MISTERI HUTAN RARANGAN

MISTERI HUTAN RARANGAN
#29# Akhir Petualangan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Farhan sudah terlihat berjalan-jalan di sekitar ladangnya. Setelah lelah berkeliling, dia menuju ke bekas rumahnya yang telah rata dengan tanah. Hanya menyisakan pohon singkong di sampingnya. Ia melihat beberapa pohon mahoni yang tumbuh besar di tengah-tengah ladang, yang membatasi antara tanaman strawbery dan kol. Ada sekitar sepuluh pohon yang dulu ditanam ayahnya, dan kini, mungkin sudah waktunya ia memanfaatkannya untuk membangun kembali rumahnya. Mungkin lusa ia akan menghadap ke dinas kehutanan untuk melaporkan penebangan yang akan ia lakukan. Walaupun beberapa pohon mahoni yang berjejer di pembatas ladangnya dengan hutan ditanam sendiri oleh almarhum ayahnya, tapi karna pohon-pohon itu tumbuh di kawasan hutan lindung, ia perlu meminta ijin pada pihak kehutanan.


Farhan mendesah panjang sembari tersenyum. Bayangan almarhum ayahnya masih terangkum jelas di matanya. Seperti baru saja terjadi. Bayangan sosok almarhum ayahnya yang selalu meluangkan waktunya menanam pohon di sela-sela waktunya bertanam. Pohon-pohon itu kini sudah tumbuh besar dan sudah bisa dimanfaatkannya. Pohon memberikan manfaat yang banyak untuk kehidupan manusia. Ia berharap, hutan di kawasan rarangan akan tetap lestari hingga bisa dinikmati oleh generasi berikutnya.


Farhan menoleh. Seseorang terlihat berjalan masuk ke dalam hutan, di sebelah timur ladangnya. Terlalu jauh, sehingga ia tidak begitu jelas melihat wajahnya. Sudah empat kali ini ia melihat orang yang sama, dengan perawakan yang sama, mengendap-endap masuk dan hilang di balik lebatnya hutan. Farhan mendesah. Selama ini ia tak sempat berpikiran sejauh itu. Tidak mungkin sekali seseorang itu masuk ke hutan tak bertuan jika tidak ada sesuatu yang penting di dalam sana. Ini mungkin ada kaitannya dengan ladang ganja yang ia temukan di dalam hutan.


Farhan bangkit dan segera berlari menuju rumah pak sumarep. Wati yang melihatnya berlari menjadi heran. Tanpa berkata apa-apa, Farhan langsung menuju ke dalam rumah dan mengambil hp nya.


"Assalamualaikum Pak." Terdengar balasan salam dari seberang.


"Pak, aku yakin telah menemukan pemilik ladang itu. Mungkin sekaranglah waktunya Pak," kata Farhan.


"Baik Pak," kata Farhan. Ia menutup telponnya dan duduk di sebatang kayu di dekat dapur.


Farhan mendesah.


"Dik, aku minta waktu satu hari saja. Aku harus membantu pak Hardian memecahkan satu kasus lagi. Setelah ini, aku janji akan melamar adik," kata Farhan sambil menoleh ke arah Wati yang masih membuatkannya kopi di dapur. Hari ini Tim Buser dari polres Lombok Timur akan melakukan penyergapan dan pengintaian di lokasi hutan area selatan yang ditemukan Farhan, sekitar 3 are yang ditanami ganja. Dia baru saja menghubungi Hardian untuk segera meluncur ke lokasi.


"Tapi janji, gak akan menghilang lagi," kata Wati. Kopi panas dihidangkan di depan Farhan. Ia menatap Farhan dalam, penuh harapan. Farhan menggeleng.


"Aku juga gak mau lagi terlalu lama berpisah. Setelah ini, aku gak mau lagi pergi kemana-mana, tetap di sini menemanimu," kata Farhan. Wati tersenyum dan menyandarkan kepalanya di pundak Farhan. Farhan membalas dengan menyandarkan kepalanya di atas kepala Wati.


"Benar kata pujangga, saat paling indah adalah saat kita bersama orang yang kita cintai." Wati kembali mendesah. "Adik takut akan kehilangan Kakak seperti hari-hari kemarin. Adik juga takut Kakak berubah pikiran karna terlalu sering menghilang." Farhan memegang tangan Wati erat.


"Jika aku sudah seperti Qais karna merindukanmu, aku berharap itu tidak akan terjadi," kata Farhan.


"Tapi Wati gak suka Kakak bilang, aku..., aku..., Wati merasa seperti orang lain saja," kata Wati manja. Farhan tersenyum.


"Baik, Kakak lupa, maaf," kata Farhan.


Farhan mengajak Wati duduk. Sebuah cincin emas ia keluarkan perlahan dari saku bajunya. Tangan Wati di pegangnya. Wati tersenyum ketika Farhan memasukkan cincin itu di jari manisnya. Ia lalu mencium tangan Wati.


