
Keluar dari hutan, Farhan sudah melihat Hardian sedang menodongkan senjatanya ke arah laki-laki di depannya. Laki-laki itu mengangkat tangannya dengan posisi membelakangi Hardian.
"Berlutut dan tangan di atas!" teriak Hardian. Farhan berlari ke arah Hardian. Melihat Farhan ada di sampingnya, Hardian melemparkan borgol ke arah Farhan dan Farhan segera menangkapnya. Hardian kemudian maju dan berada di depan laki-laki itu. Hardian menutup hidungnya. Bau busuk tercium dari tubuh laki-laki itu. Hardian memberi isyarat agar Farhan segera melaksanakan tugasnya. Farhanpun segera mendekat dan langsung memborgol tangan laki-laki itu.
Hardian dan Farhan saling menatap puas. Akhirnya, setelah pengintaian satu hari satu malam, mereka berhasil menangkap laki-laki itu. Keduanya lalu duduk sambil terus mengawasi laki-laki yang kini hanya tertunduk menyembunyikan wajahnya.
Hardian membuka bungkusan rokok di kantung bajunya, mengambilnya sebatang lalu menyulutnya. Dia lalu memberikannya pada Farhan.
"Ngomong-ngomong apa yang kamu dapatkan di sana," kata Hardian.
Farhan menepuk keningnya. Belum sempat menjawab pertanyaan Hardian, ia sudah berlari ke dalam hutan. Hardian mengernyitkan kening menunggu Farhan kembali.
Hardian meletakkan sebatang rokok di mulut laki-laki itu dan menyalakannya. Dengan tangan yang diborgol, laki-laki itu terlihat asik menikmati asap rokok yang mulai mengepul di mulutnya.
Farhan terlihat muncul di balik pepohonan. Di belakangnya, seorang perempuan dengan langkah tak stabil mengikuti. Rambut sebahunya kusut dan berantakan, kebanyakan terurai ke depan menutup separuh wajahnya.
Mata perempuan itu terbelalak tajam begitu melihat laki-laki misterius itu ada di depannya. Tanpa disadari Farhan, perempuan itu berlari dan mengarahkan tendangannya ke arah punggung laki-laki itu. Laki-laki itu tersungkur di tanah. Melihat itu, Farhan segera menyambar tubuhnya dan memegangnya erat.
"Lepaskan aku, aku akan membunuh bajingan ini. Dia telah memperkosa dan menyiksaku dengan kejam. Biarkan aku membunuhnya, lepaskan aku,"Perempuan itu meronta ingin melepaskan diri, tapi Farhan semakin erat memegang erat tubuhnya. Perempuan itu kini hanya bisa menangis. Tubuhnya semakin melemah dan akhirnya terjatuh di tanah.
"Bangsat kamu Fadli, kamu telah merusak hidupku," rintih perempuan itu dengan suara parau.
Farhan mengernyitkan keningnya. Tatapannya kini tertumbuk ke arah tubuh laki-laki yang masih terbaring di tanah. Dia mendekat ke arah wanita itu dan duduk di dekatnya.
"Kamu mengenal laki-laki itu?" tanya Farhan. Perempuan itu mengangguk.
__ADS_1
"Dia satu kampung denganku, namanya Fadli. Aku tidak pernah punya masalah dengannya, tapi dia memperlakukan seolah-olah aku ini adalah musuhnya," kata perempuan itu geram.
"Kamu memang bukan musuhku Mayni, tapi kamu adalah musuh agama. Kamulah perusak moral pemuda di sini karna aurat yang kamu jadikan tontonan,"jawab laki-lak itu, masih dengan posisi terbaring. Hardian belum tertarik mengangkatnya. Dia terlihat asik menghisap rokoknya sambil mendengarkan percakapan keduanya.
"Itu auratku dan itu hakku. Aku merasa tidak pernah merugikanmu," timpal perempuan yang ternyata adalah Mayni, gadis desa yang dinyatakan hilang.
"Tapi itu yang aku benci. Aku benci perubahan di hutan ini. Aku benci penghuninya yang jahat. Aku benci wanita yang mengumbar auratnya seperti kamu,"
"Bangsat! Tapi kenapa kamu ikut menikmati tubuhku," kata Mayni semakin keras.
