MISTERI HUTAN RARANGAN

MISTERI HUTAN RARANGAN
#27


__ADS_3

Hawa dingin mulai terasa ketika memasuki kawasan hutan rarangan. Kabut mulai memenuhi sepanjang mata memandang. Laju mobil yang melaju cepat melempar kerikil-kerikil ke tepi jalan, mengagetkan kumpulan burung kecil yang sedang bertengger di dahan rendah pepohonan tepi jalan. Duduk di bak mobil terbuka melewati pepohonan besar nan lebat, Farhan menyaksikan suasana sepi tak berpenghuni perkampungan baru yang telah ditinggal penghuninya. Tak ada aktifitas apapun. Sepi dan seperti dan tak berpenghuni. Orang-orang masih takut kembali ke kampung itu, setelah pembunuhan berantai yang terjadi akhir-akhir ini. Walaupun Fadli sebagai pelaku sudah tertangkap, tapi pelaku pembunuh almarhum Haji Maemun masih menjadi misteri. Penduduk kampung baru belum berani kembali ke pemukiman itu. Sebagian besar mereka percaya, ada pembunuh lain yang sifatnya tak kasat mata, yang berkeliaran di hutan itu.


Tiba di dekat gerbang yang terbuat dari bambu dan batang-batang pohon Akasia, mobil itu berhenti. Farhan turun dan melambaikan tangannya kepada orang-orang yang duduk di depan. Ia masih berdiri di depan gerbang itu sambil memandang jauh menembus kabut yang menghalangi pandangannya. Ia harus berjalan satu kilo lebih, melewati jalan menanjak menuju kampungnya. Jam di ponselnya telah menunjukkan pukul 11 siang. Berangkat dari polsek Jerowaru sekitar jam delapan pagi. Sekitar 4 jam perjalanan yang ia tempuh dengan kecepatan penuh mobil pick up yang ia tumpangi. Jalan di depannya terlihat masih berkabut walaupun tidak begitu tebal. Kembali ke hutan seperti kembali ke surga. Tenang, damai dan menyejukkan hati.


Tak terasa Farhan sudah sampai di tempat dimana dulu gubuknya berdiri indah di antara luasnya hutan. Puing-puingnya sudah dibersihkan. Kerangka sepeda motornya yang telah hangus, dilihatnya bersandar di salah satu batang pohon. Farhan mendesah. Nafasnya masih terdengar terengah. Setelah puas menatap reruntuhan gubuknya, ia beranjak menuju ladangnya. Farhan tersenyum. Tanaman strawberynya nampak segar dan terawat. Dia yakin pak Sumarep tetap menjaga dan merawat ladangnya selama kepergiannya.


Tak ada siapapun di sekitar ladang. Mungkin pak Sumarep dan Wati sedang berada di ladangnya atau di rumahnya. Untuk sementara waktu, hanya itu tujuan singgahnya saat ini. Ia belum bisa membangun kembali gubuknya. Mungkin besok, jika tidak ada kesibukan lain.


Farhan melangkah dan berjalan menuju gubuk pak Sumarep di balik pepohonan di depannya.


Sesampainya di sana, ia tertegun melihat seorang perempuan muda sedang asik melemparkan butiran-butiran jagung ke arah kerumunan ayam di depannya. Farhan tersenyum. Ia memang tetap cantik. Batin Farhan.


Ehemh...


Wati menoleh. Ia terlihat mencari sumber suara deheman itu.


Ehemh...

__ADS_1


Terdengar lagi. Wati menoleh ke belakang. Seorang laki-laki gondrong berdiri dan tersenyum manis kepadanya. Wati tertegun. Mengusap matanya, tak percaya. Laki-laki itu masih berdiri di sana dan dia nyata. Dada Wati berdebar. Nafasnya tertahan dan degup jantungnya berdetak lebih cepat. Laki-laki di depannya memang laki-laki yang telah lama ia tunggu kedatangannya. Laki-laki yang membuat malam-malamnya jadi suram. Laki-laki yang menurut orang-orang telah mati, tapi tidak baginya. Dia...


Wadah berisi jagung yang ada di tangannya dilemparkannya. Wati berlari ke arah Farhan dan langsung memeluknya erat. Farhan membalas pelukannya lebih erat. Keduanya mulai larut dalam tangis haru. Degup jantung keduanya beradu, meluapkan kerinduan yang lama terpendam. Tak henti-henti Wati memandang wajah Farhan, seperti ingin lebih memastikan, bahwa benar laki-laki yang kini di hadapannya adalah Farhan.