"Seharusnya cincin ini akan Kakak berikan saat melamar Adik nanti. Anggap ini sebagai tanda bahwa kakak pasti kembali,insya Allah,"


Wati tersenyum. Ia mendongak menatap mata Farhan. Farhan meraih kepala Wati dan mencium keningnya.


*


Terdengar suara mobil dari kejauhan. Farhan melepaskan pegangan tangan Wati dan bangkit. Ia melangkah ke arah jalan dan melihat mobil bak terbuka menuju ke arahnya. Semakin dekat, dan ia bisa melihat beberapa orang berseragam hitam di bagian belakang mobil.


Di bagian depan mobil, Hardian melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Ayo Han, kita harus cepat," panggilnya. Farhan kembali masuk ke dalam rumah. Wati yang menunggunya tersenyum. Jaket di tangannya dipasangkannya di badan Farhan. Farhan menatap Wati dan mencium keningnya.


"Kakak pergi dulu Dik, doakan Kakak kembali dengan selamat. Salam sama bapak dan ibu," kata Farhan. Setelah bersalaman, Farhan segera bergegas menuju mobil dan langsung naik di belakang. Di bagian depan mobil terdengar suara Hardian sedang menelpon seseorang di antara suara berisik mesin mobil.


"Halo pak Harjan. Selamat pagi, kami bersama tim akan meluncur ke sana. Mohon bantuan speadnya," kata Hardian terdengar menelpon Hardian. Ia mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum mendengar suara dari seberang.


"Ok, sekali lagi terimakasih atas bantuannya."


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi di atas jalanan berkerikil, menembus kabut-kabut tipis yang menghalangi. Daun-daun kering pepohonan di tepi jalan berguguran, terhempas angin yang bertiup kencang.


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah gerbang milik pt authore pearl segui.


Harjan yang sudah menunggu di depan gerbang langsung mengajak mereka turun menuju dermaga. Beberapa boat sudah terlihat bersandar di tepi dermaga. Beberapa petugas mencoba mengarahkan teropongnya ke tempat yang ditunjukkan Farhan. Hamparan hutan menghijau yang terlihat di depan sana, dengan pepohonannya yang menjulang tinggi, seperti benteng gelap tak terjamah.


Setelah persiapan rampung, mereka naik ke atas boat dan meluncur ke lokasi.


* * *


Speed boat yang ditumpangi Farhan nampak berputar-putar mendahului yang lain. Farhan masih mencari tali yang digunakannya menuruni tebing saat pelariannya kemarin. Matanya awas menatap setiap tanaman merambat yang menjuntai ke bawah dan hampir memenuhi permukaan tebing. Karna warna tali yang hampir sama dengan warna tebing, ditambah dengan akar-akar tanaman merambat yang memenuhi permukaan tebing, membuat pencarian menjadi semakin sulit.


Setelah pencarian yang cukup lama, akhirnya tim menemukan sebuah tali yang tersembunyi di balik tanaman merambat di badan tebing. Karna hempasan ombak yang menghantam tebing begitu keras dan membahayakan spead, Hardian memerintahkan anak buahnya untuk terjun ke dalam air. Mereka satu persatu kemudian memanjat naik ke atas tebing. Setelah menghabiskan beberapa menit menaiki tebing, akhirnya mereka sampai di atas.


Suasana sekitar ladang terlihat sepi. Sejauh mata memandang, belum ada tanda-tanda ada orang di sekitar sana. Tim masih menunggu kedatangan seseorang yang dicurigai Farhan sebagai pemilik ladang.


"Berkaca dari pengalaman saya ketika masuk hutan ini, rasanya tak mungkin orang itu akan cepat sampai di tempat ini. Saya tiga hari tiga malam baru menemukan ujung hutan ini," kata Farhan setengah berbisik kepada Hardian. Hardian tersenyum.


"Menurutku tidak. Itu beda situasi. Kamu berjalan tanpa arah karna merasa orang-orang masih mengejarmu. Kamu waktu itu juga dalam keadaan panik, belum tahu kemana harus melangkah. Saya yakin ada jalan sendiri yang dibuat khusus oleh orang ini, apalagi jika ini sudah terorganisir dengan baik. Saya yakin ada pihak dalam yang ikut terlibat dalam hal ini, hanya orang-orang kehutanan yang faham seluk beluk hutan ini," kata Hardian.


"Maksud Bapak," kata Farhan penasaran.


"Yah, mungkin saja oknum dari pihak kehutanan." Farhan terdiam. Suasana kembali sepi. Hanya suara mesin sampan nelayan yang meraung-merauang di bawah sana.


Seorang petugas mendekati Hardian yang bersembunyi di balik semak-semak bersama Hardian.


"Lapor Pak, kami menemukan jalan setapak, kira-kira seratus meter dari ladang," lapor petugas tersebut.


"Tetap waspada dan perhatikan dengan seksama setiap gerakan," perintah Hardian.


"Baik Pak."