"Orang jahat untuk orang jahat. Kau pantas disembunyikan dan menjadi pemuas lelaki buruk sepertiku," kata Fadli tak kalah sengit.
"Anjing kamu Fadli, anjing!" umpat Mayni sambil meludah ke tubuh Fadli. Farhan berusaha menenangkannya. Mendengar nama Fadli di sebut, Farhan mengernyitkan dahinya. Nama itu seperti mengingatkannya pada seseorang. Ia mendekati Mayni dan duduk di dekatnya.
"Ya, dia itu anak yatim yang hidupnya kesasar," kata Mayni pedas.
Farhan bangkit dan melangkah pelan ke arah Fadli yang masih tertelungkup di tanah. Ia meraih tubuh Fadli dan mengangkatnya. Melihat Farhan meninggalkan Mayni, Hardian segera menggantikan posisinya menjaga Mayni.
"Apa kamu masih mengenalku," kata Farhan sambil menatap wajah Fadli yang menunduk malu. Ia menatap dengan seksama wajah Farhan dari balik rambutnya yang menutup sebagian wajahnya. Ia menggeleng.
Farhan tersenyum dan menatap wajah Fadli. Wajah yang tak mungkin lagi ia kenali jika tidak ada orang yang memberitahunya. Wajah yang penuh bintik-bintik hitam mengerikan dan mengeluarkan bau busuk.
"Aku Farhan, anaknya pak Marwi,"
Fadli tertegun. Ia seperti tak percaya dengan kata-kata yang baru saja di ucapkan laki-laki di depannya itu. Ia menggeleng.
__ADS_1
"Tidak, Farhan sudah mati terbakar bersama rumahnya," kata Fadli. Farhan tersenyum. Ia lebih mendekat kearah Fadli.
"Aku diselamatkan paman Ahmad dan dibawa ke desa. Aku ini teman masa kecilmu, Farhan,"
Air mata Fadli terlihat mengalir di sela-sela bintik-bintik hitam di wajahnya. Melihat Fadli menangis, Farhan ikut menitikkan air mata.
"Aku kira kamu sudah mati,"Fadli mengusap air matanya. Ia masih sesenggukan dan berusaha menghentikan tangisnya.
"Setelah kematian bapak, aku sudah tidak punya siapa-siapa yang benar-benar mengasihiku dengan tulus. Saat aku mengetahui kamu juga ikut terbakar di rumah, aku merasa kesepian dan mengasingkan diriku dari orang banyak."
Farhan mendekati Fadli dan memeluknya. Tangis Fadli semakin menjadi-jadi.
"Kenapa kamu memeluk anjing itu, dasar orang bodoh. Anjing itu tak layak untuk dikasihi,"teriak Mayni ketika melihat Farhan dan Fadli berpelukan.
"Kenapa kamu melakukan ini Fadli," bisik Farhan di telinganya. Farhan sudah tidak menghiraukan lagi bau menyengat yang keluar dari tubuh Fadli.
"Ceritanya panjang Farhan," jawab Fadli lirih. Farhan melepaskan pelukannya. Farhan mendekati Hardian yang masih terdiam memperhatikan mereka.
"Ijinkan aku membuka borgolnya Pak, aku jamin ia tidak akan melarikan diri," kata Farhan. Ia tak tega melihat tangan Fadli terborgol. Sejenak Hardian terdiam sambil menatap wajah Farhan. Tatapan Farhan seperti memelas.
Hardian bangkit dan mendekati Farhan. Ia mengeluarkan kunci borgol dari sakunya dan memberikannya kepada Farhan. Farhan tersenyum dan langsung membuka kunci borgol di tangan Fadli.
"Kita akan angkut pakai apa ini Pak," kata Farhan ketika mengembalikan kunci dan borgol kepada Hardian.
"Aku sudah ijin menggunakan heli, tapi mudah-mudahan tidak ada kendala," kata Hardian sambil medongak ke atas. "O ya Han, kita harus segera membuat landasan di sekitar sini. Coba kamu tanya dia, mungkin dia punya sesuatu untuk meratakan tempat sebagai landasan,"sambung Hardian. Farhan segera ingat, dia pernah melihat cangkul di gubuk itu saat pertama kali memeriksanya. Ia segera melangkah menuju gubuk dan kembali lagi membawa cangkul.
__ADS_1