
Malam perlahan datang mengusir cahaya siang dengan gelapnya. Suara binatang malam seperti biasa mulai terdengar mengiringi perjalanan malam. Pembicaraan mereka yang terputus siang tadi berlanjut setelah makan malam bersama di rumah pak Sumarep. Sebelum bergabung duduk dengan pak Sumarep, Farhan terlihat membantu Wati menata piring-piring bekas makan malam tadi. Beberapa sisa makanan di atas tikar dipungutnya satu persatu dan dikumpulkannya di dalam piring. Pak Sumarep memilih pindah dan bersandar di pagar gubuk. Lampu teplok di depannya sesekali ditutupinya dengan tangan jika sesekali angin menghempas masuk ruangan. Ia menyodorkan tembakau racik kepada Farhan dan Farhan mulai melintingnya. Asap mulai mengepul dan melayang-layang dalam cahaya lampu. Laron-laron terlihat mulai berkumpul di dekat lampu.
"Gak nyangka sekali kalau Fadli yang membunuh Mistar dan bu Sarmi. Motifnya apa kira-kira," kata pak Sumarep memulai pembicaraan, mengulang kembali cerita Farhan tadi siang. Dia masih tidak percaya, Fadli yang terlupakan dan terasingkan menjadi pelaku yang tak terduga-duga dalam kasus pembunuhan itu.
Farhan menjentikkan abu rokoknya ke dalam asbak bambu di depannya. Wati dan bu Sumarep yang duduk agak jauh mulai ikut mendengarkan dengan seksama.
"Katanya sih, ia ingin balas dendam atas meninggalnya ayah. Dia juga beranggapan aku telah mati ikut terbakar dalam rumah, dia sakit hati dengan kelompok Haji Maemun." Farhan menghentikan pembicaraannya. Air dalam kendi dituangkannya ke dalam gelas lalu meminumnya. "Awalnya ia memang berniat membunuh Haji Maemun dan semua teman-temannya, tapi ia hanya berhasil membunuh Mistar dan bu Sarmi saja. Pembunuh Haji Maemun yang sekarang masih diselidiki pihak kepolisian."
Pak Sumarep kembali mendesah kasar. Ia terlihat menggeleng-geleng.
"Tak menyangka, banyak sekali pembunuhan di kawasan hutan ini. Ini akibatnya jika kita sudah jauh dari agama," keluh pak Sumarep.
"Kira-kira menurut Bapak, siapa yang pantas dicurigai membunuh Haji Maemun," Pak Sumarep terdiam, seperti sedang mengingat nama serta bayangan orang-orang yang pantas dicurigai. Kembali ia mendesah.
"Kalau menurut ba_,"
Krak!
Tak sempat melanjutkan kata-katanya, terdengar seperti ada sesuatu yang patah di belakang rumah. Tak berselang lama, suara langkah kaki terdengar seperti berlari di atas semak-semak. Pak Sumarep sigap meraih senternya dan berlari keluar rumah. Parang yang terselip di pagar diraih Farhan dan langsung berlari menyusul pak Sumarep.
Sinar senter pak Sumarep berhasil mengenai sosok tubuh yang berlari menjauh dan akhirnya hilang di balik pepohonan. Pak Sumarep gagal menangkapnya sebab larinya yang terlalu kencang.
"Ketemu Pak," kata Farhan. Dia mengarahkan senternya ke arah semak-semak sekitar dan pepohonan. Pak Sumarep masih menatap ke depan. Nafasnya terlihat belum stabil.
"Kamu harus lebih hati-hati. Rupanya ada orang yang sengaja menguntit kepulanganmu." Pak Sumarep meraih tangan Farhan dan mengajaknya kembali ke rumah.
"Kita tunggu di sini. Sepertinya orang itu masih bersembunyi di balik pohon itu," kata pak Sumarep setibanya di rumah. Ia mengajak Farhan bersembunyi di balik rerimbunan pohon singkong.