Tak berapa lama kemudian. Suara motor terdengar dari kejauhan, semakin dekat dan seorang berbaju putih bertubuh gempal terlihat menghentikan sepeda motornya di bawah pohon. Farhan dan Hardian segera mengenalnya. Sesuai dengan yang diperkirakan Farhan, Bahram.

__ADS_1


"Bahram Han," bisik Hardian. Farhan mengangguk dan tersenyum.


Orang yang ternyata adalah Bahram itu tampak memperhatikan sekelilingnya. Ia terlihat berjalan dan mulai memeriksa tanaman ganja di sekelilingnya. Beberapa helai daun ganja di masukkannya ke dalam saku celananya. Setelah memastikan tidak ada orang lagi di belakang Bahram, Hardian perlahan merengsek maju.


"Angkat tangan! jangan bergerak. Jongkok dan angkat tangan," teriak Hardian sambil mengacungkan pistolnya ke arah Bahram. Bahram segera berjongkok dan mengangkat tangannya. Beberapa petugas mendekati Bahram dan segera memborgolnya.


"Ternyata kamu Bahram," kata Hardian sambil tersenyum sinis ke arah Bahram. Bahram tertunduk dengan tubuh gemetar.


"Maaf Pak, saya hanya di suruh pak Yadi," kata Bahram ketakutan. Hardian menatap ke arah Farhan yang nampak tidak percaya.


"Tebakan saya benar kan Han?" Hardian tersenyum. Pak Yadi, petugas kehutanan yang kemarin mengantar Farhan pulang dengan mobil kehutanan, ternyata terlibat dalam kasus itu.


Setelah bermusyawarah beberapa saat, Hardian segera memerintahkan anak buahnya untuk mencabut semua tanaman ganja di areal itu. Farhan sendiri diperintahkan Hardian untuk mendokumentasikannya. Setelah proses yang sangat panjang, mereka berhasil menurunkan ganja-ganja itu dan memindahkannya ke boat yang masih menunggu di bawah. Setelah semuanya beres, para petugas langsung menaiki boat dan berangkat menuju dermaga terdekat.


*


*


Hardian memeluk Farhan ketika mereka telah sampai di gerbang perusahaan mutiara. Tampak raut-raut kepuasan dan kebahagiaan di wajah keduanya. Harjan yang sudah tahu kedatangan keduanya langsung menemuinya di gerbang.


"Alhamdulillah, akhirnya semua pekerjaan kita tuntas Han. Sekali lagi saya mewakili pihak kepolisian mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dan partisipasi kamu dalam mengungkap kasus di wilayah hutan ini. Semoga kawasan ini kembali tenang," kata Hardian sambil memegang tangan Farhan erat.


"Sama-sama Pak, tanpa Bapak juga, kasus ini tidak akan terungkap secepat ini," balas Farhan.


"Inilah gunanya masyarakat dan kepolisian saling bersinergi. Sama-sama merasa punya kewajiban menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah kita,"sahut Harjan.


"Mungkin saya tidak bisa tinggal lama di sini, para anggota sudah menunggu dan bukti-bukti yang telah kita dapatkan harus segera kita serahkan. Sekali lagi terimakasih semuanya. Insya Allah, kapan-kapan saya akan berkunjung dan ngopi bareng bersama kalian." Hardian menyalami dan memeluk keduanya. Setelah itu Hardian dan tim segera menaiki mobil dan meninggalkan tempat itu.


Harjan mendekati Farhan dan merangkulnya erat. Ia menepuk-nepuk pundak Farhan .


"Kamu di sini dulu Han. Kita makan dulu, setelah itu baru aku antar kamu pulang. Aku juga pingin lihat calon istrimu," kata Harjan sembari tersenyum. Farhan mengernyitkan dahinya. Ia mendesah, agak ragu. Ia takut Wati terlalu lama menunggunya di rumah. Dia tidak mau membuatnya cemas untuk kedua kalinya. Melihat Farhan gusar seperti itu, Harjan menarik tubuh Farhan masuk ke dalam.


* * *


Dunia penuh misteri. Beberapa orang di sekitar kita mungkin saja sedang menggunakan banyak topeng untuk mengelabui kita. Yang kita anggap baik, belum tentu baik. Begitupun sebaliknya. Yang kita butuhkan hanyalah prasangka baik kita kepada sesama.


Dua hari berikutnya, Farhan dan Wati melangsungkan pernikahan mereka. Berkat jasanya, Farhan diangkat sebagai kepala dinas perhutanan. Tidak hanya itu, Kapolres juga membangunkan untuknya sebuah rumah besar. Hardian sendiri naik jabatan dan dipromosikan untuk menjabat Kapolsek.


Suasana di kawasan hutan rarangan kembali damai. Kampung baru yang beberapa bulan ditinggal penghuninya kembali didatangi. Warganya rukun dan hidup damai. Sedamai pohon-pohon pinus yang membisu dalam selubungan kabut tebal.


...end...

__ADS_1


__ADS_2