
Farhan dan Hardian mengusap peluh yang meleleh di tubuh mereka. Setelah memastikan tanah yang mereka ratakan aman untuk landasan, mereka memutuskan untuk istirahat.
"Baru sekarang aku membiarkan tersangka penculikan bebas tanpa borgol seperti itu, bersama korbannya lagi," kata Hardian sambil tersenyum ke arah Fadli. Mayni sendiri terpaksa mereka ikat di sebuah batang pohon karna terus berusaha mengganggu Fadli.
"Aku yakin dia tidak akan macam-macam. Aku tahu betul dia menghargaiku,"kata Farhan.
Hardian menawarkan sebatang rokok pada Farhan.
"Oh ya Han, sambil menunggu heli datang, mungkin kamu bisa mengorek keterangan dari Fadli. Siapa tahu dia akan berterus terang terkait pembunuhan yang terjadi. Bila perlu direkam. Ajak dia bicara dari hati ke hati, biar aku yang jaga perempuan itu,"kata Hardian. Farhan menoleh ke arah Fadli yang masih termenung, tak jauh dari tempat mereka duduk. Farhan kemudian bangkit. Sebelum pergi, Farhan mengeluarkan kresek plastik dari balik jaketnya dan memberikannya pada Hardian.
"Apa ini," tanya Hardian.
"Itu potongan telinga, aku temukan di gubuk. Mungkin itu telinga Haji Maemun yang pernah Bapak ceritakan." Farhan kemudian melangkah menemui Fadli.
Hardian membuka tas kresek dan benar-benar menemukan potongan telinga di dalamnya. Ia mendesah dan menggelengkan kepalanya.
*
Kabut masih terlihat menyelubungi belantara hutan. Terang sinar matahari yang beberapa jam tadi terlihat, kini sudah hilang tertutup mendung dan tebalnya kabut. Jam di tangan Hardian telah menunjukkan pukul 2 siang. Hardian nampak resah menatap cuaca yang semakin gelap. Dia menoleh ke arah Mayni yang masih duduk dengan tangan masih terikat di pohon. Ia harus memindahkannya ke gubuk sebelum hujan turun. Dia berharap, beberapa jam kedepan, kabut dan mendung akan hilang dan proses evakuasi dapat berjalan lancar.
Sementara Hardian pergi memindahkan Mayni, Farhan terlihat serius membicarakan sesuatu dengan Fadli.
"Oh ya Han, kayaknya aku pernah melihatmu sekali saat berseteru dengan Haji Maemun. Andaikan saja waktu itu aku tahu itu kamu, mungkin aku tak akan merasa kesepian,"kata Fadli memulai pembicaraan. Farhan mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"O ya," Farhan menatap Fardi sambil mengingat-ingat kejadian itu. "Memangnya kamu dimana waktu itu,"tanya Farhan.
"Aku bersembunyi di balik pohon. Aku hanya melihat dari kejauhan. Aku malu jadi pusat perhatian orang, Han," kata Fadli menunduk.
Untuk sesaat mereka terdiam. Awalnya Farhan agak ragu untuk menanyakan kasus pembunuhan yang terjadi, tapi ia merasa harus membicarakannya dengan Fadli. Ia memegang pundak Fadli.
"Maaf Fadli, aku harus menanyakan ini kepadamu. Semoga dengan kooperatifnya kamu, hukumanmu bisa diringankan," kata Farhan.
"Aku gak peduli dengan hukuman Han. Aku tahu apa yang aku lakukan salah, dan aku pantas dihukum mati," kata Fadli tersenyum ketus.
Farhan mengusap punggung Fadli.
"Kalau hanya menculik, kamu tidak akan dihukum mati," Farhan mencoba memancing. Ia tahu ia akan dapat banyak informasi karna gaya bicara Fadli yang polos. Beberapa jam bersamanya, ia seperti sudah menemukan lagi Fadli yang dulu. Gaya bicaranya yang mengalir ketika bercerita dengan orang yang ia kenal, membuat Farhan yakin, ia akan dapat informasi dari Fadli.
Fadli memegang pundak Farhan.
