirnya sudah berada di luar terowongan.


Farhan menarik tangan perempuan itu dan mengajaknya bersembunyi di balik akar beringin yang menutupi bagian luar terowongan. Ia menoleh sejenak memastikan situasi di sekitarnya aman. Farhan menoleh dan menatap perempuan yang masih ketakutan itu.


"Sekarang diamlah di sini. Orang yang kamu anggap monster itu masih berkeliaran di luar sana. Untuk sementara waktu kamu harus diam di sini. Ingat, tetap diam di tempat.Jangan kemana-mana," kata Farhan memperingatkan. Perempuan itu mengangguk dan segera menyembunyikan tubuhnya di balik akar-akar pohon.


Setelah memastikan perempuan itu akan mengikuti perintahnya, Farhan segera melangkahkan kakinya menyusul Hardian menuju ladang.

__ADS_1


Setelah dengan hati-hati mengendap melewati semak-semak, Farhan akhirnya menemukan Hardian bersembunyi di balik sebuah pohon. Farhan langsung mendekat.


"Bagaimana, apa yang kamu temukan di sana?" tanya Hardian setelah Farhan berada di dekatnya.


"Seorang perempuan. Rupanya dia perempuan yang kabarnya diculik itu," jawab Farhan.


"Lantas, dimana dia,"tanya Hardian sambil menoleh ke arah belakang.


"Aku sembunyikan sementara waktu di tempat yang aman," kata Farhan sambil membersihkan celananya yang kotor akibat lumpur yang menempel. Dia lalu menggeser tubuhnya dan menyibak semak-semak di depannya.


"Dimana laki-laki itu," kata Farhan setengah berbisik tanpa menoleh ke arah Hardian.


"Terakhir aku melihatnya, dia masuk ke dalam gubuk. Kamu diam dulu di sini. Kita tidak tahu mungkin ada jalan lain di sekitar sini. Dia sudah terlalu lama di dalam gubuk itu. Aku khawatir dia menggunakan jalan lain untuk masuk kembali ke hutan ini." Hardian bangkit. Setelah itu ia mengendap-endap melewati batang-batang pohon menuju jalan keluar menuju ladang.


* * * * *


Farhan menunggu cemas dari tempatnya kini bersembunyi. Ia merasa sudah terlalu lama menunggu di tempat itu. Tak ada tanda-tanda dari laki-laki misterius itu kembali ke terowongan itu. Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan keluar dari hutan.

__ADS_1


__ADS_2