*
Seorang laki-laki nampak mengintip dari balik pepohonan. Nafasnya turun naik akibat lari dari kejaran pak Sumarep. Hampir saja ia tertangkap basah. Untung saja tenaga larinya lebih kuat dari pak Sumarep. Ia terduduk lesu. Berkali-kali ia arahkan pandangannya ke arah rumah pak Sumarep. Ia harus kembali ke rumah itu. Ia merasa tidak aman untuk bersembunyi terus di tempat itu. Setelah berpikir sejenak, Ia lalu bangkit dan kembali mendekati rumah itu. Kali ini langkahnya terlihat tenang dan tak berusaha mengendap-endap. Pak Sumarep dan Farhan yang sengaja bersembunyi di balik rerimbunan pohon singkong segera memergokinya.
Laki-laki itu menutup wajahnya ketika sinar senter mengenai matanya. Ia mengangkat satu tangannya memberi isyarat agar pak Sumarep mematikan senternya. Pandangannya gelap. Sinar senter yang menyilaukan matanya, membuatnya terpejam beberapa saat. Pak Sumarep dan Farhan segera menangkap tubuhnya dan membawanya ke dalam gubuk.
__ADS_1
"Sapri?" Kata pak Sumarep ketika melihat ternyata orang yang ada di depannya adalah Sapri, warga kampung baru. Pak Sumarep melonggarkan genggaman tangannya di kerah baju Sapri. Ia lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar dan mendudukkannya. Melihat nafasnya yang terengah-engah, Wati menghampirinya dan menyodorkan segelas air kepada Sapri.
"Ada apa Sapri, kenapa malam-malam begini kamu datang seperti pencuri. Hampir saja parang ini mengenai lehermu," kata pak Sumarep setelah Sapri menghabiskan air gelasnya . Sapri mengusap matanya dan satu persatu memandang wajah-wajah orang di sekitarnya.
"Maaf Pak, ada yang ingin aku sampaikan. Aku ragu tapi aku harus mengatakan ini pada Bapak," kata Sapri.
"Apa yang ingin kamu katakan Sapri," tanya pak Sumarep. Sapri kembali menoleh ke sekitarnya.
"Awalnya aku ikut mengungsi ke desa, tapi keluarga Haji Maemun mengancamku untuk dbunuh, makanya aku melarikan diri maghrib tadi dan ingin mencari perlindungan di sini," kata Sapri. Ia nampak ketakutan.
"Mengancammu? Atas dasar apa ia mengancammu," kata pak Sumarep dengan kening mengerut heran.
"Mereka menuduhku telah membunuh Haji Maemun Pak, jawab Sapri.
"Membunuh pak Maemun?" pak Sumarep semakin penasaran, begitu juga Farhan.
"Atas dasar apa mereka menuduhmu seperti itu, gak boleh seperti itu," pak Sumarep menggeleng, "Kita memang sudah terbiasa menghakimi orang tanpa saksi dan bukti lengkap. Mau jadi apa negara ini jika hukum tak diindahkan." sambung pak Sumarep terlihat kesal.
Untuk sesaat mereka terdiam, namun perhatian mereka teralihkan oleh isak tangis dari Sapri yang tiba-tiba pecah. Tak hanya itu, ia kini bersimpuh di pangkuan pak Sumarep. Farhan, pak Sumarep, bu Sumarep dan juga Wati keheranan.
Pak sumarep masih menunggu Sapri selesai dari tangisnya.
"Ceritakan bapak, apa yang melatar belakangimu sehingga membunuh pak Maemun, setahuku, kamu tidak punya masalah apa-apa sama dia," kata pak Sumarep membuka pembicaraannya setelah melihat Sapri mulai tenang.
"Aku sakit hati karna hutangku yang seharusnya 20 juta melonjak menjadi 50 juta. Dia mengancam akan mengambil tanahku, kalau tidak dia akan memenjarakanku. Aku taku dan tidak ada jalan lain selain membunuhnya." Sapri menunduk. Tangisnya semakin keras. Pak Sumarep menghela nafas panjang. Untuk sesaat suasana hening. Hanya terdengar sesenggukan tangis Sapri. Farhan mencoba mendekat dan memegang pundak Sapri.
"Begini Pak Sapri, kami tidak akan bisa terus menerus melindungi Bapak di sini. Lebih baik Bapak menyerahkan diri pada pihak berwajib. Itu lebih menjamin keamanan Bapak, kami takut keluarga Haji Maemun datang ke sini dalam jumlah banyak dan menghakimi pak Sapri" kata Farhan mencoba memberi penjelasan pada Sapri.
