
Hardian memerintahkan Farhan mengeluarkan Fadli dan Mayni dari dalam gubuk. Suara helikopter terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Semakin dekat dan kini nampak berputar-putar di atas ladang. Hardian melambai-lambaikan tangannya ke atas.
Helikopter jenis bell 505 bercat hijau bergaris biru perlahan turun dan lepas landas di area yang telah dipersiapkan oleh Farhan dan Hardian. Suaranya yang menderu dan kibasan bilah baling-baling rotornya yang kencang menghasilkan hempasan angin yang kuat.
Cuaca tampak cerah walaupun sedikit berkabut. Mendung yang sempat mengundang gerimis beberapa menit hilang begitu saja ketika angin kencang berhembus beberapa saat.
Helikopter dengan empat kursi itu sudah siap mengangkut penumpangnya. Satu persatu mereka mulai naik. Fadli dan Mayni duduk di kursi belakang, sedangkan Hardian duduk di bawah mengawasi keduanya. Farhan sendiri duduk di depan bersama pilot. Perlahan helikopter itu naik dan terbang menjauh meninggalkan tempat itu.
Sebelum azan maghrib berkumandang, helikopter itu mendarat di polsek jerowaru. Untuk sementara waktu, Fadli dan Mayni dititipkan di polsek dan keesokan harinya Fadli akan dibawa menuju Polres selong. Mayni sendiri akan diantarkan kepada keluarganya yang mengungsi ke salah satu desa terdekat.
*
Farhan dan Hardian terlihat duduk sambil menikmati secangkir kopi hangat di depannya. Walaupun mereka merasa lelah, tapi mereka masih merasa ada yang harus di bicarakan. Setelah mendengar rekaman percakapan Farhan dan Fadli, Hardian merasa pekerjaannya masih panjang. Ia masih membutuhkan Farhan untuk mengungkap satu kasus lagi, yaitu pelaku pembunuh Haji Maemun. Beberapa nama di kawasan hutan itu, terutama penduduk kampung baru sudah didata. Tak ada satupun dari mereka yang dicurigai sebagai pelaku. Tapi berkaca dari kasus Fadli, tak ada yang menyangka bahwa dia adalah pelaku pembunuhan Mistar dan bu Sarmi. Mungkin ia harus mengkaji dan menyelidiki ulang sosok Bahram yang lebih dekat untuk dicurigai.
"Bagaimana ini Han, kamu punya pendapat terkait kasus Haji Maemun," tanya Hardian. Farhan menggaruk rambutnya dan mendesah panjang. Kopi di depannya diseruputnya pelan. Hardian mengeluarkan korek api dari kantung bajunya ketika melihat Farhan mengeluarkan sebatang rokok. Farhan mulai menyulut rokoknya.
"Entahlah Pak, aku juga bingung harus memulainya dari mana, yang jelas, ini lebih sulit dari kasus sebelumnya." Farhan menguap. Hp di saku bajunya berdering. Farhan membukanya. Sebuah pesan masuk. Setelah membacanya sebentar, ia memperlihatkannya kepada Hardian. Farhan tersenyum. Pesan bergambar dari Harjan. Hardian memperbesar gambar di layar hp, dan ia terkejut.
"Apa-apaan ini, ini kan ganja," kata Hardian setengah berbisik sambil menoleh ke sekitarnya, takut ada yang mendengar.
"Kamu pemakai ya Han,"kata Hardian agak keras namun masih setengah berbisik. Farhan tersenyum.
__ADS_1
"Ini tugas Bapak selanjutnya. Ini aku temukan di hutan areal selatan saat aku melarikan diri ke hutan. Ladang ganjanya sekitar 3 are Pak," kata Farhan menjelaskan.
Hardian memandang ke atas sambil menghela nafas panjang.
"Berarti ini tugasmu juga, kamu akan jadi saksi dan pemandu kami mencari tempatnya,"
"Siap Pak," kata Farhan sambil hormat.
Malam semakin larut. Beberapa petugas masih berjaga di depan pintu masuk kantor polsek. Beberapa anak muda yang sedang nongkrong di warung sebelah kantor masih terdengar memainkan gitar mereka.
Hardian terlihat menguap. Rasa kantuk yang tidak tertahan lagi membuat mereka sepakat untuk mengakhiri pembicaraan.