Farhan mengernyitkan dahinya. Ia melirik ke arah Hardian. Laki-laki itu terlihat asik menikmati rokoknya di depan gubuk.
"Membunuh? membunuh siapa Fadli," kata Farhan setengah berbisik.
"Aku membunuh para bajingan di tempat ini. Sekarang aku puas, tempat ini akan menjadi tempat yang damai tanpa mereka," Fadli tersenyum puas.
"Mereka siapa," tanya Farhan penasaran. Fadli menatap Farhan mantap. Fadli mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Mereka yang telah membunuh ayah kita. Mereka yang telah berbuat zalim dengan merampas tanah milik orang lain. Semuanya, Haji Maemun dan gerombolannya." Fadli terdiam dan mengarahkan pandangannya ke depan. Kembali ia menatap Fadli. Apa yang ia dengar dari Fadli semakin membuatnya penasaran. Tak terasa, bulu kuduk Farhan berdiri.
"Tapi aku hanya membunuh bu Sarmi dan Mistar saja," sambung Fadli dengan nada menyimpan amarah. Angin yang bertiup dingin menyibak rambut dari wajahnya. Bau tak sedap menyebar dari tubuhnya. Farhan tetap bertahan. Ia tak menjauh. Ia tidak mau menyinggung hati Fadli.
"Hanya bu Sarmi dan Mistar?"
Fadli mengangguk. Farhan semakin penasaran.
"Berarti ada pembunuh lain yang masih berkeliaran di tempat ini, pembunuh pak Sukar dan Haji Maemun," ucap Farhan sambil melihat ke sekeliling.
Fadli mengarahkan pandangannya ke atas, melihat pucuk-pucuk pohon pinus yang bergoyang tertiup angin.
"Pembunuh pak Sukar adalah Mistar. Aku dengar mereka bertengkar karna masalah sepele. Mistar memenggal kepalanya. Mistar sendiri aku panah dan gantung di pohon itu," kata Fadli menunjuk ke arah pohon tak jauh dari mereka. "Terkait pembunuh Haji Maemun, aku tidak tahu, tapi aku senang dia mati. Aku hanya menemukan kepalanya yang terpotong di semak-semak. Karna marah tidak bisa membunuhnya sendiri, aku memotong telinganya dan menyimpannya di gubuk. Kalau kamu mau bawa sebagai bukti, ambillah di pondok," kata Fadli. Ia memetik beberapa buah strawberry yang matang di dekatnya dan memakannya. Farhan mengangguk.
Fadli memegang pundak Farhan. Ada kesedihan yang Farhan tangkap dari binar-binar matanya. Ada sesuatu yang serius, yang hendak disampaikannya.
"Han,jika nanti aku dipenjara atau dihukum mati, aku titip ladang dan seluruh tanaman yang ada di sini. Mudah-mudahan bisa kamu manfaatkan." Fadli menangis. Buah strawberry di tangannya terlepas.
"Aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Jika aku mati, aku hanya akan membawa dosaku ke hadapan Tuhan. Tak ada orang yang akan mendoakan ataupun mengirimkanku Fatehah. Terus terang, itu yang selalu aku pikirkan setiap malamnya dalam dosa yang aku lakukan. Aku tidak takut hukuman mati jika itu bisa melebur dosa dan kesalahanku,"
Kembali Farhan mengusap punggung Fadli. Dari binar-binar matanya, tampak ia menyimpan rasa iba yang mendalam kepada Fadli. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Semuanya sudah terjadi. Dia hanya bisa berjanji untuk berusaha membantu Fadli semampunya.
"Kamu harus tetap hidup, harus berusaha tetap hidup. Dengan masihnya kita diberikan kesempatan hidup oleh Allah, kita punya kesempatan mengganti kejahatan itu dengan kebaikan. Bukankah kita masuk surga karna rahmat darinya? bukan karna apa yang telah kita lakukan. Jangan putus asa Fadli, aku akan membantumu semampuku, insya Allah." Farhan menepuk pundak Fadli memberi semangat. Gerimis mulai turun. Melihat mendung yang pekat, mungkin hujan lebat akan segera turun.
__ADS_1
Farhan meraih tubuh Fadli dan mengajaknya untuk berteduh di pondok.