"Aku tidak peduli kamu hantu atau memang nyata, aku hanya merindukan orang yang ada di hadapanku ini," kata Wati sambil terus memegang wajah Farhan. "Dan andaikan kamu hantu, aku tidak perduli, aku hanya mengenal wajah ini sebagai wajah kekasihku," sambung Wati. Farhan mencium keningnya dan mulai menghapus air mata di wajah Wati. Rambut Wati yang terurai dirapikannya.


"Alhamdulillah, Allah masih mengembalikanku untukmu," kata Farhan dengan senyum bahagia. Kembali ia mencium kening Wati dan Wati dengan manjanya bergelayutan dalam pelukan Farhan.


"Bapak dan ibu dimana," tanya Farhan. Wati mengusap sisa-sisa air mata di ujung matanya.


"Di ladang. Bapak pasti senang melihat Kak Farhan. Sampai saat ini Bapak terus menyalahkan dirinya atas kejadian itu," tutur Wati. Tak henti-henti ia menatap wajah Farhan. Farhan mendesah dan kembali mencium kening Wati.


"Kopi pahit buatan adik," bisik Farhan lembut. Wati tersenyum manja.


"Masaklah air dan kita akan ngopi bareng-bareng sama bapak di ladang," sambung Farhan. Wati mengangguk senang. Dia kemudian segera melangkah menuju dapur.


** * * *

__ADS_1


Mata pak Sumarep nampak berkaca-kaca ketika melihat Wati dan Farhan berdiri di depannya. Bu Sumarep yang terlebih dahulu menyadari kedatangan Farhan, melonjak kegirangan. Panggilannya mengagetkan pak Sumarep yang masih sibuk memeriksa tanamannya di tengah ladang.


Farhan mendekat. Setelah menyalami pak Sumarep, ia kemudian memeluk tubuh pak Sumarep erat. Tangis keduanyapun hanyut dalam isak tangis.


"Bapak kira kamu sudah meninggal Nak. Bapak merasa malu kepada almarhum ayahmu karna tidak bisa menjagamu," kata pak Sumarep sambil terus memeluk Farhan. Farhan mengusap-usap tubuh pak Sumarep.


"Alhamdulillah Pak, semua baik-baik saja." Pak Sumarep melepaskan pelukannya dan mengajaknya duduk di bawah sebuah pohon mimba dimana Wati dan bu Sumarep duduk. Empat gelas kopi yang telah di seduh Wati sudah terhidang di depan mereka. Aroma kopi ditambah singkong rebus yang dihidangkan Wati menambah hangat kebersamaan mereka.


"Pak, Bu, jangan marah ya, kopi yang Wati seduh semuanya pahit. Ini untuk menyambut kedatangan Kak Farhan," kata Wati tersenyum melirik Farhan. Bu Sumarep mengambil segelas kopi dan menyeruputnya. Mulut bu Sumarep meringis dan matanya memincing. Beberapa kali ia meneguk air dalam kendi. Tawa ketiganya pecah melihat ekspresi wajah bu Sumarep.


"Kayaknya ibu gak bisa. Sambutannya cukup itu saja ya. Sekarang tambahkan ibu gula," kata bu Sumarep. Ia mengambil beberapa butir gula dan menghisapnya.


"Kamu belum menceritakan kisahmu Nak Farhan. Bagaimana kamu melewati hutan lebat itu," kata pak Sumarep mengarahkan pandangannya ke arah hutan di depannya.


"Panjang ceritanya Pak," kata Farhan. Ia melirik ke arah Wati dan bu Sumarep.


"Kami punya banyak waktu untuk mendengarnya. Kalau tidak cukup waktu, nanti kita sambung lagi di rumah," kata pak Sumarep di sambut senyum ketiganya.

__ADS_1


Farhan pun mulai bercerita. Ketiganya menyimak dengan seksama cerita Farhan. Ekspresi kagum Wati terlihat ketika pandangan matanya tak berkedip dari melihat setiap gerakan bibir Farhan. Hingga tak terasa, azan ashar terdengar berkumandang dari surau kampung. Mereka sepakat untuk pulang.


__ADS_2