"Ini demi kebaikan dan keamanan Bapak. Bapak tahu sendiri bagaimana saudara-saudara kita terbunuh. Jika Bapak mau, saya akan telpon pihak kepolisian untuk menjemput Bapak," sambung Farhan mencoba meyakinkan Sapri.
"Betul sekali yang dikatakan Nak Farhan itu Sapri. Keselamatanmu lebih penting dan lebih terjamin jika berada di pihak kepolisian."
Sapri terdiam beberapa saat. Ia tertunduk menatap jari-jari tangan hitamnya. Ia kemudian menatap Farhan dan mengangguk pelan.
__ADS_1
"Maafkan aku Farhan, gara-gara aku, orang-orang menuduhmu sebagai pembunuh Haji Maemun," kata Sapri terbata-bata.
Farhan tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Sapri. Setelah itu ia bangkit dan keluar. Terdengar ia sedang berbicara dengan seseorang melalui telpon. Tak beberapa lama kemudian, ia kembali masuk.
"Untuk sementara menunggu pak polisinya datang, Pak Sapri di sini dulu. Perkiraan saya...," Farhan melihat jam di hp nya, "Jam 2 insyaallah akan tiba di sini,"sambung Farhan. Sapri mengangguk.
"Percayalah, Pak Sapri lebih aman di kantor polisi. Pak Sapri sudah tahu sendiri, dua kali rumahku dibakar karna membabi butany mereka."
*
Malam semakin beranjak larut. angin dingin semakin terasa, menembus celah-celah pagar gubuk. Pak Sumarep, Farhan dan Sapri masih terlihat duduk di dalam rumah. Malam terasa mencekam. Suara ngorok bu Sumarep terdengar sesekali memecah hening menambah suasana tegang.
Terdengar suara mobil sayup-sayup dari kejauhan. Farhan bangkit dan segera keluar memeriksa. Dari kejauhan, ia melihat lampu mobil mengarah ke arahnya.
Tiga orang laki-laki berjaket hitam keluar dari sebuah mobil kijang warna biru. Salah satunya perlahan mulai dikenal Farhan.
"Selamat malam Pak," kata Farhan sambil mendekat ke arah laki-laki yang ternyata adalah Hardian itu. Hardian tersenyum dan memeluk Farhan. Farhan kemudian mengajak ketiganya masuk ke dalam rumah.
Melihat tamunya datang, Wati yang masih belum bisa memejamkan mata, langsung bangun dan segera menuju dapur.
"Ketemu lagi kita Han, terus terang saya kangen sama kamu," kata Hardian sambil membuka jaketnya. Ia melemparkan sebungkus rokok ke arah Farhan.
"Bapak ada-ada saja. Baru saja semalam." Farhan mendekati Hardian dan duduk di sampingnya.
"Ini namanya Farhan Pak Ari, Pak Anwar, ini orang sipil yang layak dapat penghargaan. Dia telah banyak sekali membantu kita mengusut kasus ini," kata Hardian kepada kedua temannya. Farhan tersenyum malu. Pak Ari mengacungkan jempolnya ke arah Farhan.
"Ini yang namanya Pak Sapri, beliau mengaku kalau beliaulah yang membunuh Haji Maemun," kata Farhan memperkenalkan Sapri. Sapri hanya menunduk malu. Hardian mengangguk-angguk kecil.
"Alhamdulillah, Bapak telah memutuskan dengan tepat dan bijak, insyaallah, jika Bapak kooperatif, mudah-mudahan hukuman Bapak bisa diringankan," kata Hardian. Sapri hanya mengangguk. Keringat dinginnya memenuhi sekujur tubuhnya.
Pembicaraan mereka terhenti. Wati datang dengan membawa beberapa gelas kopi dan mempersilahkan tamu-tamunya.
Suara burung tekukur terdengar merdu di tengah malam, memberi isyarat bahwa malam telah larut. Setelah menghabiskan kopinya, Hardian bersama kedua temannya pamit pergi membawa Sapri.
__ADS_1
"Farhan, terkait kasus yang satunya lagi, terpaksa aku akan mengganggu lagi. Lusa kami akan datang lagi, kita akan tindak lanjuti laporanmu yang kemarin," kata Hardian ketika sudah berada di dalam mobil. Farhan mengangguk. Mobil yang ditumpangi mereka perlahan menjauh meninggalkan kediaman pak Sumarep.