Farhan menolak ketika Hardian mengajaknya masuk ke dalam salah satu rumah dinas yang masih kosong di area kantor polsek. Ia memilih tetap tinggal di gazebo samping kantor. Ia tak tega meniggalkan Fadli yang akan menghabiskan malamnya di balik jeruji besi. Walaupun tidak sekamar, tapi setidak-tidaknya Fadli tahu ia ada di luar.
Bayangan Wati perlahan mengantarkan Farhan menuju tidur pulasnya.
*
*
Waktu terus berputar. Ketika baru saja kita berdiri di awal malam, ketika terbangun dari tidur lelap, kita sudah berada di awal siang. Begitu dan terus begitu hingga kelak matahari terbit di ufuk barat. Hanya orang-orang yang menggunakan siang dan malam dengan bijaklah yang tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tidak merugi.
__ADS_1
Pagi ini matahari bersinar terang di ufuk timur. Udara dingin masih terasa, membuat orang-orang malas keluar dari selimut hangat mereka. Suara burung gereja mulai terdengar mengericau ramai di pohon-pohon besar di pinggir jalan. Perlahan jalanan mulai ramai oleh para petani dan pejalan kaki lainnya. Begitupun juga dengan anak-anak yang mulai berangkat sekolah.
Farhan terlihat sudah bersiap-siap di depan pos jaga. Sesekali ia terlihat melakukan gerakan-gerakan kecil untuk mengusir hawa dingin yang masih menusuk. Hardian belum juga terlihat keluar dari salah satu rumah dinas. Dia harus menemui Fadli sebelum diberangkatkan ke Polres Lombok Timur. Farhan juga berniat pulang hari ini. Sambil menunggu petugas dari dinas kehutanan yang akan meluncur ke kawasan hutan, ia akan menemui Fadli terlebih dahulu.
Salah satu petugas mempersilahkan Farhan masuk menemui Fadli. Fadli yang terlihat duduk menekur di pojok sel, bangkit begitu melihat Farhan berdiri di luar sel.
"Aku mau pulang dulu Fad, sudah lama aku gak pulang. Aku ingin memeriksa gubukku yang dibakar orang tak dikenal seminggu lalu," kata Farhan. Fadli mengangguk dan tersenyum.
"Terimakasih telah menungguku Han, jaga diri baik-baik," Fadli membungkus tangannya dengan selimut lalu memegang tangan Farhan.
"Jangan putus asa. Setiap kesalahan memang harus ada hukumannya. Tapi kamu harus yakin dan berdoa agar hukumanmu ringan dan kita bisa berkumpul lagi membangun hutan." Farhan menyodorkan tangannya dan menyalami Fadli. Isak tangis Fadli terdengar. Begitu juga Farhan. Ia terlihat mengusap matanya. Setelah berpamitan, Farhan berlalu meninggalkan Fadli.
Keluar dari kantor, Farhan bertemu Hardian yang sudah stand by dengan segelas kopi di di depannya. Sambil menunggu mobil dinas kehutanan tiba, Farhan tak menolak ketika Hardian menawarkannya segelas kopi. Kebersamaan mereka selama pengintaian di hutan rarangan, membuat mereka terlihat semakin akrab. Canda tawa mulai terdengar dari mulut mereka.
"Aku kasih kamu kesempatan satu hari saja untuk istirahat. Setelah itu kita bergerak lagi," kata Hardian ketika Farhan memberitahukan kepulangannya.
"Terlalu singkat Pak. Aku harus membangun kembali gubukku yang telah hancur. Mau tidur dimana aku Pak kalau gak ada rumah," jawab Farhan.
"Kamu ini sudah terbiasa di hutan, jadi, sudah tidak masalah kalau tidur dimana saja." Hardian menyodorkan kartu namanya kepada Farhan.
"Hubungi aku jika kamu sudah siap," sambung Hardian. Farhan mengangkat tangannya memberi hormat.
__ADS_1
Sebuah mobil pick up bertulis dinas kehutananan terlihat masuk ke halaman kantor. Farhan buru-buru menyeruput kopinya. Sambil menunggu pak Yadi yang sedang mengisi air dalam galon, Farhan menyempatkan diri berpamitan dengan petugas yang sedang bertugas pagi itu.
Mobil pick up itu kemudian mulai melaju kencang di jalanan.